SERAKAH

SERAKAH
BAB 24. Peluk Ibumu, Nak!


__ADS_3

“Yusi, kamu kenapa nak?” Tanya Laras saat melihat Yusi berjalan masuk dengan wajah tidak bersemangat.


“Yusi hanya kelelahan, ‘Bu.” Sahut Yusi, kedua kaki terus berjalan melewati Laras yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


“Apa lesnya terlalu berat buat kamu. Jika kamu merasa berat, Ibu akan bilang ke Abang Rabbani untuk menghentikan….”


“Jangan! Bukan itu masalahnya. Yusi hanya kelelahan karena….karena tadi ada pelajaran olahraga di sekolah.” Sahut Yusi berbohong, jari telunjuk tangan kanan mengarah ke lantai 2. “Yusi mau mandi dulu.”


“Oh, baiklah.” Laras menatap kepergian putrinya yang tampak beda hari ini. Terlihat ujung rambut sedikit basah, baju sekolah berantankan, dan wajah tampak tidak bersemangat. Ingin rasanya Laras bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada putri ke sayangannya tersebut, tapi pertanyaan itu masih Laras simpan di dalam hati sampai menunggu waktu yang tepat.


.


.


💦💦 Di dalam kamar mandi 💦💦


Yusi bertubuh polos tanpa busana duduk di bawah kucuran shower, kedua tangan memegang rambutnya yang basah, derai air mata bersatu dalam air hangat yang mengalir di setiap tubuh Yusi.



...ILUSTRASI...


“Kenapa kamu melakukan itu kepadaku, Andra.” Ucap Yusi meninggikan nada suaranya saat memanggil nama Andra. Yusi berdiri, kedua tangan mengusap kasar seluruh tubuh yang tidak kotor. “Aku benci, aku benci saat kamu menjelajahi seluruh tubuhku.”


Yusi terus membersihkan seluruh tubuhnya dengan sabun cair, membuat busa memenuhi ruangan khusus shower. Kedua mata Yusi mengingat perbuatan Andra yang memaksa dirinya untuk melampiaskan hasrat terpendam. Sempat menolak untuk melakukannya karena merasa sakit saat Andra terus memaksa miliknya masuk ke gua sempit, tapi Andra tidak memperdulikan jeritan Yusi. Andra terus berbuat sesukanya sampai dirinya mencapai puncak kenikmatan.


“PENDOSA.” Terdengar suara besar memenuhi ruangan kamar mandi.


Yusi terkejut, tangan kanan Yusi memutar kran untuk mematikan air. Kedua mata menatap liar e sekeliling kamar mandi. “Siapa kamu?” tanya Yusi meninggikan nada suara, kedua kaki perlahan ia bawak mendekati gantungan handuk.

__ADS_1


“Manusia yang memiliki sifat SERAKAH, dan hidup di penuhi Dosa, tidak pantas hidup tenang di dunia ini.” Ucap seorang wanita bersuara serak dari dalam cermin rias yang menempel di dinding kamar mandi. Seorang wanita memiliki wajah persis dengan wajah Yusi.


“Siapa kamu?” tanya Yusi mempercepat langkah kakinya mendekati cermin.


“Kamu adalah aku.” Sahut wanita yang berada di dalam cermin.


“Tidak. Aku adalah aku.” Jari telunjuk tangan kanan mengarah ke cermin. “Kamu adalah setan. Pergi kamu SETAN.”


“Ha ha ha.” Wanita tersebut memutar tubuhnya, wajah , tubuh dan suara berubah menjadi wajah mendiang Deni. Suara tawa masih terus memenuhi seisi ruang kamar mandi, dan menghilang sambil berkata, “Manusia PENDOSA.”


“Tidak. Aku bukan manusia seperti itu.” Sahut Yusi meninggikan nada suaranya menatap cermin. Teriakan Yusi terhenti saat melihat cermin yang tadi berisi setan, kini berubah menjadi cermin yang polos. Yusi meraba cermin polos tersebut dengan wajah bingung. “Ke-kemana kamu pergi. Beraninya kamu pergi setelah menghinaku.”


“Yusi, kamu kenapa nak?” tanya Laras sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.


“I-ibu.” Jari telunjuk tangan kanan mengarah ke cermin, kedua kaki berjalan mendekati Laras yang berdiri di depan pintu kamar mandi dengan wajah pucat, dan pandangan kosong lurus ke depan. “Apa tadi Ibu melihat ada setan yang menyerupai wajah Yusi?”


