Sekretaris Nakal

Sekretaris Nakal
bab 84


__ADS_3

"Yang, barusan itu siapa?" gumam Cleo.


Aneh sekali rasanya ada orang asing yang menyelinap masuk ke apartemen Robby, sedangkan sang pemilik sudah tiada.


Mengabaikan segala yang mencurigakan, Cleo memilih untuk meninggalkan gedung ini, dia sudah sangat merindukan istrinya.


Sementara di kediaman Rodriguez, tawa riang Clay begitu memecah keheningan, tak bisa dipungkiri anak itu terlihat begitu bahagia setelah mendapatkan teman baru, Clay dan Betty begitu asiknya bermain berdua.


"Andai, anak itu bisa ku jadikan putriku," gumam Aqella, entah ini hanya rasa simpati, atau memang dia sangat menyukai Betty, dia sendiri tidak tahu.


"Aku pulang!" teriak Cleo, tapi tidak ada sahutan dari anak dan istrinya, mereka terlihat asik bermain bertiga dengan gadis kecil yang menurutnya asing, mungkinkah itu Betty yang dimaksud Aqella.


"Hei, kalian sedang bermain apa?" tanya Cleo, ia memilih berjongkok disamping Aqella.


"Clay, Mami tiba tiba merasa ngantuk," ucap Aqella, dan memilih untuk berdiri, melangkahkan kakinya meninggalkan ruang tengah.


Heran, tentu saja dirasakan Cleo, Aqella tidak pernah mengabaikannya, mungkinkah ada yang menggangu pikirannya.


Begitu juga dengan Clay, ia ikut menyusul Maminya, dan hanya meninggalkan Betty dan Cleo berdua.


Biarin aja, gampang itumah. ujar Cleo dalam hati.


"Om, aku izin mau pulang," pamit Betty.


"Duduklah dulu, ada yang ingin Om bicarakan denganmu," pinta Cleo, ia juga ikut mendaratkan bokongnya, sambil menyandarkan punggungnya di kursi.


Betty hanya menuruti keinginan sang tuan rumah, tetap diam di tempatnya, bahkan dia memilih untuk menunduk, memandangi lantai yang memantulkan gambar dirinya, ya lantai ini begitu terawat, bahkan ia bisa bercermin disini.


"Kamu, yang waktu itu hampir aku tabrakan?" tanya Cleo.


Gadis kecil yang hampir dua kali Cleo hampir menabraknya, dan itu juga masih menyisahkan rasa penasaran dibenaknya.

__ADS_1


"Iya," jawab Betty pelan, bahkan suaranya hanya mampu didengar oleh dirinya sendiri.


"Jadi, kamu tinggal dimana?"


Betty hanya menggeleng sebagai balasan untuk pertanyaan Cleo.


"Kamu tidak memiliki rumah?"


Lagi dan lagi, Betty hanya menggeleng, membuat Cleo bingung untuk menyimpulkan sesuatu "untuk malam ini, kamu bisa tidur disini," ujar Cleo.


Mata bocah itu terlihat berbinar, seperti baru saja memenangkan lotre, sontak saja dia langsung bersimpuh di kaki Cleo "terima kasih Om,"


Mendapat reaksi berlebihan dari Betty, sudah pasti Cleo sedikit terkejut, siapa yang mengira jika itu bisa membuat gadis kecil ini, begitu bahagia "sudah, sudah, ayo bangun... nanti aku minta pelayan, untuk menunjukan kamarmu."


Masalah Betty, biarkan dulu anak itu tinggal sementara bersamanya, biarkan nanti Ken yang akan mencari tau asal usulnya, toh anak itu sepertinya memiliki rencana besar, yang harus dikorek lebih dalam lagi.


Melihat istrinya yang sudah terbaring di ranjang, hatinya begitu tersentuh, Aqella pasti sangat lelah melakukan rutinitasnya.


Merangkak kekasur, Cleo memilih untuk memeluk Aqella, berniat mencium kening istrinya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Aqella.


"Apa? aku hanya mencium istriku," jawab Cleo.


"Siapa yang kau sebut istri?" Aqella memilih untuk kembali duduk, bahkan dia sengaja membelakangi Cleo.


"Aku tidak mengerti," ujar Cleo bingung.


"Berhentilah berpura pura Cle!" suara Aqella semakin tinggi, tersirat dalam nadanya dia begitu marah.


"Aku tidak tahu, katakan apa yang terjadi?" tanya Cleo, dia kini memilih melingkarkan lengannya di pinggang Aqella, memeluk istrinya dari belakang.

__ADS_1


"Kau berselingkuh! kau membohongiku! kau bilang, tidak ada wanita lain, tapi semua itu PALSU!" tuduh Aqella.


Sial.


Tuduhan macam apa yang dilontarkan Aqella pada Cleo, jelas ini semua tidak benar, dia bukan pria seperti itu, memutar tubuh istrinya, kini mereka saling berhadapan "aku tidak selingkuh, siapa yang bilang?!" tampik Cleo, bahkan cengkeramannya di pundak Aqella semakin kencang.


Aqella meringis, siapa yang mengira jika ini sangat menyakitkan, tapi bukankah ini akan membantunya "itu tidak penting, dan faktanya kau sudah mengkhianatiku, kau pembohong!" seru Aqella sambil menepis tangan Cleo dari pundaknya.


Ihhss, gila, ini sakit banget. desis Aqella dalam hati.


Cleo mengusap wajahnya dengan kasar, sepertinya dia paham, drama apa yang sedang dimainkan istrinya.


"Kamu benar... maaf, aku khilaf, dia begitu menggoda, aku tidak tahan," sesal Cleo dengan mimik wajah yang begitu menyedihkan.


Aqella tak bergeming, dia masih mencerna setiap penuturan Cleo, dan tunggu, jadi benar apa yang ia tuduhkan, dan suaminya itu tidak menyangkalnya. Bajingan.


"CLEO RODRIGUEZ! dasar buaya, cowok gak ada akhlak, kutu kupret!" maki Aqella, hilang sudah keanggunan yang ia jaga selama ini.


"Maaf, aku khilaf...."


"Khilaf?! setelah *** *** disana, dan lo bilang khilaf!" bentak Aqella, mengabaikan segala kesopanan dan lemah lembut yang ada, dia kembali menjadi dirinya yang barbar, bahkan dia sudah bersiap melayangkan tinju pada Cleo.


Alamak, dia kembali lagi, ketawa jangan.


"Jangan salahin, lo yang minta Cle!" ucap Aqella geram, dan satu pukulan mendarat di telapak tangan Cleo.


Yap, Cleo berhasil menangkap bogeman Aqella, bahkan dia sudah menarik istrinya, membawanya dalam dekapan.


"Aku merindukan sosok ini, Aqella yang bebas," ujar Cleo, sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya.


Jantung Aqella berdebar begitu kencang, rasa ini dia seperti mengalami dejavu, saat pertama kali Cleo, membawanya dalam pelukannya, menimbulkan getaran getaran yang membangkitkan segala rasa.

__ADS_1


"Lo, gue... lima juta, tukang peras cantik yang gak mau salah," bisik Cleo di telinga Aqella "dan jadi salah tingkah, saat aku merebut paksa ciuman keduamu," lanjutnya lagi.


Sial, apa barusan itu momen dimasa lalu mereka, dan Cleo mengingat segalanya. ah ini memalukan.


__ADS_2