
Siapa yang mengira jika suasana malam yang seharusnya sejuk, kini terasa panas bagaikan gurun pasir di siang hari.
Terlihat jelas tiga orang duduk berhadapan saling menatap tajam satu sama lain, jika ini adalah adegan di film animasi, mungkin saja terlihat sambaran petir di antara mereka. Cleo, Arka, Seno.
"Lo mau apa kesini?! gak cukup dengan yang di Bali tadi?" tanya Cleo ke Arka.
Arka, pria ini akan selalu mengunjungi Andi di rumah, tapi siapa yang mengira jika malam ini ada Cleo di rumah Andi.
Namun ini juga kesempatan untuknya, agar dapat meminta maaf pada Aqella atas kecerobohan nya, dan nyaris saja menodai Aqella.
"Gue kira itu bukan salah gue, dan juga kenapa Aqella bisa begitu? itu karena suaminya gak becus jagain dia." jawab Arka santai.
Rahang Cleo mulai mengeras, terlihat jika pria ini sudah mulai tersulut emosi, namun ia berusaha untuk menahannya, karena bagaimanapun ia tidak ingin membuat keributan di rumah mertuanya.
Sementara Seno, ia hanya menyimak pembicaraan dua orang pria di depan nya, mau ikut bicara pun ia tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
"Malam ini ramai sekali rumah ini." ujar Andi yang baru datang dengan papan catur di tangannya.
"Hallo Om," sapa Arka.
"Iya, siapa di antara kalian yang mau nemenin papi main catur?" tanya Andi.
"Aku tidak bisa," jawab Cleo jujur.
"Karena kak Cleo bodoh," timpal Seno.
__ADS_1
"Setuju." tambah Arka.
Cleo langsung menjitak kepal Seno yang memang duduk di sebelahnya, sebal sekali dengan mulut bocah satu ini, rasanya ingin ia beri cabai, setiap ucapanya selalu saja merendahkan nya "Kau bocah berani sekali bicara seperti itu,"
"Apa? aku hanya membicarakan fakta," sahut Seno santai, bahkan ia mulai menyusun bidak bidak catur di papan, lagi pula jitakkan Cleo tidak sesakit tadi siang.
Aqella yang sudah merasa baikan, segera turun dari ranjangnya, merasa bosan hanya berdiam diri di kamar, terlebih Cleo tidak menemani nya.
Dengan perlahan Aqella mulai menuruni tangga sambil tangan nya memegang railing tangga.
"Sayang."panggil Aqella.
Cleo menengok ke arah Aqella, dan langsung menghampiri istrinya.
"Aku bosan." cicit Aqella.
Seno yang melihat Aqella, ingin menghampiri kakak terkasihnya, namun tangannya sudah di tahan Arka "mau kemana? ini belum selesai," lirik Arka ke papan catur.
"Iya."
Arka menghembuskan nafas nya, malam ini ia harus meminta maaf pada Aqella, dan mengembalikan persahabatannya yang mulai renggang ini, dan memulai awal yang baru.
"Om aku mau ke mereka dulu," izin Arka.
Arka menghampiri Cleo dan Aqella, duduk di samping Aqella "lo sakit?" tanya nya.
__ADS_1
"Iya, kemarin hujan hujanan." jawab Aqella.
Arka mengangguk, mengerti. Mengabaikan tatapan Cleo,yang sudah setajam mata elang, ia mengutarakan niatnya "gue minta maaf atas kejadian di Bali, itu salah gue karena gak bisa nahan, dan gue pengen kita bisa care lagi kaya dulu... kalo lo nikah sama Cleo, gue bahagia asalkan lo bahagia,"
"Masalah itu gue udah lupain, lagipula itu bukan salah lo sepenuhnya, dan Cleo juga lagi nyelidiki siapa orang yang udah ngasih minuman itu ke gue."
"Minuman? jadi lo kaya gitu karena ada yang ngasih minuman?"
"Iya...."
Arka terlihat sedang berfikir, di lihat dari latar belakang Cleo yang ia selidiki bersama Jimmy, sepertinya untuk saat ini Cleo tidak memiliki musuh, tapi kalo itu bukan dari pihak Cleo, mungkinkah dari pihak Aqella. Tapi Aqella dia jarang sekali berinteraksi dengan orang, bahkan ia lebih sering bersamanya.
Arka melirik ke arah Cleo, memberi kode agar Cleo mengikutinya, ada beberapa hal yang perlu di bicarakan antar sesama pria.
"Ada apa?" tanya Cleo tutup poin saat mereka sudah ada di gazebo.
"Lo gak ada curiga sama siapa gitu, orang yang ngasih minuman ke Aqella?" tanya Arka balik.
"Ada... lo orangnya."jawab Cleo.
Arka langsung terbatuk, pikiran Cleo sudah tidak waras, tidak mungkin ia mampu melakukan pada Aqella, wanita yang ia cintai dan juga sahabatnya sendiri.
"Gila aja pemikiran lo, gue mana mungkin begitu," sanggah Arka cepat.
"Siapa yang tau." sahut Cleo, sambil mengedikan bahunya.
__ADS_1