
Air mata Clara terus jatuh membasahi setiap susunan baju di dalam koper. Sesekali dirinya menyeka kasar air mata di wajahnya, dan ingus perlahan memenuhi hidungnya. Setelah semua kejadian buruk menimpa dirinya melalui perkataan orang lain, hatinya sangat sakit. Memang semua salah dirinya dari awal karena memulai bekerja di tempat karoke, dengan iming-iming memiliki gaji cukup besar hanya dalam satu malam. Karena ia sangat membutuhkan uang untuk pengobatan kedua orang tuanya, dia sampai lupa bertanya, pekerjaan apa saja selain menjadi pemandu karoke di tempat itu. Kehancuran Clara di mulai saat mahkotanya direnggut paksa oleh mendiang Azzam, abangnya Rabbani. Setelah itu dirinya sempat merelakan anak di dalam kandungannya, hasil buah cintanya dengan mendiang Azzam, di tangan orang lain. Sungguh nasib malang Clara.
Setelah semua barang miliknya selesai di kemas di dalam koper. Clara berjalan mendekati Rabbani sedang duduk santai menikmati pemandangan malam dari depan jendela kamar Hotel. Clara berdiri di samping kursi, kedua mata sembab menatap wajah datar Rabbani, “Sebaiknya aku pulang saja, dan berhenti menjadi pelayan di rumah Anda,” ucap Clara dengan suara serak.
“Aku akan melepaskan kamu. Memberikan kamu uang cukup banyak sebagai permintaan maaf atas kesalahan mendiang Abang ku!” Rabbani melirik ke sisi kiri, tatapan dingin menatap wajah sembab Clara, “Tapi, apa kamu bisa menjaga diri kamu dengan baik? Jika kamu bisa membuat diri kamu tidak terlibat lagi di dalam lubang hitam dan menjadi simpanan pria kaya manapun. Aku akan melepaskan kamu.”
“Itu permintaan yang cukup sulit. Lebih baik aku pergi dari kehidupan Anda, agar Anda tidak perlu repot-repot membelaku. Semua perkataan yang mereka katakan itu adalah benar, sebaiknya Anda harus menjauh dariku. Menjauh lah dari wanita kotor seperti aku!” ucap Clara sedikit bimbang karena dirinya sudah nyaman bekerja di rumah Rabbani.
Rabbani perlahan berdiri menghadap Clara, kedua kaki ia berjalan maju membuat Clara perlahan berjalan mundur dan berhenti di tepian ranjang. Rabbani semakin melajukan kedua kakinya, sehingga Clara kini terbaring di atas ranjang dengan kedua kaki menggantung. Rabbani juga ikut terbaring dengan posisi miring di samping Clara. Tatapan serius ia tunjukkan saat menatap wajah panik Clara, “Apa kamu pikir Dunia ini adalah tempat perkumpulan manusia Suci?”
Clara menggeleng, kedua mata menatap lekat wajah datar Rabbani.
“Lantas kenapa aku harus menjauh dari kamu! Apa kamu sudah ada majikan baru, atau aku kurang baik sebagai tuan kamu?”
Deg!!degsserrr!!
Jantung Rabbani berdegup kencang, saat Clara membuang wajahnya. Terlihat jenjang leher di mulai dari belakang daun telinga hingga ke bawah begitu mulus. Aliran darah Rabbani juga ikut mengalir dengan sempurna, membuat wajahnya sampai memerah seperti tomat.
Rabbani segera berdiri, kedua kaki berjalan cepat menuju jendela kamar hotel. Kedua mata memandang luas alam malam di sekitar hotel tampak dari kaca jendela.
‘Kenapa jantungku berpacu sangat kuat. Niatnya hanya untuk menggertak Clara, malah aku yang kenak gertakan diri sendiri. Hampir saja aku khilaf, kalau sempat aku melakukan perbuatan seperti itu kepada Clara, berarti aku sama saja seperti baji*ngan di luar sana. Aura tubuh Clara memang sangat berbeda dari wanita lainnya, pantes saja banyak pria hidung belang mengincarnya. Aku harus membiarkan Clara tetap bekerja di rumahku. Kalau aku membuat ia pergi, pasti dirinya akan terluka dan tersiksa dengan perbuatan orang-orang yang jahat di luar sana.’
“Anda kenapa?” tanya Clara mendekati Rabbani.
“Sebaiknya kamu istirahat dulu. Aku akan keluar sebentar,” Rabbani berbalik badan, kedua kaki melangkah pergi dari kamar tanpa menatap wajah Clara.
“Ada apa dengannya?” tanya Clara pelan.
.
.
__ADS_1
✨✨Café ✨✨
Rabbani menyegarkan pikirannya sejenak di sebuah kafe tak jauh dari Hotel. Secangkir kopi hangat dan satu batang rokok menemani dirinya. Saat Rabbani berusaha menenangkan dirinya sendiri, datang seorang wanita cantik duduk di kursi kosong. Wanita tersebut adalah Rashi, wanita tanpa rasa malu terus mendekati Rabbani. Semua itu hanya demi mengincar harta milik Rabbani.
Jari-jemari Rashi dengan ramah menyentuh bidang bahu kiri Rabbani, “Ka…”
Belum saja siap berbicara, Rabbani dengan kasar menurunkan tangan Clara dari bahunya. Tatapan suram menatap lekat wajah Rashi, “Apa mau kamu?” tanya Rabbani tak pernah bosan.
“Kali ini aku ingin kamu temani makan dan minum. Apakah permintaan itu terlalu berat?” tanya Rashi lembut.
