
Arces mengangguk, “Kamu memang pria sejati.”
“Jangan katakan aku pria sejati. Aku belum menikah, dan aku juga tidak tahu apakah aku seorang pria sekaligus suami sejati, atau aku hanyalah seorang pendosa. Kalau tentang itu biar masa depan yang menjawabnya.”
Arces mengangguk, tangan kanan memukul punggung Rabbani, “Ha ha, kamu memang benar-benar pria lain daripada yang lain,” tangan kanan mengarah ke pintu, “Mari kita keluar sebelum para nona cemburu kepada kita berdua karena kita terlalu lama di dalam,” ajak Arces keluar.
“Tapi sayangnya tidak ada nona yang mau cemburui aku saat ini,” sahut Rabbani ikut melangkahkan kedua kakinya.
Rabbani dan Arces terus melangkah menuju ruang tamu, dengan perbincangan kecil cukup hangat menemani langkah kaki mereka berdua. Perbincangan itu terhenti saat melihat Clara dan juga Joy sedikit mabuk, tawa renyah keluar dari mulut mereka berdua. Rabbani dan Arces saling menatap satu-sama lain.
“Gawat!” ucap Rabbani dan Arces serentak. Kedua kaki Rabbani dan Arces langsung berlari mendekati Clara dan Joy. Sedangkan Clara dan Joy ingin saling peluk dan mencium.
“Joy…peyuk.”
“Mari cini peyuk aku!” sambut Joy merentangkan kedua tangannya.
“Tium juga…” ucap Clara setengah sadar, bibir manyun ke depan.
“STOP!” teriak Rabbani dan Arces sekali lagi serentak. Masing-masing tangan langsung menutup mulut panjang Clara dan Arces.
“Ahh…ganggu aja sih!” tepis Clara.
“Kamu kenapa minum seperti ini?” tanya Rabbani panik.
Clara mengarahkan jari telunjuknya lurus ke depan, tepat ke tempat duduk Joy, “Pria jantan itu yang memberikannya kepadaku!” Clara menepuk dadanya, “Katanya biar aku bisa melupakan semua masalah-masalahku,” Clara ingin memajukan tubuhnya mendekati Joy, “Kamu memang pria jantan yang…”
“Cukup Clara. Apa kamu mau aku berikan hukuman lagi?” tanya Rabbani tegas, kedua tangan menahan tubuh Clara terus bergoyang ke sana-kemari.
Clara menengadah, senyum tipis terpancar dari bibirnya. Tangan kanan terus menempel di bidang dada Rabbani, “Kamu mau menghukum ku dengan cara seperti yang semalam? Kamu memang nakal…Rabbani,” ucap Clara tanpa sadar mengungkit perbuatan Rabbani tadi malam.
Arces mengangkat kedua tangannya saat melihat wajah Rabbani terlihat malu, “Saya tidak mendengar apa pun tuan.”
__ADS_1
Rabbani langsung panik, “Sepertinya kami pulang saja,” Rabbani langsung menggendong tubuh Clara, “Kami permisi pamit pergi. Terimakasih atas perjamuannya tuan Arces,” ucap Rabbani sopan.
“Sama-sama. Tapi maaf saya tidak bisa mengantarkan tuan sampai ke depan pintu,” sahut Arces karena dirinya kini sedang dipeluk erat oleh Joy.
“Tidak masalah. Sekali lagi terimakasih,” ucap Rabbani. Kedua kaki ia bawa melangkah pergi meninggalkan kediaman rumah Arces.
Begitu keluar dari rumah Arces, taksi online pesanan Rabbani tiba. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rabbani langsung masuk ke dalam taksi online. Membiarkan Clara tertidur di dalam pelukan dan pangkuannya. Taksi online pun meluncur dengan cepat menuju Hotel.
Sepanjang perjalanan menuju Hotel, Rabbani terus menatap wajah cantik Clara sedang menyandarkan kepalanya di dada bidangnya. Senyum tipis manis tersirat di raut wajah Rabbani saat terus memandang Clara.
30 menit kemudian taksi online milik Rabbani dan Clara sampai di depan Hotel. Setelah membayar taksi online, sambil menggendong Clara, Rabbani melangkahkan kedua kakinya dengan cepat menuju kamar mereka.
.
.
✨Di depan pintu kamar Hotel✨
‘Apa lagi rencana wanita satu ini. Kalau saja Clara tidak pulang dengan kondisi seperti ini mungkin aku akan membuat perhitungan untuknya.’
“Selamat datang tuan muda, Rabbani,” ucap Rashi meninggikan nada suaranya.
