SERAKAH

SERAKAH
BAB 53. Bantu aku, Clara


__ADS_3

Tok! Tok


“Tuan muda Rabbani!”


Saat Rabbani dilanda kepanikan akan mengatur hasratnya, saat itu pula terdengar suara Rashi dari depan pintu kamar Rabbani.


“Aku buka dulu,” ucap Clara melangkahkan kedua kakinya.


“Jangan pergi. Aku lebih mengkuatirkan diri kamu di luar sana daripada saat ini sedang bersama ku!” ucap Rabbani sedikit berbisik, tangan kanan menggenggam lengan Clara.


Tidak ingin membuat Rabbani semakin sakit dan tertekan. Clara membulatkan tekadnya, tatapan serius ia tunjukkan ke Rabbani, “Aku bersedia menjadi penawar Anda!” tegas Clara, kedua tangan perlahan menurunkan baju piyama.


Glek!


Susah payah Rabbani menelan saliva nya saat melihat belahan terpampang jelas di depan mata.


Diluar sana Rashi masih terus menggedor pintu kamar Hotel milik Rabbani, dan terus memanggil nama Rabbani dengan sebutan 'Sayang'.


Tok! Tok!


“Sayang...aku tahu kamu ada di dalam, dan kamu sedang merasa kesulitan untuk mengeluarkannya. Tolong bukakan pintunya, agar aku bisa membantu kamu!” teriak Rashi dari luar pintu kamar Hotel.


Tidak ingin membuat Clara menjawab panggilan Rashi. Rabbani segera mendekap mulut Clara, dan menahan lengan tangan kanannya di dinding pintu. 10 menit kemudian suara Rashi sudah tidak terdengar lagi.


“Bi-bisakah Anda melepaskan tangan ku?” tanya Clara memecah pandangan Rabbani tertuju ke dua semangka kembar milik Clara.

__ADS_1


Rabbani segera melompat ke belakang, “A-apa yang sedang aku lakukan?” Rabbani menatap kedua telapak tangannya, “Sepertinya aku harus melakukan ini sendiri!” tegas Rabbani kepada dirinya sendiri dan tidak ingin membuat Clara sebagai obat penawarnya. Segera Rabbani laju kedua kakinya menuju kamar mandi.


Clara tidak bisa berkata apa pun, dirinya hanya bisa menatap kepergian Rabbani menuju kamar mandi.


.


💫💫Kamar Mandi💫💫


Rabbani menghidupkan kran shower sekuat mungkin agar suaranya tidak terdengar ke kamar lainnya.


Rabbani kini menyadarkan tubuhnya di dinding, dan membiarkan air mengalir membasahi mulai dari rambut sampai ujung kakinya. Saat tangan Rabbani mulai memainkan perannya, kedua tangan itu tidak mampu bergerak dengan leluasa untuk dirinya sendiri.


“Kenapa jadi seperti ini. Untuk menyembuhkan diriku saja aku tidak mampu,” keluh Rabbani kembali memainkan tangannya, “Ayo cepat tuntaskan!” ucap Rabbani kepada tubuhnya sendiri.


Gejolak obatnya tak kunjung mereda, tubuhnya malah semakin tidak karuan. Rabbani menyerah akan hal ini, kini ia melingkarkan handuk di tubuhnya. Kedua kakinya ia bawa keluar dari kamar mandi.


Tetes air di setiap ujung rambut membasahi lantai kamar. Rabbani perlahan berjalan mendekati Clara sedang berdiri di samping ranjang. Kedua tangan Rabbani memegang lengan Clara. Kedua pipi memerah, dan nafas naik-turun tak karuan. Kedua mata penuh maksud menatap wajah bingung Clara.


“Wa-wajah Anda sepertinya semakin membu….”


Blam!


Rabbani menjatuhkan tubuh Clara di atas ranjang.


“Jangan ragu,” ucap Clara memberi izin kepada Rabbani.

__ADS_1


Rabbani sudah dikuasi obat ajaib itu sudah tak mampu menahan dan melakukannya sendiri. Rabbani kini menindih tubuh Clara, tatapan penuh penyesalan di dalam keputusasaan tersirat jelas di kedua mata Rabbani saat menatap wajah Clara. Rabbani menundukkan wajahnya, “A-aku minta maaf,” ucap Rabbani dengan penuh penyesalan.


Tanpa menjawab pertanyaan Rabbani, Clara melingkarkan tangan kanannya di jenjang leher bagian belakang Rabbani. Clara mencium Rabbani agar mengurangi sedikit efek obat ajaib tersebut. Clara melepaskan ciumannya, “Buatlah aku sebagai penawarnya,” ucap Clara menawarkan dirinya sekali lagi.


