
Syam tertawa puas melihat berita yang bertebaran di tv dan media online, akhirnya pembalasan untuk cleo sudah mulai ia lancarkan dan tinggal menunggu waktu, anaknya itu akan menderita dengan perlahan.
Berawal dari kehancuran harga diri Cleo dan perusahaan nya dan puncaknya ia akan kehilangan sesuatu yang berharga, dan itu akan menjadi sebuah ledakan yang dahsyat.
"Satu persatu Cleo... satu persatu." senandung Syam sambil menghisap rokoknya.
"Apa ini rencana mu?!" seru Nada "Dia anakmu, bagaimana bisa kau melakukan itu, apa kau hilang akal hahk?!" bentak Nada, memukul dada bidang Syam dengan keras, bahkan ia sudah beringsut menyentuh kaki Syam, menangis lirih.
"Dia anak ku, apapun yang ku lakukan itu urusan ku!" sentak Syam, menatap tajam ke Nada.
"Aku mohon jangan lakukan ini, kau akan menyesal nantinya." mohon Nada, memeluk kaki Syam.
Syam menggoyangkan kaki ,melepaskan cengkraman Nada dari kakinya, wanita ini selalu bersikap selayaknya ibu kandung Cleo, padahal ia hanyalah ibu sambung.
"Penyesalanku itu urusanku!" sentak Syam meninggalkan Nada yang masih terisak duduk di lantai.
Nada bangkit berdiri, ia harus menjaga Cleo sesuai pesan yang di sampaikan Anna dulu, tidak peduli bagaimana Syam menentangnya.
Nada menuju kamarnya, mengambil sesuatu yang akan menjadi senjata bagi Cleo, dengan begitu anaknya itu akan terbebas dari opini publik yang menyudutkan nya.
"Anton!" suara Nada memanggil cukup keras, sampai terdengar ke ruang kerja Syam.
Pria itu langsung menghampiri Nada, mencekal tangannya.
"Kau mau kemana?"tanya Syam.
Nada meringis, berusaha melepaskan tangannya dari Syam "itu urusanku... untuk apa bertanya." jawab Nada ketus.
__ADS_1
Syam berdecak lidah, wanita ini pasti akan pergi menemui Cleo, dan jika itu terjadi, rencana nya akan berantakan, dan ia tentu saja tidak ingin itu terjadi "kurung Nyonya di ruang bawah tanah."perintah Syam pada ajudan nya.
Para ajudan bergerak cepat membawa Nada ke ruang bawah tanah, Nada tentu saja meronta melepaskan diri, tapi dua pria yang memegang tangannya ini memiliki tenaga yang besar, dan ia tak mampu melawan.
"Maafkan kami nyonya." ucap para ajudan setelah memasukan Nada ke dalam ruangan berukuran lima kali tujuh meter itu dan mengunci pintu dari luar.
"Tolong lepaskan... Syam kau brengs*k, iblis!" umpat Nada sambil menggedor gedor pintu, tapi percuma saja tidak akan ada yang membukanya, semua orang disini patuh pada perintah Syam.
"Maafkan aku yang tak bisa menjaga Cleo kak." gumam Nada, di sela isakan nya.
Sementara kegaduhan semakin ramai di CL, polisi pun ikut andil dalam keributan untuk membawa Cleo ke kantor polisi.
Cleo menyibak rambutnya berkali kali, hilir mudik di dalam ruangan, ia benar benar kehabisan akal, otaknya seperti di peras, sedangkan Robby ikut pusing melihat Cleo yang berlalu lalang di hadapannya.
"****... gue pusing lihat lo kaya gini, mondar mandir!" omel Robby.
Cleo hanya melihat Robby sekilas, ia tidak menyahuti omelan sahabatnya itu, ia lebih memikirkan bagaimana menyelesaikan masalah ini.
Cleo tidak terkejut dengan perkataan Ambar, ia sudah menebak hal ini pasti terjadi, para Polisi korup itu pasti hanya ingin menambah masalah untuknya, melakukan investigasi dan mendapat pujian dan penghargaan dari atasannya dan masyarakat umum yang tidak tahu menahu apapun.
"Selamat siang Tuan Cleo." sapa Polisi yang bernama Robbin, matanya menelisik ke seluruh ruangan, mencari cari sesuatu.
"Enyalah! aku tidak akan ikut dengan mu." hardik Cleo, ia memilih duduk kembali di kursi kebesarannya, mengangkat satu kaki ke lututnya.
"Ini akan berakhir baik jika anda bekerja sama dengan kami." balas Robbin, yang kini sudah berdiri menghadap Cleo, siap dengan borgol di tangannya.
"Berakhir baik untukmu atau untukku." sindir Cleo, tersenyum miring menatap tajam ke Robbin.
__ADS_1
"Kau lebih mengerti dari kami Tuan."balas Robbin yang tidak kalah ikut menatap Cleo dengan tajam juga.
Sementara Aqella nyaris saja pingsan mendengar penuturan dari Arka mengenai berita yang tersebar di masyarakat, ia bersandar lemas pada kursi, dadanya semakin sesak menahan perasaan bersalah.
Andai ia tidak merajuk, mungkin saja Cleo tidak akan melakukan hal semacam ini, seharusnya sebagai seorang istri Aqella bertanya lebih dulu pada Cleo mencari kebenaran dan bukan menerka nerka yang belum pasti.
Aqella menekuk lututnya, membenamkan wajahnya disana, menangis pelan namun terdengar di pendengaran Andi,Rosa dan Arka.
Rosa mengelus punggung Aqella, memberikan ketenangan pada putrinya "tenanglah sayang, semua akan baik baik saja, Mommy yakin Cleo bisa mengatasinya."
Namun tidak dengan Andi, rahang pria paruh baya itu terlihat mengeras, bergetar menahan amarah, Cleo kini membuat masalah untuk keluarganya, tidak tahu apa yang akan ia lakukan nanti pada menantunya itu, namun sangat jelas ia tidak suka dengan tindakan Cleo yang kriminal itu.
Anton, supir pribadi Nada, melenggang santai ke ruang bawah tanah dengan kunci di tangan nya, dan akan mengeluarkan Nada dari dalam sana.
Pintu berhasil di buka, Nada juga berhasil keluar "Terimakasih Nton, tapi bagaimana cara kamu kesini?"
Anton mengeluarkan botol kecil dari sakunya, sejenis obat tidur yang berdosis tinggi, ia sengaja membuat minuman untuk para penjaga yang berjaga di pintu masuk ruang bawah tanah, dan dalam sekejap mereka terlelap begitu saja.
"Kamu pintar, tapi bagaimana jika Syam tahu?" suara Nada terdengar khawatir, ia tidak ingin ini menjadi lebih buruk.
"Tenang Nyonya, Tuan sedang tidak di rumah... anda keluar dari pintu belakang, penjagaan di sana kosong... aku akan menjemput anda disana menggunakan motorku." terang Anton.
"Dan yang terpenting saat ini tuan muda harus baik baik saja, tuan Syam dia iblis, tidak ada ayah yang dengan tega menghancurkan anaknya seperti itu." lanjut Anton, di barengi dengan helaan nafas yang berat.
"Kau ternyata pandai menilai, kalau begitu hati hati, aku akan tunggu di belakang rumah." Nada segera berlalu menuju bagian belakang rumah, begitu juga dengan Anton yang pergi ke depan rumah, mengambil motornya melajukan nya meninggalkan mansion.
...----------------...
__ADS_1
para pembaca terhormat, maafkan aku yang suka gabut dan gak enak di baca..
tetap setia dengan karyaku yang satu ini ya...