“Ibu.” Ucap Yusi sambil memeluk tubuh Laras, Yusi mengeratkan kedua tangannya di lingkar pinggul Laras. Merasa ada yang ganjil dengan tubuh Laras yang terasa dingin dan berbau tanah liat, Yusi perlahan mengarahkan tatapannya ke bawah. Kedua mata Yusi membulat sempurna, tubuh terasa kaku, saat kedua mata mengetahui jika yang ia peluk adalah pocong. Yusi perlahan menaikkan pandangannya, Yusi segera melepaskan pelukannya saat melihat wajah pocong seperti terbakar, mata sebelah kanan keluar. “Po-pocong.” Ucap Yusi, kedua kaki tunggang-langgang lari.


“Jangan lari seperti itu nak, Ibu masih membutuhkan kamu di sini.” Ucap pocong tersebut, memutar tubuh bagian dari pinggul ke atas menatap kepergian Yusi dari kamar.


Yusi terus berlari menuruni anak tangga, sesekali kedua mata menoleh kebelakang dengan tatapan ketakutan menuju ruang tamu. “I-ibu.” Teriak Yusi, tangan kanan masih menahan handuk bagian dada yang hampir lepas dari lipatan.


“Ka-kamu kenapa?” tanya Laras saat melihat Yusi berlari ke arahnya.


Yusi yang ketakutan langsung memeluk erat tubuh Laras yang terasa hangat dan harum. “A-ada pocong yang menyerupai Ibu di kamar mandi tadi.”


“Mungkin itu hanya efek kelelahan saja.” Ucap Laras berusaha menenangkan Yusi yang terlihat ketakutan di dalam pelukannya.


“Ti-tidak ‘Bu.” Yusi melepaskan pelukannya, wajah mendongak ke atas. “Mari kita lihat bersama ke kamar Yusi.”

__ADS_1


“Baiklah. Mari jalan bersama dengan Ibu.” Sahut Laras tenang, tangan kanan masih merangkul tubuh Yusi yang masih terasa gemetar.


Sesampainya di dalam kamar, pocong yang di bilang Yusi sudah tidak ada, yang terlihat hanya baju sekolah Yusi yang tampak berserakan di atas lantai kamar.


Laras menundukkan tubuhnya, tangan kanan mengutip baju kotor Yusi. “Kamu sudah makan, nak?” tanya Laras mengalihkan kepanikan yang tersirat di wajah Yusi.


Yusi menundukkan wajahnya, tangan kanan mengepal erat di sisi tubuhnya. “Ke-kenapa hanya Yusi saja yang bisa melihatnya. Apa salah Yusi?”


“Kamu tidak salah. Mungkin itu kelebihan yang Allah berikan kepada kamu untuk saat ini.” Sahut Laras, kedua tangan terselip pakaian kotor Yusi.


“Temani Yusi di sini sampai selesai memakai baju, ya ‘Bu.”


“Baik.” Sahut Laras, ia duduk di pinggiran ranjang sambil menunggu Yusi memakai baju. Kedua mata Laras membesar saat dirinya tak sengaja melihat punggung dan tengkuk Yusi memiliki bekas merah yang terlihat familiar. Tangan kanan Laras menutup mulut yang perlahan terbuka lebar. “Ti-tidak mungkin.” Laras segera mencari segitiga milik Yusi di dalam pakaian kotor yang berada tangannya. Tanpa rasa jijik Laras mencolek bagian dalam segitiga yang tampak berlendir. “Bau ini.” Ucap Laras saat mencium bau yang sangat familiar. Laras segera berdiri. “Nak.”


“Iya, ‘Bu.”


“Apa kamu telah melakukan…..”


Ucapan Laras terhenti saat benda pipih miliknya berdering. Laras segera menatap benda pipih yang ia genggam, terlihat Rabbani dan Azzam menelpon secara bersamaan. Laras menarik nafas panjang saat melihat wajah Yusi yang terlihat tegang. Mimik wajah Laras yang penuh pertanyaan berubah menjadi riang, tangan kanan Laras menggoyang pelan benda pipih.


“Kedua Abang kamu menelpon.”


“I-iya.” Sahut Yusi kaku.


“Mari duduk dekat dengan Ibu.” Ucap Laras menepuk pinggiran ranjang sebelah kiri yang kosong.


“I-iya.”


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2