
Dengan wajah dingin, dan suram, kedua kaki Rabbani terus berjalan masuk ke dalam toko. Para Karyawan sedang beberes dan menyusun barang untuk di pajang menatap langkah Rabbani.
“Sss! Kenapa dengan tuan muda kita?” tanya karyawan pria satu.
“Sepertinya sedang patah hati,” sahut karyawan wanita satu.
“Tidak mungkin,” sambung karyawan wanita dua. Kedua tangan memegang dua semangkanya, “Aku cantik dan montok, tapi kenapa tidak sama aku saja.”
“Yeee,” karyawan pria kedua meraup wajah karyawan wanita kedua, wajah mendekat dan berkata, “Sadar diri kamu! Seorang Karyawan biasa mana mungkin bisa memikat hati tuan muda kita yang cukup kaya raya dan baik hati.”
“Ada loh! Banyak cerita di novel dan di Tv cerita seperti itu,” sambung karyawan wanita kedua.
“Pigi aja sana luh ke Novel, atau masuk sana ke layar Tv biar bisa memiliki kekasih seperti tuan Rabbani!” karyawan pria kedua mengibas serbet penuh abu ke semua karyawan, “Bubar-bubar. Mau aku pecat kalian semua!” ucap karyawan pria meniru Rabbani.
Seluruh karyawan kemudian berlari kembali ke tempatnya masing-masing saat melihat Rabbani berdiri di belakang karyawan pria kedua sambil berkacak pinggang, dengan tatapan suram.
Karyawan pria kedua tidak menyadari kedatangan Rabbani. Dirinya kini tertawa puas sampai ia berbalik badan dan berhenti tertawa, “Sudah dari tadi tuan?” tanya karyawan pria kedua seolah tidak melakukan kesalahan.
“Menurut kamu?”
“Se-sebaiknya saya pamit dulu,” ucap karyawan pria kedua berlari ke tempatnya.
“Dengar semua!” ucap Rabbani sedikit meninggikan nada suaranya, tatapan mengarah bebas ke semua karyawan, “Besok kemungkinan aku akan pergi ke Yunani. Tidak tahu kapan akan kembali. Pesanku hanya satu, tetap menjadi Karyawan yang jujur, agar hidup kalian tenang dan rezeki kalian lancar. Hanya itu pesanku!” Rabbani berbalik badan, melangkah pergi meninggalkan toko menuju ruangan kantor miliknya.
“Kita harus semangat!” ucap pelan karyawan pria ketiga menatap karyawan lainnya.
“Aku kasihan lihat tuan muda, asal pergi mencari barang hampir mengelilingi seluruh Dunia drinya pasti berjalan sendiri. Rasanya aku ingin menemaninya,” sambung karyawan wanita kedua.
“Sudah mari kita lanjut kerja, dan menjadi tim yang baik!” ucap karyawan pria pertama mengepal tangan kanannya penuh semangat.
Kling!
Wanita cantik memasuki toko Rabbani. Membuat semua karyawan pria menatap kagum ke wanita cantik dengan rambut panjang, halus seperti sutera berwarna coklat.
Masing-masing karyawan pria berjalan mendekati wanita tersebut, “Ada yang bisa kami bantu?” tanya karyawan pria serentak.
“Saya ingin mencari Teru-Teru Bozu. Apakah di sini ada jual?” tanya wanita cantik menatap satu persatu wajah karyawan pria.
Karyawan pria menatap satu sama lain, dan saling bertanya, “Boneka apa itu?”
__ADS_1
“Bentar kami tanya dulu,” ucap karyawan pria satu berlari menuju ruang kantor Rabbani.
Tok!tok
“Masuk”
“Tuan, di luar ada seseorang yang ingin mencari Teru-Teru Bozu!” ucap karyawan pria satu memasukkan sedikit kepalanya ke dalam pintu.
“Sepertinya sudah tidak ada,” Rabbani melambaikan tangan kanannya, “Katakan padanya cari di tempat lain.”
“Baik tuan,” karyawan pria satu berlari menuju pajangan toko.
“Ada?” tanya karyawan lainnya.
Karyawan pria menggeleng, “Tidak.”
“Sungguh aku sangat kecewa jika barang yang aku cari tidak dapat ditemukan di sini,” sambung wanita cantik tersebut. Wanita cantik berbalik badan, saat kaki kanan hendak melangkah terdengar suara Rabbani.
“Aku tidak ingin membuat seorang pembeli pulang dengan perasaan kecewa,” Rabbani mengulurkan tangan kanannya seperti memegang boneka terbuat dari tisu di ikat-ikat dengan benang, “Kamu mencari ini kan?”
Wanita tersebut langsung mengambil boneka dari tangan Rabbani, “Wah! Aku tidak menyangka ada orang Indonesia bisa membuat seperti ini.”