Rabbani pun memulai serangannya. Ini kali pertama dirinya melakukan hal ini kepada wanita. Setelah pemanasan cukup panas dilakukan Rabbani. Kini saatnya Rabbani menempatkan rudal miliknya. Karena efek obat terlalu besar, Rabbani sangat bersemangat mengayunkan pinggulnya. Berbagai macam gaya Rabbani coba dengan Clara. Suara merdu mereka berulang kali terlempar mengudara di atas langit kamar. Berulang kali juga Rabbani melakukannya dengan Clara, hingga efek obatnya mulai menurun.


Tenaga Rabbani dan Clara kini benar-benar terkuras habis. Rabbani dan Clara kini terbaring di atas ranjang dengan tubuh polos berbalut selimut tebal dan lembut. Karena tenaga sudah terkuras habis, Rabbani mulai memejamkan kedua mata letih nya.


Melihat Rabbani sudah tertidur lelap, Clara perlahan bangkit dari ranjang. Kedua kakinya membawa tubuh polosnya berlari menuju kamar mandi. Sesampainya di dalam kamar mandi, Clara menghidupkan kran shower sekuat mungkin. Tetesan air hangat membasahi mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Air mata Clara perlahan menetes jatuh ke atas genangan air. Di satu sisi hatinya sedikit terasa sakit saat mengetahui dirinya hanya bisa sebagai tempat pelampiasan. Di sisi lain, hatinya berkata ‘Jika semua yang ia lakukan adalah pengorbanan dan sebagai tanda ucapan terimakasih kepada Rabbani karena telah melindungi dirinya dari pria jahat’.


Clara kini keluar dengan tubuh dan rambut basah. Ia berjalan mendekati lemari pakaian. Karena sudah larut malam, Clara hanya bisa memakai baju piyama bersih. Baru saja selesai memakai baju piyama, saat Clara berbalik badan ia dikejutkan dengan sosok Rabbani sedang berdiri tepat di belakangnya. Clara mencoba mengulurkan tangan kanannya mendekati dahi Rabbani. Namun Rabbani menahan lengan kanan Clara.


“A-aku hanya ingin mengecek kondisi Anda.”


“Kenapa kamu tidak marah kepadaku?” tanya Rabbani datar.


Clara segera membuang wajahnya, tangan kanan mengarah ke pengering rambut, “Se-sepertinya aku akan mengeringkan rambut dulu sebelum aku tidur,” sahut Clara kaku mengalihkan pembicaraan.


“Jawab pertanyaan ku. Kenapa kamu tidak marah kepadaku, setelah aku dengan rakus memperlakukan kamu seperti itu?” tanya Rabbani sedikit meninggikan nada suaranya. Air mata penyesalan menetes di kedua pipinya, sedangkan tangan kanan segera menyeka kasar air matanya.


“Aku tidak bisa melihat Anda tersiksa. Aku sangat bersyukur karena Anda masih ingat kembali ke sini setelah semua kejadian buruk itu menimpa Anda!” Clara perlahan menundukkan wajahnya, “Jika Anda tidak pulang dan melampiaskannya kepada orang lain di luar sana, mungkin aku sangat merasa bersalah karena tidak bisa menutupi aib Anda.”


“Apa maksud kamu?” sambung Rabbani tanpa jeda.


“Bukannya wanita itu yang memberikan obat itu kepada Anda. Kalau saja Anda tidak pulang dan melakukan semua itu dengan wanita jahat tersebut. Aku tidak jamin reputasi Anda akan tetap baik di mata semua orang, baik kalangan menengah ke bawah ataupun ke atas,” Clara menarik nafasnya, melanjutkan kembali perkataannya, “Aku sudah lama terjerumus di dalam dunia kotor para kalangan atas. Engkau orang yang baik, jadi tidak mungkin aku membiarkan kamu melakukan itu semua sendiri.”

__ADS_1


“Kamu salah. Kalau aku orang yang baik kenapa aku tega melakukan ini sama kamu!” Rabbani meletakkan tangan kanannya di depan dada, “Aku adalah manusia munafik. Berlagak bisa mengatasi semuanya, padahal aku tidak pandai melakukannya sendiri!” Rabbani berbalik badan, melirik sedikit ke sisi kanan, “Sebagai permohonan maaf ku, aku akan segera menikahi kamu!” tegas Rabbani. Kedua kaki kini melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh kotornya.


...Bersambung...


__ADS_2