
Azzam perlahan turun dari ranjang, dengan tubuh yang masih setengah sadar berjalan perlahan keluar dari dalam kamar, “Aku harus mendapatkannya,” ucap Azzam perlahan menuruni anak tangga. Azzam terus berjalan menuju dapur. Azzam menghentikan langkah kakinya di depan meja, tangan kanan mengambil sebilah pisau dapur. “Tidak ada mangsa yang bisa lolos dari targetnya,” sambung Azzam menatap pisau dapur yang ada di tangan kanannya. Azzam kembali melangkah menuju kamar Laras yang tak jauh dari ruang dapur.
Tok! Tok!
“Ibu!” panggil Azzam dengan bibir tersenyum manis, dahi menempel di pintu kamar Laras.
“Iya!” sahut Laras dari dalam kamar.
Cklek!!!
Melihat Ibunya berdiri di depan pintu kamar, Azzam memberi senyum manis, kedua tangan yang sudah memakai sarung tangan karet diletakkan kebelakang dengan tangan kiri menggenggam pisau dapur. Azzam perlahan melangkahkan kaki kanan masuk ke dalam kamar Laras, membuat Laras yang tadinya berdiri di depan pintu kamar perlahan mundur satu langkah kebelakang.
“Apakah Ibu ingin bertemu dengan Ayah di surga?”
“Apa maksud kamu?”
“Azzam hanya ingin melihat Ibu dan Ayah kembali bersama-sama seperti dulu lagi?” Azzam menghela nafas, kepala tertunduk, “Huft! Begitu lelahnya menjadi Ibu yang sekarang.”
Laras menghentikan langkah kakinya, “Azzam kamu kenapa nak?” tanya Laras memegang kedua lengan Azzam.
Azzam memiringkan kepalanya ke kanan, “Ibu tanya Azzam kenapa?” kedua bola mata putih yang kini memerah membulat sempurna seperti hendak menerkam Laras. Wajah dengan urat dahi yang hampir keluar mendekati wajah Laras yang terlihat panik. “Apa Ibu tidak merasa bersa….” Azzam menggantung ucapannya, tangan kiri segera melayang ke pipi kanan Laras, memberi satu saya-tan manis yang dalam.
Swwwiisshhh!!!!
“Akh! Azzam!” teriak Laras memegang pipi kanan yang terdapat luka sayatan. Laras berbalik, “Tega kamu!”
“Tega!” Azzam menahan lengan kiri Laras, “Tega Ibu bilang!” ucap Azzam meninggikan nada suaranya.
“Lepaskan Ibu, lepaskan Azzam!” pinta Laras, kedua tangan dan seluruh tubuh bergerak seperti hendak melepaskan diri dari cengkraman tangan Azzam yang begitu kuat.
“Lebih tega lagi Ibu kepada Azzam!”
__ADS_1
Jlubb!!!
Azzam melayangkan satu tusu-kan ke perut samping Laras, dan menarik kembali pi-sau tersebut.
“A-Azzam!” Laras menoleh ke perut kiri, “Da-darah,” tangan kiri segera menutup perut yang tertu-suk. Laras mengangkat kepalanya, air mata perlahan jatuh, rasa sesak melihat anak sendiri yang tega berbuat keji kepada dirinya seakan membuat seluruh tubuhnya menjadi panas dingin.
“Apa Ibu suka dengan permainan ini?” tanya Azzam, bibir tersenyum manis menatap wajah Laras yang terlihat sedikit pucat, keringat jagung, dan air mata yang memenuhi kedua mata letih nya.
“Ibu hanya ingin bilang, Ibu tidak akan pernah menyesal melahirkan anak seperti kamu. Ibu juga tidak pernah menyesali semua perbuatan yang kamu lakukan kepada Ibu. Ibu adalah orang tua yang gagal. Maafkan Ibu,” lirik Laras dengan penuh sesak di dalam dada. Laras berbalik badan, tangan kanan yang gemetar perlahan ia angkat, ingin membelai lembut pipi Azzam. Namun belaian tangan itu harus terhenti saat Azzam kembali menghujani Laras dengan pis-au dapur.
“Berhentilah berkata seperti itu, karena aku sangat membenci rasa kasihan kamu, IBU!”
Jlub!!
Jlub!!
Jlubb!!
“HA..ha..ha!” ujung lidah mengulur, mencolek ujung pisau yang masih berlumur darah, “Sangat manis, seperti ini rupanya rasa da-rah manis dari Ibu yang gagal,” ucap Azzam menatap pis-au yang ada di depan matanya.
Tubuh Laras perlahan goyang, kedua tangan yang dipenuhi da-rah mengulur, “Bahagia lah kamu dengan perbuatan mu!” ucap Laras pelan, kedua kelopak mata perlahan menutup dengan tubuh yang ambruk ke lantai.
