SERAKAH

SERAKAH
BAB 65. ITU HARAPANKU


__ADS_3

Keesokan harinya. Setelah Rabbani meminta karyawan nya untuk tinggal di rumah. Hari ini keempat karyawan tersebut mulai membereskan 2 kamar tak terpakai di rumah milik Rabbani. Suasana biasanya tebang dan damai kini berubah menjadi ramai. Terlebih lagi keempat karyawan akan tinggal di rumah Rabbani adalah karyawan super komplit. Ada lucu, polos, jahil, dan sebagainya.


Melihat Clara masih tidur dan keempat karyawan sedang berbenah. Rabbani berinisiatif untuk memasak. Dengan senyum terus terukir indah di bibirnya, saat otak kecil terus mengingat jika Rabbani akan menjadi seorang Ayah. Setelah kepergian kedua orang tua dan saudaranya, akhirnya Rabbani akan membuat keluarga baru.


Merasa ada harum makanan sangat lezat berasal dari dapur, karyawan pria satu berjalan menuju dapur, "Tuan masak apa?" tanya karyawan pria satu menyinggahi Rabbani.


"Aku sedang masak sup iga sapi dan makanan sehat lainnya untuk Clara dan juga kalian," sahut Rabbani, tangan kanan mengaduk kuah sup.


"Tidak perlu repot-repot," sikut karyawan pria satu, "Kami sudah makan kok!"


Grrgg!!!!


Rabbani mengulas senyum tipis, "Bibir berkata sudah makan, tapi perut berkata aku masih lapar," Rabbani menggeleng, "Anton.... Anton!"


Anton menggaruk rambut tak gatal, "Hehe, namanya anak indikos!" kedua bola mata Anton melirik ke sekeliling ruangan, "Nona Clara mana?"


"Ada tuh di kamar," tunjuk Rabbani ke lantai dua.


Anton berbalik badan, "Aku bangunkan ya!"


"Jangan. Biarkan Ibu dari anakku tidur dengan puas. Kalau dia lapar pasti akan segera turun."


"Uhh...romantis banget sih!" tangan kanan melambai, "Aku juga mau rasanya menjadi Istri dari tuan Rabbani!" sambung Anton sedikit bercanda.


"Kamu pikir aku suka adu pedang!" tangan kanan mengusir Anton, "Syuh...Syuh! pergi sana. Entar masakan ku berubah jadi asam manis pula gara-gara mendengar ucapan kamu!"

__ADS_1


"Baiklah. Aku permisi balik ke kamar dulu," ucap Anton menunjuk ke lurus ke sisi kanan. Kedua kaki Anton juga ikut berjalan menuju kamar miliknya berada di dekat taman belakang.


"Apa mereka beneran akan tinggal di sini?" tanya Clara baru saja masuk ke ruang dapur dan berpapasan dengan Anton.


"Kamu sudah bangun?" tanya Rabbani senang, tangan kanan mematikan kompor gas.


"Sudah," Clara mendekati meja dapur, "Aku bangun gara-gara mencium aroma masakan kamu!" Clara menyusun piring di atas meja, "Apa mereka beneran akan tinggal di sini?" sambung Clara dengan pertanyaan yang sama.


Melihat Clara menyusun piring dan menuangkan air minum di dalam gelas. Rabbani segera berlari dan mengambil ceret dari tangan Clara, "Kamu kenapa bekerja. Sudah biar aku saja. Kamu cukup duduk di sini, dan lihat saja!"


"Tapi aku sudah terbiasa bekerja. Lagian aku tidak sakit atau yang lainnya!" Clara menundukkan pandangannya, tangan kana menggenggam baju terusan bagian depan, "Apa kamu percaya kalau anak ini adalah anak kamu?" sambung Clara dengan pertanyaan lirih.


Rabbani menarik kursi, membawa Clara duduk, "Tidak baik bertanya hal seperti itu," Rabbani memijat kedua bahu Clara dari belakang, "Anak itu sudah pasti adalah anakku. Bukannya hanya aku yang pernah melakukan hal itu kepada kamu belakangan ini!" sambung Rabbani tegas.


Clara menghentikan pijatan lembut Rabbani. Wajah melirik sedikit ke sisi kiri, "Tapi ada beberapa pria berusaha untuk ti..."


Rabbani segera membungkam mulut Clara dengan ciuman manis. Setelah melihat Clara sudah tenang, Rabbani melepaskan ciumannya.


