
2 bulan kemudian, setelah semua kejadian pahit menimpa keluarganya sendiri karena ulah kedua saudaranya. Dan Rabbani juga sudah melunasi hutang-hutang mendiang Azzam. Rabbani mulai bangkit untuk mengurus bisnis peninggalan milik mendiang Azzam, Yusi, dan juga Laras.
Di tengah-tengah kesibukan Rabbani. Rabbani bertemu dengan seorang wanita cantik. Wanita itu ingin melamar pekerjaan di toko miliknya di Jakarta. Karena wanita tersebut sangat membutuhkan pekerjaan, Rabbani menerimanya. Wanita cantik bernama CLARA.
Rabbani mengulurkan tangan kanannya ke dalam toko, “Mari masuk, akan aku tunjukan pekerjaan apa yang cocok buat kamu!”
“Baik,” sahut Clara patuh.
Rabbani mulai memperkenalkan Clara dengan karyawan toko lainnya. Rabbani juga mengajari bagaimana cara menjaga benda barang antik cukup mahal miliknya. Setelah selesai memberi arahan kepada Clara, Rabbani kembali memasuki ruang pribadi miliknya.
“Kamu tinggal di mana?” tanya karyawan wanita satu kepada Clara.
“Aku baru saja lari dari…” ucapan Clara terhenti saat beberapa orang pria bertubuh kekar masuk ke dalam toko. Clara langsung bersembunyi di balik pajangan toko, kedua tangan menutup mulutnya sendiri, “Bagaimana bisa mereka ke sini?”
Prang!
Bam!!
“Di mana wanita itu bersembunyi!” teriak salah satu pria bertubuh kekar, kedua tangan menjatuhkan semua barang pajangan toko milik Rabbani.
Karyawan wanita satu menatap sekeliling toko, “Gawat! Pasti wanita itu sedang bersembunyi. Aku harus memberitahu taun muda,” kedua kaki melangkah cepat menuju ruang kantor Rabbani. Karyawan wanita satu segera masuk tanpa mengetuk pintu, “Gawat tuan!” wajah panik, tangan kanan mengarah ke pintu, “A-ada dua pria bertubuh besar menghancurkan semua barang pajangan toko. Kedua pria itu juga mencari Clara, anak baru yang baru saja Bos terima bekerja di sini!”
Rabbani berdiri, “Apa!” kedua kaki melangkah mendekati karyawan wanita satu, “Di mana Clara?”
“Tidak tahu Bos. Sepertinya menghilang,” sahut karyawan satu, kedua kaki mengikuti langkah Rabbani.
Rabbani menghentikan langkah kakinya di tengah-tengah barang antik miliknya sudah hancur berkeping-keping. Rabbani menatap sekeliling tempat, emosinya semakin memuncak saat melihat barang antik bernilai ratusan juta miliyar pecah begitu saja. Rabbani menatap sekeliling tempat, mencari di mana Clara. Emosi Rabbani semakin bertambah saat melihat Clara malah bersembunyi seperti seorang pengecut. Rabbani melangkahkan kedua kakinya mendekati Clara.
“Keluar kamu!” ucap Rabbani menarik keluar Clara dari tempat persembunyian.
Clara menggeleng, air mata memenuhi kedua matanya, salah satu tangan memohon, “Aku mohon jangan berikan aku kepada mereka lagi. Bos mereka sudah merenggut bayi yang ada di dalam kandunganku!”
“Ba-bayi!” ucap Rabbani gugup.
Clara mengangguk, ia berlutut dengan derai air mata, “Aku mohon selamatkan aku!”
Rabbani melepaskan tangan wanita tersebut, “Baiklah. Masalah kita belum selesai,” Rabbani berbalik badan, tangan kanan menekan nomor kantor pihak yang berwajib.
__ADS_1
Saat memberikan informasi kepada pihak yang berwajib. Salah satu karyawan pria menghalau salah satu pria bertubuh kekar hendak meraih benda kesayangan milik Rabbani.
“Hentikan! Sudah cukup kalian merusak semua benda berharga milik tuan muda.”
Salah satu pria bertubuh kekar mencengkram keras kemeja kerja, tangan kanan mengepal tinju, “Berani sekali kamu berkata seperti…”
Rabbani segera menahan kepalan tinju bulat, dengan gemetar Rabbani menurunkan kepalan tinju pria tersebut, “Cukup barang antik milikku yang kamu hancurkan, jangan Karyawan ku!”
“Bos! Kenapa tuan muda keluar?”
Rabbani memegang kedua bahu karyawannya, “Kamu kemasi barang pajangan yang sudah tidak bisa terjual, kita akan mengirimkan barang-barang tersebut dan meminta pertanggungjawaban kepada Bos mereka!” tegas Rabbani menatap wajah kedua pria bertubuh kekar.
“Siapa kamu?” tanya salah satu pria bertubuh kekar.
“Kamu pasti sudah mendengar anak muda tadi memanggilku dengan sebutan apa?”
