
Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam di kediaman rumah Rabbani untuk berteduh. Lala permisi pamit ingin pulang ke rumah. Rabbani mengantarkan Lala sampai di depan teras rumah. Melihat jam di tangan sudah menunjukkan pukul 00:30 tengah malam. Rabbani menawarkan tumpangan untuk mengantarkan Lala pulang.
“Kamu tidak perlu naik taksi online. Aku akan mengantarkan kamu segera pulang ke rumah,” ucap Rabbani menawarkan tumpangan.
“Serius Mas?” tanya Lala semangat.
“Hem” sahut Rabbani sembari melangkah menuju mobil terparkir tepat di depan teras rumah. Rabbani membuka pintu mobil, “Mari masuk,” ucap Rabbani menyuruh Lala masuk ke dalam.
Lala berjalan dengan centik masuk ke dalam mobil. Rabbani pun segera bergegas masuk ke dalam mobil, dan menghidupkan mesin mobilnya.
“Jalan Anggrek Mas,” ucap Lala memberikan Alamat rumahnya.
“Kok aku baru dengar di sini ada jalan dengan nama jalan Anggrek?” tanya Rabbani penasaran.
“Kalau saya bilangnya jalan Anggrek karena dulunya ada seorang wanita tua sering berjualan Anggrek di sana,” sahut Lala.
“Oh”
Rabbani pun melajukan mobilnya menuju jalan sesuai permintaan Lala. Sepanjang perjalanan menuju rumah Lala, Rabbani tampak bingung saat bertemu di persimpangan jalan. Rabbani bingung karena dia tidak tahu di mana jalan Anggrek tersebut.
Rabbani menoleh ke Lala, “Kalau aku boleh tahu jalan Anggrek itu di mana ya?” tanya Rabbani.
“Saya pikir Mas tahu!” Lala mengarahkan jari telunjuknya ke sisi kiri, “Kita masuk ke simpang sana, kemudian Mas jalan saja terus, lalu nanti jumpa perepatan jalan kita belok ke kiri, kemudian ke kanan, terus, dan di situ rumah saya,” ucap Lala memberitahu Rabbani.
“Bukannya di jalan sana tidak ada perumahan atau rumah? setahu ku di jalan sana hanya ada sebuah gedung yang tak terpakai bekas kebakaran. Ntar kamu salah. Coba kamu ingat-ingat dulu,” sahut Rabbani menyuruh Lala kembali mengingat alamat rumahnya dengan benar.
“Benar, di situ memang rumah saya. Dulu memang sempat ada gudang bekas kebaran, tapi karena di sana ada tanah murah. Jadi saya membelinya Mas, dan membangun rumah kecil di sana,” sahut Lala berbohong.
“Oh” sahut Rabbani mengangguk. Rabbani memutar setir kemudinya menuju jalan tersebut.
30 menit sudah mereka berjalan, kini mobil Rabbani terhenti disebuah rumah terlihat amat mewah. Namun, terlihat angker.
“Apa benar ini Alamat rumah kamu?” tanya Rabbani penasaran.
Lala membuka seatbelt, “Benar Mas, apa Mas mau mampir ke sini?” tanya Lala.
__ADS_1
Rabbani melambai, “Tidak terimakasih,” ucap Rabbani menolak secara halus.
Saat Lala hendak membuka pintu, tiba-tiba kedua telinganya mendengar seperti seorang sedang berbisik. Dengan cepat Lala segera turun dari mobil, “Saya permisi Ma,” ucap Lala membawa kedua kaki nya melangkah dengan terburu-buru menuju rumah.
“Kok aku merasa ada keganjilan di sini. Ah…sudahlah, itu bukan urusanku,” Rabbani menghidupkan mesin mobil dan membawanya pergi meninggalkan kediaman rumah Lala.
Melihat Rabbani sudah pergi dari depan rumahnya, Lala berbalik badan dan menghilang.
.
.
💫💫Di sisi lain💫💫
Tempat Praktek Kek Rusdi
Mendengar Kek Rusdi sudah kembali dari tempat persemedian, Anggun segera menjumpai Kek Rusdi tanpa di temani Ben. Dari hasil persemedian Kek Rusdi terlihat ada perubahan dari wajah tua Kek Rusdi berubah menjadi sedikit lebih awet muda.
