
Saat Yusi sedang berusaha kabur dari jeratan Andra. Di sisi lain, Azzam yang terus bermain judi dan sudah kalah hingga menambah hutang mencapai ratusan juta rupiah, tersulut emosi. Ia berdiri, kedua tangan menggebrak meja, membuat kartu yang ada di atas meja berhamburan.
Braakk!!
“Akh! Sial.” Azzam berdiri, jari telunjuk tangan kanan mengarah ke masing-masing para pemain, “Awas kalian semua, aku akan memberi perhitungan kepada kalian.”
“Jangan marah-marah, jika kamu masih ingin main dan kamu membutuhkan uang, aku siap memberi kamu pinjaman uang, yang aku menangkan.” Ucap pria memakai stelan jas putih, kumis tebal, badan sedikit gemuk dan perut buncit. Di sisi paha kanan dan kiri pria tersebut duduk wanita dengan pakaian serba kurang.
“Ayolah, terima saja uang itu Azzam.” Sambung salah satu pemain.
"Kalau masih mau main, tapi tidak memiliki uang. Sebaiknya kamu ambil saja, jangan menjadi seorang pecun*dang."
Azzam mengepal tangan kanannya, tatapan suram mengarah ke masing-masing wajah pemain yang terlihat menyepelekan dirinya, “Berani sekali kalian merendahkan aku seperti ini.”
“Sudah miskin dan banyak hutang, tetap saja sombong.”
“Awas kalian semua. Aku akan memberi perhitungan kepada kalian bertiga.” Ancam Azzam, jari telunjuk tangan kanan mengarah ke masing-masing wajah pemain.
“Huuu!! Takut.” Sahut para pemain serentak, kedua tangan diletakkan di kedua lengan mereka, berpura-pura takut dengan ucapan Azzam.
Merasa tidak senang dengan sikap dan perbuatan para pemain yang merendahkan dirinya. Azzam membawa kedua kakinya melangkah pergi meninggalkan tempat perjudian. ‘Berani kalian merendahkan aku seperti itu, siap-siap saja kalian. Aku akan memberikan perhitungan kepada kalian bertiga.’ Azzam masuk ke dalam mobil yang terparkir tepat di depan tempat perjudian, kaki kanan menginjak gas, kemudian melajukan mobilnya dengan kencang menuju supermarket terdekat.
.
.
💫💫 1 jam kemudian 💫💫
Menyandar seorang pria di balik tiang lampu yang berada di depan tempat perjudian. Seorang pria memakai kaca mata hitam, masker, dan jaket serba warna hitam. Salah satu tangan memakai sarung tangan karet di masukkan di dalam saku jaket bagian depan sambil menggenggam pi-sau lipat.
Satu-persatu lampu tempat perjudian mati, lima menit kemudian keluar 3 orang pria yang berjalan tidak seimbang dari pintu. Ketiga pria tersebut adalah pria yang telah merendahkan Azzam. Ketiga pria tersebut berjalan menuju 3 mobil yang terparkir di depan tempat perjudian.
__ADS_1
Pria yang berdiri di tiang lampu dengan pakaian serba hitam mulai bergerak perlahan menuju ketiga pria yang sedang berjalan mendekati mobil mereka yang masing-masing sudah siap jalan. Kedua kaki pria yang memakai pakaian serba hitam melangkahkan dengan cepat, tangan kiri yang memakai sarung tangan, mengeluarkan pi-sau yang sudah siap pakai.
Jlub!!
Jlubb!!!!
Swiiiisshhh!!!
“Akh!!!” keluh salah satu pria yang tertusuk di bagian dada.
“Be-bre*ngsek.” Teriak pria yang berada di tengah, tangan kanan berusaha mengulur tapi bagian perutnya ternyata mendapat luka lebar hingga bagian dalam sedikit keluar.
“Arrgg!! Arrrgg.” Ucap pria yang menawarkan uang kepada Azzam, kedua tangannya menutup kerongk-ongan yang mengeluarkan darah.
Melihat Bos mereka bersimbah darah dengan luka yang sulit untuk di obati, masing-masing anak buah keluar dari mobil mereka.
Anak buah dari pria yang sudah merendahkan Azzam dengan menawarkan uang keluar dari dalam mobil, mengejar pria misterius yang sudah menghabisi Bos nya hanya dengan sekali gerakan.
“Pembunuh.”
“Cepat tangkap dia.”
Melihat salah satu anak buah berlari mengejar dirinya, pria misterius yang memakai pakaian serba hitam terus berlari kencang tak tentu arah. Setelah berlari sejauh 100 km dan berhenti di perempatan jalan gelap yang terdapat lorong kecil tanpa penerangan cahaya. Pria tersebut berjalan santai ke dalam lorong kecil yang di depan lorong terdapat tempat sampah besar. Pria tersebut dengan cepat membuka topi, masker, dan jaket miliknya, kemudian memasukkannya ke dalam tong sampah kecil yang terbuat dari besi. Pria tersebut mengambil beberapa tumpukan buku yang hendak di buang, menempatkan buku di atas pakaian miliknya, kemudian memba-kar buku, hingga jaket bekas miliknya yang tertumpuk di bawah buku ikut terba-kar.
