
"Lalu kenapa jika sekarang tante adalah ibu sambung ku?.. Bagi ku tante tetaplah tante ku!" ucap Cleo setengah berteriak.
Bukan Cleo tidak menghormati Nada, hanya saja ia tidak ingin jika posisi Anna di gantikan oleh Nada.
Rasanya tidak akan sama, terlebih jarak di usia mereka tidaklah terpaut begitu jauh.
"Sudahlah!... aku malas berdebat denganmu... aku kesini hanya ingin bertemu menantuku!" ujar Nada, yang kini sudah beralih menatap Aqella.
Aqella masih berusaha memahami hubungan dua orang di depan nya ini, walaupun sejujurnya ia tidak begitu paham, tapi menyimak saja lebih dulu.
"Namamu Aqella kan?" tanya Nada.
"Iya tante."jawab Aqella, berusaha tersenyum semanis mungkin.
Jujur saja saat ini Aqella masih bingung harus memanggil wanita di depan nya dengan sebutan apa.
Walaupun Nada sudah mengatakan jika ia adalah ibu Cleo, sedangkan Cleo sendiri, masih menyebutnya tante.
"Panggil aku Mama." pinta Nada.
Pernikahan nya dengan Syam, memang untuk tidak memiliki anak.
Bukan... bukan ia tak ingin, tetapi karena Syam yang mencegahnya.
Pria itu berfikir jika anak, hanyalah membuat nya menderita.
"Baik Ma." ulang Aqella.
"Anak pintar." puji Nada.
Rasanya aneh sekali mendengar Aqella menyebut Nada Mama, tapi mau gimana lagi?
Cleo juga tidak ingin membuat Aqella bingung dengan hubungan yang rumit di antara keluarganya.
Biarkan sajalah.
"Ada apa dengan raut wajahmu heh?.. kau tidak suka jika aku di panggil Mama oleh istrimu!" gertak Nada, bahkan sekarang Nada sudah berpindah posisi duduk di samping Aqella.
"Tidak... aku akan keluar sebentar, kalian berbincang lah." ujar Cleo, bangkit dari duduknya, meninggalkan ruangan.
Di tinggal berdua seperti ini dengan Nada, membuat Aqella canggung, bingung harus memulainya darimana, terlebih di lihat dari penampilan Nada, seperti wanita bangsawan.
Walau ia dilahirkan dari keluarga berada, tapi orang tuanya tetap selalu berpenampilan biasa, bahkan Rosa tidak pernah berpakaian glamor seperti ini. Sedangkan Nada...
Dari ujung kepala sampai kaki, semuanya terlihat sangat mewah.
Entah berapa banyak angka nol di setiap pernak pernik yang ia pakai di tubuhnya.
"Kamu gak usah canggung sama Mama... bersikap biasa saja, anggap saja aku ini temanmu sayang." ujar Nada, mengusap pundak Aqella, cukup mengerti jika Aqella masih sungkan padanya, biar bagaimana pun ini pertemuan pertama mereka.
__ADS_1
Teman?
Ayolah... bahkan Aqella tidak memiliki teman, ah lupa temannya hanya ada satu Arka, itupun hubungan nya saat ini tidak berjalan baik, lantas bagaimana ia bisa bersikap seperti teman ke Nada.
Lakukan sajalah. batin Aqella.
"Apa Mama sudah makan?" tanya Aqella..
"Belum... apa kau mau memasakkan untuk ku?"
"Aku sebenarnya lagi masak... cuma aku tinggal." terang Aqella.
"Kalo begitu aku akan merepotkan mu." canda Nada.
"Dengan senang hati."
Kini mereka tertawa bersama, mertua dan menantu, indah bukan.
"Ini apa sayang?" Nada menatap heran dengan masakan yang ada di depanya.
"Telor ceplok sama sosis." jawab Aqella.
Nada hanya menggelengkan kepalanya pelan, merasa aneh jika makan malam harus dengan dua bahan ini.
"Biar Mama yang siapkan makan malam, kamu bantu mama potong bahan nya." pinta Nada.
"Tidak ada tapi tapian Aqella." sergah Nada.
Aqella mulai memotong setiap bahan yang di minta oleh Nada, dari wortel, daging, buncis dan segala temannya.