Clara menunduk, tangan kanan memegang bibirnya, "Kenapa kamu mencium ku?"


"Ciuman itu tanda terima kasih aku karena sampai sekarang kamu dan calon bayi ku masih bisa selamat," Rabbani memutar kursi, membuat Clara kini duduk dihadapannya. Rabbani berjongkok, dan menempelkan daun telinga kirinya di perut sedikit membuncit Clara, "Mulai sekarang dan 9 bulan ke depan aku hanya ingin mendengar suara kamu dan mendengar suara detak jantung calon bayiku."


"Hiks hiks" ucapan Rabbani sangat menyentuh hati Clara. Otak kecilnya mulai menampilkan kenangan 7 bulan lalu saat dirinya sedang mengandung anak hasil perbuatan mendiang Azzam. Saat itu betapa menyedihkannya kehidupan Clara, hamil tanpa suami, kedua orang tua meninggal dunia, dan di usir oleh para tetangga karena dianggap sebagai aib dan nasib sial. Setelah itu Clara juga kehilangan bayi nya oleh pria berkulit hitam, karena pria tersebut terus membuat Clara melayani dirinya. Tapi kehidupan kali ini sangat jauh berbeda. Clara seperti sedang menjumpai malaikat. Kehidupannya sangat jauh berubah saat Rabbani mulai masuk ke dalam hidupnya. Begitu juga sebaliknya dengan Rabbani.


Rabbani segera berdiri, menarik tubuh Clara bersandar di perut kotak-kotak miliknya. Tangan kanan Rabbani membelai lembut rambut panjang bagian belakang, "Apa kamu sedang mengingat masa lalu?"

__ADS_1


Clara mengangguk, kedua tangan menyeka kasar air mata dan ingus.


"Mulai sekarang kubur lah masa lalu yang kelam itu. Karena masa depan kamu akan aku buat seindah mungkin, hingga kamu mampu melupakan semua kejadian buruk yang pernah menimpa kehidupan kamu!" Rabbani melepaskan pelukannya, tubuh sedikit menunduk, "Jadikanlah aku satu-satunya pria yang akan selalu membuat kamu bahagia, dan jadikanlah aku sebagai wadah tempat kamu berlindung dan mengadu!" sambung Rabbani sedikit membuat hati Clara tenang.


Clara menengadah, "Apa ucapan kamu bisa aku pegang?" tanya Clara memastikan.


"Semua milikku bisa kamu pegang," sahut Rabbani sedikit mengalihkan pembicaraan.


Baru saja ingin romantis dengan Clara. Keempat karyawan malah datang dan ikut nimbrung di depan pintu dapur.


"Uhuk!!! uhuk!"


"Aku pikir tinggal di rumah besar dan juga mewah akan sangat sejuk. Ternyata lama-lama panas juga!"


"Adegan dan ucapan apakah itu?"


"Yang jelas bukan adegan yang seperti kamu pikirkan!"


"Aku baru tahu jika tuan kita bisa seromantis ini, dan aku-" ucapan karyawan wanita empat menggantung, jari telunjuk mengarah ke perut Clara, "Dan aku juga tahu jika tuan Rabbani bisa membuat wanita hamil. Selama ini aku pikir tuan Rabbani adalah..."


"Diam! Kenapa mulut kamu tidak di pasang remnya," sela Anton membungkam mulut karyawan wanita empat.


"UU..ugu..ugu.." ucap karyawan wanita keempat di balik mulut tertutup.


Melihat keempat karyawan Rabbani sangat lucu. Clara tidak bisa menahan tawanya, "Ha ha" tangan kanan menyeka air mata di ujung mata, "Ternyata kalian sangat lucu," ucap Clara buat keempat karyawan Rabbani.

__ADS_1


Rabbani mengelus senyum tipis saat melihat tawa renyah terus keluar dari mulut Clara, 'Bukan aku tidak sanggup untuk membayar orang untuk menjaga dan melindungi kamu. Bukan pula aku tidak sanggup untuk mencari pembantu dan lainnya untuk mengurus rumah ini. Tapi, aku masih belum percaya dengan orang lain untuk menemani kamu di rumahku ini. Alasan aku lebih memilih keempat karyawan terbaikku untuk tinggal di sini adalah aku masih ada trauma mendalam atas pengkhianatan dari kedua saudara ku. Aku sangat berharap semoga keempat karyawan ku dan kamu tidak membuat aku kecewa, dan mengulang kesalahan yang sama. Itu harapanku.'


__ADS_2