SERAKAH

SERAKAH
BAB 58. Balasan buat Rashi


__ADS_3

Rabbani terus berjalan, dan menggeret tubuh pria misterius di sepanjang koridor Hotel. Wajah suram dan dingin terlihat jelas menatap lurus ke depan. Kedua kaki Rabbani terhenti di depan kamar 205. Sebuah kamar tidak jauh dari kamar miliknya.


Rabbani menundukkan tubuhnya, berbisik lembut ke pria misterius sedang duduk di lantai, tangan kanan masih menggenggam erat baju kerah bagian belakang, “Panggil wanita itu. Dan katakan padanya jika kamu sudah menyelesaikan tugas dengan baik. Kalau kamu tidak melakukannya, maka kamu akan tahu akibatnya.”


“Ba-baik,” sahut pria misterius ketakutan. Tangan kanan gemetar mengulur mendekati pintu.


Tok!tok!


Sebuah ketukan pintu halus.


“Nona, ini saya sudah datang dan sudah menyelesaikan semua tugas yang nona berikan,” ucap pria misterius gemetar. Kedua mata melirik ketakutan ke Rabbani.


Cetak!!


Pintu kamar terbuka.


“Wahh…cepat seka….” Ucapan Rashi terhenti, kedua matanya membulat sempurna melihat Rabbani berdiri dengan wajah suram menatap Rashi. Rashi segera menutup pintu. Namun, Rabbani dengan cepat menahan pintu tersebut.


“Mau cara halus atau cara kasar?” tanya Rabbani dingin.


“Tuan kenapa Anda marah seperti ini?” tanya Rashi lembut. Tangan kanan perlahan membuka kembali pintu kamarnya.


“Biarkan aku masuk!” tegas Rabbani.


“Oh tentu saja,” sahut Rashi mempersilahkan Rabbani masuk ke dalam kamarnya.


“Kamu juga ikut masuk!” perintah Rabbani kepada pria misterius.


“Tapi tuan…”


“MASUK!” bentak Rabbani membuat Rashi dan pria misterius terkejut.

__ADS_1


“Ba-baik tuan,” ucap pria misterius berjalan masuk ke dalam kamar.


Rabbani mengulurkan tangannya, “Berikan aku kunci kamar kamu!”


“Buat apa?” tanya Rashi mulai panik.


“Jangan banyak tanya, berikan saja sa….yang,” ucap Rabbani di kalimat terkahir dengan lembut kepada Rashi.


“Ini,” sahut Rashi memberikan kunci kamar miliknya.


Rabbani berjalan mendekati pintu, dan mengunci pintu kamar Rashi. Setelah pintu di kunci, Rabbani memasukkan kunci tersebut ke dalam saku kemeja miliknya. Kedua kaki berjalan dengan santai melewati Rashi dan pria misterius. Rabbani duduk dengan santai, senyum tipis penuh makna terpancar di raut wajah dinginnya saat menatap wajah Rashi dan pria misterius, “Aku mulai muak dengan permainan ini. Hanya manusia SERAKAH yang mampu menghalalkan berbagai macam cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Langsung saja pada intinya, aku ingin melihat rencana yang kamu buat sendiri berbalik pada Anda, nona Ra-shi!”


“Apa maksud tuan?” tanya Rashi berjalan mendekati Rabbani.


“Jangan pura-pura berlagak bodoh. Aku mau permainan buat Clara, Anda yang memainkannya. Atau aku yang memainkannya?” tawar dan tanya Rabbani datar.


“Jangan macam-macam Anda. Aku bisa menuntut Anda dengan pasal pelecehan sek-sual kepada ku!” ucap Rashi dengan tegas.


Rabbani berdiri, perlahan kedua kakinya berjalan mendekati Rashi. Membuat Rashi mundur beberapa langkah ke belakang dan terjatuh di atas ranjang dengan kedua kaki sedikit menggantung. Dengan cepat Rabbani menggenggam pergelangan tangan kiri Rashi, “Kalau begitu aku akan sangat takut. Tapi aku penasaran bagaimana rasanya jika ini terjadi kepada kamu?” tangan kiri Rabbani mulai menyelinap masuk ke dalam rok mini Rashi.


“Bukannya kamu ingin melakukan hal ini kepadaku? jadi hargai kedatanganku,” Rabbani menyelipkan jarinya ke titik milik Rashi. Seperti pria tanpa hati, Rabbani menatap suram wajah Rashi kini terlihat memerah, “Sepertinya kamu sudah lebih sering melakukannya kepada orang lain daripada Clara!” Rabbani menambah jumlah, “Sungguh wawasan yang sangat luas.”


“Aaaa..ja…jangan….lakukan ini,” rintih Rashi. Wajah mulai bertambah merah, dan saliva perlahan keluar dari bibirnya.


Rabbani menghentikan aksinya. Membersihkan 3 jari basah ke sebuah tisu terletak di atas ranjang. Tatapan suram mengarah pada pria misterius, “Bukannya kamu tadi ingin melakukan hal ini kepada Clara. Sekarang aku mau kamu berbuat yang sama,” ucap Rabbani dengan suara menahan emosi.


