Sekretaris Nakal

Sekretaris Nakal
bab 38


__ADS_3

tinggalkan like komen ya kak


...----------------...


Jimmy di buat sakit kepala dengan permintaan Arka yang ingin menemui Aqella.


Padahal Jimmy kira, Arka akan dengan ikhlas melupakan Aqella dan menata kembali hidupnya setelah tau Aqella sudah menikah.


Tapi lihatlah sekarang, ia memutuskan untuk kembali ke apartemen lamanya lagi.


"Gue kangen aroma di ruangan ini." ujar Arka menghirup dalam dalam udara di sekitarnya.


Arka membuka satu persatu kain yang di gunakan untuk menutupi barang barang agar terhindar dari debu.


Hingga gerakan Arka terhenti pada sebuah bingkai foto yang ia letakan di atas kulkas.


Foto lama yang menjadi saksi bisu persahabatan antara Aqella dan Arka.


Arka merindukan masa masa itu, saat ia dan Aqella masih mengenakan seragam putih abu abu.


flashback on.


"Arka."


Aqella setengah berlari menghampiri Arka, sambil tangannya melambai lambai di udara.


"Hai." sapa Arka.


"Coba lihat ini, tadi gue dapet ini dari ketua osis... keren kan." ujar Aqella menunjukan sebuah sapu tangan berwarna putih kepada Arka.


"Keren." ucap Arka singkat.


Sudah bukan hal biasa bagi setiap siswi tergila gila pada ketua osis di sekolah mereka, termasuk Aqella juga, padahal tampang ketos satu itu tidak terlalu tampan, bahkan jauh lebih tampan Arka kemana mana.


"Jadi... lo mau kemana?"


"Ke kantin, lapar."


"Gue ikut."


"Hmm."


Mereka berdua akhirnya berjalan beriringan menuju kantin, tanpa sadar jika di belakang mereka sudah ada mata elang yang memperhatikan mereka.


Tibanya di kantin, mereka sengaja memilih duduk di sudut, menghindar dari guru BP yang sering berkeliling mencari murid yang selalu melanggar aturan seperti Aqella dan Arka.


"Bu, baso satu!"


"Saya soto bu!"


Ucap mereka bersaman di barengi dengan mengangkat telunjuk tangan ke udara.


"Oke oke." ucap bu kantin.


Setelah bu kantin mengantarkan pesanan mereka, Aqella baru saja membuka mulutnya untuk makan sedangkan Arka baru ingin menuangkan sambal ke mangkuk, namun....


"Awww." Teriak Arka dan Aqella bersamaan, sambil memegangi telinganya yang terasa panas akibat di jewer seseorang.


"Ikut saya!" ucap bu Friska, guru BP yang terkenal garangnya seantero sekolah Bunga Bangsa ini.

__ADS_1


"Aduh... sakit bu, lepasin dulu." pinta Arka.


"Iya bu lepasin dulu." timpal Aqella.


Bu Friska melepaskan jewerannya dari telinga Arka dan Aqella, bersiap siap melakukan ceramah panjang yang akan memanaskan pendengaran mereka.


"Kalian disini untuk sekolah, bukan malah membolos di jam pelajaran seperti ini, apa kalian tidak sayang dengan orangtua kalian dan bla...bla...bla...." nasehat bu Friska panjang yang sepanjang jalur kereta api.


Aqella dan Arka hanya menunduk saat bu Friska menasehati mereka, bahkan untuk menatap bu Friska pun mereka enggan.


"Maaf bu." akhirnya hanya kata tersebut yang mampu mereka ucapkan.


"Kalian berdua di hukum membersihkan semua toilet di sekolah ini." perintah bu Friska.


"Baik bu."


Tidak ada pilihan lain, mau tidak mau Arka dan Aqella menghabiskan sepanjang jam pelajaran mereka untuk membersihkan toilet sekolah.


Flashback off.


Jimmy yang melihat Arka tersenyum seorang diri, langsung menepuk pundak Arka.


"Sadar woi."


"Apaan sih." dengus Arka kesal, karena kenangan yang sedang terekam di memorinya hilang begitu saja.


...----------------...


Robby yang melihat Cleo menarik Aqella dengan begitu kasar, menjadi begitu kepo dan ingin mengetahui apa yang terjadi di antara nyonya dan tuannya ini.


Apakah ada hal yang tidak Robby ketahui selama bulan madu mereka?


