SERAKAH

SERAKAH
BAB 38. HANTU di tempat KARAOKE


__ADS_3

Setelah memberikan keterangan di kantor pihak yang berwajib. Rabbani kembali ke rumah Laras. Kedua kaki berjalan cepat, amarah menyelimuti sesak di dalam dada, dan tetes air mata sudah tidak di bendung lagi. Rabbani terduduk di depan genangan darah kering milik Laras. Ia bersujud, tangan kanan terus memukul genangan darah kering sambil berteriak sejadi-jadinya.


“AAAA” Rabbani kembali duduk, tangan kanan memukul kuat bidang dada kiri, sampai menggenggam dan menarik baju kemejanya, “Kenapa harus IBU! Kenapa!” Rabbani menarik rambut sisi kanan/kirinya, “Ini semua salahku! Maafkan aku IBU, MAAF!”


Drtt!!! Drttt


Benda pipih Rabbani berdering, segera ia menyeka kasar air matanya, tangan kanan mengambil benda pipih dari dalam saku kemeja, kedua mata Rabbani membulat sempurna, “Yusi” tangan kanan segera menekan tombol warna hijau.


[“Assalamualaikum”]


[“Wa’alaikumsalam. Kenapa nomor Abang tidak aktif dari tadi?”]


[“Maaf”]


[“Suara Abang kenapa serak, apakah semuanya baik-baik saja?”]


[“Dek”]


[“Iya”]


[“Maafkan Abang”]


[“Apakah semuanya baik-baik saja?”]


[“Abang sudah gagal menjaga Ibu”]


[“Kenapa dengan Ibu?”]


[“Ibu….Ibu…”]


[“Bang! Jujur sama Yusi.”]


[“Ibu sudah tiada. Ibu meninggal dengan cara yang tidak wajar.”]


[“APA!”]


[“Abang tutup dulu panggilan teleponnya. Abang mau membersihkan sisa darah milik Ibu dan barang yang lainnya. Assalamualaikum.”]


Rabbani mengakhiri panggilan teleponnya. Rabbani menyeka kasar air mata di pipinya, menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan pikiran dan hatinya. Setelah tenang Rabbani menuju kamar mandi, mengambil kain pel dan air untuk membersihkan sisa darah kering di lantai kamar.

__ADS_1


.


.


💫💫Tempat Karoke💫💫


Azzam duduk di dalam ruangan dengan pencahayaan redup, lampu kelap-kelip, di temani 1 orang wanita. Azzam terus menenggak minuman anggur pemberian wanita pemandu karoke. Azzam merangkul wanita tersebut, menghujani ciuman di wajah putih pemandu karoke.


“Apa kamu percaya dengan setan?” tanya Azzam, kedua tangan memegang kedua pipi wanita tersebut dan menatap lekat bola mata wanita tersebut.


Wanita tersebut menggeleng, “Tidak, di dunia ini tidak ada setan apa lagi hantu,” sahut wanita tersebut lembut.


“Apa kamu percaya dengan dosa dan juga Neraka?”


“Percaya,” sahut wanita tersebut mengangguk.


“Jadi buat apa kamu bekerja di sini?”


“Buat mendapatkan uang demi kebutuhan hidup.”


“Sebenarnya aku tidak suka yang bekas. Tapi karena aku butuh, temani aku malam ini hingga aku bisa melupakan sosok hantu tersebut (arwah Laras),” ucap Azzam.


Azzam melingkarkan tangan kirinya di bagian tengkuk belakang wanita tersebut, tangan kanan memegang dagu, bibir Azzam mendarat di bibir merah muda. Ciuman semakin liar, kedua tangan menja-lar bebas di atas tu-buh wanita tersebut.


“Akh!” wanita tersebut menggigit bibir bagian bawahnya, kedua mata terpejam.


Azzam merebahkan wanita tersebut, kedua tangan semakin bergerak bebas ke titik sensitive sehingga suara merdu terus melambung tinggi bersama suara lagu. Azzam berdiri, membuka gesper celana miliknya. Kini Azzam duduk santai di sofa, wanita pemandu karoke bergantian menik-mati milik Azzam. Setelah semua pemanasan penuh nikmat selesai. Azzam dan wanita tersebut menjadi satu dengan berbagai gaya.


Satu jam mereka bergelut hingga sofa di penuhi jejak dosa mereka. Saat tangan Azzam mencoba meraih tisu di tengah meja, kotak tisu tersebut bergerak mendekati tangan Azzam.


“Haa….haaa…” tunjuk wanita pemandu karoke ke arah meja.


