
Kalian tau...
Saat petir menyambar di siang hari di cuaca yang begitu terik, begitu juga dengan perasaan Cleo mendengar Aqella memotong pergelangan tangan nya, tidak dapat di pungkiri rasa khawatir memenuhi hati dan pikiran nya.
Berlari tanpa bertanya, Cleo menaiki tangga ke lantai dua, ia sudah begitu yakin kalau Aqella berada di atas.
Tidak, tidak... ku mohon jangan lagi.
Mengedarkan pandangan, ia mendapati satu ruangan yang begitu ramai, bergegas ia ke sana, mendorong orang orang yang sedang berkerumun.
Merah...
Warna darah yang sudah menyatu dengan lantai, begitu juga dengan Arka yang terlihat sedang mengikat kan kain di pergelangan tangan Aqella "kau akan baik baik saja, aku akan membawa mu ke rumah sakit segera."
Cleo menarik Arka ke belakang, membuat pria itu terjungkal dan terkejut karena melihat kedatangan nya "Kau?! apa yang kau lakukan disini?!"
Tidak peduli dengan apa yang di katakan Arka, ia memilih untuk mengangkat tubuh Aqella dan membawa nya kemobil "Clay buka pintu mobil cepat!" mendapat perintah dari sang daddy, ia dengan cepat melakukan nya.
Meletakan Aqella di kursi belakang, ia memasang sabuk pengaman untuk anaknya "Clay jaga mami, oke?"
Clay hanya mengangguk, menjawab pertanyaan Cleo.
Selalu menengok kebelakang, Cleo mengkhawatirkan keadaan Aqella "sayang kau dengar aku? lihat aku disini... bersama Clay... aku mohon bangun,"
"Daddy fokuslah." tegur Clay, ia tidak ingin menabrak karena Cleo selalu menengok kebelakang, terlebih jalanan cukup padat.
Akan tetapi apa yang di ucapkan Cleo dan Clay tidak dapat Aqella dengar, karena di alam bawah sadar nya ia sedang berada di taman yang begitu luas dengan berbagai tanaman dan bunga yang menghiasi nya, dan tentu saja suasana seperti ini enggan untuk beranjak.
Melihat segerombolan burung yang terbang di langit, Aqella menjadi iri pada mereka...
__ADS_1
Andai hidupnya bisa sebebas itu, mungkin kah akan menyenangkan?
Tiba nya di rumah sakit, Cleo langsung membawa Aqella ke IGD "Dok, kau harus menyelamat kan istri ku, jika tidak nyawa mu yang menjadi taruhan nya!" ancam Cleo.
"Tenang Tuan, kami akan melakukan yang terbaik, anda berdoa saja semoga semuanya berjalan dengan baik." ucap Dokter.
Menunggu dengan gusar, Cleo hilir mudik di depan ruangan IGD, sambil sesekali menyibak rambutnya ke belakang atau mengusap wajah dengan kasar.
"Dad, apa mami akan baik baik saja?"
Menoleh ke arah Clay, ia hampir saja melupakan putranya yang kini sedang duduk, sama seperti nya, bocah itu juga terlihat khawatir.
"Kita berdoa ya Clay, agar mami baik baik saja." jawab Cleo, bergegas menghampiri putranya, ia mendaratkan pantat nya di samping Clay, mengelus puncak kepala anaknya.
Tuhan... jangan ambil Aqella, kami baru saja bertemu, tidak bisakah Engkau berbaik hati padaku. Doa Cleo dalam hati, yang sedikit memaksa.
"Clay tidak tahu," jawab Clay.
Jika sudah begini siapa yang akan Andi salahkan kalau bukan dirinya sendiri, menjaga Aqella, ia malah menempatkan anaknya dalam keadaan seperti ini.
"Aku tidak tahu apa alasan anda memisahkan kami... tapi anda terlalu egois untuk seorang Ayah," celetuk Cleo.
"Keegoisan ku untuk kebaikan nya,"
"Jika kebaikan yang kau maksud membuat Aqella terjebak dalam pernikahan dengan Arka, aku kira kau tidak waras," melemparkan surat cerai ke Andi, Cleo mengaibaikan sopan santun "aku belum menanda tangani nya, dan dia masih istriku." tutur Cleo.
Melihat Dokter keluar, Cleo dan Arka bergegas menghampiri "Bagaimana dengan Aqella Dok?" tanya mereka bersamaan.
"Nyonya Aqella baik baik saja, dia nanti akan kami pindahkan ke kamar rawat inap,"
__ADS_1
"Makasih Dok."
Cleo saat ini duduk di samping Aqella, menggenggam erat jemari istrinya sambil sesekali menciuminya "sayang bangun... aku belum menghukum mu atas perbuatan mu yang meninggalkan ku... apa kau tidak ingin melihat ku? aku lebih tampan dari dulu dan itu yang di katakan Clay." racau Cleo.
Melihat pemandangan seperti ini, memang sangat lah menyesakkan dada, melihat cinta di mata Cleo begitu tulus untuk Aqella, hatinya mulai terusik "sayang bangun lah, suami mu disini, Papi tidak akan memisahkan kalian lagi, Papi janji." ucap Andi.
Tidak percaya dengan apa yang di dengar nya, Cleo mendongak melihat Andi "apa benar yang kau katakan?"
"Panggil aku Papi, dimana sopan santun mu?" balas Andi menatap tajam, sambil melayangkan jitakan di kepala Cleo, dan itu berhasil membuat Cleo meringis kesakitan.
Tawa Clay pecah melihat Cleo mendapat jitakan dari sang kakek, begitu juga Rosa, ia sangat bersyukur karena keluarga nya kini kembali bahagia.
Akan tetapi, Arka yang melihat pemandangan yang menghangatkan itu, hati nya kembali teriris untuk kedua kalinya, memilih mundur perlahan, ia melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Sakit, sudah pasti Arka rasakan kembali, dan ia harus mulai menata kembali hatinya untuk kedua kali.
Berjalan gontai, ia tanpa sadar menabrak seseorang, membuat wanita itu menjatuhkan semua barang yang di bawanya "ya ampun, berantakan semua," keluhnya sambil memunguti kembali barang barang nya yang berserakan di lantai.
"Maaf aku tidak sengaja," berjongkok, Arka membantu wanita itu memunguti barang barang nya, sampai tanpa sadar tangan mereka saling bertemu menggenggam pulpen, mata mereka saling menatap, mendadak Arka merasakan sesuatu yang aneh, jantung nya berdetak secara tidak normal, terlebih saat manik mata coklat itu yang kini melihatnya, membuat ia enggan untuk mengalihkan pandangan.
Eh jantung ku...
"Maaf... maaf." suara nya menyadarkan Arka dari pemandangan yang terasa begitu indah, tidak di pungkiri wanita dengan mengenakan snelli ini mampu menggetarkan hatinya yang tidak pernah di rasakan saat ia bersama Aqella.
"Aku yang salah, maaf." ucap Arka dan kini ia kembali berdiri begitu juga dengan wanita itu.
"Dokter Bella cepat!" teriakan seseorang yang memanggil nya, Bella dengan cepat pergi meninggalkan Arka.
Bella....
__ADS_1