Aqella terpaku melihat rekaman dirinya sendiri saat ia menabrak Arka di koridor hotel, dan yang lebih mengejutkan lagi adalah adegan selanjutnya....


Aqella langsung mencium Arka dengan begitu panasnya, bahkan tidak memberikan jeda untuk Arka melepaskan tautan mereka.


Jadi... inikah penyebab Cleo marah padanya.


"A-aku bisa jel-jelaskan." ucap Aqella terbata bata.


"Coba jelaskan... aku menunggu." ujar Cleo menutup kembali laptopnya dengan keras.


Aqella berusaha mengingat apa yang terjadi terakhir kali saat ia berada di hotel, namun ingatannya berhenti di saat ia di bawa oleh Arka kedalam kamar.


Sial!


Semoga ketakutannya tidak menjadi kenyataan.


"Aku sepertinya di jebak." ujar Aqella lirih.


"Siapa yang akan menjebak mu? disana tidak ada yang mengenal kita?!"


Cleo menyibak rambutnya dengan kasar, bahkan sekarang terlihat jelas jika Cleo sedang menahan amarah, rahangnya yang mulai mengeras, gemeretak giginya yang terdengar begitu keras.


"Aku tidak tahu." geleng Aqella "tapi aku ingat ada seorang pelayan yang mengantarkan minuman, dia bilang minuman itu dari suamiku." lanjutnya lagi.


Bahkan sekarang Aqella mulai berjongkok di hadapan Cleo, menyandarkan kepalanya di paha Cleo.


Jujur saja, Aqella hanya ingin Cleo percaya padanya.

__ADS_1


"Pelayan itu sudah tewas Qella."


Aqella mendongakkan kepala, melihat wajah Cleo yang saat ini sedang menatap lurus kedepan.


"Apa yang kau bilang itu beneran Cleo?"


"Apa aku terlihat berbohong Aqella... bangunlah." perintahnya.


Aqella membenahi posisinya, dan sekarang berpindah duduk di samping Cleo "Bisakah kau menyelidikinya lebih dalam... aku mohon."


Aqella merasa ini pasti rencana seseorang, namun siapa orang itu, ia tidak tahu.


Tetapi yang terpenting saat ini adalah bagaimana Cleo bisa percaya padanya lagi.


"Maaf, boleh gue masuk?"tanya Robby, melongokan kepalanya di pintu.


"Hmm."


Robby berjalan memasuki ruangan Cleo, hanya ingin tahu lebih jelas masalah di antara mereka.


Robby yang sudah mengenal tabiat Cleo yang selalu saja berpikiran pendek tanpa pernah mencerna apa yang terjadi dan selalu saja emosian, ia yakin jika Cleo pasti melewatkan sesuatu yang Cleo tidak sadari.


"Mana rekaman cctv tadi?"


"Buat apa?"


Cleo tidak suka jika Robby melihat rekaman cctv, itu sama saja membiarkan Robby melihat tubuh mulus istrinya.


"Ada yang mau gue lihat."ujarnya.


Robby langsung menyambar laptop yang ada di meja, tidak peduli dengan tatapan Cleo yang sudah setajam pedang itu.


Robby langsung melihat rekaman cctv dengan serius, bahkan hal kecilpun tidak Robby lewatkan, dan benar saja Cleo melewatkan sesuatu.


"Aqella di jebak."ujar Robby yakin.


Cleo mengernyitkan dahi, tidak mengerti dengan perkataan Robby.


"Maksudnya gimana?"


Robby menghembuskan nafas kasar, terkadang tidak habis pikir dengan Cleo, bagaimana pria ini mampu menjalankan usaha sebesar ini, tapi tidak dapat membedakan saat seseorang sedang terpengaruhi oleh sesuatu.


"Aqella dalam pengaruh obat! apa lo gak bisa bedain hahk?'


"Gak." jawab Cleo polos.


Entah polos atau beg*, yang pasti sudah membuat orang di sekitarnya geram, terutama Aqella yang habis di rendahkan oleh Cleo.


"Oke fixs otak lo di dengkul." ujar Robby santai.


"Sembarangan kalo ngomong!"


Cleo bersiap melempar Robby dengan bantal yang ada disampingnya, namun tangan nya terlebih dulu di tahan oleh Aqella.


"Apa?"


Aqella yang sudah di penuhi amarah, langsung melayangkan tamparan di wajah Cleo, meninggalkan cap lima jari di pipi Cleo.


Biarkan saja, itu pantas untuk Cleo dapatkan.

__ADS_1


__ADS_2