SERAKAH

SERAKAH
BAB 69. 1 minggu setelah Syarat


__ADS_3

Jder!!!!


Jdeer!!!!


Petir menyambar, hujan turun begitu derasnya. Seluruh lampu di muka Bumi mati karena ada beberapa tiang listrik tumbang.



...ILUSTRASI...


Rashi berdiri di depan jendela kamar, tangan kanan menyingkap sedikit kain gorden, "Kenapa belakangan ini hujan terus turun begitu deras. Dan petir juga terus menyambar seakan marah kepada semua umat di muka Bumi ini," gumam Rashi menatap dari luar jendela.


"Semakin banyak manusia ingin mencapai puncak tujuannya. Maka alam dan Sang Pencipta akan terus menunjukkan amarahnya kepada hamba yang tidak setia kepadanya," sambung makhluk berbulu hitam lebat dan tinggi, berdiri di sisi kanan Rashi.


"Apa maksud kamu!" sahut Rashi tanpa rasa takut. Kenapa Rashi tidak takut, karena di mata Rashi mahluk tersebut terlihat tampan dan juga gagah. Itu semua efek jimat pemberian Kek Rusdi agar Rashi tidak takut melihat makhluk tersebut.


"Bukannya sekarang banyak manusia merasa kurang puas dan bersyukur atas apa yang ia miliki. Semakin canggih teknologi yang tercipta. Maka akan semakin banyak pula manusia yang akan merasa hidupnya terus kurang. Dan...maka banyak pula manusia memiliki sikap iri dan dengki kepada manusia lainnya."


"Kenapa kamu bisa tahu?"


"Aku kan salah satu mahkluk peliharaan milik Kek Rusdi. Kenapa kamu bisa lupa! apa kamu ingat sewaktu kamu di larang melihat kebelakang tapi kamu tetap melihat ke belakang. Karena kamu sudah melihat ke belakang dan aku juga menyukai tertarik dengan kamu. Maka sampai kapan pun kamu akan tetap jadi milikku!"


"Tapi kenapa aku lupa siapa kamu!"


"Panggil saja aku Jiji," ucap Jiji memberi nama untuknya sendiri.


"Aku cuman ingat melihat makhluk berbulu hitam lebat dan tinggi. Dan...lidahnya juga mengulur panjang sampai ke dada," sahut Rashi mengingat kejadian seminggu lalu saat ke rumah Kek Rusdi.


Jiji memegang dagu Rashi, "Apa kamu tidak kedinginan?" tanya Jiji penuh maksud.


Rashi mengangguk.


"Karena kamu sudah jadi milikku, dan aku juga akan menuruti semua permintaan kamu. Maka berikan aku pelayanan spesial," ucap Jiji mendekatkan wajahnya.


"Apa kamu bisa menyingkirkan Anggun, dan Clara dari kehidupan Rabbani?" tanya Rashi penuh ragu.


"Apa pun permintaan kamu sudah pasti bisa aku turuti," sahut Jiji semakin mendekatkan wajahnya.


"Jika kamu bisa aku akan memberikan seluruh hidupku untuk kamu!" ucap Rashi memberi kecupan manis.


Cup!!


Jiji melepaskan kecupannya, "Tapi aku juga bisa menyingkirkan Rabbani dari hidup-mu!" tegas Jiji dengan nada menekan di kalimat terakhir.


"Sebelum semua harta Rabbani menjadi milikku, maka tidak ada satu orang pun yang bisa menyingkirkan nya dariku!" sahut Rashi tegas.

__ADS_1


"Baiklah. Tapi aku ingin meminta satu hal dari kamu. Apa kamu bisa menurutinya?"


"Tentu, katakan saja," sahut Rashi santai.


"Aku minta kamu tidak lagi berhubungan dengan Kek Rusdi. Cukup aku saja yang bisa memiliki tubuh kamu. Jangan orang lain. Apa kamu bisa?"


"Aku juga sebenarnya tidak suka berhubungan dengan Kakek tua itu. Kalau tidak ingin merebut harta Rabbani saja dan menyingkirkan para saingan mungkin aku tidak akan mau," ucap Rashi.


"Kalau seperti itu mari kita buat sebuah kontrak. Kontrak tersebut adalah serahkan semua hidup kamu kepadaku. Tapi kamu juga serahkan semua hidup-mu untukku. Bagaimana?" tanya Jiji memberi kontrak baru.


"Baik. Aku terima!" sahut Rashi serius.


Jdarr!!!!


Byur!!!!


Seketika petir langsung menyambar, hujan juga turun begitu derasnya tanpa henti.


