SERAKAH

SERAKAH
BAB 55. Curahan Hati


__ADS_3

Rabbani dan Clara sedang menikmati jamuan hangat di ruang tamu dari tuan Arces. Clara terus melirik keromantisan tuan Arces bersama sang kekasihnya dari balik cangkir sedari tadi Clara tempelkan di bibirnya.


‘Apakah aku sedang berada di Dunia yang berbeda? atau pemandangan ini hanya ilusi ku semata. Ya…Allah, kenapa aku serasa menonton film BL. Dosa apa tidak aku melihat adegan mesra seperti ini? ahh…jika di pikir-pikir soal dosa, dosaku malah lebih banyak dari mereka. Sebaiknya aku pura-pura tidak paham saja.’


Rabbani melambaikan tangannya tepat di depan wajah Clara, “Kenapa kamu sering melamun? Apa kamu baik-baik saja?” tanya Rabbani cemas.


Clara langsung meletakkan cangkirnya, tangan kanan membersihkan sisa minuman di sekitaran bibirnya.


“Kamu sedang tidak enak badan?” tanya pria memakai jaket berwarna merah muda. Tangan kanan memegang bahu kiri Clara.


Clara melirik sedikit ke tangan pria tersebut, kedua mata ia alihkan menatap wajah pria tampan tersebut, “Ti-tidak. Aku hanya sedang mengantuk saja,” sahut Clara berbohong.


“Oh iya, aku belum memperkenalkan diri,” pria memakai jaket merah muda meletakkan tangan kanannya di depan dada, “Panggil aku Joy. Kalau kamu?” tanya Joy menatap wajah Clara.


“Clara,” sahut Clara sedikit kaku.


Melihat Clara sering melamun, Rabbani berpikir jika semua itu adalah ulahnya tadi malam. Tidak ingin membuat Clara semakin lelah, Rabbani berdiri, tangan kanan mengulur lurus ke depan. Tepat sebuah poster dinding bergambar peri kecil, “Karena Clara terlihat tidak enak badan, sebaiknya kita langsung mengecek bon dan tanggal ekspedisinya, tuan Arces,” ucap Rabbani untuk segera melakukan transaksi terakhir.


Arces berdiri, “Baik, seperti biasanya saja. Gitu barang sudah sampai ke toko, tuan Rabbani bisa membayar sisanya. Karena saya tidak ingin membuat tali hubungan bisnis kita terputus gara-gara uang!” tangan kanan mengarah ke poster dinding, kedua kaki juga ikut melangkah meninggalkan kursi, “Mari kita pergi.”


Rabbani melirik ke Clara, “Kamu berbincang dulu dengan Joy. Aku akan segera kembali,” pesan Rabbani kepada Clara.


“Kamu tidak perlu kuatir, aku akan menunggu Anda di sini,” sahut Clara dengan senyum manisnya.


Dengan jantung berdebar kuat akibat terkena senyum manis dari Clara, Rabbani segera melangkah cepat menuju poster dinding. Ternyata poster tersebut adalah sebuah pintu kecil tertuju pada ruang rahasia.

__ADS_1


Joy menarik kursi di sisi kiri Clara, dan duduk sambil menghadap ke Clara. Tatapan penuh menyidik terpancar dari kedua mata Joy saat memandang wajah Clara masih menatap punggung Rabbani, “Kamu sangat hebat bisa menaklukkan hati tuan Rabbani,” puji Joy berpikir jika Clara adalah kekasih Rabbani.


Clara melambai, “Aku bukan kekasihnya. Aku hanya seorang pelayan di rumahnya,” sahut Clara gugup.


Joy mendekatkan kursi dan tubuhnya, membuat Clara sedikit memiringkan tubuhnya, “Tidak mungkin. Kamu pasti berbohong?” tanya Joy kembali menyelidik.


“Bu-buat apa aku berbohong. Tentu saja aku hanya seorang pelayan buat Rabbani,” sahut Clara bertambah gugup karena melihat tatapan Joy seperti seorang pihak berwajib sedang memintai keterangan kepada tahanan.


Joy duduk dengan benar, dahinya masih mengerut memikirkan ucapan Clara. Karena masih penasaran dengan status hubungan Clara dan Rabbani. Joy kembali bertanya dengan santai, “Aku masih tidak percaya jika status hubungan kalian seperti itu. Soalnya dari tadi aku perhatikan tuan Rabbani terlihat begitu sangat memperhatikan dan memperdulikan kamu. Atau jangan-jangan kamu sudah memiliki kekasih makanya tuan Rabbani tidak bisa mengungkapkan perasaannya, dan hanya bisa memendam kisah cinta ini. Jika memang benar, berarti kamu adalah wanita yang jahat.”


