SERAKAH

SERAKAH
BAB 72. Meja aja bisa basah apa lagi yang lain


__ADS_3

💫 RUANG KERJA PRIBADI 💫


Blam!


Prang!!!


Rabbani menjatuhkan tubuh Anggun di atas meja, membuat semua barang-barang Rabbani terjatuh ke lantai.


"Ka-kamu kenapa?" tanya Anggun berusaha bangkit. Namun, Rabbani dengan cepat menahan tubuh Anggun.


"Apa kamu pikir aku tidak tahu!" ucap Rabbani dingin.


"A-aku tidak mengerti maksud dari ucapan kamu itu apa ya?" tanya Anggun pura-pura bingung.


"Kamu 'kan yang telah menyantet Istriku?" tanya Rabbani meninggikan nada suaranya, bola mata hendak lepas menatap lekat wajah panik Anggun.


"Bu-bukan aku. Ta-tapi Rashi," Anggun mengangguk, "Wa-wanita itulah yang sudah menyantet Istri kamu!" sambung Anggun menuduh Rashi.


"AAAA" Rabbani berteriak, kepalan tangan mendarat kuat di samping Anggun. Membuat kedua mata Anggun spontan terpejam.


Brak!!


"Ke-kenapa kamu marahnya kepadaku?" tanya Anggun merasa tidak bersalah.


Grep!


Rabbani memegang dagu Anggun. Bola mata Rabbani menatap liar wajah Anggun, "Aku rasa kamu tidak butuh jawaban ku," jari tangan Rabbani membelai wajah Anggun, "Bukannya kamu ingin sekali tidur bersamaku?" tanya Rabbani datar.


"Mu-mungkin itu dulu," ucap Anggun gemetar ketakutan. Kedua tangan Anggun mendorong pelan bidang dada Rabbani, "A-aku mohon jangan seperti ini."


"Jadi apa yang kamu inginkan?" tanya Rabbani datar.


"A-aku tidak menginginkan apa pun dari kamu!" sahut Anggun takut.


"Omong kosong!" ucap Rabbani meninggikan nada suaranya. Salah satu kaki menyelinap masuk ke sela kaki Anggun.


"Rabbani, ka-kamu sepertinya terlihat tidak sehat. Se-sebaiknya aku pulang saja," sahut Anggun ketakutan saat melihat tatapan Rabbani di penuhi amarah dan nafas terlihat memburu.

__ADS_1


"Sudah terlambat," ucap Rabbani sembari mengaktifkan salah satu tangannya.


"Rabbani...a...apa..i-ini?" tanya Anggun saat merasakan jemari Rabbani bergoyang ria di dalam.


Rabbani, seorang pria berusia 19 tahun jalan 20 tahun. Memiliki sifat dan sikap baik, kini harus berubah menjadi pria dingin, dan sedikit agresif ketika semua kebahagiaannya benar-benar direnggut paksa darinya oleh manusia tidak bertanggungjawab.


Dulu kedua orangtuanya, dan Rabbani pun juga hampir menjadi korban KESERAKAHAN dari kedua saudaranya. Kali ini, ketika Rabbani sudah membuka lembaran baru bersama orang tercinta. Kebahagiaan itu juga direnggut secara paksa. Setelah kepergian Clara bersama dengan calon anak di dalam kandungan Clara. Hati Rabbani kini dipenuhi dengan kegelapan, dan dendam untuk menuntas semua manusia memiliki sifat SERAKAH yang masih ingin menghancurkan hidupnya. Kali ini Rabbani membulatkan tekadnya untuk membalas semua rasa sakit itu.


Rabbani kini menyatukan dirinya dengan Anggun. Sebuah kenangan tentang meninggalnya Clara muncul di kedua kelopak mata Rabbani. Membuat emosi semakin membludak, dan Rabbani bermain ka-sar dengan Anggun. Setelah mencapai puncaknya, Rabbani menye-mprotkan miliknya ke baju dan wajah Anggun.


Merasa jijik dengan perbuatannya sendiri, kedua kaki Rabbani spontan melangkah menuju kamar mandi.


Blam!!!


Rabbani mengunci pintu.


"Kenapa hati ini masih belum merasa puas setelah melakukan hal ini kepada wanita Iblis itu," ucap Rabbani sembari melangkahkan kedua kakinya menuju kucuran shower.


Syur!!!


Rabbani menempelkan dahinya ke dinding kaca, air matanya perlahan menyatu dengan derasnya kucuran air saat mengingat semua kenangannya bersama dengan Clara. Rabbani mengepal kedua tangannya, dan melayangkannya ke dinding kaca.


Blam!!blam!!


"CLARA! aku sangat-sangat mencintai kamu. Clara!" teriak Rabbani mengeluarkan semua uneg-uneg nya di bawah derasnya air mengalir.


