
Kaka reader yang baik hati tinggalkan like komen untuk penulis ini ya
...----------------...
Seno menghentikan langkah nya, di saat mereka menuruni tangga "Aunty."panggil Seno.
Rosa berbalik, melihat Seno yang berdiri di atas nya "ya."sahut Rosa.
"Apa boleh aku tinggal disini? Sudah lama kan aku tidak bertemu dengan kak Aqella, jadi aku ingin sedikit berbincang dengan nya."mohon Seno.
Seno, anak genius putra dari Dokter Anton, dokter pribadi keluarga Rosa, lulus SMA di usianya yang lima belas, dan lulus S2 sarjana kedokteran di luar negri saat usianya menginjak sembilan belas tahun, dan kini usianya dua puluh tahun.
Seno yang memang sedari kecil selalu bermain dengan Aqella, sudah mulai merasakan tertarik dengan Aqella di saat usianya delapan tahun, tapi karena perbedaan usia di antara mereka, Aqella tidak pernah menganggap perasaan nya sungguh sungguh, Aqella hanya menganggapnya sebagai seorang adik.
Namun itu tidak melunturkan perasaan nya pada Aqella. Dengan tekad yang kuat Seno membuktikan jika ia pantas bersanding dengan Aqella,dengan cara menyelesaikan pendidikan nya dalam waktu singkat, dan mendapat pekerjaan yang layak, lalu kemudian kembali menyatakan perasaan nya pada Aqella.
Namun jodoh di tangan Tuhan, bukan kemana tapi pada siapa akhirnya Aqella menjatuhkan hatinya.
Sakit memang,saat mendapat kabar dari ayahnya jika Aqella sudah menikah dengan CEO muda, tapi berusaha mengikhlaskan lebih baik, itupun jika Seno benar benar rela.
"Terserah kamu saja, tapi kamu tau kan Cleo sangat posesif."jawab Rosa, mengingatkan Seno tentang bagaimana Cleo.
"Bagaimana bisa kak Aqella menikah dengan paman seperti dia." Ujar Seno bingung, bahkan otaknya penuh dengan tanda tanya.
Cleo yang memang berniat turun mengambil makanan untuk Aqella, pendengaran menangkap jika Seno menyebut dirinya paman.
"Siapa yang kau panggil paman heh!" Seru Cleo, dan langsung menjitak kepala Seno.
Seno meringis kesakitan, mengelus kepalanya "ihss sakit tau!" Desis Seno, menatap nyalang kearah Cleo.
"Apa Aqella sudah siuman?" Tanya Rosa.
"Sudah." Jawab Cleo di barengi dengan anggukan kepala.
"Kalo gitu biar aku bertemu dengan kak Aqella." Timpal Seno dan langsung berlari menaiki anak tangga kembali.
__ADS_1
Cleo tidak mau kalah, segera ia mengejar Seno kembali menaiki tangga "Mom tolong minta Inah antarkan makanan ke atas ya." Serunya di tengah berlari.
"Kakak!" Seru Seno, dan langsung berhambur memeluk Aqella tanpa canggung layaknya seorang adik sungguhan.
Aqella juga membalas pelukan hangat dari Seno "lama tidak bertemu dan kamu sudah sebesar ini." Ucap Aqella lembut.
Saat masuk ke kamar dan mendapati Seno sudah memeluk Aqella, Cleo langsung menarik kerah baju Seno, layak nya mengangkat anak kucing, melepaskan nya dari pelukan Aqella.
"Kau bocah tengil berani sekali memeluk istriku." Omel Cleo.
"Kak bagaimana kamu bisa menikah dengan paman ini? Kenapa tidak menunggu ku saja, bahkan aku lebih baik darinya."protes Seno, melihat Cleo dengan tidak suka.
Aqella hanya tersenyum menanggapi perkataan Seno, baginya Seno tidak lebih dari seorang adik. Tapi berbeda dengan Cleo, ia merasa kesal dengan perkataan Seno, bagaimana bisa anak ini menyatakan perasaan nya langsung begitu saja saat ada Cleo di samping nya.
Jika begini, jangan salahkan Cleo bendera perang mulai di kibarkan.
"Cih… kau bocah bau kencur berani sekali berkata seperti itu."sentak Cleo.
