SERAKAH

SERAKAH
BAB 45. Dibalik Penolakan Ben


__ADS_3

Meski Anggun sudah berbuat buruk kepadanya, tapi Rabbani tetap mengantar Anggun layaknya tamu terhormat sampai di depan teras rumah. Rabbani menundukkan sedikit tubuhnya, “Terimakasih sudah repot-repot datang ke rumah. Aku akan mencarikan barang sesuai dengan keinginan Anda,” ucap Rabbani kepada Anggun.


Seperti tidak tahu malu, Anggun membelai wajah Rabbani, tatapan penuh makna menatap Rabbani dari atas sampai bawah, “Apa pun yang kamu cari, sudah pasti tetap aku terima,” Anggun mendekatkan bibirnya di daun telinga kiri Rabbani, “Lain kali tidak ada kata menolak permintaanku. Aku pastikan kamu akan menjadi milikku!” bisik Anggun.


“Akan aku tunggu ucapan Anda,” sahut Rabbani seperti tertantang.


Anggun berbalik badan, kedua kaki melangkah anggun meninggalkan kediaman rumah Rabbani menuju mobil sudah dibuka lebar oleh supir pribadi yaitu Ben. Anggun melambaikan tangannya dari dalam jendela, memberikan ciuman manis dari tangannya.


Rabbani tidak menghiraukan hal itu, dirinya hanya tersenyum manis dengan sopan. Rabbani berbalik badan, melangkah masuk ke dalam rumah. Rabbani tersenyum manis saat melihat Clara sedang membersihkan ruang tamu, “Clara…aku…”


“Apa nona Anggun sudah pulang?” tanya Clara mengalihkan percakapan.


“Sudah,” sahut Rabbani menghentikan langkah kakinya di samping Clara.


Clara mengarahkan kemoceng ke dapur, “Aku permisi ke dapur dulu!”


Saat kaki kanan hendak melangkah, Rabbani segera menahan pergelangan tangan kiri Clara, “Tunggu. Dengarkan dulu penjelasan ku agar kamu tidak salah paham mengenai hal yang baru saja kamu lihat tentangku dengan Anggun,” tegas Rabbani masih ingin menjelaskan kepada Clara jika semua perbuatan tadi hanya kesalahpahaman karena Anggun terus berbuat semaunya kepada Rabbani.


Clara melempar senyum manis, “Aku percaya dengan tuan,” sahut Clara berbohong, padahal dalam hatinya mulai menyamakan Rabbani dengan mendiang Azzam. Perbedaannya hanya Rabbani memiliki karakter sangat lembut, dan cuek kepada siapa pun, sehingga Clara berpikir jika itu adalah memang teknik modus Rabbani untuk mencapai targetnya.


“Jika kamu percaya, berhentilah memanggilku dengan sebutan tuan.”


“Kalau aku tidak memanggil Anda dengan sebutan tuan, maka orang berpikir aku adalah pelayan yang buruk, merata samakan diriku dengan diri Anda,” Clara perlahan melepaskan genggaman tangan Rabbani, “Aku permisi ke dapur dulu. Aku akan memasak makan siang buat tuan.”


“Tidak perlu. Aku akan pergi keluar,” Rabbani menarik nafas, setelah cukup nyaman, ia berbalik badan, “Jika kamu masih berpikir aku sama seperti mendiang Abang ku, dan kamu tetap ingin memanggilku dengan sebutan tuan. Maka buatlah diri-Mu seperti seorang pelayan pada umumnya. Jangan coba mengatur hidupku!” ucap Rabbani dingin, kedua kaki perlahan pergi dengan langkah penuh kecewa meninggalkan Clara.


Clara menarik nafas dalam-dalam, kedua mata menatap kepergian Rabbani, “Kenapa dirinya sangat keras kepala, dan kenapa dia harus menjelaskan tentang apa yang aku lihat tadi. Aku hanya seorang pelayan di rumah ini.”


Tujuan Rabbani sebenarnya adalah untuk memutuskan pikiran buruk Clara tentang dirinya. Rabbani juga tidak ingin disamakan dengan mendiang Azzam. Niat Rabbani lainnya adalah untuk menciptakan rasa nyaman antar Clara dan dirinya tanpa perbedaan kasta karena mereka tinggal satu atap, Rabbani juga tidak ingin membuat Clara berpikir jika dirinya akan melakukan hal buruk seperti pria lain melakukan hal buruk kepadanya. Hanya itu niat Rabbani, tidak ada rasa lainnya.


.


.

