SERAKAH

SERAKAH
BAB 40. BERAKHIR


__ADS_3

...KEESOKAN HARINYA, PUKUL 15: 30...


...****************...


Rabbani berjalan terburu-buru keluar rumah, tangan kanan memegang beberapa bukti. Semenjak kejadian mencurigakan oleh Yusi dan Azzam, Rabbani semakin membulatkan tekadnya untuk kembali ke kantor pihak yang berwajib untuk memberikan beberapa keterangan dan ingin melanjutkan kasusnya lebih dalam lagi. Semua perbuatan Rabbani tidak diketahui oleh Yusi dan juga Azzam.


30 menit setelah Rabbani pergi, Yusi keluar kamar menuju kamar Rabbani.


Tok! Tok!


“Abang Rabbani!” panggil Yusi dari depan pintu kamar.


“Kenapa kamu terus mengikuti Rabbani? Apa kamu suka dengan Abang kamu sendiri?” tanya Azzam selalu usil kepada adik perempuannya.


“Gila!” Yusi berbalik badan, kedua kaki melangkah pergi meninggalkan Azzam.


“Yusi tunggu!”


Yusi menghentikan langkah kakinya, “Ada apa lagi?” tanya Yusi melirik sedikit ke sisi kiri.


“Apa kamu tidak ingin menikmati uang tanpa bekerja dan kuliah?”


Yusi berbalik badan seperti tergiur dengan ucapan Azzam, kedua kaki melangkah perlahan mendekati Azzam, “Caranya?”


“Aku tadi malam tidak sengaja mendengar percakapan Rabbani kepada karyawan kepercayaannya jika bisnis milik Rabbani sekarang sedang berkembang pesat. Total penjualan juga sudah melebih batas target,” Azzam merentangkan kedua tangannya, “Kamu bayangin jika kamu mendapatkan uang sebanyak 2 Miliyaran di setiap harinya. Apa kamu tidak ingin menikmatinya?”


“Aku rasa Abang perlu berkemas dan pergi ke rumah sakit jiwa,” Yusi berbalik badan, sambil melangkah Yusi berkata, “Jika Abang menginginkan harta milik Abang Rabbani rebut saja sendiri.”


“Apa kamu tidak yakin? Ini uang loh. Kamu bisa membeli apa saja yang kamu inginkan. Bukan itu saja, kamu juga bisa membalaskan dendam kamu kepada teman-teman yang telah menghina kamu!” rayu Azzam kembali.


Yusi menghentikan langkah kakinya. Rayuan Azzam sepertinya berhasil. Yusi menatap serius wajah Azzam berjarak 5 langkah dari tempat dia berdiri, “Aku ikut. Aku ingin membuat semua anak yang telah menghinaku dulu mendapatkan balasannya.”


Azzam mendekati Yusi, tangan kanan mengambil sehelai rambut panjang Yusi, “Abang tidak suka menunda. Abang ingin kita bermain sekarang juga. Caranya cukup gampang, ikuti semua instruksi yang Abang katakana nantinya,” Azzam mendekatkan bibirnya di daun telinga Yusi, “Gadis na-kal, harus tetap nakal.”


“Apa maksud Abang?”


“Mari ikut Abang. Abang akan menunjukkan beberapa barang milik Abang.”


Yusi dan Azzam berjalan menuju ruang rahasia milik Azzam.


Setelah semua urusannya selesai di kantor pihak yang berwajib, Rabbani kembali pulang dini hari sore, pukul 17:30. Sore itu langit sangat gelap, membuat rumah besar serba tertutup sedikit gelap, di tambah lampu rumah tidak dinyalakan.


“Yusi! Kenapa kamu tidak menghidupkan lampu!” ucap Rabbani sedikit meninggikan nada suaranya karena hujan perlahan turun begitu derasnya. Rabbani melangkah mendekati tombol lampu, “Kenapa mereka berdua,” gerutu Rabbani.


Ctak!


