SERAKAH

SERAKAH
Bab 21. Perlahan tapi pasti


__ADS_3

Azzam sedang duduk di sebuah cafe, tangan kanan menopang dagunya, wajah terlihat suram seperti sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang.


‘Awas saja jika dirinya berbohong padaku, aku akan menyebar luaskan video yang diam-diam aku ambil saat kami sedang melakukan perbuatan itu.’ Batin Azzam.


“Azzam. Ini adalah janji yang telah aku katakan tadi malam kepada kamu.” Ucap wanita tersebut melunturkan pikiran buruk Azzam kepada Shinta. Shinta mengulurkan tangan kanan yang memegang cek senilai ratusan juta rupiah.


Azzam menarik pergelangan tangan kanan wanita tersebut, dan memeluknya. “Aku tidak butuh ceknya. Aku pikir kamu dalam bahaya karena permintaanku, keterlambatan kamu sudah membuat aku sangat gelisah.” Azzam mengecup kening Shinta. “Beri aku kabar jika kamu terlambat agar aku di sini tidak terlalu kuatir dan cemas terlalu berlebihan karena memikirkan kamu.” Ucap Azzam berbohong, padahal sebenarnya dirinya mencemaskan tentang janji yang telah dibicarakan tadi malam. Walau hanya sebuah cek.


“Hal ini yang membuat aku semakin cinta sama kamu, dan membuat keputusanku bertambah bulat untuk mengakhiri hubunganku dengan mantan suamiku.” Sahut Shinta merasa dirinya terlalu berharga di mata Azzam, dan hanya dialah wanita satu-satunya yang di cintai Azzam.


Azzam melepaskan pelukannya, ia menarik kursi. “Silahkan duduk. Aku akan segera memesan minuman dan makanan buat kita berdua.”


“Aku tidak lapar, Azzam.” Sahut Shinta menengadahkan wajahnya ke atas, di mana Azzam sedang menatap dirinya dari belakang kursi.


“Tapi aku dari tadi belum makan.”


“Maaf, aku tidak tahu. Kalau begitu pesan saja makanan buat aku dan kamu. Aku akan menemani kamu makan di sini.” Sahut Shinta, tangan kanan melambai ke salah satu pelayan yang berdiri di depan meja kasir.


“Terimakasih.” Azzam meraih tangan kiri Shinta, mencium punggung tangan kiri Shinta. “Kamu wanita terbaik yang ada di dunia ini.” Gombal Azzam.


“Azzam, malu ah.” Ucap Shinta sedikit berbisik, tatapan ia arahkan ke beberapa pengunjung yang datang. “Aku tidak ingin kamu di tandai oleh salah satu pengunjung yang nantinya mengenal aku. Aku juga tidak mau nantinya kamu dikira perusak rumah tangga orang. Jadi lepaskan tangan kamu, Azzam.”


“Aku tidak perduli tentang pikiran orang lain, yang jelas aku beneran tulus mencintai kamu.” Sahut Azzam berbohong.


Bukan hanya tampan dan memiliki banyak harta, Azzam juga bisa merayu dan bersilat lidah demi mendapatkan apa yang inginkan. Sungguh luar biasa, ada seorang pria yang memiliki sikap dan sifat seperti Azzam.


“Oh, ternyata kalian berdua di sini.” Ucap seorang pria yang sudah berdiri di samping meja Azzam dan Shinta. Pria tersebut adalah seorang pria yang datang kemarin pagi dan tengah malam ke rumah Azzam, karena mantan istrinya yaitu Shinta memilih untuk tidur dan menikmati hal lainnya bersama dengan Azzam daripada dirinya.


Shinta berdiri, tangan kenan memegang pergelangan tangan kiri pria tersebut. “Kamu kenapa datang ke sini?” Tanya Shinta bernada panik.

__ADS_1


“Aku ingin memberi pelajaran sama pria bre*ngsek ini. Aku pikir kenapa kamu berubah selama 2 tahun ini, ternyata gara-gara pria ini. Pria kotor dan tidak…..”


Plaak!!


Shinta melayangkan tamparan keras di pipi kanan mantan suaminya itu. Tangan kanan yang perlahan ia turunkan gemetar, terlihat antara takut dan emosi menjadi satu saat tatapan Shinta arahkan ke wajah mantan suaminya yang sudah berubah suram.


Azzam memalingkan wajahnya ke sisi kanan. “Auw! Pasti sakit.” Ucap Azzam pelan.


