
Setelah selesai memakai baju, dan ingin mengeringkan rambutnya yang basah. Tubuh Yusi mendadak kaku di depan meja rias yang bersatu dengan cermin. Perlahan-lahan ia mencoba untuk menggerakkan kedua kakinya, tapi tidak bisa, seolah ada yang sedang menahan tubuhnya.
“Si-siapa kamu?” Tanya Yusi kepada pantulan dirinya yang berada di depan cermin rias.
“Aku adalah Yusi yang asli.” Sahut pantulan dirinya yang berada di dalam cermin.
“Tidak!” Yusi meletakkan telapak tangan kanan di depan dadanya. “Aku adalah Yusi yang asli.” Jari telunjuk tangan kanan mengarah ke pantulan dirinya sendiri yang berada di dalam cermin. “Kamu siapa? Pasti kamu setan yang terus mengusikku, ‘kan?”
Pantulan Yusi memukul pelan cermin rias, membuat barang yang ada di atas meja rias yang terhubung dengan cermin bergoyang. “Setan! Jika aku Setan, lantas kamu siapa, Iblis?”
“Tidak. Kamu itu yang setan dan Iblis.” Yusi meletakkan kembali telapak tangan kanannya di depan dada. “Aku adalah manusia biasa.” Sahut Yusi meninggikan nada suaranya.
“Iya, kamu memang benar manusia biasa. Tapi kamu adalah manusia yang sangat jahat, dan memiliki sifat SERAKAH.” Pantulan Yusi berubah menjadi seram, wajah dan kulitnya berubah menjadi seram. Tangan pantulan dari Yusi yang berada di dalam cermin perlahan mengulur, terlihat dari jari-jemari mengeluarkan darah berbau busuk, kedua bola mata berubah warna menjadi putih, dan air mata berubah menjadi merah gelap. “Aku ingin membawa kamu pergi jauh.”
...ILUSTRASI...
“Tidak. Pergi kamu. Pergi!” Teriak Yusi kepada pantulan dirinya yang berada di dalam cermin, kedua tangannya meraih semua benda yang mudah ia gapai dan meleparkannya ke cermin rias.
“Ha ha ha ha.” Terdengar tawa puas memenuhi seisi dalam kamar. Pantulan diri Yusi mendadak berubah-ubah bentuk tubuh menjadi mendiang Deni dengan berwajah seram.
Yusi terus berteriak sambil melemparkan semua barang ke cermin, membuat cermin rias perlahan retak dan pecah berserakan di atas lantai kamar.
Teriakan Yusi dan pecahan kaca terdengar nyaring sampai ke ruang makan. Laras yang sedang menyusun masakan di atas meja makan terkejut, tatapan cemas mengarah ke lantai dua. Merasa cemas dengan teriakan Yusi dan suara kaca pecah yang baru saja ia dengar, Yusi mengayunkan kedua kakinya dengan cepat menaiki anak tangga menuju lantai dua.
“Yusi.” Panggil Laras, tangan kanan membuka pintu kamar Yusi tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Kedua mata Laras membesar setelah melihat Yusi duduk di depan serpihan kaca, tangan kanan menggenggam erat pecahan cermin hingga membuat tetesan darah jatuh ke atas lantai. “Apa yang kamu lakukan?” Tanya Laras sedikit meninggikan nada suara, ia berlari mendekati Yusi.
Praang!!!
Laras segera mengambil pecahan cermin yang di genggam erat oleh Yusi dan membuangnya. Laras juga memeluk tubuh putrinya yang gemetar seperti sedang ketakutan. “Tenang nak. Ibu ada di samping kamu.” Ucap Laras lembut, tangan kanan membelai rambut bagian belakang Yusi.
__ADS_1
“Yusi takut, ‘Bu.” Lirih Yusi mengingat raut wajah setan tersebut.
“Jika boleh Ibu tahu, apa yang membuat kamu takut?”
Yusi terdiam, ia menundukkan wajah dari balik pelukan Ibunya, kedua mata menatap telapak tangan kanannya yang memiliki luka menganga dan masih mengeluarkan darah.
‘Apa yang baru saja aku lakukan, apa aku tadi baru saja hendak mengakhiri hidupku sendiri. Apa gunanya jika aku berbicara kepada Ibu tentang semua kejadian yang belakangan ini menimpaku. Jika aku ingin usahaku berjalan dengan lancar sampai akhir. Aku harus menutup rapat-rapat tentang semua kejadian ini, agar kedua Abangku yang tidak berguna itu tidak bisa menyelidiki lebih dalam lagi mengenai peristiwa yang belakangan ini menimpaku. Iya, kamu memang benar Yusi. Setiap manusia memiliki dosa, dan setiap dosa memang patut mendapatkan hukumannya. Karena hukuman dari dosaku hanya aku yang dapat melihatnya, maka untuk selamanya aku akan menutup rapat-rapat tentang akulah yang sebenarnya membuat Ayah meninggal dunia. Aku adalah seorang pembunuh yang baik buat Ayahku.’ Batin Yusi.
