
Pagi ini, pukul 09:30 pagi. Rabbani sedang berdiri di depan jendela kamar. Kedua mata kosong menatap lurus ke arah tanah sedikit basah, dan di setiap ujung daun ada setetes air embun bercampur air hujan.
Grep!!
Rabbani menggenggam erat kain jendela, pikirannya masih tertuju pada malam itu. Malam di mana semua harapan direnggut oleh orang tak bertanggung jawab. Mengambil nyawa Clara dan calon bayi dalam kandungan Clara secara keji. Siapa orangnya? ada apa maunya?
Rabbani terus berpikir kenapa semua ini harus terjadi kepadanya. Pertama, kedua orang tuanya meninggal karena ulah Abang dan Adiknya. Kedua, Rabbani juga pernah hampir meninggal dunia karena ulah saudaranya juga. Tapi, kali itu Rabbani masih bisa selamat karena mendiang kedua orang tuanya menjaganya.
Teriakan Clara, tangis, darah dan bayang-bayang kepergian Clara masih terus menari-nari di pelupuk mata. Dada Rabbani terasa sesak, rasanya ia ingin menghabisi semua orang karena untuk kedua kalinya kebahagiaan itu direnggut dari hidupnya.
"Aaaa," teriak Rabbani meluapkan emosinya dari jendela. Rabbani juga memukul bidang dadanya, "Bereng-sek kalian semua. Kenapa kalian harus merenggut orang-orang terdekat ku! apa yang kalian inginkan? harta, uang, tubuhku atau apa?! katakan yang jelas, jangan seperti ini. Kalian sudah membuat batas kesabaran ku habis."
Ddrtt!!!Drtt!!!
Luapan kekesalan Rabbani terhenti saat benda pipih miliknya terus berdering di saku celana. Tidak ingin membuat suaranya terdengar buruk di telpon. Rabbani berulang kali menghirup oksigen dan menyalurkannya ke seluruh tubuh. Setelah merasa cukup tenang, Rabbani mengambil benda pipih miliknya.
📞📞
[ "Ada apa?" ] tanya Rabbani kepada Anton.
[ "Tuan. Di sini ada nona Anggun, katanya adahal penting yang ingin dia bicarakan kepada tuan. Tadi sudah berulang kali saya mengusirnya, tapi nona Anggun tidak mau. Dia tetap bersikeras untuk menunggu tuan. Bagiamana ini tuan?" ]
[ "Bilang padanya, tunggu kedatanganku!" ] tegas Rabbani menutup panggilan teleponnya.
Rabbani menyimpan ponselnya kembali ke saku. Senyum tipis penuh maksud terpancar jelas di raut wajah Rabbani. Kedua kaki melangkah pergi meninggalkan kamar. Kedua kaki itu terus melangkah menuju garasi mobil dengan bibir bergumam, "Aku sangat yakin jika ini ulah kalian berdua. Luka di balas dengan luka."
.
.
✨ Di Toko milik Rabbani ✨
Anton mengarahkan tangan kanannya ke kursi tunggu, "Nona tunggu di sini saja. Entar lagi tuan Rabbani akan datang!"
"Benarkah?!" ucap Anggun terlihat senang.
__ADS_1
"Nggak tahu!" ketus Anton sekali lagi. Kedua kaki beranjak pergi.
Anggun pun menunggu Rabbani. Senyum manis terus terpancar dari raut wajahnya saat mendengar Rabbani akan datang demi dirinya, 'Apakah Kek Rusdi sudah berhasil menyingkirkan Clara? Jika memang berhasil, maka aku akan menyingkirkan Rashi. Semua musuh dan saingan harus tersingkir demi satu tujuan. Yaitu, harta milik Rabbani. Jika aku bisa mendapatkan Rabbani, maka aku akan mendapatkan semua hartanya. Dan...dan aku akan mendadak kaya raya. Ha ha ha...sungguh menyenangkan jika merebut harta orang lain dengan mudah seperti ini.'
Anggun tidak menyadari jika dirinya sedari tadi dilihat para Karyawan. Para karyawan berkumpul di suatu stand yang tidak terlihat oleh siapa pun.
"Apa kalian lihat dari tadi wanita itu terus tersenyum?" tanya Ratna.
"Perasaanku mengatakan jika nona Anggun adalah salah satu pelaku pembunuhan nona Clara," sambung Budi.
