
Rendra memegang dagu Clara, membuat hembusan nafas mereka saling bersaut satu sama lain. Rendra menyelipkan tangan kanannya di pinggang Clara, membuat tubuh Clara menempel ke tubuh Rendra, “Apa kamu sudah melupakan tentang hubungan kita berdua?”
Tangan seorang pria menekan bahu kanan Rendra dari belakang. Dan terdengar suara dingin, “Buat apa kamu mengungkit masa lalu?”
Rendra perlahan melirik ke belakang. Wajahnya mendadak berubah menjadi bingung saat mengetahui jika tangan itu adalah tangan milik Rabbani. Rendra perlahan melepaskan pelukannya dari Clara, “Anda salah paham!” ucap Rendra berbohong.
Kedua kaki Rabbani perlahan bergerak, dan berhenti tepat di depan Rendra. Tatapan suram dan tajam kini ia tampilkan buat Rendra. Rabbani membungkukkan sedikit tubuhnya, kedua mata suram menatap liar wajah panik Rendra, “Berhenti mendekati pelayan ku. Atau kamu akan tahu akibatnya,” ancam Rabbani.
“Pe-pelayan?” tanya Rendra sedikit bingung. Setahu Rendra tadi siang saat bertemu di pinggiran kolam renang, Rabbani berkata jika Clara adalah kerabatnya, tapi kini pelayan.
Rabbani kini meletakkan kedua tangannya di atas kedua bahu Rendra, menekan kuat bahunya hingga terlihat wajah Rendra sedang meringis kesakitan. Rabbani kembali menatap wajah Rendra sangat dekat, “Apa kamu tidak tahu makna dari pelayan bagi seorang pengusaha? tanpa basa-basi akan aku kasih tahu jawabannya. Aku sudah menelusuri semuanya lebih dari siapa pun yang pernah menikmatinya,” Rabbani perlahan menurunkan pandangannya ke bawah, berhenti di resleting celana milik Rendra, “Katanya punya kamu tidak bisa bertahan lama. Sedangkan aku mampu bertahan lebih dari satu jam. Apa kamu bisa membayangkan jika lebih dari satu jam aku bisa melakukan apa saja agar gaya dan semuanya tidak membosankan?” Rabbani perlahan bergerak mendekati daun telinga Rendra, ia kembali menyerang Rendra dengan perkataan bodohnya, “Bukan hanya Clara saja yang bisa menikmati permainanku, tapi kamu juga bisa menikmatinya,” tangan kanan Rabbani perlahan membelai lembut lengan kanan Rendra, “Apa kamu suka?”
Wajah Rendra semakin panik, keringat jagung terus mengalir deras di seluruh tubuhnya. Tubuhnya terasa panas dingin saat mendengar jika Rabbani bisa melakukan hal itu dengannya. Siapa sebenarnya Rabbani? Tidak disangka-sangka jika Rabbani, seorang pengusaha kolektor muda dan cukup terkenal di kalangan pebisnis dan pemburu barang kolektor ternyata adalah seorang manusia suka semuanya. Pikiran kotor mulai memenuhi otak Rendra, hingga membuat kedua kakinya tidak bisa bergerak dari tempatnya.
Rabbani melepas Rendra, kini ia menggenggam erat pergelangan tangan kanan Clara. Membawa Clara pergi bersamanya agar tetap aman dari seorang pria jahat dan nakal. Sepanjang kaki melangkah dan terhenti di sebuah sofa khusus tamu, Rabbani memijat pelipisnya. Wajahnya semakin memerah saat mengingat semua perkataannya kepada Rendra.
‘Apa yang aku lakukan? Kenapa aku membuat citraku menjadi buruk hanya untuk menjauhkan seorang pria ba*jingan dari kehidupan Clara. Kalau saja aku tidak memikirkan sikap mendiang Abang Azzam pernah melakukan hal sangat tercela di kehidupan sebelumnya. Mungkin aku tidak akan sekeras ini melindungi Clara dari para pria hidung belang, dan membuat Clara tidak terhina di mata semua para pengusaha yang haus akan nafsu kepada wanita. Ahh!! Demi menebus semua kesalahan mendiang Abang Azzam, aku harus tetap melindungi Clara.’
Pikiran Rabbani harus pecah saat Clara bertanya, “ Apa Anda sakit?” punggung tangan kanan hendak menempel di dahi. Namun segera Rabbani tepis.
__ADS_1
“Ti-tidak. A-aku baik-baik saja,” ucap Rabbani kaku.
“Hai” sapa seorang wanita cantik berdiri di depan Rabbani dan juga Clara.