“Eh” Clara membuang wajah bingungnya.


“Oh iya, sepertinya aku pernah melihat kamu ada di sebuah video. Kalau aku tidak salah bukannya kamu ada di dalam vidio…” Joy segera menutup mulut lebarnya, kedua mata membesar, “Haaaaa….apa kamu adalah wanita itu!” ucap Joy mengingat ada beberapa vidio buruk tersebar luas milik Clara bersama dengan pria berkulit hitam dan pria lainnya.


Joy mengangkat kedua bahunya, “Aku juga bukan pria yang baik. Aku dan Arces juga memiliki dosa banyak di Dunia ini, dan aku rasa Tuhan tidak bakal mengampuni kami berdua. Tapi aku sangat yakin jika Tuhan masih mau memberikan semua umatnya kesempatan untuk bertaubat. Termasuk aku!” sahut Joy ikut mengingat kesalahannya.


“Kalau kamu sadar akan kesalahan kamu, kenapa kamu masih tetap ingin melanjutkannya?” tanya Clara penasaran.


“Karena semua nikmat berbeda aku dapatkan di sini. Bukannya aku tidak menyukai wanita. Aku pernah merajut kasih dengan seorang wanita, aku juga pernah melakukan itu dengan wanita. Tapi, berulang kali aku melakukannya dan berulang kali aku membuka hati. Berulang kali juga aku dikhianati. Aku hanya ingin ketika memiliki kekasih, pasangan itu hanya memiliki satu cinta dan satu perasaannya, yaitu hanya kepada aku saja. Bukan kepada orang lain yang baru saja dikenal. Rasanya sakit sekali sewaktu kamu melihat dia berduaan dengan pria lain di dalam kamar Apartemen, di atas ranjang kami berdua dia tega melakukan itu dengan orang lain. Sungguh sangat sakit!” Joy memegang dada kirinya, kedua mata sendunya kembali berbinar saat mulai membicarakan Arces, “Tapi hatiku langsung di sembuhkan oleh Arces waktu itu. Pertemuan yang tidak bisa aku lupakan.”


“Oh” ucap Clara mengangguk.


“Kenapa jawaban kamu cuman “Oh” saja. Apa kamu tidak ingin bertanya hal lain tentang aku?” tanya Joy merasa jawaban Clara tidak membuat dirinya puas.


Clara menggaruk rambut belakang tak gatal, “Aku bingung jika disudutkan oleh masalah seperti ini,” sahut Clara polos.

__ADS_1


.


.


✨✨Di sisi lain✨✨


Setelah selesai meneken kontrak dan membayar uang muka atas pembelian barang kuno milik Arces. Rabbani dan Arces berbincang sedikit.


Arces terus menatap wajah Rabbani dengan serius, rasa penasaran dan hati dipenuhi seribu pertanyaan sedikit sulit dilontarkan.


“Kenapa tuan menatap aku seperti itu?” tanya Rabbani merasa penasaran karena Arces terus memandangnya.


“Apa kamu asli tuan Rabbani?” tanya Arces kembali seperti dirinya tidak percaya jika Rabbani di hadapannya ini adalah Rabbani.


“Apa Anda tidak percaya kepadaku?”


“Ini bukan mengenai bisnis kita. Ini mengenai wanita yang sedang kamu bawa. Bukannya kamu tahu siapa wanita itu?”


“Tentu aku tahu. Semua itu adalah kesalahan mendiang Abang ku. Jadi aku harus menebus semua kesalahan dari mendiang Abang ku yang sudah merusak masa depan wanita baik seperti dirinya. Jika Anda bertanya mengenai sebuah Vidio, aku juga sudah tahu. Dia adalah wanita yang malang, dan lemah. Clara patut diberikan perlindungan, bukan dibiarkan terus terjerumus di lubang hitam,” tegas Rabbani tidak ingin banyak membuka suara banyak.


Arces mengangguk, “Kamu memang pria sejati.”


“Jangan sebut aku adalah pria sejati. Aku belum menikah, dan aku juga tidak tahu apakah aku seorang pria sekaligus suami sejati, atau aku hanyalah seorang pendosa. Kalau tentang itu biar masa depan yang menjawabnya.”


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2