Anton menarik nafas berat, wajah tertunduk sedih, "Aku masih teringat jelas dengan perut nona Clara yang bisa berputar-putar seperti gasingan. Aku sangat yakin jika itu pasti terasa sakit..."
"Tapi kenapa ada manusia setega itu ya? padahal nona Clara itu sangat baik. Walaupun awal pertemuan tuan Rabbani dan Clara tidak baik," sambung Budi ikut merasakan kesedihan.
"Kalau di kampung ku itu sudah biasa. Semua jenis macam santet bisa kalian temukan di sana. Nggak suka dikit maik santet, cinta di tolak Dukun pun bertindak, nggak hamil-hamil main dukun, mau menjadi orang SERAKAH untuk mendapatkan harta orang lain juga main dukun. Pokoknya Dukun itu sangat laris di kampung ku. Army saja kalah Topnya dengan Dukun," sela May membicarakan kehidupan di kampungnya penuh semangat.
Ratna, Anton, dan Budi melirik sinis ke May, "Apa kamu juga main dukun?" tanya mereka bertiga menyelidik.
"Tentu saja tidak," sahut May polos, bola mata melirik ke wajah Anton, Ratna dan Budi, "Main dukun dosa. Biar miskin, belum punya jodoh, dan dikatain jelek karena belum mendapatkan jodoh, aku tidak perduli," telapak tangan diletakkan di depan dada, "Yang penting aku tidak Mursik!" sambung May di kalimat terakhir salah.
May melambai, "Haa..itulah pokoknya."
Kring!!kring!!!
Kerincingan pintu berbunyi.
"Lihat," tunjuk Anton ke Rabbani berjalan masuk dengan wajah dingin, "Tu-tuan Rabbani beneran datang."
"Perasaanku kenapa tidak enak ya?" tanya Ratna.
"Mau boker kali kau!" ucap Anton melirik tajam ke Ratna.
"Bukan bodoh, coba kalian perhatikan tatapan tuan Rabbani. Tatapan itu penuh dengan amarah dan kebencian. Aku sangat yakin pasti dia sudah mengetahui dalang di balik kematian nona Clara," ucap Ratna penuh keyakinan.
"Kamu benar. Kalau aku jadi tuan Rabbani, mungkin aku juga akan membalas mereka semua," sahut Budi mengepal tangan kanannya.
__ADS_1
"Rabbani kamu be...." sambutan Anggun terputus saat tangan kanan di genggam erat oleh Rabbani.
"Apa kamu sudah lama menunggu? tanya Rabbani dingin.
Dari balik stand sepasang 4 mata mengintip. Dan terdengar suara berbisik, "Babak awal sepertinya telah di mulai."
"Kenapa sikapmu terlihat berbeda?" tanya Anggun gugup.
"Bukannya kamu yang menginginkan aku berubah seperti yang kamu inginkan?" tanya Rabbani kembali dingin.
"Se-sebaiknya a-aku pulang saja," ucap Anggun segera berdiri.
"Kenapa harus terburu-buru, aku ingin mengajak kamu mengobrol di dalam. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kamu!" ucap Rabbani menekan nada suaranya. Genggaman tangannya juga semakin erat.
"Ka-kamu sepertinya sedang tidak sehat."
Rabbani menarik tangan Clara, "Sepertinya kamu salah menilai ku. Justru aku sangat sehat. Mari kita mengobrol di dalam," ucap Rabbani menarik Anggun menuju ruang kantor miliknya.
Melihat Rabbani dan Anggun masuk ke dalam ruang kantor pribadi. Anton, Ratna, May, dan Budi segera keluar dari tempat persembunyiannya.
"Sepertinya akan bertambah panas," ucap Anton, bola mata melirik ke koridor menuju ruang kantor pribadi Rabbani.
"Panas, tajam dan terpercaya," sambung Ratna.
"Pasti akan ada adegan wik-wik, di mana suara itu akan terdengar cukup merdu sampai ke sini!" sambung Budi dengan pikirannya sendiri.
Ratna, May, dan Anton melirik tajam ke Budi.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Budi tanpa bersalah.
"Mesum!" ucap Anton, May, dan Ratna serentak.
"Sudah bubar-bubar. Daripada nanti tuan marah sama kita, lebih bagus kita kembali bekerja!" tegas Ratna memutus percakapan mereka.
...Bersambung...
__ADS_1