Sekretaris Nakal

Sekretaris Nakal
bab 81


__ADS_3

London, kediaman rumah Bella.


"Lepaskan!" teriak Jinxie, sambil menggoyangkan lenganya yang ditahan Bella.


"Tidak... ini semua salah paham, aku bisa jelaskan," ujar Bella memelas.


Hari ini adalah hari tunangannya, tapi Jinxie memutuskan untuk tidak melanjutkannya lagi, dengan alasan yang menurut Bella tidaklah jelas.


Tidak jelas, tentu saja tanpa ada hujan dan angin, pria itu meninggalkannya di tengah acara, membuat Bella merasakan malu yang luar biasa, belum lagi pandangan keluarganya.


"Jika kau ingin pergi, pergilah... tapi jelaskan dulu apa alasannya?!" seru Bella.


"Mudah saja, karena kau sudah berselingkuh dengan pria itu," jawab Jinxie, sambil menunjuk Arka yang tengah berdiri di sudut taman.


Arah pandang Bella mengikuti jari Jinxie, terkejut sudah pasti, pria yang tempo lalu mendatanginya di tempat praktek, tapi ia tidak memiliki hubungan apapun, mengenal pun tidak.


"Aku tidak mengenalnya, aku bersumpah," tukas Bella.


"Apa kau pikir aku percaya begitu saja," balas Jinxie, melangkahkan kakinya meninggalkan pelataran rumah Bella.


Jinxie melakukan hal tersebut bukan tanpa alasan, tentu saja dia tahu, jika Bella tidak berselingkuh.


Semua hal itu dia lakukan, agar terlepas dari cengkraman keluarga Bella yang selalu saja memandang rendahnya, dan ia juga tidak begitu mencintai wanita ini.


Karena baginya, cintanya hanya untuk Xixia, gadis cantik yang masih satu bangsa dengannya.


Plakk.


Cap lima jari mendarat mulus dipipi Arka, dia sedikit terkejut dan tersulut emosi, tapi saat tahu siapa pelakunya, dia menurunkan amarahnya.


Memandang lembut wanita di depanya, Arka memegang pundak Bella "apa salahku?"

__ADS_1


Muak, tentu saja saat melihat wajah Arka yang tidak ada sedikitpun rasa bersalah, bahkan dengan mudahnya dia menanyakan apa salahnya.


"Cuiih," Bella meludah tepat di wajah Arka, bahkan sekarang dia sudah menepis lengan pria yang di anggap perusak dari pundaknya "berhenti bersikap sok manis! apa yang kau lakukan disini, kau sengaja datang untuk merusak hari bahagia ku kan?!" teriak Bella.


Arka hanya diam, mencoba mencerna apa yang dimaksud Bella, tapi tetap saja ia tidak bisa mengerti "aku tidak apa maksudmu,"


"Bella!" teriak Tom, menatap tajam ke putrinya, "maafkan atas kelancangan putri saya Tuan Smith, dan juga untuk acaranya kami sudahi sampai sini, karena ada beberapa kendala," lanjut Tom.


"Karena dia, Jinxie meninggalkan ku," tunjuk Bella pada Arka.


"Izinkan aku membawa putri anda Tuan, kami ingin berbincang sebentar?" Arka meminta izin pada Tom, entah mengapa sesak sekali rasanya melihat keadaan Bella.


"Silakan Tuan."


.


.


.


.


Arka sengaja membawa Bella kesini, membiarkan wanita ini mengutarakan semua perasaan nya.


"Bell aku tau bagaimana rasanya saat seseorang yang paling berharga meninggalkan kita," ujar Arka.


Seketika Bella melihat Arka yang berada disampingnya "kau belum merasakannya, bagaimana bisa kau tau?" tanya Bella, dia tidak percaya begitu saja dengan Arka.


"Aku sudah merasakan nya Bel, dan itu dua kali, rasanya sangat sakit memang, tapi percayalah kau akan menemukan kebahagian mu sendiri suatu saat." tutur Arka.


"Apa kau sudah menemukan kebahagiaan mu?" tanya Bella.

__ADS_1


Arka menggeleng "belum, mungkin nanti," jawabnya.


"Kalau begitu, mengapa kita tidak saling mengobati luka?"


Arka mengernyitkan dahi "apa maksudmu?"


Bella tidak menjawab, dia memilih menepis jarak diantara mereka, mendekatkan tubuhnya, dia menarik tengkuk Arka.


Mulai menyatukan bibir mereka, Bella mengambil peran tautan mereka, memainkan lidahnya di dalam rongga mulut Arka.


Arka menutup matanya, dia masih tidak membalas, masih menunggu sejauh mana Bella akan berbuat.


Semakin dalam permainan yang diberikan Bella, Arka pun semakin terbawa suasana, membalas setiap sentuhan lidah didalam mulutnya, bahkan kedua kini merangkul satu sama lain.


Namun, dibalik kegelapan sana, ada tangis yang pecah melihat adegan mesra diantara Bella dan Arka, hatinya hancur berkeping, usahanya tak membuahkan hasil.


Dengan langkah gontai, Alice menghampiri Arka, menarik paksa lengan pria ini.


"Ku kira kau bersenang senang," ujar Alice penuh sindiran.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Arka.


Mengabaikan Arka, Alice memilih menatap penampilan Bella dari atas sampai bawah, wanita ini sangat lah anggun, pantas saja Arka menyukainya, sedangkan dia, hanyalah wanita yang tak tahu malu "anda wanita terhormat Nona, bisakah anda menjauhi kekasih ku," ujar Alice.


"Tidak, kau jangan salah paham dia dan ak-"


"Semua lelaki sama saja, tidak ada yang benar benar bisa dipercaya," potong Bella cepat dan segera meninggalkan Arka dan Alice.


"Aku tidak menyangka ini darimu, bagaimana bisa kau mengatakan omong kosong seperti itu di depan Bella!"seru Arka.


"Omong kosong?! apa selama ini kedekatan kita hanya permainan untukmu!" teriak Alice.

__ADS_1


"Kau yang selalu merayuku, dan kau tau itu!" bentak Arka, segera melangkahkan kakinya menyusul Bella.


Merayu, jadi Arka tidak lebih menganggap Alice hanya wanita penggoda. Sial, mengapa bisa dia menyukai pria tidak memiliki hati itu.


__ADS_2