Anggun kini duduk di depan meja praktek, tangan kanan memberikan foto Rabbani dan Rashi kepada Kek Rusdi, “Kek, aku ingin Kakek buat wanita ini sengsara. Dan aku ingin Kakek buat pria ini menjadi sakit,” ucap Anggun serius.
“Kenapa aku tidak yakin. Kalau Kakek tidak bisa…” Anggun menarik fotonya kembali, “Sini aku akan pergi ke tempat lain saja,” sambung Anggun terdengar tidak senang.
“Bukannya aku tidak bisa. Tapi pria dan wanita itu sudah di jaga oleh setan!” tegas Kek Rusdi di kalimat terakhir.
“Se-setan. Kakek jangan bercanda, buat apa setan menjaga manusi?” tanya Anggun tidak percaya.
“Pria itu sedang di jaga sama mendiang Istrinya, wanita yang meninggal karena aku santet. Sedangkan wanita itu sedang di jaga sama peliharaan milikku yang paling kuat. Kalau aku menyerang mereka, kamu dan aku pasti akan terkena masalah dengan setan-setan itu. Apa kamu mau mendapatkan masalah baru?” tanya Kek Rusdi menyakinkan Anggun.
“Tapi Kek, aku masih menginginkan harta pria itu. Kakek bisa bayangi tidak jika aku bisa mengambil semua kekayaan pria itu, maka Kakek juga akan aku beri sebagian hartanya untuk Kakek. Kakek juga bisa membangun tempat prakterk lebih besar lagi dari tempat ini. Buakn itu saja, Kakek juga bisa mempunyai banyak gadis-gadis muda di dalamnya. Aku mohon Kek,” pinta Anggun tulus.
“Maaf, aku tidak bisa. Berhentilah menjadi wanita SERAKAH yang akan merugikan diri kamu sendiri. Jika kamu meminta hal lain, aku pasti akan menurutinya, tapi kalau yang satu ini. Maaf, aku tidak bisa!”
Agar Kek Rusdi menuruti keinginannya, Anggun segera beranjak dari tempat duduknya mendekati Kek Rusdi. Kedua tangan Anggun mulai menjalar ramah membuat bulu kudu Kek Rusdi merinding.
“Kek, mau ya? aku akan menuruti semua keinginan Kakek,” tangan Anggun mulai masuk ke bagian tertentu.
__ADS_1
“Ah…ka-kamu,” ucap Kek Rusdi mulai kehilangan konsentrasi saat benda miliknya di mainkan.
Anggun membusungkan dadanya, “Kek,” panggil Anggun di daun telinga Kek Rusdi.
Kek Rusdi pun mengangguk, “Ba-baik, aku akan menuruti semua permintaan kamu. Asal kamu mau menuruti permintaan aku nanti,” sahut Kek Rusdi terlena dengan bujukan Anggun.
“Terimakasih Kakek,” ucap Anggun memberi kecupan manis.
Kek Rusdi membersihkan keringat membasahi sekitar wajahnya. Lalu mengulurkan tangannya, “Mana fotonya,” pinta Kek Rusdi.
“Ini Kek,” ucap Anggun memberikan foto Rashi dan Rabbani.
“Kamu serius akan melakukan hal ini?” tanya Kek Rusdi kembali menyakinkan Anggun.
Anggun mengangguk, “Serius Kek,” sahut Anggun semangat.
Kek Rusdi mengambil foto Rabbani, “Aku tidaka akan membuat dia sakit. Tapi aku akan membuat pria ini mengingat terus wajah kamu,” ucap Kek Rusdi.
“Terserah Kakek saja yang terpenting Rabbani dan hartanya bisa menjadi milikku,” sahut Anggun.
Kek Rusdi mulai menghidupkan dupa, tangan kiri memercikkan kemeyan ke dalam dupa, mulut komat-kamit membaca mantral, “Tutup mata dan hati pria ini untuk wanita lain kecuali, Anggun. Tanam kan di dalam hati dan pikiran pria ini atas nama Anggun…Anggun…dan….”
Prang!!!!
Kendi dan dupa terbelah.
“Akh!” teriak Kek Rusdi terpental ke belakang.
Sedangkan Anggun menghalau serpihan kendi dan dupa hendak menyentuh wajahnya.
“Berani sekali kalian menyentuh Suami ku!” ucap seorang wanita dengan suara besar hingga memekakkan kedua gendang telinga.
“Kenapa ini bisa terjadi Kek?” tanya Anggun sedikit meninggikan nada suaranya.
...Bersambung ...
__ADS_1