Saat lampu menyala, saat itu juga kedua mata Rabbani membulat sempurna menatap Yusi dan Azzam sedang menodo-ngkan senjata ap-i di sisi kanan dan kiri kepalanya.


“Dor! Apa Abang Rabbani ingin bermain bersama Yusi?”


“Jangan bermain seperti ini,” ucap Rabbani perlahan menetralkan rasa takut menyelimuti seluruh tubuhnya. Tangan kanan segera menurunkan perlahan senjata ap-i milik Yusi, “Darimana kamu mendapatkan senjata ini?”


Dor!

__ADS_1


Yusi tidak menjawab pertanyaan Rabbani, tangan kanan Yusi melayangkan satu tembakan ke lantai tepat di hadapan Rabbani.


Rabbani bergerak mundur ke belakang, “Sudah cukup Yusi! Kamu jangan bermain-main dengan senjata seperti ini,” Rabbani hendak mengambil senjata api dalam genggaman tangan Yusi, tapi Azzam segera menahan tangan Rabbani.


Azzam merenggangkan kedua tangannya, “Ah! Tegang ya?”


“Apa maksud Abang?”


“Aku hitung sampai 20 dan kamu harus berlari dari kami, karena permainan akan segera di mulai,” ucap Azzam mendekatkan wajahnya ke wajah Rabbani.


“Apa kalian berdua yang sudah membunuh Ayah dan Ibu?” tanya Rabbani spontan.


“Tentu,” sahut Yusi dan Azzam serentak.


‘Aku harus kabur sebelum mereka berdua beneran akan menghabisi ku.’


Azzam mulai menghitung mundur, kedua tangan mengelus senjata api, “Dua puluh….sembilan belas…”


Rabbani segera berlari menuju dapur, kedua tangan mengambil pi-sau. Kemudian Rabbani kembali berlari menuju ruang belakang. Dan bersembunyi di balik lemari tempat besi tempat penyimpanan buku usang.


“Hush! Hush!” Rabbani menutup mulutnya, berusaha menetralkan nafas letih.


Azzam berjalan perlahan mengikuti Rabbani sambil terus menghitung, “Lima, empat, tiga, dua, satu,” Azzam menghentikan langkah kakinya di depan pintu belakang. Kedua mata menatap liar ke sekeliling tempat karena sudah kehilangan Rabbani.


“Abang Rabbani kamu di mana?” tanya Yusi mencari tempat persembunyian Rabbani.


Di tengah ketegangan berhembus angin kencang menerpa wajah letih dan ketakutan Rabbani. Hembusan angin membuat Rabbani perlahan tertidur lelap.


Prang!


Gucci mahal milik mendiang Deni terjatuh begitu saja di depan Azzam. Pintu dapur terbuat dari bahan impor tertutup dan terbuka.


Swiiissshhh!!!


Angin kencang menyelinap masuk ke dalam rumah, membuat Azzam dan Yusi ingin terbang.


“Kenapa ini bang?”


“Pasti kedua setan itu ingin ikut campur,” sahut Azzam mengetahui jika ini pasti ulah arwah Deni dan Laras.


Angin kencang seketika menghilang begitu saja. Azzam dan Yusi saling menatap satu sama lain, tatapan liar mereka arahkan ke bagian rumah belakang cukup besar. Azzam bergerak maju, “Keluar kamu Rabbani!”


“Sepertinya Abang Rabbani tidak ada di sini?”


“Akh! Omong kosong,” Azzam mengarahkan senjata api dengan bebas dan melayangkan beberapa anak pelu-ru ke semua tempat.


Dor! Dor!


“Bang di sana!” tunjuk Yusi melihat arwah Deni.


“Habislah kalian semua!” teriak Azzam kembali melayangkan tembakan.


Ctak!

__ADS_1


Lampu tiba-tiba padam. Azzam dan Yusi menjadi bingung.


“Abang Azzam,” panggil Yusi, kedua tangan berusaha menjangkau Azzam berada di belakangnya. Setelah dapat meraih tangan Azzam, lampu kembali hidup.


