Sekretaris Nakal

Sekretaris Nakal
bab 71


__ADS_3

Membuka mata secara perlahan, Aqella kembali tersadar, mengedarkan pandangan, ia mendapati Cleo tengah terbaring di sofa, merasa ini mimpi, ia mencubit tangan nya sendiri "Auww." pekik Aqella.


Cleo mendengar suara Aqella berteriak, langsung membuka matanya, melihat ke arah Aqella, ternyata istrinya sudah siuman.


Bergegas beranjak dari tempatnya, Cleo menghampiri Aqella, menarik bangku, ia mendaratkan pantat nya di sana "Syukurlah kamu sudah siuman," ucap Cleo sambil mencium punggung tangan Aqella.


"Cleo...."


"Ya... jujur aku ingin memarahi mu, karena melakukan tindakan bodih ini, tapi untuk saat ini aku ingin memeluk mu, aku merindukan mu sayang." ujar Cleo.


Bertemu setelah sekian lama, Cleo masih sama seperti lelakinya dulu, tidak ada sedikitpun perubahan dalam sikapnya, kecuali wajahnya semakin tampan.


"Aku hanya tidak ingin menikah dengan Arka...." gumam Aqella "Aku hanya mencintai mu," lanjutnya lagi.


"Kamu tidak akan pernah menikah dengan Arka, karena kamu milikku selamanya."


Rasa rindu yang sudah meledak memenuhi hatinya, Cleo tidak tahan lagi, ia beranjak dari duduknya, merangkak ke ranjang, ia merebahkan tubuhnya di samping Aqella "Aku mencintaimu," Cleo menarik Aqella dalam dekapan nya.


"Aku tau...."


Menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah Aqella, Cleo kini membelai pipi wanita nya dan beralih pada bibir yang sudah menjadi candu nya "Bibir ini hanya milikku," suara Cleo mulai terdengar serak, hasrat yang ia pendam selama lima tahun ini, ingin sekali ia tuntaskan "Apa boleh?" bisik Cleo di leher Aqella, dan itu membuat Aqella bergeliat karena geli.


Cukup paham dengan tingkah Cleo, pria di samping nya pasti menginginkan nya, dan itu wajar saja, karena ia juga mengharapkan nya "Apa kita akan melakukan nya disini? ini rumah sakit, bagaimana jika ada dokter atau suster?"

__ADS_1


"Kita bisa melakukan dimana pun sayang," Cleo menyusupkan tangan nya ke balik baju Aqella, ia menyusuri kulit istrinya yang sehalus kulit bayi itu, dan pendakian nya berakhir pada dua bukit yang memiliki ngarai di tengahnya.


"Aahh...Cle... aku takut," lenguh Aqella, ia tidak tahan dengan sentuhan Cleo di dadanya, terlebih saat Cleo merem*s , memainkan puncak bukitnya, itu membangkitkan gairah Aqella juga selama lima tahun ini.


"Apa yang kamu takutkan? tidak akan ada yang menggangu kita, ini ruang rawat VVIP sayang." ucap Cleo, tapi tetap tidak menghentikan aksinya, bergerilya di bukit kembar Aqella.


Memajukan bibirnya, Cleo ******* habis bibir Aqella, ia menumpahkan perasaan nya selama ini kedalam tautan mereka, bahkan ia tidak memberikan Aqella kesempatan untuk membalas permainan lidahnya.


Menarik paksa kepalanya, Aqella menghirup oksigen di sekitarnya, ciuman Cleo benar benar mematikan, tidak bersentuhan selama ini membuat lelakinya semakin ganas "kamu akan membuatku mati untuk kedua kali." omel Aqella.


Cleo tertawa begitu renyah, setelah selama ini ia tidak melakukan nya "Ada aku disini, malaikat tidak akan berani mengambil mu," ucapnya menurunkan tangan nya dari dada Aqella, melingkarkan nya di perut wanitanya.


"Jangan menyalahi takdir, kamu bahkan kehilangan ku di depan matamu," sahut Aqella.


Orang tua...


Aqella sampai melupakan Andi, menepuk jidatnya sendiri, papinya itu sudah pasti akan memarahinya, mengetahui Cleo kini berada di samping nya "Aku melupakan papi, dia pasti akan marah tau kamu disini," ujarnya takut.


"Dia tidak akan marah, karena dia sudah mengizinkan kita bersama," ujar Cleo, yang kini sudah beralih di atas tubuh Aqella, bersiap menyerang kembali istrinya.


Mendekatkan wajahnya, Cleo kini kembali menyatukan bibir mereka, ******* nya dengan perlahan, menyusuri setiap rongga mulut Aqella tanpa cela sedikitpun, dan itu membuat Aqella meremang, kembali merasakan sensasi yang di berikan Cleo melalui tautan mereka.


Tangan Cleo mulai mengelus perut Aqella, dan semakin turun... turun menyusup ke balik rok istrinya, menyentuh padang rumput yang tertata rapi, dan sudah lama tidak pernah ia sentuh "Aaahhhh... Cle, hentikan... kamu membuatku basah," lenguh Aqella, saat jari Cleo masuk kedalam miliknya, menggerakkan nya, dan menyentuh benda mungil yang terapit di tengah.

__ADS_1


"Aku merindukan mu sayang, aku merindukan mu...."


Lenguhan Aqella yang bagaikan musik di telinga nya, ia memainkan bukit kembar Aqella dengan tangan yang satunya "Aaaahhhh... Cle hentikan, aku tidak tahan lagi...." ia menjambak rambut Cleo, menarik kepala suaminya, ia menyatukan bibir mereka kembali.


Suasana ruang rawat yang seharusnya sejuk, kini berubah menjadi panas karena cumbuan dua insan yang saling melepas rasa di antara mereka.


Namun, detik berikutnya suara yang begitu familiar di pendengar mereka, mengejutkan Cleo dan Aqella.


"Mami...,"


Aqella reflek mendorong Cleo, pria itu terjatuh dari ranjang, memekik kesakitan, Cleo mengelus pinggang nya yang terantuk kursi.


"Kalian sedang apa?" tanya Clay, bocah itu harus ternodai penglihatan nya di usia belia, karena Cleo lupa mengunci pintu.


"Kamu kenapa masuk gak ketuk pintu!" seru Cleo, ia kini kembali berdiri. Padahal tinggal sedikit lagi ia berhasil melakukan nya, ternyata pengganggu kecil merusaknya, dan sepertinya ia harus terbiasa dengan kejadian seperti ini kedepannya.


"Ini bukan di rumah Dadd," sahut Clay, ia berusaha menaiki ranjang dengan susah payah.


"Aihhs... Dimana Kakek dan Nana?" tanya Cleo, sambil membantu Clay naik ke ranjang.


"Kakek, Nana sudah pulang duluan," jawab Clay "Mami lihat, aku membawa Daddy untukmu, kamu tidak boleh menangis lagi saat tengah malam, itu menggangu ku," lanjutnya lagi sambil menarik Cleo dan menyuruh nya untuk memeluk Aqella dan dirinya, dan tentu saja Cleo dengan senang hati melakukan nya.


"Kamu yang terbaik sayang," Aqella mencium pipi gembul Clay dan Cleo bergantian. Dirinya sangat bersyukur, setidaknya ia di berikan kesempatan hidup lagi, dan berharap Tuhan tidak lagi memisahkan mereka lagi.

__ADS_1


__ADS_2