
✨✨PUKUL 08:30 PAGI✨✨
Mulai pukul 06:30 pagi, Rabbani dan Clara mulai keluar berjalan-jalan menelusuri kota Yunani. Karena jalan sudah terlalu jauh, perut juga sudah demo, Rabbani dan Clara beristirahat sejenak di salah satu Restauran.
Clara terus memandang wajah Rabbani. Kedua matanya kembali mengingat perkataan tentang Rabbani malam itu. Ucapan Rabbani katanya ingin bertanggung jawab atas perbuatan nya dengan cara menikahi Clara. Sampai sekarang Clara belum sempat menjawab pertanyaan tersebut, karena dirinya berpikir jika perkataan Rabbani hanya untuk menebus kesalahan atas perbuatannya. Clara juga sudah membulatkan jawabannya untuk menolak lamaran Rabbani. Alasan Clara menolak karena dirinya tidak ingin suatu hari nanti Rabbani akan berubah kepadanya, dan mengungkit semua perbuatan Clara sewaktu dulu.
Melihat Clara melamun, Rabbani melambaikan tangannya, “Hei, apa kamu masih mengantuk?” tanya Rabbani berpikir jika Clara masih mengantuk setelah semua perbuatan rakusnya di atas ranjang.
Lamunan Clara pecah, ia kini merubah mimik wajahnya menjadi tersenyum manis kepada Rabbani.
“Jangan banyak tersenyum. Cepat makan sarapannya,” tegas Rabbani, tangan kanan memotong Fetoydia. Sedangkan sarapan buat Clara adalah Ladenia.
Clara kembali tersenyum, tangan kanan memotong Ladenia. Baru menikmati 2 potong Ladenia, Clara dikejutkan dengan ucapan Rabbani.
“Maukah kamu menikah denganku?” tanya Rabbani melamar Clara sekali lagi.
Glek!
Clara langsung menelan bulat-bulat potongan Ladenia. Clara mengambil segelas air putih, dan menenggaknya habis.
“Apa kamu mendengar ku?” tanya Rabbani karena belum mendapatkan jawaban apa pun dari mulut Clara.
Clara melambai, “Candaan Anda memang hebat!” Clara mendekatkan wajahnya, dengan kedua mata melotot menatap wajah serius Rabbani. Tangan kanan diletakkan di depan dada, “Hampir saja jantung lepas,” sambung Clara sedikit dengan nada bercanda.
Rabbani mengambil tangan kiri Clara, dan menggenggamnya, “Aku serius!” ucap Rabbani bersungguh-sungguh.
Perlahan Clara melepaskan genggaman tangan Clara, “Maaf, aku tidak bisa.”
__ADS_1
“Kenapa?”
“Karena aku tidak ingin kamu menikahi aku,” tangan kanan diletakkan di depan dada, menyambung perkataannya kembali, “Aku adalah wanita kotor, tidak pantas bersanding dengan pria baik seperti Anda. Aku sangat yakin diluar sana jodoh Anda sudah menanti,” ucap Clara mengingatkan Rabbani sekali lagi jika dirinya bukanlah wanita suci.
“Ha ha” Rabbani tertawa pelan. Karena penolakan Clara, Rabbani menyudahi makannya. Rabbani mengeluarkan uang dari dalam dompetnya, dan meletakkannya di atas meja. Rabbani berdiri, “Karena aku sudah selesai makan, lebih baik kita lanjut pergi untuk melihat pesanan barang milikku,” ucap Rabbani mengajak Clara pergi, dan mengakhiri percakapan dan sarapannya.
Clara menurut, mengikuti langkah kaki Rabbani. Sesekali Clara melirik, melihat wajah Rabbani tampak biasa saja setelah menerima penolakan darinya. Entah kenapa hatinya mulai tumbuh rasa penyesalan karena sudah menolak lamaran Rabbani. Tapi Clara juga tidak ingin membuat sebuah pernikahan sakral berakhir duka. Duka buat Clara, dan duka juga buat masa depan Rabbani.
Karena Clara terus berjalan tanpa melihat ke Rabbani. Clara sampai tidak mendengar jika Rabbani sudah menyetop taksi, dan sudah berdiri di depan pintu mobil bagian kedua. Clara kini masih berjalan pelan dengan kepala tertunduk. Sampai satu suara memecah pikirannya.