“Siram, nyalakan api, bush!!!” kedua tangan di tepuk seperti menyapu debu yang sedang tertinggal di kedua telapak tangannya, “Musnah.” Ucap pria tersebut menatap tong sampah yang terlihat api besar. Melihat barang bukti yang sudah hampir musnah terbakar, pria misterius tersebut keluar dari lorong yang gelap. Bibir terus bersiul di dalam gelapnya trotoar jalan tanpa penerangan lampu, kedua kaki terus melangkah dengan santainya meninggalkan lorong.
“Woi! Berhenti kamu!” teriak anak buah dari pria yang sudah merendahkan Azzam dengan menawarkan uang.
Pria tersebut menghentikan langkah kakinya, “Ada apa?” tanya pria tersebut menolehkan wajahnya ke sisi kanan dengan tatapan suram.
Anak buah tersebut membulatkan kedua matanya dengan sempurna, kepala tertunduk saat melihat wajah pria yang sudah ia panggil dengan tidak sopan, “Ma-maaf tuan. Saya pikir tadi Anda seorang pembunuh yang kabur.”
__ADS_1
“Oh!” pria tersebut melambaikan tangan kanannya, “Hati-hati jika berjalan di dalam gelapnya malam. Entar kamu yang akan menjadi targetnya.”
“Te-terimakasih. Kalau begitu saya permisi pulang.” Anak buah berbalik badan, kedua kaki berlari meninggalkan pria tersebut.
Sudut bibir pria tersebut menaik, “Berani memulai, harus berani mengakhirinya juga.” Ucap pria misterius, pria misterius tersebut adalah Azzam.
.
.
💦 Flashback 1 jam yang lalu 💦
Azzam yang masih tersulut emosi dan masih menyimpan dendam melangkahkan kedua kakinya memasuki supermarket terdekat. Kedua kaki terus berjalan menuju rak kebutuhan rumah tangga, dan terhenti di depan alat dapur. Tangan kanan Azzam mengambil salah satu pisau lipat yang terbuat dari besi putih, “Benda yang sangat sesuai.” Ucap Azzam menatap pisau yang ada di depan matanya. Setelah membeli pisau tersebut, Azzam melajukan mobilnya dan berhenti di depan penjual baju SERBA 35.000 yang berjualan di pinggiran pasar untuk membeli jaket hitam.
Setelah semua yang ia inginkan sudah berada bersamanya, Azzam melajukan mobilnya menuju tempat perjudian. Namun, sebelum sampai ke tempat perjudian, Azzam menghentikan mobilnya di persimpangan jalan gelap. 10 menit kemudian baju kemeja rapih Azzam sudah berganti dengan jaket hitam, tak lupa kaca mata, masker dan topi hitam yang sudah di belinya.
Azzam keluar dari mobil dengan santai, tangan kiri yang sudah memakai sarung tangan karet masuk ke dalam saku jaket sambil memegang pisau lipat yang baru saja ia beli. Sepanjang kaki melangkah, kedua kelopak mata Azzam terus mengingat perbuatan dari ketiga pria yang sudah merendahkan dirinya. Rasa benci dan dendam karena diperlakukan rendah oleh orang yang rendah, membuat Azzam harus membalaskan rasa sakit karena ucapan ketiga pria di depan orang ramai.
Dada Azzam terus berdetak kuat, nafasnya juga naik-turun tak seirama saat dirinya terus menunggu ketiga pria tersebut yang tak kunjung keluar dari tempat perjudian. Amarah yang sudah tidak bisa di rendam membuat dirinya ingin berjalan masuk ke dalam, namun kedua kedua kaki harus bertahan di tempat agar rencananya bisa berjalan dengan mulus tanpa hambatan oleh orang-orang di sekitar.
Dada yang terus berdetak kuat akhirnya perlahan menghilang, saat melihat target berdiri di depan mata. Bibir yang tersimpan di dalam masker tersenyum manis melihat mangsa keluar bersamaan dengan keadaan setengah sadar.
✨✨Flashback off✨✨
.
.
Dengan santainya mobil Azzam berjalan perlahan melewati tempat perjudian yang sudah di penuhi beberapa pihak berwajib dan beberapa awak media. Lirikan kedua mata dan senyum puas terpampang jelas di raut wajah Azzam saat melihat 3 jasad yang tergeletak di atas tandu masuk ke dalam ambulan.
“Boleh menyombongkan diri, tapi jangan sampai menyakiti hati orang lain.”
__ADS_1
...Bersambung...