“Mau apa kamu?” tanya Rabbani dengan kalimat itu-itu saja. Kedua kaki melangkah mendekati pintu. Kaki kanan menyepak sepatu flat Rashi, “Jauhkan kedua kaki kotor kamu dari depan pintu kamarku!” tegas Rabbani.
Rashi segera menjauh dari pintu. Berjalan memutar tubuh bagian belakang Rabbani, tangan kanan dengan ramahnya menyentuh tubuh Rabbani, dan berhenti tepat di samping kiri Rabbani. Kedua kaki menjijit, mendekatkan bibir merahnya ke daun telinga Rabbani, “Pergi ke mana kamu tadi malam? Dan sama siapa kamu menyalurkannya. Oh ya, satu lagi aku ingin berkata sebenarnya tempat ini aku yang booking," ucap Rashi memperjelas ternyata wanita membooking semua kamar hotel adalah dirinya, dan semua itu adalah ulahnya.
Rabbani menggeleng, “Dasar wanita gila!” tangan kanan berusaha membuka pintu kamar Hotel.
Saat kaki kanan hendak melangkah masuk ke dalam, Rashi dengan sengaja mengulurkan kaki kirinya menjegal langkah Rabbani, agar Clara jatuh dari gendongan Rabbani.
Bam!
__ADS_1
Benar saja Clara jatuh dari gendongan Rabbani dengan posisi duduk ke depan.
“Auw” keluh Clara terbangun dengan keadaan masih dalam setengah sadar.
Rabbani langsung mencengkram kerah baju gaun Rashi. Tatapan suram tersirat jelas di wajah tampan Rabbani saat menatap wajah puas Rashi, “Berani sekali kamu melakukan semua ini kepadaku. Apa kamu sedang berusaha mempermainkan aku?” tanya Rabbani menahan giginya.
Bam!
Satu bogem mentah mendarat di pipi kanan Rashi.
Clara berdiri dengan tubuh goyah, jari telunjuk tangan kanan mengarah pada Rashi, “Kamu memang wanita Iblis!” kedua kaki ingin kembali melangkah mendekati Rashi, kedua tangan mengulur seperti hendak mencakar, “Aku akan buat kamu memiliki wajah seribu. Jika muka dua saja kamu pakai mungkin itu kurang. Aku akan membuat wajah kamu jadi bermuka seribu. Sini kamu….wanita…”
“STOP!” tahan Rabbani langsung memeluk Clara. Tidak ingin melepaskan pelukannya dari Clara, kaki kanan Rabbani bermain untuk menutup pintu, dan mengabaikan Rashi masih berdiam diri seperti orang bingung karena sudah mendapat bogem mentah dari tangan Clara.
Blam!
“Lepaskan aku!” ucap Clara mendorong tubuh Rabbani, karena Clara tidak ingin di peluk olehnya.
“Ternyata ini rupanya sifat asli kamu. Kalau seperti ini ceritanya, maka aku sepertinya harus menyetok minuman di rumah nanti. Dan juga mencoba minuman ini saat bersama kamu di rumah nanti,” sahut Rabbani menolak permintaan Clara. Rabbani kembali menggendong tubuh Clara, membawanya menuju ranjang dan meletakkannya.
“Aku bukan anak kecil lagi, jadi berhentilah menggendong dan membawaku menuju ranjang,” keluh Clara merasa tidak senang dengan perbuatan Rabbani terus menggendong tubuhnya.
Clara ingin bangkit kembali. Namun dengan cepat Rabbani menidurkan Clara dan menyelimuti seluruh tubuhnya.
Rabbani membuka gasper miliknya, “Sepertinya kamu benar-benar tidak bisa tenang. Kalau seperti ini aku akan mengikat kedua tangan kamu!” Rabbani menyingkap selimut, melingkarkan tali gasper ke kedua pergelangan tangan Clara. Dan meletakkan kedua tangan Clara di atas kepala.
“Kenapa kamu berbuat seperti ini. Lepaskan aku!” ucap Clara sedikit meninggikan nada suaranya.
Karena Clara tidak kunjung diam, Rabbani memutuskan merebahkan tubuhnya di samping Clara. Memeluk tubuh Clara terus menggeliat di atas ranjang, “Kalau kamu masih tidak diam, maka jangan salahkan aku untuk melakukan hal lainnya dan memanfaatkan momen ini. Aku bisa saja mengikat kedua kaki kamu, dan menikmati posisi tanpa perlawanan. Apa kamu mau seperti itu?” ucap dan tanya Rabbani hanya untuk menakut-nakuti Clara.
Clara terdiam, bukannya takut. Clara malah tersenyum manis dengan penuh makna. Malah Clara juga menantang Rabbani dengan memberi ciuman manis di pipi.
__ADS_1
...Bersambung...