“Sa-saya tidak berani,” sahut pria misterius ketakutan.


Rabbani menggenggam erat kerah baju bagian depan pria misterius, “Jika kamu berani menyentuh wanitaku. Maka kamu juga harus berani menyentuh majikan kamu. Cepat lakukan, atau kamu akan tahu akibatnya karena sudah membuat Clara seperti itu!” ucap Rabbani meninggikan nada suaranya dengan emosi semakin memuncak saat mengingat wajah Clara dipenuhi ketakutan.


“Ba-baik tuan,” sahut pria misterius segera berjalan mendekati Rashi masih terbaring di atas ranjang.

__ADS_1


“Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Rashi berusaha bangkit.


“Maaf nona,” pria misterius menyatukan dirinya dengan Rashi.


"Aaa....Si*alan...kamu Rabbani!" teriak Rashi dengan tubuh bergoyang.


Setelah melihat Rashi dan pria misterius bersatu. Rabbani dengan cepat melangkah pergi meninggalkan kamar Rashi. Kedua kaki Rabbani terus melangkah cepat menuju kamar miliknya. Hatinya masih terasa sakit saat melihat air mata Clara, dan raut wajah ketakutan memenuhi wajah cantik Clara. Hati Rabbani semakin teriris saat dirinya terus mengingat semua perbuatan keji para pengusaha menganggap rendah harga diri Clara. Kini kedua langkah kaki tegap itu terhenti di depan kamar. Rabbani terus menghirup oksigen sebanyak mungkin, dan menyebarkan oksigen tersebut ke seluruh tubuh, agar dirinya tanpa tenang saat dilihat oleh Clara.


Setelah hati Rabbani sudah merasa cukup tenang, Rabbani membuka pintu sambil berkata, “Clara aku pu…” ucapan Rabbani harus terhenti saat melihat Clara hendak mengarahkan pecahan cer-min ke pergelangan tangan kirinya. Rabbani melangkah cepat, “Jangan lakukan perbuatan dosa itu!” putus Rabbani segera mengambil pecahan cermin dari tangan Clara.


Clara menundukkan wajahnya, “Aku pikir Anda tidak akan kembali lagi,” ucap Clara dengan nada datar.


Rabbani memeluk tubuh Clara, “Aku akan selalu berada di samping kamu. Maafkan aku karena sudah meninggalkan kamu sendirian di sini,” Rabbani membelai rambut bagian belakang Clara, “Hari ini aku putuskan akan pulang ke tanah air. Aku juga akan mengurus semua surat-surat untuk pernikahan kita berdua. Aku mohon kepada kamu, jadilah Istriku!” pinta Rabbani tulus.


Clara perlahan melepaskan pelukan Rabbani. Wajah menengadah, senyum manis di tunjukkan untuk Rabbani, “Sekali lagi aku menolak permintaan Anda,” ucap Clara menolak permintaan Rabbani.


“Meski puluhan kali kamu menolak ku, aku tetap akan menikahi kamu!” tegas Rabbani.


“Tapi…”


“Tidak ada tapi-tapian. Cepat mandi karena kita akan segera pulang ke tanah air,” ucap Rabbani, kedua kaki melangkah ke lemari pakaian.


“Kenapa cepat sekali. Bukannya masih ada pertemuan penting sabtu ini?” tanya Clara beranjak turun dari ranjang.


“Urusanku sebenarnya hanya dengan tuan Arces. Karena semua barang sudah terpenuhi, maka untuk urusan yang lain aku tidak perduli. Urusanku sekarang hanya dengan kamu, Clara,” ucap Rabbani, kedua tangan menyusun pakaian miliknya, dan Clara ke masing-masing koper.


“Kenapa Anda sangat perduli tentang diri ku?” tanya Clara berjalan mendekati Rabbani.


“Sepertinya aku tidak perlu menjawab semua pertanyaan itu,” Rabbani menutup lemari pakaian. Rabbani berbalik badan, menatap wajah cantik Clara sedang berdiri tepat dihadapannya, “Lebih baik kamu mandi, agar aku bisa memesan tiket buat kita berdua.”


“Anda yakin tidak akan kabur dan meninggalkan aku di sini saat aku sedang mandi nantinya?” tanya Clara untuk memastikan Rabbani akan tetap menunggunya saat mandi atau akan kabur meninggalkan dirinya di sini.

__ADS_1


Merasa jika Clara tidak mempercayai ucapannya. Rabbani menggenggam pergelangan tangan kiri Clara, membawa Clara masuk ke dalam kamar mandi. Tadinya hanya iseng untuk menemani Clara mandi, tahu-tahu Rabbani tergoda dengan setiap tetes air membasahi tubuh Clara. Tidak ingin melakukan hal buruk kepada Clara, Rabbani sedang duduk segera beranjak pergi meninggalkan Clara.


...Bersambung...


__ADS_2