“Aku turuti, permintaan pertama dan terakhir buat kamu!”
Dengan senang hati Rashi berdiri, “Aku akan memesankan makan dan minuman buat kita,” kedua kaki Rashi berlari menuju tempat penyaji minuman. Di sana Rashi mengeluarkan sebuah kertas berisi bubuk. Rashi memberi perintah kepada pelayan agar bubuk tersebut di tuang di dalam minuman milik Rabbani. Setelah semua pesanan di catat, dan bubuk diberikan. Rashi kembali berjalan menuju meja.
Rabbani menatap penuh menyidik ke Rashi, “Kenapa kamu harus berjalan dan memesan sendiri ke sana. Bukannya para pelayan itu bisa berjalan kaki untuk mencatat pesanan kamu ke sini?”
Clara melambai, “Kenapa hal sekecil ini kamu permasalahkan,” Clara melirik ke seluruh dalam kafe seperti mencari sesuatu, kedua matanya kembali menatap Rabbani, “Ke mana wanita itu?” tanya Rashi penasaran.
10 menit kemudian, minuman dan makan sudah sampai. Rashi memesankan kopi espreso buat Rabbani, sedangkan Rashi memesan milkshake Vanilla strawberry.
Rashi mengulurkan tangan kanannya, “Mari dicicipi. Minuman di sini terkenal sangat enak,” ucap Rashi menyuruh Rabbani meminum minumannya.
Tidak ingin terlalu lama bersama dengan Rashi, Rabbani segera mengangkat gelasnya, “Terimakasih atas minumannya,” Rabbani mulai mendekatkan gelasnya ke pinggiran bibir.
Sruupp!
Rabbani perlahan menyeruput kopi hangat.
Bibir merah muda Rashi tersenyum manis dari balik gelas, melihat Rabbani menyeruput kopi sudah di beri obat darinya.
‘Terus seruput kopinya sayang. Agar malam ini dan seterusnya akan menjadi malam terindah untuk kita berdua menjadi satu untuk selamanya.’
__ADS_1
Rabbani meletakkan cangkir kopinya, tanpa mulai bertanya kepada Rashi, Rabbani memakan makanan miliknya. Setelah itu meminum kembali kopi tersebut. Saat Rabbani sedang menikmati makan malam. Seluruh tubuh Rabbani mendadak panas, aliran darahnya juga mengalir dengan cepat, membuat jantungnya berdetak dengan sangat kuat. Rabbani langsung berdiri, kepalanya sedikit pusing. Tatapan berbayang menatap wajah Rashi, “Dasar wanita Iblis!” Rabbani berjalan sambil terhuyung-huyung keluar dari kafe.
Rashi segera meletakkan uang untuk membayar pesanan mereka di atas meja. Kedua kaki berlari manja mengikuti langkah Rabbani, “Sayang tunggu aku!” teriak Rashi di depan pintu kafe. Baru saja berhenti di depan pintu kafe, Rashi sudah kehilangan jejak Rabbani, kedua matanya menatap liar ke seluruh jalan raya. Rashi mulai bertanya kepada semua pejalan kaki kemana perginya Rabbani, kemudian semua pejalan kaki mengarah ke sisi kanan. Rashi kembali mengayunkan kedua kakinya berjalan menuju arah tersebut.
Saat Rashi sudah menjauh dari kafe, Rabbani ternyata keluar dari lorong gelap. Ia pun menyetop salah satu taksi online, dan langsung menuju hotel.
.
💫💫Kamar Hotel💫💫
10 menit kemudian Rabbani sudah sampai di kamar Hotel. Rasa panas semakin menjalar di tubuhnya. Rabbani dengan cepat membuka semua pakaian miliknya. Kedua matanya mendadak dipenuhi nafsu saat melihat lekuk tubuh Clara memakai piyama.
“Anda kenapa?” tanya Clara bingung. Kedua kakinya mendekati Rabbani sedang berjalan ke sana kemari.
“Clara. Aku sepertinya sedang meminum obat perangsang. Sebaiknya kamu harus pergi dari kamar ini sebelum aku melakukan hal itu kepada kamu!” tegas Rabbani mengarahkan tangan kanannya ke pintu.
“Tapi kamu sepertinya sangat kesakitan. Aku rasa dosis yang diberikan ke kamu itu terlalu cukup besar untuk dosis yang sudah ditentukan. Aku harus segera membantu kamu untuk menetralkan nya,” Clara berjalan mendekati lemari pendingin mini. Clara mengambil minuman susu kaleng dingin dan segera memberikannya kepada Rabbani, “Kamu minum ini saja.”
Rabbani menepis minuman tersebut hingga terjatuh di atas lantai. Tangan kanan segera kembali mengarah ke pintu, “Aku bilang kamu cepat keluar dari dalam kamar ini!”
Tok! Tok
“Tuan muda Rabbani!”
Saat Rabbani dilanda kepanikan akan mengatur hasratnya, saat itu pula terdengar suara Rashi dari depan pintu kamar Rabbani.
“Aku buka dulu,” ucap Clara melangkahkan kedua kakinya.
“Jangan pergi. Aku lebih mengkuatirkan diri kamu di luar sana daripada saat ini sedang bersamaku!” ucap Rabbani sedikit berbisik, tangan kanan menggenggam lengan Clara.
Tidak ingin membuat Rabbani semakin sakit dan tertekan. Clara membulatkan tekadnya, tatapan serius ia tunjukkan ke Rabbani, “Aku bersedia menjadi penawar Anda!” tegas Clara, kedua tangan perlahan menurunkan baju piyama.
__ADS_1
...Bersambung...