
"Jangan pernah kalian tunjukkan batang hidung di toko ini dan di rumah tuan Rabbani. Jelas!" ucap Anton meninggikan nada suaranya, kedua tangan segera menutup pintu toko.
Anggun dan Rashi saling tatapan, "Lah, kok dia yang lebih marah daripada kita," ucap Rashi dan Anggun serentak.
Anggun berbalik badan, tangan kanan mengibas rambutnya, "Sebaiknya aku harus pergi ke tempat Kek Rusdi. Aku ingin meminta jimat pemikat buat Rabbani," Anggun mengepal tangan di depan dada, wajah terlihat penuh keyakinan, "Masa aku kalah dengan gadis kampung itu," kedua kaki melangkah.
'Jimat pemikat? aku juga harus mendapatkannya,' Rashi berlari kecil mengikuti Anggun, "Tunggu!" panggil Rashi.
Anggun menghentikan langkahnya di samping mobil, "Aku pikir kita tidak saling kenal," sahut Anggun datar, tangan kanan membuka pintu mobil.
"Aku ingin ikut!" ucap Rashi menahan pintu mobil saat Anggun hendak masuk.
"Ikut kemana?" tanya Anggun bingung.
"Kamu bilang kamu ingin bertemu Kakek yang bisa memberikan kamu jimat pemikat. Aku juga mau ikut dengan-mu!" ucap Rashi serius.
"Ha ha" sejenak Anggun tertawa renyah, lalu terhenti melihat wajah Rashi terlihat penuh keyakinan, "Apa kamu bercanda?"
"Tidak. Aku serius. Aku juga ingin memiliki Rabbani."
"Oh" Anggun menutup mulutnya, kedua mata membulat sempurna. Anggun melepaskan perlahan genggaman tangan Rashi dari pintu mobilnya, "Kalau begitu tujuan kita sama. Sama-sama ingin merebut Rabbani dan menguasai hartanya. Tapi maaf, aku lagi tidak ingin menambah saingan. Cukup satu saingan yang sulit di lumpuhkan..."
Rashi mendorong tubuh Anggun hingga terjatuh di kursi kemudi. Rashi juga mendekatkan tubuhnya, "Iya, kita memang saingan. Wanita mana yang tidak tergiur melihat seorang pria tampan memiliki harta banyak. Saat aku mendengar Rabbani mewarisi semua harta milik kedua saudara dan orang tuanya, sifat SERAKAH ku langsung memuncak. Aku yakin kamu juga seperti itu!" tuduh Rashi di kalimat terakhir.
Anggun mendorong tubuh Rashi, "Kalau iya kenapa?" tanya Anggun meninggikan nada suaranya.
Rashi mengulurkan tangan kanannya, "Jadi mari kita musnahkan satu musuh. Dan jadikan saingan itu hanya kita berdua," ucap Rashi penuh pertanyaan.
"Apa maksudnya?"
"Bukannya kamu ingin menyingkirkan Clara. Istri dari Rabbani?" tanya Rashi langsung ke intinya.
"Kalau iya kenapa!"
"Aku ingin mengajak kamu kerja sama denganku. Mari kita jauhkan wanita itu dari Rabbani," ucap Rashi membuat sebuah rencana untuk memisahkan Clara dengan Rabbani.
"Kalau aku bekerjasama dengan kamu. Berarti kamu bukanlah sainganku," Anggun kembali mendorong tubuh Rashi, tangan kanan berusaha menutup pintu. Tapi Rashi dengan keras menahan pintu tersebut, "Maaf, Rabbani dan hartanya hanya milikku seorang."
"Kita akan tetap menjadi saingan. Setelah kita berhasil menyingkirkan wanita yang dicintai Rabbani, maka kita akan bersaing. Baik sehat ataupun bermain yang lain. Bagaimana?" tawar Rashi sekali lagi.
"Baik. Bagaimana caranya?" tanya Anggun menerima tawaran Rashi.
Rashi mendekatkan bibirnya ke daun telinga Anggun. Rashi berbisik halus, sesekali senyum tipis melintas di bibirnya, membuat Anggun terus membulatkan kedua bola matanya.
Anggun mendorong kasar tubuh Rashi, "Sudah gila kamu!"
__ADS_1
"Justru hal gila itulah yang akan membuat mereka berpisah," sahut Rashi santai.
"Baiklah, kalau gitu kamu ikut aku masuk!" tegas Anggun menyuruh Rashi masuk ke dalam.
Rashi masuk, memasang seatbelt.
"Apa kamu yakin?" tanya Anggun untuk memastikan ucapan Rashi.
"Tentu!" tegas Rashi.
"Baiklah, mari kita pergi," ucap Anggun melajukan mobilnya meninggalkan toko Rabbani.
