
"Bagaimana?" tanya Andi.
Semburat di ke khawatiran Andi terlihat jelas mengetahui Clay saat ini bersama Cleo, tidak mengira kalau cucunya merencanakan ini semua.
"Cleo tidak mau menyerahkan Clay," jawab Arka lirih.
Ini sudah pasti akan terjadi, setelah tau dia memilik anak dengan Aqella, Andi pasti tidak akan mudah memisahkan mereka lagi. Pikiran nya melayang kejadian lima tahun lalu....
Arka mengerahkan semua anak buahnya dan Andi di bantu dengan Jimmy, mereka semua seperti sekolompok anggota militer yang bersiap untuk perang dengan persenjataan yang lengkap.
Mengikuti jejak yang ada, mereka akhirnya menemukan Cleo, Robby dan Aqella, dengan aba aba yang di perintahkan Arka, mereka menembaki Arjun dengan brutal sampai pria itu tewas dengan peluru bersarang di seluruh tubuhnya.
Semua sudah berakhir, Arjun ia tewas di tangan Arka, begitu juga Robby dan Cleo tergeletak tak sadarkan diri di tanah dengan luka sayatan di sekujur tubuh.
Tim medis segera memeriksa keadaan Cleo dan Robby, sedangkan Arka merentangkan tangan nya untuk menangkap Aqella dari atas pohon saat anak buahnya memotong tali yang mengikatnya.
Di bawa ke rumah sakit, Cleo langsung mendapatkan penanganan khusus dari dokter, tapi Robby ia tewas, tidak terselamatkan karena koyakan di punggung nya cukup dalam dan ia kehilangan banyak darah.
Di rumah Andi, ia sudah memutuskan untuk memisahkan Aqella dan Cleo, membawanya pergi dari negara ini ke tempat yang jauh, lebih aman dari ancaman yang seperti ini lagi dikemudian hari.
Memerintahkan bawahan nya, Andi mengurus surat perceraian Aqella dan Cleo dengan cepat.
Memeluk kaki Andi, Aqella menangis di sana "Papi, aku tidak mau pisah dengan Cleo, aku mencintai nya Pi," mohon Aqella.
"Maaf Qella, keputusan Papi sudah bulat, kau dan Cleo harus berpisah!" ucap Andi tegas, mengangkat tubuh Aqella dari tempatnya.
__ADS_1
Memisahkan istri dari suaminya, sudah pasti itu terlihat kejam, teruntuk kebaikan ia akan mengabaikan sedikit perasaan nya.
"Tapi apa salah Cleo?" tanya Aqella lagi.
"Karena dia tidak bisa melindungi mu! dan Papi tidak ingin hal ini terulang," jawab Andi.
"Bagaimana Papi bisa berpikir begitu?! Cleo dia berjuang mengorbankan nyawa nya untuk menyelamatkan aku, bahkan saat ini dia sedang sekarat di rumah sakit, apa itu tidak membuktikan jika Cleo berjuang untuk melindungi ku!" bela Aqella.
"Itu tidak cukup Aqella! kecerobohan nya membuat kamu dalam situasi seperti ini... kemasi barang mu kita akan pergi sore ini juga!" titah Andi dan langsung pergi meninggalkan Aqella.
Aqella tidak lagi bisa melawan, Andi tidak pernah sekali pun memarahi atau mengambil keputusan atas hidupnya, tapi untuk kali ini ia bisa melakukan hal tersebut, sudah pasti ini sudah membuat Andi merasa gagal sebagai seorang ayah.
Setelah beberapa hari tidak sadarkan diri, Cleo akhirnya kembali siuman, di ruang ICU yang bercat putih, ia mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan, tapi orang yang paling ingin ia lihat saat membuka mata, tidak di sampingnya.
Mengabaikan sapaan Seno, ia lebih memilih melihat ke arah Ken "Paman dimana Aqella, terakhir kali...."
Menghembuskan nafas, Ken terlihat berat untuk menyampaikan sesuatu, jelas sekali ada sesal di wajahnya, mengeluarkan amplop putih dari sakunya, Ken menyerahkan nya pada Cleo "Bacalah Tuan, aku akan menyiapkan makanan untuk anda." ujar Ken, berlalu meninggalkan ruangan.
Hati Cleo menjadi tidak enak saat membaca tulisan di muka amplop, semoga saja ini bukan seperti yang ia bayangkan, tapi kenyataan seperti menampar nya, surat cerai di ajukan atas nama nya.
Mencabut selang infus di lengan dan perlengkapan medis lain yang menempel di tubuhnya, Cleo langsung berlari keluar ruangan dengan langkah nya yang gontai.
"Paman! kondisi mu belum stabil, kau mau kemana." teriak Seno, segera menyusul Cleo.
Semua tim medis yang berjaga menahan Cleo agar tidak meninggalkan rumah sakit, bahkan kini luka nya kembali mengeluarkan darah, karena ia terlalu banyak bergerak, dan ini tidak akan baik untuk kondisi nya ke depan.
__ADS_1
"Suntikan Anastesi." perintah Seno pada perawat.
"Tidak! aku mohon jangan... Seno kau bocah tengil, aku harus menemui Aqella, dia harus menjelaskan semua ini!" teriak Cleo putus asa.
"Dia sudah tidak di negara ini! lekas lah sembuh dan cari dia di ujung dunia!" bentak Seno, geram melihat kelakuan Cleo.
Hancur dunia Cleo mendengar ucapan Seno yang mengatakan Aqella tidak lagi di negara ini, apa salah nya sampai harus merasakan semua penderitaan ini, lantas bagaimana ia akan menjalani harinya ke depan?
Mengusap wajahnya kasar, Cleo duduk lemas di lantai, bahkan jarum suntik tidak ia rasakan saat menusuk lengannya, dan akhirnya ia kembali tak sadarkan diri.
****
"Kita lakukan pernikahan malam ini juga, siapkan semua secepatnya," perintah Andi pada Arka dan Rosa.
Rosa menarik Andi ke dapur, ia ingin menenangkan suaminya, semua ini bukan keputusan yang tepat dengan kondisi seperti ini, terlebih Aqella yang masih menangis di kamarnya.
"Sayang tenangkan dirimu, kamu tidak bisa mengambil keputusan seperti ini, pikirkan Aqella dan juga Clay." ucap Rosa saat mereka sudah di dapur.
"Karena aku memikirkan anak dan cucu ku, aku akan mengikat Aqella pada pernikahan dengan Arka... kau tau siapa Cleo sebenarnya, dia anak dari Syam, pria itu terkenal di kalangan bawah, bahkan dia rajanya," terang Andi sambil menuangkan air di teko "dengan keadaan Syam yang saat ini tidak stabil, lalu siapa yang mewarisi nya, sudah pasti Cleo... apa kau ingin Aqella dan Clay terlibat dengan para mafia itu dan terjerumus kesana, aku tidak mau hal itu terjadi." lanjut Andi.
Rosa tidak bisa menjawab, perkataan Andi benar, Clay dan Aqella tidak bisa terlibat dengan hal semacam itu, terlebih dunia bawah sangatlah mengerikan, tidak ada belas kasih di sana "aku mengikuti keputusan mu." pada akhirnya Rosa hanya bisa mendukung Andi dengan keputusan nya.
"Beritahu Aqella untuk bersiap siap." ujar Andi.
"Ya." balas Rosa singkat.
__ADS_1