“Cih! Sombong sekali kamu,” tangan kanan mencengkram leher kemeja Rabbani, membawa Rabbani berdiri di hadapan pria bertubuh kekar dan tinggi.
“Siapa yang menyuruh kamu merusak semua barang toko milikku?” tanya Rabbani datar.
“Kamu tidak perlu tahu!”
Dor!
Dor!
Satu anak pelu-ru mendarat di kedua betis pria bertubuh kekar tersebut.
“Letakkan senjata kalian!” tegas beberapa pihak berwajib sudah melumpuhkan kedua pria bertubuh kekar.
“Ba-baik Pak,” sahut kedua pria bertubuh kekar segera berlutut, kedua tangan di letakkan di belakang kepala.
Rabbani tersenyum manis, “Berikan aku alamat rumah Bos kalian sebelum aku memberikan kenang-kenangan manis di tubuh lainnya,” ancam Rabbani lembut.
“Baik! Rumah Bos kami terletak di jalan Bunga. Ada rumah besar, memiliki pagar emas,” sahut salah stau pria bertubuh kekar dengan wajah takut.
“Kalau begitu kami akan membawa mereka pergi tuan,” ucap pihak berwajib membawa kedua pria bertubuh kekar keluar dari toko Rabbani.
__ADS_1
“Baik,” Rabbani menundukkan sedikit tubuhnya, “Terimakasih Pak.”
“Terimakasih tuan. Anda telah menyelamatkan ku,” ucap Clara berlari mendekati Rabbani.
“Kemana aja kamu?” ketus karyawan wanita satu kepada Clara.
“Baru beberapa jam di sini sudah membuat kekacauan,” sambung karyawan wanita dua.
“Akibat ulah kamu yang pura-pura bekerja di sini, tuan kita memiliki kerugian cukup besar. Aku rasa kamu saja tidak bisa menutupi semua uang kamu selama sisa hidup yang kamu miliki!” ucap karyawan wanita tiga.
“Sudah cukup!” Rabbani memegang pergelangan tangan kiri Clara, “Aku akan membawa wanita ini ke dalam. Kalian semua tolong kemas semua barang yang pecah dan kirimkan ke alamat yang diberikan oleh algojo tadi!” ucap Rabbani memutus perdebatan para karyawan. Rabbani dan Clara beranjak pergi menuju ruang kantor Rabbani.
Sambil berjalan Clara hanya bisa menunduk dengan penuh penyesalan.
“Untuk tidur selama sisa hidupnya dengan tuan muda kita saja aku rasa tidak cukup,” gerutu karyawan ketiga menatap kepergian Clara.
“Hus” sikut karyawan kelima, “Sudah cukup, mari kita kemas dan kirimkan ke alamat yang di tuju. Jangan lupa beri pesan perantaraan agar semua barang di bayar.”
“Baik,” sahut serentak para karyawan.
.
.
💫💫Di ruangan Rabbani💫💫
Rabbani terus menatap wajah Clara duduk dengan wajah tertunduk, kedua tangan mencubit baju bagian depan. Rabbani berulang kali menarik nafas untuk menangkan emosinya. Merasa cukup tenang, Rabbani menatap wajah Clara, “Berikan penjelasan kamu tentang semua ini!”
“Sebelumnya aku mohon maaf,” ucap Clara menundukkan kepalanya kembali. Clara mencoba menatap wajah Rabbani berada di hadapannya, kemudian ia berkata, “Sebenarnya aku hanya sebagai penjamin untuk seorang pria dari anak yang aku kandung,” kedua kelopak Clara teringat tentang dirinya saat menolong Azzam, “2 bulan yang lalu aku tidak sengaja masuk ke dalam tempat perjudian, di sana aku melihat seorang pria diker-oyok oleh sekumpulan pria lainnya. Aku segera mendekatinya, meski pria itu adalah pria bereng-sek, tapi pria itu adalah Ayah dari calon anak yang aku kandung. Saat aku berusaha menolongnya, Bos dari kedua orang pria tersebut malah membuat syarat.”
“Siapa nama pria itu dan syarat apa yang harus kamu terima?” tanya Rabbani memutus ucapan Clara.
“Syaratnya adalah membawaku pergi untuk menemani kesehariannya. Sewaktu Bos mereka membawaku, pria itu berjanji tidak akan menyakitiku dan bayi yang aku kandung. Janji tinggallah janji, pria tersebut malah berbuat kasar kepadaku, sehingga aku kehilangan bayiku. Sedangkan Ayah dari calon bayi yang aku kandung tidak memperdulikan bayinya. Pria jahat yang sudah menghamili ku adalah Azzam,” Clara mengepal kedua tangannya, “Aku berharap pria tersebut mendapatkan Karmanya.”
‘Tunggu dulu, sepertinya aku mengingat wajah gadis yang memakai topi. Gadis cantik yang aku berikan es krim coklat adalah gadis ini. Ternyata saat itu dia sedang menangis karena dia sedang mengandung anak dari mendiang Abang Azzam.’
Rabbani segera bersujud, “Maafkan kelakuan mendiang Abang Azzam.”
__ADS_1
...Bersambung...