“Clara!” panggil Rabbani sudah berdiri di depan pintu mobil taksi.
Clara langsung menghentikan langkahnya, ia langsung berbalik badan saat mendengar suara Rabbani ada di belakangnya. Clara menutup wajah merahnya, kedua kaki berlari, “Malunya aku…malunya!” gerutu Clara pelan. Kedua kaki Clara terhenti di samping mobil, “Kita mau kemana?” tanya Clara menatap wajah Rabbani.
“Aku ingin mengecek keberadaan pesanan ku. Setelah itu kita langsung pulang!” tangan kanan membuka pintu mobil, “Cepat masuk,” ucap Rabbani menyuruh Clara masuk terlebih dahulu ke dalam mobil.
.
Tok! Tok
Rabbani mengetuk pintu gudang tua.
“Kode!” sahut seorang pria dari dalam.
Rabbani mendekatkan bibirnya di lubang kecil, tertutup dengan hansaplast bergambar doraemon, dan berkata, “Ada harimau di makan tikus,” ucap Rabbani memberikan jawabannya. Setelah itu kedua kaki berjalan dua langkah mundur kebelakang.
“Bagaimana caranya tikus makan harimau?” tanya Clara polos.
__ADS_1
Rabbani tidak menjawab pertanyaan Clara. Rabbani hanya mengelus puncak kepala Clara, dan memberi senyum tulus. Senyuman membuat hati Clara berdetak sangat kencang, dan kedua pipinya memerah seperti buah tomat.
Krekkk!!
Terdengar pintu gudang tua terbuka sedikit. Terlihat dari dalam gelapnya gudang ada seorang pria memakai masker hitam, dan jaket berwarna merah muda.
Rabbani menggenggam tangan kanan Clara, “Cepat masuk,” ajak Rabbani berjalan masuk ke dalam gudang.
Sesampainya di dalam gudang, Clara membulatkan kedua matanya melihat beberapa pajangan indah dan begitu sangat kuno. Gudang terlihat tua dan sangat tidak terawat dari luar ternyata begitu sangat indah di dalamnya. Dinding luar terlihat terbuat dari baja berkarat dan usang, sedangkan semua dinding dalamnya terbuat dari beton dan kaca anti peluru. Rumah ini di desain secara khusus untuk melindungi diri dari manusia SERAKAH, haus akan memakan semua harta milik orang lain.
“Selamat datang tuan Rabbani!” sambut seorang pria tampan berjalan ke arah Rabbani.
Rabbani tersenyum manis, kedua mata menatap liar sekeliling ruangan, “Arces, Anda memang sangat ahli di bidang memilih barang kuno dan menyembunyikannya rapat-rapat,” puji Rabbani kepada pria tampan.
“Tentu saja. Semua pilihanku memang tidak pernah salah, termasuk-” pria tampan menggantung ucapannya, tangan kanan mengulur ke sisi kanan, dan melanjutkan ucapannya saat melihat seorang pria berjalan ke arahnya, “Termasuk dia!”
Pria tampan bertubuh kecil berdiri di samping Arces. Pria tampan tersebut membungkukkan sedikit tubuhnya, “Selamat datang tuan Rabbani,” sapa pria tersebut lembut, tangan kanan mengarah ke sisi kanan terhubung dengan ruang tamu, “Saya sudah menyiapkan makanan dan teh di sana. Mari kita mengobrol di sana saja,” ajak pria tampan tersebut.
Arces merangkul pria tampan tersebut, dan sedikit memujinya, “Kamu memang paling hebat,” puji Arces sambil melangkah ke ruang tamu.
Clara masih terus bertanya-tanya, siapakah pria kecil berwajah tampan tersebut. Dan kenapa hanya ada dua orang pria tinggal di sini. Bukan itu saja, kenapa pria tampan itu mengenakan jaket berwarna merah jambu. Sambil melangkah, Clara mulai berbisik, “Siapa pria tampan memakai jaket berwarna merah jambu tersebut?”
“Tentu saja kamu bisa menebaknya. Bukannya kamu sudah melihat jelas dari gelagat mereka berdua,” sahut Rabbani dengan santai.
Clara menutup kedua mulutnya, “Benar-benar nyata.”
“Di dunia ini semuanya nyata,” sahut Rabbani kembali berbisik.
__ADS_1
...Bersambung...