.


✨ Di sisi lain ✨


Karena baju dan tubuh dibuat kotor oleh Rababni. Anggun terus-menerus membersihkan tubuh dan bajunya dengan tisu, "Aku tidak menyangka jika Rabbani begitu mencintai Clara. Kedua mata Rabbani yang dulunya lembut kini dipenuhi kebencian. Sebegitu pentingnya kah wanita itu di hatinya. Coba dia pilih aku, pasti bukan hanya cinta saja yang hidup bersama dengannya. Harta dan kekuasaan pasti juga ikut serta," gerutu Anggun pelan. Bola mata Anggun melirik ke pintu kamar mandi, "Sebaiknya aku segera pergi sebelum Rabbani keluar dan membabat habis aku," sambung Anggun membawa kedua kakinya melangkah. Namun langkah kaki itu sedikit terasa ngilu, "Akh, sakit juga. Aku pikir tidak ada barang yang lebih besar dari milik Bheni. Ternyata milik Rabbani jauh lebih tangguh," keluh Anggun kembali membawa kedua kakinya melangkah keluar dari ruang kantor pribadi Rabbani.


Saat Anggun berjalan melewati stand, ada 4 pasang bola mata berbagai macam warna mengintai dari balik pajangan. Setelah melihat Anggun keluar dengan jalan terlihat susah, 4 pasang bola mata itu melirik satu-sama lain. 4 pasang bola mata itu ternyata ada Ratna, Anton, May, dan Budi.


"Apa tadi kalian melihat jalan, dan bajunya?" tanya Anton kepada Ratna, Budi, dan May.


Prokk!! prokk

__ADS_1


"Sungguh sangat buas," ucap Ratna memberi teluk tangan.


"Dan pasti sangat besar dan panjang," sambung May membayangkan terong ungu.


"Aku rasa semua itu dipacu karena kebencian tuan Rabbani. Kalau tidak bagaimana mungkin tuan Rabbani melakukan hal itu," ucap Budi mengingat Rabbani adalah orang baik dan berhati lembut. Jikapun menjadi kasar mungkin pemicunya adalah orang lain.


Anton mengelus dagu kasarnya, "Kamu benar juga. Tapi kenapa kok aku jadi kasihan melihat tuan Rabbani. Sepertinya hidupnya sedikit kacau semenjak kepergian nona Clara."


"Andai aku bisa menggantikan nona Clara. Pasti tuan Rabbani tidak akan seperti ini," kedua tangan Ratna memegang dua semangka nya, "Sudah memiliki dua semangka sempurna. Tapi kenapa tidak ada pria yang mau menyentuhnya. Walaupun aku sedikit genit, tapi aku kan mau juga di sentuh. Sesekali mengeluarkan suara merdu milikku."


"Kalau gitu mari aku saja yang menyentuhnya," ucap May menjulurkan lidah, kedua tangan mengulur mendekati dua gunung kembar Ratna.


"Aah, tidak mau....tidak mau!" Ratna menutup kedua semangkanya, "Gini-gini aku masih normal. Walau tidak ada pria yang mau menyentuhnya, aku masih bisa bertahan kok," sambung Ratna merasa jijik.


Budi memutar tubuh Ratna, membuat Budi dan Ratna saling menatap satu sama lain. Dengan santainya Budi menempelkan kedua tapak tangannya ke dua semangka Ratna, "Apa kamu ingin meminta seperti ini?" tanya Budi dengan datar. Kedua tangan juga sedikit menekan.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Rabbani baru saja tiba di belakang Budi, Ratna, May dan Anton.


Ratna, Budi, May, dan Anton melirik kaku, "Tu-tuan," ucap mereka serentak.


Anton, Ratna, Budi, May, dan Anton segera berdiri. Senyum paksa ketakutan mereka pancarkan buat Rabbani.


"Tadi sepertinya nona Anggun sudah pulang," ucap Anton mencairkan ketegangan.


"Baguslah. Aku harap wanita itu tidak akan kembali lagi," sahut Rabbani dingin.


"Tu-tuan mau makan siang apa nanti?" tanya Ratna kaku.


"Sama saja seperti kalian," Rabbani merogoh dompetnya, memberikan beberapa lembar uang merah ke Ratna, "Belikan makanan yang kalian mau dengan uang ini."


"Itu banyak sekali tuan!" ucap Anton tercengang melihat 5 lembar uang merah.


"Jika ada lebihnya belikan makanan ringan buat cemilan kalian di sini," Rabbani berbalik badan, "Aku kembali ke kantor dulu. Soalnya aku ingin membersihkan meja yang basah," ucap Rabbani membawa kedua kakinya melangkah pergi meninggalkan keempat karyawan nya.


"Meja aja bisa basah. Apa lagi yang lain," ucap Anton menatap kepergian Rabbani.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2