Sambil membersihkan sisa noda, Azzam mengulas senyum tipis, kedua tangan mengancing kembali gesper miliknya. Azzam mendekati wanita tersebut tangan kanan memegang dagu wanita tersebut, “Aku tahu suara kamu memang indah. Tapi tolong jangan buat suara men-desah seperti itu!” ucap Azzam dengan pikiran kotornya.


“Tidak….i…itu…ha..hantu..” sambil berteriak wanita tersebut berlari meninggalkan ruangan VIP, kedua tangan memasang segitiga miliknya.


Azzam menoleh ke sisi kiri, “Mana mungkin hantu bisa ke…” Azzam terkejut, tubuhnya terpental ke sofa, “Ha…hantu!” teriak Azzam, ia langsung berdiri, kedua tangan mengambil barang dan uang miliknya di atas meja.


“Apa kamu masih ingin tisu Nak?” tanya hantu Laras menatap kepergian Azzam.

__ADS_1


Azzam terus berlari dan berlari menuju ruang tempat kasir. Azzam menundukkan sebagian tubuhnya, kedua tangan memegang meja, “Hu huu”


“Goyangannya terlalu heboh ya?” tanya wanita gendut, baju serba terbuka, tangan kanan memegang kipas.


Azzam berdiri tegak, tangan kanan mengarah pada wanita gendut berpenampilan norak, “Tempat apa ini!” jari telunjuk tangan kanan mengarah ke belakang, “Kenapa bisa ada hantu di sini?”


“Masa sih!” wanita gendut mengipas wajahnya, wajah melirik ke belakang Azzam, “Tidak ada hantu kok,” kipas di tangan kanan mengipas keringat di wajah Azzam, “Mungkin Anda terlalu menikmatinya paket plus-plus dari tempat saya.”


“Akh!” Azzam menepis angin di tengah-tengah mereka berdua, “Aku sudah tidak ingin datang lagi ke sini,” Azzam berbalik badan, “Dasar tempat aneh!” umpat Azzam kesal, kedua kaki melangkah pergi meninggalkan tempat karoke.


“Tapi hanya di sini loh, pelayanan dan pemandunya cantik dan mantab,” tangan kanan memegang kipas melambai, “Jika tidak suka pergi saja. Syuh! Syuh!”


Mobil Azzam sudah melaju pergi meninggalkan tempat karoke. Kedua mata menatap lurus ke depan, bibir terus mengumpat kesal, “Dasar hantu sialan. Sudah aku permudah untuk melihat suaminya, masih saja mengganggu ketenangan ku. Seharusnya Ibu itu ikhlas karena harta sudah di pakai dan di kelola oleh anaknya. Ibu sama Ayah sama saja. Sudah mati tapi tetap saja menyusahkan.”


“Ibu dan Ayah ikhlas kok nak.”


Tubuh Azzam tiba-tiba kaku, kedua mata perlahan melirik ke kaca spion tengah. Azzam menutup kedua matanya melihat sosok arwah Deni dan Laras duduk diam di bangku belakang. Keringat jagung perlahan mengalir di wajahnya, Azzam terus melajukan mobilnya dengan kedua mata terpejam hingga terdengar suara klakson kereta.


Tin! Tin.


Ciiitt!!!!


“Woy! Kalau jalan itu matanya di buka!” teriak pengemudi sepeda motor melewati mobil Azzam.


Azzam membuka sedikit jendela mobil, kepala hanya mengangguk dengan wajah pucat. Azzam menghela nafas panjang, kedua mata perlahan melirik kembali ke kaca spion tengah, “Haa” Azzam menoleh kebelakang, “Dimana kedua orang tua tidak adil itu pergi!” Azzam kembali menghidupkan mobilnya, “Sudah mati masih saja membuat susah.”


Saat kaki kanan hendak menginjak gas, kedua bahu Azzam terasa berat, dan mobilnya mendadak mati.


Ckckckck


Tangan kanan memukul stir bulat, “Akh! Sial,” kedua tangan memijat bahunya, “Kenapa bahuku terasa berat. Apa karena aku terlalu berlebihan membuang tenagaku. Dan kenapa mobil ini seperti bau bangkai atau bau amis!” Azzam menundukkan tubuhnya, hidungnya terus mengendus bebas ke seluruh tempat dan terhenti di belakang. Tubuh Azzam kembali menjadi patung saat melihat dua wajah pucat dan kaku menatap lekat wajahnya.


“Kamu sedang mencari apa nak?” tanya arwah Deni dan Laras bersamaan, kedua bola mata hitam menatap kemanapun wajah Azzam bergerak.


Dengan susah payah Azzam menelan saliva, “Ka-ka-kalian sudah mati!”


“Ha ha ha ha ha” arwah Deni dan Laras menghilang begitu saja dengan tawa menggema di kedua kuping Azzam.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2