Rabbani menundukkan pandangannya. Kepalanya tiba-tiba mendadak pusing, tangan kanan ia kepal, dan mulai memukul ubun-ubun. ‘Aku pikir Dunia ini sangat luas, karena semuanya perjalanan melakukan transportasi dan membutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai ke tujuan. Tapi setelah semua hal yang aku jalani, Dunia ternyata sangat kecil dan di penuhi Iblis. Buktinya di depan mataku kini sudah hadir wanita aneh. Sudah dikasari tapi tetap saja menampilkan wajahnya di depanku. Aku jadi bingung, apa para wanita ini memiliki banyak muka dan banyak hati, sehingga dirinya bisa tersenyum dan melakukan kesalahan itu-itu saja.’
“Sebaiknya kita pulang saja,” ajak Clara melihat wajah Rabbani semakin memerah dan sedikit berkeringat.
“Tunggu dulu dong!” tahan wanita tersebut.
Rabbani berdiri, “Apa sebenarnya yang kamu inginkan dariku?” tanya Rabbani kepada Rashi.
“Menikah?”
“Apa benar nona muda Rashi melamar Sang Raja barang antik?”
“Aku berharap itu benar. Bukannya mereka sangat cocok?”
“Setelah kedua orang tua dan kedua saudaranya meninggal dunia, Sang Raja barang antik memang terlihat sedikit menyedihkan. Dirinya juga tidak ada yang mengurusi, jika memang ada seseorang yang mendampingi hidupnya maka itu akan sangat bagus.”
__ADS_1
Itulah ucapan para tamu saat mendengar Rashi berkata ingin menikahi Rabbani. Sang Raja barang antik, julukan buat Rabbani dibuat khusus dari semua pengusaha barang kolektor. Dan mereka juga mengetahui jika hanya Rabbani seorang mampu mendapatkan barang kuno, di mana pengusaha lainnya tidak bisa mendapatkannya.
Rabbani berdiri, tangan kanan menggenggam pergelangan tangan Clara. Membawa Clara berdiri bersamanya di hadapan Rashi, “Rupanya seperti ini seorang PELAKOR ingin merebut Suami dari Istri yang sudah lama bersamanya!” Rabbani menatap semua tamu, “Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Sebaiknya aku pamit pergi,” ucap Rabbani meminta maaf kepada para tamu karena ulahnya membuat perkumpulan semua para pengusaha kolektor barang antik kacau. Terlebih lagi ada dua orang menghancurkan rencana Rabbani ingin menambah wawasan luas untuk lebih mengenal konsumennya dan barang mana sangat laris di pasaran.
Rashi merasa tersinggung atas ucapan Rabbani. Rashi tak ingin kalah dengan Clara, kini kedua kakinya berjalan mengikuti langkah Rabbani dan Clara, “Kamu pikir aku tidak tahu siapa wanita yang sedang kamu bawa!”
Langkah kaki Clara terhenti, perlahan ia melepaskan genggam tangan Rabbani. Semua tamu juga mengarahkan pandangannya ke Clara. Para tamu mengumpat tanpa bersuara.
“Kamu kenapa berhenti, mari kita pulang,” ajak Rabbani berusaha meraih kembali tangan Clara, tapi dengan cepat Clara menjauhkan dirinya dari Rabbani.
“Bagus jika kamu sadar diri. Kamu bukannya Clara, seorang wanita malam, di mana semua pria kaya pernah tidur bersama kamu. Bukannya kamu tidak tahu malu jika kamu berusaha merayu Rabbani dengan wajah cantik dan tubuh bagus kamu itu? oohh…atau kamu!”
“STOP!” teriak Rabbani sangat kuat. Membuat semua tamu undangan terkejut. Rabbani terkenal akan sikap baik dan sopan nya kini terlihat jauh berbeda. Rabbani kembali mendekati Clara, menggenggam kembali pergelangan tangan Clara dengan sangat erat. Rabbani menatap serius para tamu undangan, “Aku peringatkan kepada kalian semua. Aku tidak menutupi perkataan benar dari nona Rashi mengenai Clara. Tapi hanya satu pesanku, jika aku mendengar siapa pun orang mengusik kehidupan Clara dan terus berkata buruk mengenai dirinya, maka aku akan turun tangan!” Rabbani perlahan melirik tajam ke Rashi, “Aku tidak main-main. Jika kamu ingin bermain denganku, maka kita akan pergi bermain hingga kamu puas. Tapi jika kamu terus mengusik Clara, maka kamu akan tahu akibatnya.”
Clara tertunduk malu, derai air matanya perlahan membasahi kedua pipinya. Hatinya terenyuh saat mendengar ada seorang pria sangat menjaga dirinya, dan berusaha menepis semua ucapan buruk orang lain.
Kesalahan terbesar Clara adalah mencari uang dengan cara yang salah. Membuat dirinya dulu harus terus terjerumus dan terikat di Dunia gelap dan malam. Hingga suatu hari bertemu secara tidak sengaja dengan Rabbani. Pertemuan untuk menebus dosa-dosa atas perbuatan mendiang Azzam, mungkin tidak akan pernah termaafkan dan mampu menebusnya dengan benar.
...Bersambung......
__ADS_1