Arwah Deni dan Laras mematikan seluruh lampu rumah, arwah Deni dan Laras merubah wajah mereka menjadi Rabbani untuk melindungi Rabbani dari kejahatan kedua saudaranya.


Ctak!!


Kedua bola mata Yusi membulat sempurna saat melihat tangan Rabbani lah di genggamannya. Wajah pucat Rabbani tersenyum manis menatap Yusi. Yusi segera menodo-ngkan senjata ap-i, “Sudah tahu mau dihabisi, tapi Abang tetap saja membuat kebaikan,” Yusi menggeleng, “Maafkan Adik kamu yang manis ini,” Yusi mulai membidik dan terdengar suara tembakan.


Dor!


Di sisi lain, bibir Azzam perlahan menyembur darah, senyum manis menatap wajah pucat Rabbani juga tersenyum manis karena sudah berhasil memberi tusu-kan di peru-tnya. Azzam tidak mau kalah, diapun perlahan mengarahkan tangan kanannya tepat ke dada, kemudian terdengar suara tembakan.


Dor! Dor!


Tiba-tiba wajah Rabbani berubah menjadi wajah Yusi. Azzam membulatkan kedua bola matanya, kedua kaki perlahan mundur ke belakang, “Tidak mungkin.”


“Bre*ngsek kamu!” Yusi kembali menyerang Azzam, membuat Yusi dan Azzam saling tembak-mene-mbak.


Darah mereka berdua berhamburan ke lantai dan menciprat ke dinding. Tubuh penuh darah kini terkulai lemas di atas lantai. Azzam dan Yusi jatuh di atas lantai, kedua bola mata menatap langit-langit. Nafas tak beraturan perlahan berhembus dari mulut mereka dipenuhi darah. Azzam dan Yusi akhirnya menghembuskan nafas terakhir mereka dengan cara mereka sendiri.


10 menit kemudian pihak yang berwajib menulusuri dalam rumah. Terlihat jasad Yusi dan Azzam tergeletak dengan cara tragis. Pihak yang berwajib juga membangunkan Rabbani, merangkul tubuh lemas Rabbani berjalan keluar dan berhenti di depan jasad kedua saudaranya.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Rabbani kepada pihak yang berwajib.


“Sepertinya mereka saling membu-nuh,” sahut pihak yang berwajib.


Rabbani segera melepas rangkulan pihak yang berwajib, “Ibu…Ayah!” ucap Rabbani menatap arwah Deni dan Laras berdiri di tengah jasad Yusi dan Azzam.


Arwah Deni dan Laras melambaikan kedua tangan, tubuh mereka perlahan menghilang dengan senyum manis.


“IBU…AYAH!’ teriak Rabbani kehilangan arwah Deni dan Laras.


“Sepertinya mendiang Ibu dan Ayah tuan sudah bisa tenang setelah semua perbuatan buruk yang dilakukan oleh kedua saudara tuan,” ucap pihak berwajib memegang bahu kanan Rabbani.


“Bapak benar,” Rabbani menoleh ke sisi kiri, “Saya serahkan semuanya kepada pihak yang berwajib.”


.


.


2 bulan kemudian, setelah semua kejadian pahit menimpa keluarganya sendiri karena ulah kedua saudaranya. Dan melunasi hutang-hutang mendiang Azzam. Rabbani mulai bangkit untuk mengurus bisnis peninggalan milik mendiang Azzam, Yusi, dan juga Laras.


Di tengah-tengah kesibukan Rabbani. Rabbani bertemu dengan seorang wanita cantik. Wanita itu ingin melamar pekerjaan di toko miliknya di Jakarta. Karena wanita tersebut sangat membutuhkan pekerjaan, Rabbani pun menerimanya. Wanita cantik bernama CLARA.


...BERSAMBUNG...


.


.


Sekedar Informasi, untuk BAB Selanjutnya hanya ada kisah tentang Rabbani dan orang-orang SERAKAH ingin merebut Harta dan kekuasaannya.

__ADS_1


Terimakasih ☺️☺️


Semoga kalian terhibur.


__ADS_2