
Sesak menyelimuti perasaan Cleo, saat melihat Betty, ah ini mengingatkan nya pada kenyataan pahit kalau Robby sudah tiada.
Robb, gue kangen lo. batin Cleo menjerit, rasa rindu sudah bertumpuk tapi tak bisa tersampaikan.
"Dadd... jangan nangis." tegus Clay.
"Daddy tidak nangis sayang, tadi ada debu masuk ke mata Daddy," bohong Cleo "ayo kita jalan jalan!" seru Cleo, dan langsung membopong tubuh mungil Clay, mendudukinya di depan.
Memutar anak kunci, Cleo menarik gas motornya dalam dalam meninggalkan halaman rumah mewahnya.
"Sayang kamu melupakan helm mu!" teriak Aqella dari balik pintu, sambil setengah berlari mengejar Cleo dan Clay yang sudah hilang dari pandangannya.
"Cepat sekali naik motornya." gerundel Aqella sambil kembali masuk ke rumah.
...----------------...
Menara London (Tower of London), yang bernama resmi Istana Kerajaan dan Benteng Menara London Milik Sri Baginda ( Her Majesty's Royal Palace and Fortress of the Tower of London), adalah puri bersejarah yang terletak di pusat kota London, Inggris di tepi utara Sungai Thames. Puri ini terletak di dalam kawasan London Borough of Tower Hamlets dan terpisah dari ujung timur kota London oleh ruang terbuka yang dikenal sebagai Bukit Menara. Puri ini didirikan pada tahun 1066 sebagai bagian dari Penaklukan Normandia di Inggris. Menara Putih, yang merupakan bagian terpenting dari puri ini dibangun pada tahun 1078 oleh William sang Penakluk, dan merupakan simbol dari kebencian dan penindasan yang ditimpakan pada London oleh para elit penguasa baru. Menara London pernah digunakan sebagai penjara sejak tahun 1100, meskipun itu bukan tujuan utama dari pembangunan puri ini. Pada awalnya, puri ini dimaksudkan sebagai sebuah istana megah yang akan difungsikan sebagai kediaman resmi kerajaan. Secara keseluruhan, Menara London merupakan kompleks dari beberapa bangunan yang ditempatkan di dalam dua cincin konsentris dari tembok pertahanan dan parit. Sepanjang sejarahnya, beberapa perluasan pernah dilakukan, terutama dimasa pemerintahan Richard I, Henry III, dan Edward I pada abad ke-12 dan 13. Tata letak yang berlaku sekarang ini ditetapkan pada abad ke-13.
*Sumber Wikipedia.
Arka menatap bangunan megah ini dengan nanar, bangunan ini mengibaratkan perasaannya yang di selimuti kebencian.
Benci akan sebuah hubungan yang bernama cinta, setelah apa yang terjadi pada perasaan nya yang terus saja terluka.
Jika ia bisa memaki Tuhan, mungkin saja akan Arka lakukan, tapi percayalah itu tidak akan pernah dia lakukan seumur hidupnya, karena berkat Tuhan dia berada di kehidupan ini, dan dia bersyukur akan hal itu.
Mungkin saja ini adalah bagian dari perjalanan cintanya yang memang harus dipenuhi kerikil dan itu akan dia lalui dengan lapang dada. Andai ia bisa.
Berjalan mengitari menara ini, Arka akhirnya memilih menyudahi perjalanannya, kembali pada titik awal dia hidup di dunia ini, sendiri.
Brakk.
Seseorang menabrak tubuh tegapnya, dan ini mengingatkannya pada kejadian tempo hari lalu di rumah sakit, seseorang wanita yang mengenakan jas dokter yang mengalihkannya dari perasaan nya terhadap Aqella. Namun pada akhirnya dia kembali dihempaskan ke dasar setelah terbang tinggi di awan.
Miris memang, tapi sudahlah.
__ADS_1
"Maaf Tuan aku tidak sengaja," ujarnya sambil membenahi kacamatanya yang bertengger dihidung mancungnya.
"Ya." jawabnya singkat, dan berlalu meninggalkan wanita tersebut.