Bruk!!
Lantai marmer yang bersih kini berubah menjadi genangan darah.
Bukan merasa kasihan dan merasa bersalah dengan perbuatannya sendiri. Azzam yang masih terpengaruh di bawah obat terlarang menuju lemari brangkas milik Laras. Azzam berjongkok, tangan kanan yang masih memakai sarung tangan dan berbalut darah perlahan membuka kunci kode brankas. Kedua mata Azzam berbinar terang saat melihat beberapa surat yang sudah di beri label nama di atas map coklat. Surat yang ia tuju ternyata di susun rapih di rak kedua paling atas.
“Ibu benar-benar baik,” Azzam mengambil map tersebut, memasukkan map ke dalam baju, “Aku harus cepat keluar dari rumah ini,” Azzam menutup brankas kembali. Kedua bola mata yang memerah menatap sekeliling kamar seperti sedang mencari sesuatu. Azzam bangkit, ia segera meninggalkan brankas kecil menuju meja rias. Azzam mengambil tisu basah. Tidak ingin meninggalkan banyak jejak, Azzam membersihkan setiap sentuhan yang ia pegang, kecuali tubuh laras, karena saat sedang beraksi dirinya memakai sarung tangan.
Azzam berlari cepat meninggalkan Laras yang terbujur kaku di atas lantai. Azzam terus berlari dan berlari keluar dari rumah Laras. Kedua kaki Azzam terhenti saat hujan lebat dan kilat menyambar bumi. Azzam melirik ke belakang, terlihat pintu rumah yang sudah ia tutup rapat. Bekas tisu basah untuk menghilangkan semua jejak yang ia sentuh kini sudah berada di kedua genggaman tangannya.
__ADS_1
“Aku harus pergi sekarang juga, sebelum usahaku menjadi sia-sia,” Azzam melangkahkan kaki kananya menuruni teras rumah, hujan deras mengguyur tubuh dan tangan, serta baju yang tadi dipenuhi darah perlahan bersih karena di guyur hujan yang cukup lebat. Azzam terus berlari menuju mobil miliknya yang terparkir di garasi. Tangan kanan memegang gagang pintu, kedua mata melirik ke arah belakang, “Selamat tinggal Ibuku tercinta,” ucap Azzam sebelum masuk ke dalam mobil.
Azzam kini melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan kediaman rumah Laras. Kedua mata terus memandang map berisi apa yang ia inginkan kini sudah menempati tempat duduk kemudi bagian depan, “Akhirnya kamu menjadi milikku. Terimakasih Ibuku tercinta.”
.
✨POV Penulis✨
Amplop yang berada pada Azzam adalah amplop harta milik Laras yang diberikan mendiang Deni sebelum meninggal dunia. Mendiang Deni memberikan harta miliknya yang berada di puncak Bogor. Harta itu adalah sebuah Villa dan perkebunan yang luasnya kurang lebih 100.000 hektar.
Alasan Deni memberikan harta tersebut kepada Laras, mendiang Deni tidak ingin membuat Laras bersedih hati tanpa uang di hari tuanya nanti, dan tidak ingin membuat Laras menjadi beban anak-anaknya.
✨POV END✨
.
.
.
💫💫Di ruang kerja Rabbani💫💫
Rabbani yang baru selesai memindahkan pembukuan usaha miliknya ke dalam Laptop, berdiri, “Akhirnya siap juga,” tangan kanan menutup Laptop.
Prang!!
Bingkai foto besar keluarga yang ia gantung di belakang kursi meja kerjanya terjatuh.
“Kenapa bisa jatuh?” tanya Rabbani sendiri, ia segera menunduk, tangan kanan mengambil bingkai foto keluarga miliknya, “Ternyata gantungannya sudah mulai berkarat, pantes saja jatuh,” ucap Rabbani berusaha berpikir positif.
Rabbani segera membersihkan serpihan kaca bingkai, antara lelah dan mengantuk, sekilas gambar Laras yang sedang duduk di kursi terdapat noda merah. Rabbani segera mengucek kedua matanya, kemudian menatap kembali bingkai foto yang berisi gambar Rabbani, Azzam, Yusi, Laras dan mendiang Deni di hadapannya, “Aku pikir apa. Ternyata semuanya hanya efek kelelahan,” ucap Rabbani berusaha melunturkan pikiran negatif nya. Rabbani berdiri, bingkai foto besar dengan serpihan kaca diatasnya diletakkannya di atas meja kerja miliknya, “Besok akan aku belikan bingkai yang lebih bagus lagi.”
__ADS_1
...Bersambung...