__ADS_1


✨✨****Di dalam mobil Anggun**** ✨✨


Setelah keluar dari rumah Rabbani, Anggun berdecak kesal di dalam mobil. Dirinya mengamuk karena tujuannya utamanya gagal.


“Aaa. Kenapa dia menolak ku? Apa aku masih kurang cantik di matanya!”


Bheni melirik dari kaca spion tengah dalam mobil, “Sepertinya dia yang tidak normal,” sahut Ben tanpa di tanya.


Anggun mendekatkan tubuhnya ke bangku Ben, tangan kanan perlahan membelai tubuh Ben, “Sangat menarik. Apa kamu diam-diam menyukaiku?”


Ben kembali fokus ke jalan, bibirnya hanya bisa terpancar senyum penuh makna. Senyum manis menandakan jika dirinya sebenarnya juga tertarik dengan Bos cantiknya tersebut.


“Jika kamu tertarik, apa kamu ingin mencobanya?”


Ben menggeleng, “Maaf, saya tidak pantas.”


“Apa kamu yakin?”


“Sangat yakin.”


“Tapi cara ini salah nona,” sambung Ben.


“Aku sudah memesan kamar,” tunjuk Anggun kepada Ben jika dirinya sudah memboking kamar Hotel dari aplikasi.


“Baik nona,” sahut Ben memutar mobilnya menuju Hotel tersebut.


.


✨✨Di dalam kamar Hotel✨✨


Anggun duduk santai di sebuah sofa, tangan kanan memutar anggur di dalam gelas, senyum manis, dengan tatapan penuh makna tertuju pada Bheni berada di depannya. Anggun menenggak habis minuman anggur sudah di beri obat.


Glek! glek!

__ADS_1


Anggun meletakkan gelas kosong, kemudian berjalan mendekati Ben.


Ben tidak mampu melihat nona nya tersebut, dirinya hanya bisa menatap dengan wajah tertunduk, dan membiarkan Anggun menyentuh tubuhnya.


Kedua pipi Anggun berubah menjadi merah, Anggun mendekatkan bibirnya di daun telinga Ben, “Apa kamu ingin memulainya?”


“Saya tidak layak melanjutkannya.”


“Tapi aku ingin di sentuh!”


“Apa Anda serius dengan perbuatan Anda?”


“Tentu,” Anggun menarik tangan Ben menuju ranjang, dan menjatuhkan tubuh Bheni di atas ranjang. Anggun segera melepaskan bajunya karena tubuhnya mendadak gerah.


Ben menutup kedua matanya, “Tolong pakai baju Anda kembali nona,” pinta Ben tidak mengerti jika tubuh Anggun sudah dikuasi obat haram.


“Sudah terlambat,” Anggun membuka perlahan baju kemeja Ben. Kini Ben hanya menyisakan celana hitam miliknya. Anggun menunjuk gasper celana, “Buka!” tegas Anggun.


“Tapi nona..”


“Apa kamu ingin aku pecat?”


Tidak ingin di pecat oleh Anggun, Ben terpaksa membuka gasper celana miliknya. Kedua masih ia pejamkan karena tidak ingin melihat tubuh polos Anggun terlalu lama, membuat dirinya bisa-bisa kehilangan kendali.


Saat Ben mulai menahan hasratnya, Anggun malah bermain karaoke di milik Ben. Ben membuka kedua matanya, ia terkejut, ingin melawan tapi Anggun adalah Bosnya. Ben sudah tidak tahan lagi menahan semuanya, kini mulai memainkan perannya. Dengan lihai Ben mulai bermain kepada titik sensitif milik Anggun, membuat suara indah terus mengerang ke udara. Setelah itu mereka bergelut jadi satu di atas ranjang.


Merasa puas dengan pelayan Ben, Anggun berjalan turun dengan kedua kaki gemetar menuju kamar mandi, tangan kanan memegang bagian segitiga miliknya, “Sangat besar sehingga aku kewalahan.”


Melihat Anggun seperti kepayahan berjalan, Ben berjalan turun, ia langsung menggendong tubuh Anggun menuju kamar mandi.


Anggun menatap wajah tampan Ben, tangan kanan membelai lembut wajah Ben, “Jauh-jauh aku mencari, ternyata aku sudah memilikinya sejak lama.”


Ben hanya tersenyum sambil melangkah pergi menuju kamar mandi.

__ADS_1


‘Tidak sia-sia semua usahaku selama ini. Ternyata Janda ini memang mengincar hal seperti itu. Jebakan pertama sudah masuk, tinggal jebakan selanjutnya, aku akan terus memikatnya dengan wajah polos yang aku miliki.’


...Bersambung...


__ADS_2