Namun siapa yang mengira detik berikutnya, wanita tersebut sudah berjalan beriringan dengannya "apa kau sendiri Tuan?" tanyanya sambil melihat bangunan tua ini dengan kagum.
"Ya,"
"Kalo begitu perkenalkan, namu ku Alice. Jika anda berkenan aku bisa menerangkan tentang istana ini pada anda," ucap Alice sambil mengulurkan tangannya pada Arka.
Bukan menyambut uluran tangan Alice, Arka memilih untuk mengabaikan Alice dan dengan cepat melangkahkan kakinya meninggalkan Menara London ini.
"Kenapa sombong sekali." gumam Alice, dia juga ikut pergi ke arah sebaliknya dari Arka.
.
.
.
.
"Jika anak usia lima tahun, pasti lebih menyukai ini," ucap seseorang yang tak lain Alice, menunjukan mobil remote control berwarna merah.
Arka menoleh kesamping dan terlihat Alice yang tersenyum ramah padanya, dengan kaca mata bundar yang melingkar di matanya "kamu lagi,"
"Ya, kita bertemu lagi Tuan, mungkin kita akan ditakdirkan bersama," ucapnya dengan kepercayaan diri yang tinggi.
"Kita hanya baru bertemu dua kali, dan ini tidak ada hubungannya dengan takdir," balas Arka.
"hehehe... anda benar ini hanya kebetulan, tapi bagaimana jika dari sebuah kebetulan menjadi sebuah kebutuhan," tambah Alice, ia terkekeh menunjukan deretan giginya yang putih.
"Dasar bodoh, itu tidak akan terjadi." sanggah Arka.
Daripada berdebat dengan wanita yang tidak di kenalnya, Arka memutuskan untuk meninggalkan toko tersebut, lagi pula masih ada hari esok untuk mencari kado Clay.
Alice mengekor di belakang Arka, jujur saja dia sangat penasaran dengan pria ini, dari tatapan matanya saja, dia bisa menyimpulkan kalo Arka pria kesepian dan membutuhkan seseorang untuk menemaninya walau hanya sekedar berbincang.
__ADS_1
Yap, Alice sudah memutuskan, dia akan menjadi teman pria asing ini, walau sekuat apapun Arka mendorongnya, dia akan bertahan dengan keputusannya.
"Tuan... tunggu!" teriak Alice, dengan haknya yang tinggi, ia sangat susah menyeimbangi langkah Arka yang lebar, bahkan beberapa kali ia harus kehilangan keseimbangan.
Arka menghentikan langkahnya, dia memutar tubuhnya, menghadap kebelakang, dan sekarang sudah jelas Alice masih saja menyusulnya, dan wanita itu seperti penguntit.
"Apa kau tidak ada kerjaan lain, selain mengikuti ku?!" tanya Arka, dia sudah mulai terganggu dengan kehadiran Alice.
Namun, lihat saja gadis ini malah tanpa rasa bersalah menunjukan deretan giginya kembali pada Arka.
"Ck, menyebalkan," decak Arka.
"Aku hanya ingin berteman denganmu, kenapa kau sangat sombong," ujar Alice, bahkan ia sengaja mendekatkan tubuhnya ke Arka, menghilangkan jarak diantara mereka.
Arka menelan ludah, rasa canggung menyelimutinya, bahkan dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari mata coklat milik Alice yang menatapnya penuh tuntutan.
Bahkan wanita ini mulai mendekatkan wajahnya, menarik tengkuk Arka dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibirnya "selamat natal, dan ini kado untukmu." ujarnya.
Sementara Arka tak bergeming mendapatkan kecupan singkat dari Alice, bahkan saat wanita itu mulai melangkahkan kakinya masuk ke mobil, dia masih terdiam di tempatnya.
"Sudah ku katakan, kebetulan yang akan menjadi kebutuhan." gumamnya sambil menyalakan mesin mobil, Alice mengendarainya, meninggalkan pelataran toko tersebut.
...----------------...
*Alice
*Arkan Smith (ubah visual biar tambah hot)
*Bella
Penulis akan fokus ke percintaan Arka dulu gaes... kasian anak orang di bikin jomlo mulu😆😆...
__ADS_1