Jiji menggendong Rashi, "Kalau gitu aku juga ingin membuat kontrak baru dengan hal lainnya," ucap Jiji membawa Rashi menuju ranjang. Jiji menurunkan Rashi dengan lembut, "Apa kamu siap melakukan hal itu kepadaku?"


"Aku sangat siap!" tegas Rashi.


Tangan Jiji pun seketika menjadi aktif. Menjalar bebas dan terhenti di sebuah titik.


"Akh...Jiji....kamu...." ucap Rashi dengan saliva keluar dari bibirnya.


"Sa...sangat pu..as," sahut Rashi menggigit bibir bawahnya.


Setelah pemanasan cukup hebat, Jiji dan Rashi bersatu. Bukan hanya kontrak tulisan, Jiji juga membuat kontrak fisik. Untuk membuat Rashi hanya bisa melakukan perbuatan itu kepada Jiji, mahkluk halus menyerupai pria tampan.


.


.


💫 Di Sisi lain 💫


"Aduh...kenapa perutku sakit sekali. Aduuh!" lirih Clara berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Kedua tangan mengelus perut besar tak wajar pada usia kandungan memasuki usia 2 Minggu lebih.


"Tuan, kenapa dengan nona besar?" tanya Anton ikut cemas melihat Clara mondar-mandir di depan mata mereka semua.


"Aku tidak tahu!" sahut Rabbani bingung.


"Akhh...akhh!" keluh Clara pada bagian perut buncitnya memutar ke belakang.


"Pep....perut nona Clara kenapa bisa pindah ke belakang!" ucap serentak Anton dan ketiga karyawan lainnya.

__ADS_1


"CLARA!" teriak Rabbani memeluk tubuh Clara hendak jatuh ke lantai.


"Pa...panggil Ustad. Cepat panggil Ustad!" teriak Rabbani kepada Anton dan ketiga karyawan lainnya.


"Ba-baik!" ucap Anton dan ketiga karyawan lainnya berlari keluar rumah.


Anton dan ketiga karyawannya harus pergi di tengah derasnya hujan dan petir terus menyambar seisi Bumi. Tidak tahu di mana rumah Ustad tersebut. Tapi Anton dan ketiga karyawan lainnya tetap terus berjalan dan sesekali singgah ke warung untuk bertanya.


.


.


"Ra..bbani," panggil Clara gemetar. Tangan kanan berusaha meraih wajah tampan Rabbani. Namun dengan cepat Rabbani mengambil tangan Clara dan menempelkannya di salah satu pipi.


"Kamu harus bertahan Clara. Aku yakin mereka akan segera membawa Pak Ustad ke sini," ucap Rabbani berusaha menenangkan hati Clara dan hatinya.


Byur!!!


"Uhuk! uhuk!" darah menyembur keluar dari mulut, dan mengenai baju kemeja kotak-kotak Rabbani.


"Ka-kamu apa mau minum?" tanya Rabbani bingung.


Clara menggeleng.


Rabbani semakin panik saat kedua kaki Clara mengalir cairan berwarna hitam dan sedikit ada belatungnya.


"Akkh!!!" teriak Clara sekali lagi, kedua tangan memegang perut terus bergerak mengitari tubuh. Dan terdengar suara.


Croot!!!!


Segumpal daging kecil keluar.


"CLARA!" teriak Rabbani memeluk tubuh Clara sudah terkulai lemah. Rabbani menggoyang tubuh Clara berulang kali, "Bangun....bangun Clara. Aku perintahkan bangun Clara. Bukannya kau telah berjanji untuk selalu menemani aku. Jika kau dan anakku yang belum lahir sudah pergi duluan Bagaimana denganku! Bagaimana Clara?" teriak Rabbani sekali lagi meninggikan nada suaranya di kalimat terakhir.


"Tu...tuan, a-apa yang terjadi?" tanya Anton baru saja tiba bersama ketiga karyawan, dan Pak Ustad.


Sungguh kasihan nasib Clara. Semasa hidupnya sudah banyak menderita, dan kini meninggal pun dengan cara tragis.


"Astagfirullah al-adzim!" ucap Pak Ustad melihat ke paha Clara.


"Kenapa?" tanya Rabbani dingin.


"Iya, kenapa Pak Ustad?" tanya Anton dan ketiga karyawan lainnya serentak.


"Saya tidak mau berburuk sangka. Tapi saya yakin ini ada kaitannya dengan santet!"

__ADS_1


"Apa! santet?!"


...Bersambung ...


__ADS_2