“Aku baru saja mengenalnya. Selama 2 tahun aku berubah itu semua karena ulah kamu. Kamu yang tidak becus sebagai suami. Kamu tahunya hanya menghabisi semua harta milikku. Apa itu tugas seorang suami?”


“Tapi aku…”


“CUKUP! Aku sudah tidak ingin melihat wajah kamu, dan aku juga sudah beberapa kali mengajukan surat perceraian kepada kamu. Aku harap kamu segera menandatanganinya.” Ucap Shinta tanpa memberi sedikit celah buat mantan suaminya untuk berbicara. Shinta menggenggam pergelangan tangan kiri Azzam. “Mari kita pergi.” Ucap Shinta membawa Azzam pergi dari cafe tersebut.


Pertikaian hebat membuat semua pengunjung, karyawan kafe dan pemiliknya hanya menjadi penonton setia. Bibir mereka saling mengumpat satu sama lain menceritakan tentang Shinta, mantan suaminya dan Azzam.


.


.


Sepanjang perjalanan menuju kafe lain, Azzam dan Shinta diam satu sama lain. Shinta masih mengalihkan pandangannya ke arah jendela, sedangkan Azzam diam-diam melirik dari ujung ekor matanya.


‘Bagus. Akhirnya kalian berpisah juga. Kamu memang luar biasa Azzam, teruskan usaha kamu sampai kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan.’ Batin Azzam merasa puas dengan perbuatannya yang telah benar-benar menghancurkan rumah tangga orang lain.


.


.


🍃🍃Di sisi lain🍃🍃

__ADS_1


Kediaman rumah Laras


“Assalamualaikum.” Ucap Yusi mengucap salam saat memasuki pintu rumahnya.


“Wa’alaikumsalam.” Sahut Laras dari ruang tamu. Tangan tangan kanannya meletakkan majalah di atas meja. “Kamu pasti capek setelah seharian belajar. Ibu sudah menyiapkan air hangat di dalam bak mandi, kamu bisa mandi dulu, habis itu kita akan makan malam bersama.”


Yusi berjalan cepat dan duduk di sebelah sofa kosong yang berada di sisi kiri Laras. “Ibu, apakah Ibu percaya dengan teror arwah orang yang sudah meninggal?”


“Percaya tidak percaya. Emang kenapa Nak?”


Yusi diam-diam menarik nafas, wajah ia tundukkan kebawah. “Tidak ada ‘Bu. Yusi kasihan lihat teman Yusi yang selalu di teror arwah penasaran. Hidupnya menjadi tidak tenang.” Ucap Yusi berbohong.


“Kok Ibu jadi merinding.” Sahut Laras, kedua tangan mengelus pelan kedua lengan dengan bulu kuduk naik.


“Ibu, Ibu kenapa menakuti Yusi.” Ucap Yusi yang ikutan takut. Pandangan ketakutan mengarah ke seluruh ruang tamu. “HAA!!” Yusi terkejut, kedua matanya membesar saat melihat arwah Ayahnya yaitu Deni berdiri di sudut ruangan, arwah Deni menatap Yusi tajam dan suram.


“A-ada apa Nak?” Tanya Laras mendadak panik.


“Ti-tidak ada ‘Bu.” Yusi berdiri, tangan kanan mengarah ke lantai dua. “Sebaiknya Yusi mandi dulu. Yusi akan turun setelah selesai mandi.” Ucap Yusi memacu kedua kakinya berjalan menuju lantai dua.


Arwah Deni mendekati Laras yang sedang duduk di sofa, arwah Deni berdiri tepat di belakang Laras. Kedua mata sendu memandang istrinya dari belakang, setelah itu arwah Deni menghilang.


“Kok tengkukku tadi terasa dingin, padahal AC belum aku hidupkan.” Keluh Laras merasakan hawa dingin di bagian tengkuknya yang baru saja menghilang. Laras berdiri, kedua bahunya menaik. “Ih, serem aku jadinya.” Ucap Laras setelah merasakan keanehan yang baru saja ia alami.


.


.


✨✨Di dalam kamar✨✨

__ADS_1


Setelah selesai memakai baju, dan ingin mengeringkan rambutnya yang basah. Tubuh Yusi mendadak kaku di depan meja rias yang bersatu dengan cermin. Perlahan-lahan ia mencoba untuk menggerakkan kedua kakinya, tapi tidak bisa, seolah ada yang sedang menahan tubuhnya.


...Bersambung...


__ADS_2