
Selesai melakukan ritual dengan Kek Rusdi. Anggun bergegas membersihkan beberapa kotoran di tubuhnya dengan tisu basah. Anggun juga segera memakai baju miliknya, rambut kusut kini ia tata rapih dengan benar.
Sambil membenarkan pakaiannya Kek Rusdi berkata, “Nanti akan aku kasih kamu resep yang hebat!” ucap Kek Rusdi terlihat serius dengan kedua bola mata membesar.
“Yang benar. Kakek tidak bohong kan?” rayu Anggun mendekati Kek Rusdi, jari-jemari di hiasi kutek merah maron membelai lembut wajah keriput Kek Rusdi.
Hasrat Kek Rusdi kembali naik, “Jangan seperti itu, gimana kalau aku tidak bisa menahannya?” tanya Kek Rusdi menahan pergelangan tangan kanan Anggun.
“Aku akan melayaninya kembali,” sahut Anggun berjalan dengan centilnya. Bokong montoknya mengejek Kek Rusdi.
“Kamu memang pelanggan ku yang TOP!” ucap Kek Rusdi, tangan kanan mendarat di salah satu bokong.
Plak!
“Auuww…” Anggun memegang bokongnya, tatapan melirik ke sisi kanan, “Kek Rusdi nakal!”
Anggun dan Kek Rusdi berjalan keluar ruangan menuju ke meja Praktek. Senyum penuh makna masih terus terpancar dari raut wajah Kek Rusdi, dengan kedua mata mesum masih terus memandang wajah cantik Anggun.
‘Dasar wanita aneh. Sama semuanya dia mau. Untung dirinya rajin perawatan tentang miliknya sendiri. Kalau dirinya tidak rajin perawatan dan yang lainnya, mungkin aku tidak akan mau tidur dengannya.’
Ben segera berdiri, tubuh sedikit membungkuk, jempol tangan kiri mengarah ke pintu, “Sebaiknya saya tunggu nona di luar saja,” ucap Ben melangkah pergi meninggalkan Anggun bersama dengan Kek Rusdi. Alasan Ben pergi meninggalkan Anggun, karena dirinya merasa sangat jijik setelah melihat dan mendengar suara-suara aneh dari perbuatan Kek Rusdi dan juga Anggun. Bukan itu saja, alasan lainnya adalah karena Ben merasa jijik melihat seorang Kakek tua melakukan perbuatan tercela dengan seorang wanita, terlebih lagi itu pasiennya. Ben berpikir seorang Dukun mesum itu hanya ada di dalam berita saja, ternyata Dukun mesum memang ada di Dunia, dan nyata di depan matanya.
Anggun dan Kek Rusdi tidak menghiraukan kepergian Ben.
__ADS_1
Karena tidak ingin menunggu terlalu lama lagi di tempat Praktek Kek Rusdi. Anggun mulai bertanya mengenai permintaannya. Anggun menatap Kek Rusdi dengan serius, “Ilmu pelet apa yang akan Kakek berikan kepadaku?”
Kek Rusdi mendekatkan tubuhnya sedikit menonjol ke depan, kedua mata dan alis saling menaik, “Ilmu pelet Jaran goyang.”
“Apa memang ada, Jaran goyang?” tanya Anggun serius.
“Iya. Bukannya pria itu sangat tampan, dan juga memiliki banyak harta?” tanya Kek Rusdi kembali.
Anggun mengangguk, “Iya Kek,” tatapan serius mengarah ke Kek Rusdi, “Kakek kok tahu?”
Kek Rusdi melambai, “Kamu itu pelanggan ku toh, jadi ya jelas aku tahu. Bukannya dulu saat kamu ingin memikat suami kamu, kamu memakai ilmu pelet buatan ku, toh! Bedanya dulu suami kamu sangat tua, dan pria incaran kamu kali ini sangatlah muda,” Kek Rusdi melipat kedua tangannya di depan dada, “Aku tahu semua tentang kamu!” tangan kanan menepuk dadanya, “Aku Dukun sakti yang sudah cukup terkenal, dan berdiri sejak tahun 1994,” ucap Kek Rusdi dengan sombongnya.
Anggun melambai, “Iya deh!” tatapan kembali serius mengarah ke Kek Rusdi, dan kembali bertanya, “Efek setelah kita memakai ilmu pelet jaran goyang itu apa Kek?”