Tidak tahu apa yang akan di masak oleh Nada, tetapi sepertinya ini akan jadi makan malam yang lezat.
Melihat Nada yang dengan cekatan memasukan setiap bahan ke dalam wajan, bahkan menuangkan setiap bumbu, membuat Aqella merasa tidak enak hati.
Seharusnya ini pekerjaan nya, tapi mau bagaimana lagi, dia hanya mampu membuat telor ceplok atau makanan instan lain nya.
Bahkan tadi, saat ia membawa bekal untuk Cleo dia hanya membawa nugget,ayam goreng dan mi goreng.
Itupun ayam gorengnya ia beli yang sudah di ungkep, jadi tinggal menggorengnya saja.
Setelah selesai acara masak memasak di dapur, kini mereka bertiga sedang menikmati makan malam.
"Ini lezat." ujar Cleo di sela sela mengunyah.
"Tentu saja... ini yang buat Mama." imbuh Aqella.
Cleo berhenti mengunyah sesaat, melihat ke arah Nada dan Aqella secara bergantian "Pantas... jika Aqella yang masak paling cuma telor ceplok."
"Kamu jangan gitu... tidak baik meledek istri mu." tegur Nada.
__ADS_1
"Huhhh." dengus Aqella.
Tidak bisakah pria ini menghargainya sedikit, setidaknya walau ia tidak bisa masak, namun ia masih berusaha untuk tetap melayani nya melakukan tugasnya sebagai seorang istri.
"Aku hanya membicarakan fakta." ujar Cleo tanpa rasa bersalah.
Aqella, mengulurkan kakinya, dan langsung menginjak kaki Cleo yang bebas itu tanpa penutup, biar tau rasa jika istrinya bisa membalas ucapan nya dengan tindakan.
Dasar pria tak berperasaan!.
"Aww!" pekik Cleo "Apa yang kau lakukan?" kini Cleo mendelik ke arah Aqella, benar benar deh wanita satu ini selalu saja bermain kasar.
"Apa?... aku tidak melakukan apapun." elak Aqella, bahkan Aqella dengan santainya memasukan makanan ke dalam mulutnya, dan mengunyahnya secara perlahan.
Mengangkat satu alisnya, tersenyum miring mengejek Cleo.
Sial.
setelah selesai acara makan malam yang nyaris saja menjadi medan perang, Nada sengaja mengajak mereka berbicara di ruang tengah.
"Mama punya kado untuk kamu ... Mama ingin kamu memakainya sayang." Nada mengeluarkan gelang dari tempatnya.
Gelang rantai berwarna silver dengan rangkaian huruf membentuk love, Nada pakaikan ke pergelangan tangan Aqella.
Terlihat sederhana memang, namun ini memilik arti sendiri untuk Anna.
Cleo mengernyitkan dahi nya, melihat gelang di tangan Aqella, merasa tidak asing "Bukankah ini gelang yang sering di pakai mama, Tan?"
Nada mengangguk menjawab pertanyaan Cleo, ternyata sudah bertahun lamanya, Cleo masih mengingat jelas gelang milik Anna "Iya... ka Anna selalu berkata... saat kamu sudah menikah, ia ingin memakaikan gelang ini ke istrimu."
"Cantik." gumam Aqella, menatap gelang,menyusuri setiap huruf dengan jarinya.
"Tentu saja... kamu jaga baik baik ya sayang."
"Pasti Mah."
"Baiklah... karena ini sudah larut, Mama mau izin pulang. Takut jika nanti ayahmu akan mencari Mama." Pamit Nada.
Namun sebelum pergi, Nada terlebih dulu memeluk dan mencium pipi Aqella, dan berganti memeluk Cleo.
"Pulang lah... ajak Aqella bertemu ayahmu." bisik Nada.
Cleo mematung mendengar ucapan Nada, bahkan kini Cleo mulai menegang, inilah kata yang selalu ia hindari Ajak Aqella bertemu ayahmu, seperti bom waktu yang siap meledak kapanpun.
"Hati hati Mah." pesan Aqella, kembali menyalami punggung tangan Nada.
"iya."
Nada melambaikan tangan nya di udara, sambil melangkah keluar apartemen.
__ADS_1