“Tidak perlu berkata seperti itu. Sebagai seorang kolektor sudah seharusnya aku memahami semua benda unik dan mitos, agar pelanggan tidak merasa kecewa setelah pulang dari toko milikku,” Rabbani berbalik badan, “Terimakasih atas kunjungannya.”
“Apa Anda tidak ingin bertanya kenapa aku mencari boneka ini?”
“Maaf, aku tidak tertarik dengan urusan orang lain.”
“Oh” wanita cantik tersebut menundukkan kepalanya, “Terimakasih,” wanita cantik tersebut melangkah pergi meninggalkan toko milik Rabbani dengan perasaan senang dan sedikit kecewa karena Rabbani berkata dengan nada dingin.
Karena masih penasaran dengan boneka tersebut, karyawan pria satu menghadang Rabbani. Tatapan serius menatap wajah datar Rabbani, “Beritahu kami itu jenis benda kuno apa tuan?”
Rabbani meraup wajahnya, “Aihhh!” Rabbani berbalik badan menatap satu-persatu wajah karyawannya, “Apa kalian pernah nonton film sudako?”
"Tidak pernah."
“Teru-Teru Bozu adalah sebuah boneka penangkal hujan dari tradisi Jepang. Boneka tersebut dibuat dari potongan tisu dan kain yang diikat sehingga membentuk kepala dan tubuh boneka. Rajin-rajin nonton anime Jepang, pasti boneka itu akan muncul. Jangan tahunya rajin nonton gosip dan BL!” Rabbani berbalik badan, “Jangan ganggu aku lagi, karena aku ingin menyusun data-data untuk pencarian ku selama aku pergi nanti,” ucap Rabbani mengakhiri percakapan. Rabbani berbalik badan, kedua kaki melangkah pergi menuju ruang kantornya.
__ADS_1
Waktu terus berlalu, tidak terasa jam terus berdetak menunjukkan pukul 17:30 sore. Rabbani menyusun semua Dokumen miliknya ke dalam map plastik. Kemudian meninggalkan ruang kantor. Sambil melangkah Rabbani menatap para karyawannya, dan berkata, “Semangat buat para karyawan ku. 1 jam lagi kalian akan segera pulang.”
“Baru kali ini aku mendapatkan pemilik toko yang baik dan juga seperti teman,” ucap karyawan pria satu menatap kepergian Rabbani sudah hilang di depan mata.
Karyawan wanita kedua menepuk kuat bahu kanan karyawan satu, “Iya, makanya kita harus semangat dan tetap membuat tuan muda terus mempercayai kita. Karena cukup di sini kita memiliki gaji lebih dari UMR.”
.
.
Saat Rabbani hendak masuk ke dalam mobil, terlihat seorang wanita cantik sedang menangis di dalam mobil berwarna merah. Kaca serba putih memudahkan siapa pun untuk melihat ke dalam mobil. Rabbani memasukkan map berisi Dokumen miliknya ke dalam mobil. Merasa kasihan kepada wanita cantik, Rabbani berjalan mendekati mobil wanita tak jauh dari mobil miliknya.
Tak!tak!
Rabbani mengetuk jendela kaca mobil.
“Apakah Anda baik-baik saja?” tanya Rabbani kepada wanita cantik.
Wanita cantik menyeka kasar air mata berada di kedua pipinya, menurunkan perlahan kaca jendela kemudian melempar senyum manis kepada Rabbani, “Saya baik-baik saja.”
“Jika Anda baik-baik saja, kenapa Anda harus menangis?”
“Sepertinya Anda bakalan tidak tertarik dengan masalah saya, jadi sepertinya tidak perlu dibicarakan kepada Anda,” ucap wanita cantik mengingat ucapan Rabbani saat di toko tadi.
“Oh” tangan kanan mengarah ke mobil miliknya, “Kalau gitu aku pamit pergi,” Rabbani berbalik badan, kedua kaki melangkah menuju mobilnya.
“Tunggu!” tahan wanita cantik menggenggam pergelangan tangan kiri Rabbani.
Rabbani menoleh ke belakang, “Kenapa Anda menahan saya?”
“Kamu mau tidak menggantikan pria yang akan menikahi ku?”
“Maaf, aku bukan tempat pelarian kamu!” Rabbani perlahan melepaskan genggaman tangan dari wanita cantik.
“Undangan ku sudah di sebar, calon pria yang akan menikah denganku ternyata tengah mengkhianati aku,” wanita cantik menunjukkan video seperti baru saja di kirim, “Aku tidak menyangka jika dirinya berbuat hal kotor di belakangku.”
Rabbani mengelus puncak kepala wanita cantik, “Bukannya itu pertanda baik. Sang Pencipta menunjukkan beberapa keburukan mengenai calon suami Anda sebelum kalian menikah. Sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak bisa menuruti kemauan Anda,” Rabbani berbalik badan, melangkah cepat menuju mobilnya karena hari semakin gelap.
‘Ternyata memang sulit untuk menaklukkan hati pria satu ini. Awas saja kamu, RABBANI.’
__ADS_1
...Bersambung ...