"Siapa yang bau kencur, aku sudah mandi dan pakai parfum mahal." Protes Seno, tidak terima dengan ucapan Cleo.
Cleo dan Seno langsung mengunci mulut nya rapat rapat, namun tidak dengan tangannya, mereka malah berganti saling sikut, menyalahkan satu sama lain.
Inah masuk ke kamar Aqella dengan membawa baki berisi bubur dan susu hangat "Nona ini makanan nya." Ujar Inah, meletakkannya di atas nakas.
"Makasih bi."
Inah mengangguk, tapi sebelum pergi Inah terlebih dulu menyampaikan pesan yang di titipkan Rosa "Den Cleo, tadi di suruh nyonya buat hubungin temannya yang nama nya Robby." Ucapnya pada Cleo.
Mendengar nama Robby, Cleo jadi teringat jika hari ini ada meeting, Cleo menepuk jidatnya sendiri, sial bagaimana bisa ia melupakan hal besar ini.
Cleo dengan cepat menyambar ponselnya yang ia letakan di meja, dan benar saja sudah ada tiga puluh panggilan tak terjawab dari Robby, dan ratusan spam chat yang Robby kirimkan.
Mau bagaimana lagi, Cleo mengaktifkan mode silent saat tadi sebelum tidur.
Cleo menghubungi balik Robby, terdengar nada sambung.
__ADS_1
"Hallo!" Suara Robby terdengar di sebrang sana "kampret lo kemana aja? Gue telpon gak ada yang ngangkat! Gila lo ya, ini meeting udah ngulur sampai tiga jam gini!." Omel Robby di telpon.
Bahkan Cleo sampai menjauhkan ponsel nya dari telinga, karena suara Robby yang cukup keras.
Jika Robby sudah memakinya, sudah pasti ia benar benar melalaikan tugasnya.
Cleo menghembuskan nafasnya pelan "kita zoom aja." Ujar Cleo, tidak ada pilihan lain, jika menunggunya datang ke kantor sudah pasti akan memakan waktu lebih lama lagi, di tambah dengan kondisi Aqella yang saat ini, sebagai suami yang baik ia tidak tega meninggalkan istrinya sendiri.
"Yaudah gue siapin dulu… lo harus siap dalam sepuluh menit." Ujar Robby.
"Iya." Sahut Cleo, entah kenapa saat ini seperti Robby yang menjadi bosnya.
"Ada apa sayang?" Tanya Aqella.
"Aku lupa hari ini ada meeting, jadi mau ngadain zoom aja, aku siap siap dulu." Cleo bergegas pergi ke kamar mandi, tapi sebelum menutup pintu Cleo teringat jika Seno masih di kamarnya "Hei bocah keluar!" Usir Cleo dan langsung menutup pintu kamar mandi dengan keras.
Sepanjang meeting, Cleo benar benar tidak bisa konsentrasi,fokus nya teralihkan pada dua orang yang sedang asik bercanda di atas ranjang, bahkan Robby sampai harus menegur nya beberapa kali.
Padahal ia sudah menyuruh Seno untuk keluar,tapi bocah itu cukup keras kepala, bahkan mengabaikan perkataan nya.
"Oke meeting selesai." Ucap Cleo, langsung mematikan kamera, dan beranjak dari duduknya, menghampiri Aqella dan Seno ikut merebahkan dirinya di atas kasur.
"Ko cepet banget meeting nya?" Tanya Aqella heran, pasalnya waktu yang di habiskan Cleo tidak lebih dari lima belas menit.
"Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa fokus liat kamu bercanda sama dia." Menunjuk Seno dengan wajah dingin nya.
"Berlebihan."gumam Seno "lagi pula kalo kakak se'enaknya, bisa bangkrut itu perusahaan."lanjut Seno lagi.
"Bocah tengil mana ngerti kau tentang perusahaan."ledek Cleo.
"Jangan menghina ku, bahkan IQ ku jauh lebih tinggi daripada kakak."
"Hahaha mana mungkin."tawa Cleo, tidak percaya dengan ucapan Seno.
"Itu benar sayang, dia lulus S2 di umurnya yang sembilan belas tahun."bela Aqella.
__ADS_1
"Ck… itu tidak membuktikan jika dia lebih cerdas dariku."balas Cleo, tidak mau kalah.