SERAKAH

SERAKAH
BAB 74. Teror 1 buat Anggun


__ADS_3

Air hangat mengalir deras membasahi tubuh Anggun. Sambil membilas rambut panjang dipenuhi busa shampo, bibir Anggun terus mengeluarkan alunan nada. Namun, di luar kaca tempat mandi khusus kucuran shower terlihat ada bayangan hitam melintas begitu cepat. Anggun menyadari hal itu langsung mematikan kran airnya.


Cit!!cit!!


Anggun meraup wajah basahnya, bola mata melirik dari dalam, "Kalau kamu ingin melakukannya kenapa tidak masuk saja Bheni," ucap Anggun berpikir jika bayangan hitam tadi adalah pantulan Bheni (supir pribadi).


Sleeep!!


Sekelebat bayangan itu kembali melintas.


"Siapa?" tanya Anggun segera membalut tubuhnya dengan handuk.


Sreekk!!


Anggun menggeser pintu, perlahan kaki kanannya melangkah keluar, "Bheni," panggil Anggun sekali lagi. Kedua kaki perlahan melangkah mendekati pintu kamar mandi. Anggun menarik handle pintu. Namun, dari belakang ada tangan memegang bahunya. Anggun melirik takut. Tapi rasa takutnya kini menghilang saat mengetahui jika tangan tersebut adalah tangan Bheni. Anggun menghela nafas lega, "Huruf! kamu buat aku takut saja."


Tanpa menjawab atau berkata apa pun kepada Anggun. Bheni mendekatkan wajah pucat nya. Tangan kanan memegang dagu Anggun.


Saat melihat Bheni hendak menciumnya, Anggun langsung mendorong bidang dada Bheni, "Kenapa nafas kamu berbau tidak sedap?" tanya Anggun merasa nafas Bheni seperti tidak biasanya.


Bheni tidak menjawab, ia mengarahkan tangannya ke ruangan kaca.


"Apa kamu ingin mandi?"


Tanpa menjawab Bheni menggenggam pergelangan tangan Anggun dan membawanya masuk ke dalam.


"Bheni apa yang kamu lakukan?" tanya Anggun melihat Bheni melepaskan perlahan bajunya.


Bheni tidak menjawab, bibir pucat nya hanya mengulas senyum tipis.

__ADS_1


Kedua bola mata Anggun membulat sempurna saat melihat ke bawah. Sebuah barang cukup besar dari milik lainnya. Bola mata Anggun juga beralih ke bagian lainnya. Bentuk tubuh jauh lebih beda dari milik Bheni. Bola mata Anggun berpaling ke sisi kanan, 'Sepertinya ini bukan Bheni. Aku harus segera pergi sebelum makhluk ini memakan ku,' gumam Anggun di dalam hati. Kaki kanan Anggun hendak melangkah. Namun, langsung di tahan.


Makhluk menyerupai wujud Bheni memutar tubu Anggun, dan memepet kan ke dinding kaca.


"Lepaskan aku. Kamu bukan Bheni," ucap Anggun berusaha lepas dari jerat makhluk tersebut.


Makhluk tersebut tidak melepaskan Anggun. Mahkluk tersebut malah melayangkan aksi nya ke Anggun. Menyerang titik lumpuh Anggun. Membuat Anggun menjadi pasrah. Melihat Anggun begitu pasrah dengan wajah merah merona dan saliva keluar dari sudut mulutnya. Mahkluk tersebut menyatukan dirinya dengan lembut.


"Akh.." teriak Anggun membulatkan bola mata saat milik makhluk itu masuk ke dalam. Anggun memejamkan kedua matanya sambil menggigit bibir bagian bawah, 'Sungguh besar. Rasanya aku ingin menjerit. Tapi kenapa tubuh ku tiba-tiba tidak bisa melakukan perlawanan lain. Dan aku hanya bisa berteriak 'Akh', selain kalimat itu kenapa aku tidak bisa mengeluarkan nya. Bheni...tolong aku Bheni. Aku rasanya sudah tidak kuat lagi,' rengek Anggun di dalam hati berharap Bheni segera datang untuk menolongnya.


Setelah hampir 1 jam mahkluk itu melakukan perbuatan itu kepada Anggun. Makhluk itu pun melepaskan Anggun, tawa renyah terdengar cukup jelas memenuhi ruang kamar mandi. Setelah itu makhluk tersebut merubah wujud aslinya menjadi makhluk bertubuh besar penuh bulu, lidah menjulur keluar, dan kedua bola mata merah menyala. Merasa puas melampiaskan perbuatannya, makhluk tersebut memutar tubuhnya dan menghilang.


