
Teriakan, tawa, tangisan meraung menjadi satu diruangan yang tidak lebih dari empat meter ini, Syam dia memilih duduk di pojokan ruangan.
Bayangan duka tentang amarahnya puluhan tahun silam masih membekas dalam benaknya.
Namun, kadang kalanya dia seakan memiliki sebuah teman khayalan yang mengajak Syam berbicara.
Lara menyelimuti hati Cleo, tak kalah mendapati pemandangan yang begitu menyakitkan.
"Ayah...." kata yang belasan tahun hilang dalam mulut Cleo, kini terdengar menyentuh relung hati Syam.
Dia mendongak, melihat Cleo begitu sangat tampan, mirip seperti ia saat muda dulu, tidak ada yang terlewat.
'Putraku maafkan Ayah, karena aku kau menderita'
Sebuah kalimat panjang yang ingin Syam ucapkan, tapi hanya mampu berakhir di dalam hatinya.
"Kau tau Yah, ada sesal dalam hatiku, kenapa hubungan kita harus begini... dan sekarang dengan kondisimu yang seperti ini, membuat ku semakin terluka lebih dalam lagi,
"Ingin sekali aku memakimu, memberimu sebuah hinaan yang dulu kamu beri dan aku kembalikan lagi, tapi aku tidak bisa, kau terlalu rapuh saat ini." ujar Cleo.
Memandang langit langit ruangan, yang didominasi warna putih ini, Cleo kembali mencurahkan segala kegundahan hatinya "aku sudah memutuskan untuk pergi dari dunia bawah yang kau tinggalkan, tidak ingin lagi aku terlibat di dalamnya, ada Aqella dan Clay... Ayah ingat bagaimana kerasnya Ayah saat menjadikan ku seperti Ayah dan itu berhasil,
"Aku kehilangan Aqella, lima tahun aku hidup tanpa jiwa, tapi lihat, aku kembali lagi, cinta itu datang lagi, Tuhan memberiku kesempatan kedua dan sebagai kadonya, aku memiliki putra dia Clay Rodriguez, dia begitu tampan... tapi jika kau berpikir aku anak durhaka itu akan lebih baik, karena aku berharap kau selamanya dalam keadaan seperti ini, dan tidak akan lagi memisahkan kami."
Syam tidak bergeming, dia hanya memandang Cleo dengan pandangan kosong, seolah olah apa yang di ucapkan putranya iyu hanyalah sebuah angin lalu.
Menghabiskan waktunya disini, tidak akan memberi kedamaian untuk Cleo, dengan langkah cepat dia meninggalkan ruang perawatan Syam.
"Hubungin aku secepatnya jika terjadi sesuatu,"
"baik Tuan."
Makan malam romantis, di suguhi dengan lilin aroma, Aqella siapkan seorang diri.
__ADS_1
Belum lagi berbagai hidangan yang ia siapkan dengan tanganya sendiri, oasti akan membuat kesan mendalam untuk suaminya.
Lima tahun, perpisahannya dengan Cleo, membuat Aqella ,menjadi sedikit lebih dewasa dan mengerti akan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.
Mulai belajar memasak, mengurus rumah semua ia lakukan, hanya semata mata agar nanti saat ia dan Cleo bersama, Aqella dapat menjadi istri yang baik.
Lalu begini hasilnya, dia dapat dengan bangga mengatakan kepada Cleo, kalau Aqella sendiri yang menyiapkan semuanya.
"Mam... aku mau ini," Clay tanpa menunggu persetujuan dari Aqella, langsung mencolek krim strawberry di atas kue.
"Clayyy... kau merusaknya!" teriak Aqella, dan langsung menyambar kue, meletakkannya di tempat yang lebih tinggi dari jangkauan putranya.
"Mami kembalikan, aku mau itu," rengek Clay sambil menunjuk kue yang kini berada di atas kulkas.
"NO! ini untuk Daddy," ujar Aqella tegas.
Clay langsung memajukan bibirnya membentuk huruf O, sangat tidak menyenangkan menurutnya.
Membuat Aqella yang melihatnya hanya menggeleng pelan, entah kenapa anak itu sangat mirip dengannya.
Cleo yang baru tiba di rumah, disuguhi pemandangan yang sedikit menarik, versinya tentunya.
Keadaan bagian rumah yang terlihat terang, tapi ketika langkahnya masuk ke dalam, ia disuguhi dengan kegelapan yang di ganti dengan penerangan lilin sepanjang jalan, menuju ruang makan, belum lagi taburan kelopak bunga mawar yang bertebaran di lantai.
"Sayang...." panggil Cleo.
"Ya...." sahut Aqella yang sedang menuang sampanye kedalam gelas.
Cleo dibuat takjub dengan penampilan Aqella, gaun malam berwarna maroon dengan bagian dada nya yang terbelah, melihatkan sebagian dua bukitnya yang menonjol keluar.
Belum lagi bagian punggungnya yang bebas terekspose tanpa kain itu, bibirnya yang diolesi dengan lipstik merah yang senada dengan pakaian yang Aqella kenakan, dan rambutnya yang ia gulung menampilkan leher jenjangnya itu, membuat istrinya terlihat sangat seksi.
Cleo melangkahkan kakinya, mendekat kearah Aqella, di peluknya istrinya itu dari belakang, sambil menghirup aroma yang menyeruak dari parfum, Chanel Grand Extrait.
__ADS_1
"Jadi, ada apa ini?" tanya Cleo,tapi tangannya tidak berhenti mengelus punggung Aqella.
"Hanya makan malam, sambil berbincang," Aqella meletakan botol sampanye di meja, memutar tubuhnya, kini mereka saling menatap satu sama lain.
"Benarkah? kenapa aku merasa ada sesuatu ya?" Cleo membawa Aqella dalam dekapannya, menghapus jarak diantara mereka, ia dengan mudah menyusuri leher jenjang aqella dengan lidahnya. sial, dia tidak tahan lagi.
"Berhenti bodoh, kita hanya makan malam," Aqella mendorong pelan kepala Cleo, menjauhkan dari lehernya yang kini sudah banyak tanda cinta dari suaminya itu.
"Baiklah," ujar Cleo pasrah, langsung melepaskan pelukannya.
Menarik kursi untuk Aqella, Cleo mendudukkan istrinya bersebrangan dengannya.
"Bagaimana pekerjaan mu?" tanya aqella.
"Makan malam romantis, dan kamu hanya membahas masalah kerjaan, yang benar saja," jawab Cleo malas, sambil memasukan potongan daging ke mulutnya.
"Oke oke... bagaimana rasanya? enak?"
"Enak... kamu beli dimana?"
"Ck menyebalkan, ini aku yang masak,"
"Wow ini mengejutkan."
Makan malam telai usai, Aqella dan Cleo memilih melanjutkan obrolannya di ruang tengah, sambil menonton film romantis yang sengaja disiapkan olehnya.
Yang seperti Aqella baca di status sosial medianya.
Semua bukan hanya tentang tawa, cinta pun melekat di dalamnya untuk menjadi satu kesatuan yang utuh dalam bahtera rumah tangga.
Ya cinta... dia sangat mencintai Cleo, begitu juga sebaliknya, dan dia sangat bersyukur akan hal itu.
Berharap dan doa, mereka akan selalu bersama walau kematian menjemput mereka.
__ADS_1