
Lima tahun kemudian...
Hujan turun dengan derasnya, bocah kecil berlari tanpa melihat ke kanan ke kiri ia menyebrang begitu saja.
Segera sang pengemudi menginjak rem dalam dalam, dan hanya beberapa centi lagi, ia nyaris saja menabrak bocah kecil itu. Ia turun dari mobilnya menghampiri bocah itu yang masih terpaku di tempatnya, mungkin saja ia sangat syok karena nyawanya hampir melayang.
"Kau tidak apa apa nak?" tanyanya, berjongkok di depan bocah itu.
Namun bocah itu bukan menjawab, malah kembali berlari menembus hujan, dan ia hanya menggeleng pelan melihat kepergian bocah tersebut.
Ponsel nya bergetar, merogoh saku nya ia mengambil ponsel, " hallo." jawabnya, ia mendengar begitu seksama orang yang bicara padanya "iya aku akan ke sana." imbuhnya dan mematikan panggilan, kembali ke mobilnya.
Di sebuah rumah sakit kejiwaan, pria tua berteriak sangat kencang, menyebut dua nama yang paling ia rindukan "ANNA... CLEO."
Sesal itulah yang saat ini ia rasakan, tidak dapat mengembalikan keadaan ia kehilangan semuanya.
Dokter menyuntikan obat penenang di lengan nya, agar ia tidak menggangu pasien lainya yang juga butuh perawatan seperti dirinya.
Pria berjas berlari ke ruangan dokter, pakaian nya yang basah membuat air menetes di setiap lantai, menimbulkan suara cipratan air yang beradu dengan sepatunya.
Ia membuka pintu ruangan dengan keras, terlihat jelas di wajahnya jika ia sangat panik "bagaimana?!" tanyanya saat ia sudah berdiri di depan meja dokter.
"Tenanglah tuan, kami sudah menyuntikan obat penenang padanya, saat ini ia sedang tidur."
__ADS_1
Ia menghembuskan nafas lega "aku ingin menemuinya." pintanya.
Dokter mengangguk setuju, di antarnya ia ke kamar rawat Syam Rodriguez , ia mengalami gangguan jiwa setelah apa yang terjadi lima tahun lalu, ia depresi terlalu dalam atas apa yang terjadi pada Anna, dan sesal yang mendalam pada putranya Cleo, karena egonya ia membuat permainan yang membahayakan sang putra.
Syam sangat tidak tenang dalam tidurnya, terlihat jelas guratan di wajah tua nya...
Apa ini hukuman atas dosa dosa nya, bahkan dalam tidur pun ia tak dapat menikmati, ah siapa yang tau akan hal itu.
Malam hari suasana mansion terasa lenggang dan sunyi, hanya ada ia seorang termenung menatap hutan yang mejadi saksi bisu kejadian yang naas itu dan membuat nya kehilangan orang orang di dekatnya, sahabat dan cintanya.
Haruskah ia memilih menyusul mereka?
Cleo Rodriguez harus menelan pil pahit dalam hidupnya, kegagalan nya dalam melindungi Aqella, membuat ia harus kehilangan istrinya dan juga Robby, pria itu tewas di permainan yang di buat Syam.
Saat matanya baru terbuka di ruang ICU, ia di kejutkan dengan surat dari pengadilan agama, dan ia di gugat cerai oleh Aqella, tanpa tahu alasan nya.
Berusaha mencari, mengerahkan seluruh anak buahnya, Cleo tidak pernah menemukan jejak Aqella. Wanita itu seperti hilang di telan bumi.
Sekarang hanya tinggal Cleo seorang, ia seperti di permainkan oleh takdir, ketika dunia ada di genggaman nya, tapi cintanya lepas dari genggaman.
"Tuan Muda waktunya minum obat." ucap Ken menyerahkan beberapa obat di tangan Cleo.
Cleo merasa miris dengan hidupnya, setiap hari akan selalu meminum obat yang entah sampai kapan, dan itu karena ia juga merasa depresi dengan keadaan.
__ADS_1
Mau tidak mau, demi menjaga kewarasan nya, Cleo menelan obat itu "terima kasih paman." ucap Cleo tersenyum.
"Sebaiknya anda lekas tidur, besok kita ada meeting pagi pagi sekali."
"Aku tau." ujar Cleo, melangkahkan kakinya, masuk ke dalam mansion.
Di dalam kamarnya, ia merebahkan dirinya di atas ranjang, matanya berusaha ia pejamkan, sebisa mungkin.
...----------------...
Di belahan Bumi lainya, bocah kecil berusia empat tahun, kini terlihat sedang asik bermain ular tangga dengan seorang pria tua dan dewasa, ia Clay asik berhitung maju menghitung angka di papan, saat bidaknya berhenti di ular, wajahnya berubah menjadi kecewa "ahh ini tidak mengasyikan." seru Clay, segera beranjak meninggal Andi dan Arka yang tersenyum menatap arahnya.
Aqella menghadang Clay, berjongkok memegang pundak putranya "ada apa dengan putra mami, kenapa cemberut?" tanya Aqella lembut.
"Ayah dan Kakek mengerjai ku." rajuk Clay, memasang wajah cemberutnya.
Aih menggemaskan sekali, Aqella mencubit pipi gembul Clay "Benar begitu Pi?" tanya Aqella ke Andi.
Andi menggeleng cepat "itu bukan papi, kau tanyakan saja pada ayahnya." melirik ke arah Arka.
Arka mengalihkan pandangan, melihat ke arah lainya, menghindar dari tatapan Aqella yang menusuk.
"Arka...." panggil Aqella pelan, tapi terdengar mengintimidasi.
__ADS_1
"Aku tidak mengerjainya, lagi pula ini ular tangga, bagaimana bisa mengerjainya... anak ini terlalu manja." terang Arka.
"Biar mami antar kamu ke kamar, ini juga sudah larut." Aqella menggendong Clay, mengajaknya ke kamar, membaringkan nya di tempat tidur "selamat malam." Aqella mencium kening Clay.