Laras melepaskan pelukannya, tangan kanan menghapus keringat yang membasahi wajah Yusi. “Ibu baru saja siap masak. Mumpung masakannya masih hangat, mari kita makan.” Ajak Laras mengalihkan pertanyaan yang tak di jawab oleh Yusi.
Yusi mengangguk.
.
.
💫💫1 jam kemudian 💫💫
Di ruang Tv keluarga
[“Wajah kamu kenapa cemberut seperti itu?”] Tanya Azzam kepada Yusi yang sedang duduk di sisi kiri Laras dengan wajah cemberut.
[“Bukan urusan Abang.”] Ketus Yusi.
[“Kenapa kamu selalu dingin kepada Abang kamu yang tampan ini?”]
[“Tampanan lagi Abang Rabbani.”] Sahut Yusi dingin.
[“Haha. Kalian berdua ini kalau sudah jumpa pasti selalu saja seperti ini. Suasana seperti inilah yang membuat Ibu rindu kepada putra-putri Ibu.”] Sambung Laras, tangan Laras yang memegang ponsel sengaja ia alihkan ke tangan Yusi yang terbalut perban, tapi terlihat noda merah.
[“Kamu kenapa dek?”] Tanya Azzam dan Rabbani serentak.
__ADS_1
[“Ibu! Kenapa Ibu mengarahkan kameranya ke tangan Yusi.”]
[“Maaf, Ibu tidak tahu.”] Sahut Laras berbohong. Padahal dirinya sengaja melakukan itu agar Rabbani dan Azzam merayu Yusi untuk bisa memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.
[“Kamu tidak perlu memarahi Ibu seperti itu. Ibu tidak terbiasa memegang ponsel miliknya, jadi wajar saja jika kamera mengarah bebas.”] Ucap Rabbani.
[“Iya, kamu jangan marah kepada Ibu. Harus menjadi anak baik jika kedua Abang tampan kamu ini…..”] Sambung Azzam terhenti saat beberapa wanita mendekati meja miliknya, dan memberi ciuman manis di masing-masing wajah Azzam.
[“Mulai.”] Ucap Rabbani sudah paham dengan tabiat Abangnya yang suka main perempuan.
[“Kenapa wanita itu mencium bebas wajah kamu, Azzam?”] Tanya Laras karena tidak tahu tentang kebenaran sifat Azzam.
[“Maklum, anak muda.”] Sahut Azzam santai.
[“Ingat loh, kamu masih punya adek perempuan.”]
[“Iya, ingat kok. Azzam punya adek perempuan yang durhaka berwajah masam seperti anak yang sedang menatap Azzam tajam dari tadi.”] Ucap Azzam mengarahkan mulut panjangnya ke Yusi.
[“Oh, iya. Jika Abang boleh bertanya, kenapa tangan adek Abang yang cantik ini harus di perban?”] Tanya Rabbani mengalihkan ke topik utama.
Yusi menundukkan wajahnya. [“Karena Yusi sedang kesal.”]
[“Manis sekali! Abang baru tahu jika punya adik sebodoh kamu.”] Sambung Azzam.
[“Tidak masalah menjadi orang bodoh. Daripada manusia pendosa.”] Sahut Yusi dingin.
[“Kalah Azzam jika berbicara dengan putrid kesayangan. Ucapannya sangat menusuk ke sela-sela bulu halus Azzam.”]
[“Sudahlah, Yusi malas lihat muka Abang Azzam. Lebih baik Yusi matikan saja.”] Sahut Yusi beneran mematikan sambungan panggilan Vidio kepada kedua Abangnya.
Yusi berdiri, ia melirik ke Laras yang sedang menatapnya heran. “Yusi lelah.” Jari telunjuk tangan kanan mengarah ke lantai dua. “Yusi tidur duluan ya, ‘Bu.” Ucap Yusi berpamitan kepada Laras tanpa memberi jawaban yang pasti tentang kejadian yang baru saja menimpa putrinya.
__ADS_1
“Iya, sayang.” Sahut Laras, bibir memberikan senyum manis sebagai pengantar tidur untuk putrinya. Kedua mata Laras terus menatap kepergian Yusi. “Hal besar apa yang harus di tutupi Yusi kepada kami.” Gumam Laras bertanya kepada dirinya sendiri.
...Bersambung...