"Pa-pasti kamu suruhan Rashi. Dasar setan," ucap Anggun terduduk lemas. Tidak ingin terjadi hal buruk lainnya kepada dirinya sendiri. Anggun merangkak keluar dari kamar mandi sembari berteriak, "Bheni...Bheni tolong aku. Bheni."


Mendengar teriakannya Anggun dari dalam kamar. Bheni sedang berjaga di depan pintu kamar langsung masuk ke dalam. Kedua bola mata Bheni membulat sempurna saat melihat Anggun merangkak dengan tubuh polos, dan dar-ah mengalir di kaki, "Nona apa yang terjadi?" tanya Bheni segera memacu kedua kakinya, tangan kan segera menyambar selimut terlipat di ujung ranjang. Bheni segera menyelimuti tubuh polos Anggun dengan selimut, "Saya akan bawa nona ke rumah sakit," ucap Bheni cemas. Bheni langsung menggendong tubuh dingin Anggun dan membawanya menuju mobil.


.


.


Rashi sedang duduk santai di ruang Tv, tangan kanan memegang cangkir kopi. Dan menyeruputnya, "Sruup!!" senyum tipis terlihat jelas dari balik cangkir.


"Aku sudah mengerjakan tugasku. Apa kamu sudah puas?" tanya Jiji kepada Rashi.


Ternyata benar jika mahkluk tersebut adalah milik Rashi. Tapi kenapa hanya di mata Rashi makhluk itu terlihat tampan dan juga memiliki bentuk tubuh bagus. Dan kenapa hanya kepada Rashi makhluk itu sangat lembut dan juga baik? pertama Rashi sudah diberi jimat dari Kek Rusdi untuk melihat bentuk asli Jiji menjadi sangat bagus. Kedua, Jiji sendiri sudah jatuh cinta kepada Rashi.


Rashi berdiri, berjalan dengan tatapan penuh maksud melihat ke bagian titik tertentu milik Jijik.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Jiji datar.

__ADS_1


"Hal apa yang sudah kalian lakukan?" tanya Rashi penasaran.


"Aku sudah membuat wanita itu kesulitan untuk berjalan. Dan aku sangat yakin jika wanita itu pasti tidak akan bisa mendekati Rabbani lagi. Bukannya kamu menginginkan hal itu?" tanya Jiji.


"Benar. Kamu memang kekasih ku yang cukup baik," ucap Rashi memeluk Jiji.


Andai Rashi tahu jika kekasih yang ia peluk sekarang adalah mahkluk bertubuh besar, berbulu hitam lebat dan lidah menjulur. Mungkin Rashi akan sangat jijik dan pasti tidak ingin melihat wajah Jiji untuk waktu lama.


.


.


💫 POV RASHI dan JIJI 💫


Kemarin siang setelah berjumpa dengan Anggun. Rashi pulang ke rumah terlihat sangat kesal. Rashi merasa kesal karena Anggun sudah lebih dahulu mendekati Rabbani, dan tidur dengannya tanpa sepengetahuan Rashi. Bukan itu saja, Rashi juga merasa tersinggung saat Anggun menuduh kalau dalang di balik kematian Clara adalah ulahnya sendiri.


Melihat Rashi berwajah kusut, Jiji langsung mendekati Rashi, dan bertanya, "Kenapa kamu pulang dengan wajah kesal?"


"Bagaimana aku tidak kesal. Anggun telah menuduhku, dan dia juga telah merendahkan ku. Bukan itu saja, dia juga sudah tidur dengan Rabbani!" Rashi memukul bidang dadanya, "Rasanya sangat sakit dan kecewa mendengar hal itu. Rasanya aku ingin menghabisi Anggun dengan cepat agar aku tidak memiliki saingan lagi," sambung Rashi penuh benci.


"Bukaannya kamu ada aku. Katakan apa yang harus aku lakukan agar wanita itu menjauh dari hidup Rabbani?"


"Buat dia menyesali kesombongannya. Dan buat dia susah berjalan untuk menemui Rabbani."


"Kenapa kamu tidak mengakhiri hidupnya sekaligus saja?" tanya Jiji memberi penawaran.


"Kalau aku membuat dia meninggal dengan begitu mudah. Maka itu akan sangat menguntungkan baginya. Aku ingin kamu membuat dirinya setengah-setengah. Seperti seseorang yang sedang panas dalam. Perut terasa lapar, tapi mulut susah untuk menelan," ucap Rashi dengan menekan nada suaranya.


"Baik. Demi wanita yang aku cintai, maka aku akan melakukannya," sahut Jiji semangat.

__ADS_1


.


💫 POV END 💫


__ADS_2