“Ilmu pelet Jaran goyang ini adalah Ilmu pelet sangat ampuh bagi siapa pun yang akan memilikinya. Ilmu pelet lebih hebat dari Ilmu pelet pengasih lainnya-” Kek Rusdi menggantung ucapannya, jari telunjuk tangan kanan bergerak ke kanan/kiri, “Kamu tidak boleh sepele dengan ilmu pelet yang satu ini. Sekali kamu memakainya, maka target yang kamu inginkan akan terus mengingat kamu. Sampai-sampai dirinya bisa memberikan apa pun sesuai dengan permintaan dari kamu.”
20 menit kemudian, datang seorang wanita muda dengan wanita sedikit tua masuk ke dalam ruang praktek Kek Rusdi. Kedua wanita tersebut duduk di belakang Anggun.
“Apa masih lama yo, Mbah?” tanya wanita muda lainnya.
“Sudah siap. Kami hanya berbincang sebentar,” Kek Rusdi menatap kedua wanita tersebut dengan tatapan liar, “Kamu sakit apa?”
“Saya ingin memiliki keturunan Kek,” sahut wanita sedikit tua.
__ADS_1
Kek Rusdi melambai, "Itu Mah penyakit paling gampang," sahutnya penuh dengan pikiran kotor.
'Dasar tua Bangka. Sudah mau mati saja masih bisa.....ah, sudah lah.'
Karena semuanya sudah Anggun dapatkan dan ia juga sudah mulai muak melihat Kek Rusdi. Anggun segera berdiri, dengan sopan dia menyela pembicaraan kedua wanita tersebut. Senyum manis ia pancarkan saat menatap kedua wanita tersebut, “Maaf saya potong sejenak. Saya pamit pulang dulu, Kek dan Kakak-kakak,” ucap Anggun melangkahkan kedua kakinya meninggalkan tempat praktek Kek Rusdi.
.
.
💫💫Dalam mobil💫💫
Ben menunggu Anggun dengan wajah sangat kesal. Entah kenapa Ben lama-lama tidak suka saat melihat Anggun menghalalkan berbagai macam cara hanya untuk memenuhi keinginannya. Melihat Anggun sudah keluar dari dalam tempat praktek Kek Rusdi, Ben segera keluar dari mobil, membukakan pintu buat Anggun. Setelah Anggun masuk, Ben juga ikut masuk ke dalam.
“Kita pulang dulu, kemudian antar aku ke Spa, salon, dan perawatan lainnya. Rasanya aku ingin muntah karena masih mencium nafas bau dari mulut Kakek tua itu. Kenapa kamu belum menyalakan mesin mobilnya. Apa kamu tidak mendengarkan perkataan ku?” tanya Anggun tegas.
“Kenapa Anda merelakan tubuh indah itu di sentuh dan dimainkan oleh Kakek tua seperti dia? Apa Anda tidak merasa jijik bermain dengan Kakek tua itu?” tanya Ben berulang kali hingga hatinya merasa puas.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Ben. Anggun kembali duduk tenang, kaki kiri bergerak seperti sedang mengayun mesin jahit, jari-jari kuku ia gigit sambil berkata, “Aku pernah menjadi anak petani yang miskin. Hidupku dipenuhi dengan omongan pahit dari tetangga. Yang lebih sakitnya lagi saat kedua orang tuaku mendadak jatuh sakit. Karena kami hanya bisa berhutang tapi tidak mampu membayar, semua warga di desa itu tidak mau meminjamkan uang mereka untuk membantuku membayar rumah sakit dan pengobatan Ibuku. Hingga suatu saat aku bertemu dengan mantan suamiku yang sudah meninggal dunia di rumah sakit tempat kedua orang tuaku di rawat. Mendiang suamiku yang penyakitan itulah yang membantuku. Tapi sayangnya, saat dirinya tulus membantuku, kedua orang tuaku sudah tiada. Saat itu juga aku baru saja siap menikah, sebagai syarat untuk menyembuhkan kedua orangtuaku. Setelah menikah aku tersadar, jika uang memang mampu merubah segalanya, dan uang juga bisa membuat semua orang rela membuat kepala di tangan, kedua kaki berada di kedua tangan,” ucap Anggun mengingat kejadian pahit semasa mudanya.
Ben menundukkan wajahnya, “Saya mohon maaf. Tapi yang Anda lakukan sekarang ini salah!” Ben menyambung ucapannya kembali, melirik Anggun dari kaca spion tengah, “Anda sudah memiliki semuanya, apa lagi yang harus Anda cari nona?”
__ADS_1
Anggun merenggangkan kedua tangannya selebar mobil, “Harta, dan kekayaan yan tiada akan pernah habis. Sampai aku mati.”
...Bersambung...