2 jam berjalan, kini mobil Anggun terus melaju dengan kecepatan sedang menuju sebuah kampung jauh dari kota.
Rashi melirik, "Apa kamu yakin di sini rumah?" tanya Rashi tidak yakin setelah melihat jalan mereka lalui penuh lubang dan berbatu.
"Aku sudah biasa. Tapi aku cuman mau kasih tahu ke kamu. Setiap ada permintaan, kamu harus mau tidur dengannya. Apa kamu sanggup tidur dengan seorang Kakek tua?"
"Hal itu kecil bagiku," ucap Rashi melambaikan tangannya.
"Karena kamu sudah yakin, maka aku tidak akan berkata apa pun lagi," sahut Anggun menambah kecepatan mobilnya.
Setelah melewati jalan setapak penuh lubang, dan batu. Akhirnya terlihatlah sebuah rumah pondok kecil. Rumah itu adalah tempat Praktek Kek Rusdi. Mobil Anggun pun berhenti di depan rumah tersebut.
"Ini tempatnya?" tanya Rashi memutar bola matanya.
Anggun dan Rashi berjalan mendekati rumah pondok.
Tok!!tok!!
"Permisi!" panggil Anggun dari depan pintu.
"Nggak ada orangnya!" ucap Rashi berbisik.
"Lagi bekerja keras aku rasa di dalam," sahut Anggun ikut berbisik.
Anggun kembali mengetuk pintu.
Tok!!tok!!
"Permisi, Kek!" panggil Anggun dan Rashi serentak.
"Ya! masuk dan duduk dulu di dalam," terdengar suara pria tua menyahut dari dalam.
"Ayo, masuk!" ajak Anggun membawa Rashi masuk ke dalam.
__ADS_1
Rashi dan Anggun pun duduk di depan meja tempat praktek Kek Rusdi.
Baru 5 menit menunggu keluar seorang wanita muda dari kamar kecil. Seluruh tubuh dipenuhi keringat dan rambut acak-acakan. Tidak lama Kek Rusdi keluar dengan tangan membenarkan celananya.
"Permisi," ucap wanita tersebut berjalan malu-malu melewati Rashi dan Anggun.
Rashi dan Anggun hanya mengangguk.
"Kok aku ingin muntah ya?" bisik Rashi merasa jijik melihat wajah tua, jenggot putih serta gigi kuning terpampang jelas di wajah Kek Rusdi.
"Aku tadi kan sudah bilang. Karena kamu memiliki tekad dan sudah terlanjur sampai di sini. Maka mau tidak mau kamu harus menurutinya," sahut Anggun ikut berbisik.
Kek Rusdi mendekati meja prakteknya, "Ada apa ini?" tanya Kek Rusdi dengan senyum penuh makna. Kedua bola mata menatap liar Rashi.
Semriwing!!!
Saat Kek Rusdi duduk tercium bau begitu familiar.
Rashi segera menahan nafasnya, 'Astaga! bau ini sangat ingin membuat aku mual. Berapa banyak dia menghabiskan energi dan cairan itu. Pingin menyerah tapi sudah terlanjur. Nikmati saja lah. Hanya sekali ..ingat sekali.'
Anggun mengeluarkan sebuah foto. Foto itu adalah foto Clara, dan memberikannya ke Kek Rusdi, "Aku ingin membuat wanita itu celaka. Atau sakit yang tidak bisa diobati," ucap Anggun terlihat yakin.
.
✨ POV RASHI✨
Sebelum berangkat Rashi berbisik pelan ke telinga Anggun. Rashi berkata, "Percuma saja kalau kamu bermain dukun dan memisahkan Rabbani dengan Clara yang selalu memenuhi pikirannya. Pelet apa pun tidak akan mampu menerobos pikiran Rabbani. Hanya satu yang bisa memisahkan mereka. Yaitu, buat Clara jatuh sakit atau buat Clara menjauh dari Rabbani."
"Sudah tidak waras kamu! itu adalah perbuatan yang sangat jahat. Aku tidak mau," ucap Anggun menolak tawaran Rashi.
"Kalau kamu tidak percaya. Maka teruslah habiskan tubuh bagus kamu hanya demi sebuah permintaan konyol," sahut Rashi dengan entengnya.
"Baiklah aku akan membawa kamu ke sana. Tapi aku yakin jika ini akan berhasil?"
"Sangat yakin!"
.
✨ POV END✨
.
"Gimana kek. Apa bisa melakukan hal itu kepada wanita yang ada di dalam foto?" tanya Anggun.
"Bisa saja, tapi wanita sedang hamil. Apa kalian yakin ingin mencelakai seorang wanita hamil yang dilindungi oleh Sang Pencipta?"
__ADS_1
...Bersambung ...