
Rabbani, Clara, dan keempat Karyawannya sudah selesai santap makan pagi. Karena masih ada sebagian barang belum tersusun rapih di kamar belakang. Rabbani dan Clara membantu keempat karyawan untuk membereskannya.
Karena Clara tidak diperbolehkan melakukan aktivitas apa pun. Clara memutuskan untuk duduk di depan teras kamar, kedua mata menatap taman belakang terlihat begitu asri dengan kupu-kupu dan burung bermain. Kedua tangan mengelus perut sedikit buncit, "Sehat-sehat di dalam ya Nak. Mama berharap kamu tumbuh dan berkembang dengan baik di dalam perut Mama. Jika kamu nanti lahir ke Dunia, Mama akan menuntun kamu ke jalan yang benar. Jangan ikuti jejak Mama. Karena Mama-mu ini adalah...."
"Berhentilah untuk menyalahkan diri sendiri. Itu masa lalu kamu yang harus di kubur dalam-dalam. Aku berharap jangan ada kata-kata pengungkapan tentang masa lalu yang kelam saat berbicara kepada calon anak kita," sela Rabbani mendengar percakapan Clara dengan calon bayinya di dalam kandungan.
"Oouh... romantis banget sih! aku jadi iri," sambung Anton tiba-tiba muncul seperti hantu membuat Clara dan Rabbani terkejut.
"Kamu ini karyawan yang unik," gumam Rabbani pelan.
"Bukan hanya unik, tapi Anton ini juga adalah pria yang menyebalkan," sambung karyawan wanita satu.
"Syirik aja lu, dua semangka!"
"Daripada lu, lekong!"
"Emang gaya aku gini," Anton memperlihatkan kedua otot tangannya, tangan kanan memukul otak lengan kiri, "Lihat nih, casing aku memang macam lekong. Tapi aku sangat kuat Mina!" Anton menggenggam pergelangan tangan kanan Mina, "Mau aku buktikan!" sambung Anton terlihat serius.
"Gila kamu ya," Mina melepaskan genggaman Anton, "Di kasih gratis pun aku tidak mau!" ketus Mina.
Clara dan Rabbani hanya tertawa melihat perdebatan kecil antara kedua karyawan.
Cuit!!!!
Salah satu karyawan wanita menjewer daun telinga Mina, "Aku capek-capek beresin kamar. Eh...kamu malah enak-enakan pacar dengan Anton. Ingat, kita di sini numpang dan menjaga nona besar bukan untuk pacaran!"
"Akkh...akhh...Ratna...sakit bodoh!" keluh Mina memukul pelan tangan Ratna.
Karyawan pria keempat datang, tubuh sedikit membungkuk, "Maafkan teman sekamar aku, tuan. Anton memang begini kalau sudah ketemu dua semangka, eh...maksudnya Mina. Jika kami mengganggu ketenangan di rumah ini. Lebih baik kami semua kembali ke indekos saja."
Rabbani melambai, "Sudah-sudah jangan banyak buat komedi kalian di rumah ku. Lagian kalian berempat tinggal di belakang rumahku. Jadi kebisingan apa pun tidak mungkin kedengaran sampai ke depan," Rabbani memutar kedua bola matanya melihat satu-persatu wajah karyawannya, "Hanya satu pesanku. Jangan mentang-mentang kalian tinggal di belakang sini, kalian bisa berbuat hal gila ya!"
"Siap!" sahut Anton tegas, kedua tangan di lipat di depan dada, "Lagian mana mungkin kami berdua menyukai dua wanita aneh seperti Mina dan Ratna!" sambung Anton dengan sombongnya.
__ADS_1
"Aku geprek juga muka lu nanti," gertak Mina, kaki dan tangan kanan menghentak.
"Sudah-sudah," ucap Rabbani memisahkan perkelahian Anton dan juga Mina. Tatapan serius mengarah ke Anton dan juga Mina, "Karena kalian semuanya sudah selesai beberes. Kita sebaiknya kalian pergi ke toko karena masih ada beberapa barang yang belum tersusun," sambung Rabbani mengingat barang pesanan ia beli dari Arces ada yang belum di buka.
"Beres. Kalau gitu kami gerak dulu tuan," ucap Anton berjalan terlebih dahulu.
"Kami pamit tuan dan nona," sambung Mina, Ratna, dan Joni ikut pamit pergi.
Rabbani melirik ke Clara, "Kalau kamu cukup diam diri di rumah saja," tangan kanan Rabbani membelai puncak kepala Clara, "Aku pergi sebentar untuk melihat barangnya. Ingat! kunci rumah dan jangan boleh membiarkan orang lain masuk ke dalam rumah," sambung Rabbani mengingatkan Clara.
Clara mengangguk patuh.
Rabbani menggandeng tangan Clara, "Mari hantarkan aku pergi," ucap Rabbani melangkahkan kaki kanannya.
"Mari," sahut Clara ikut melangkah pergi.
Sepanjang kaki melangkah Rabbani terus melirik Clara. Senyum tipis sesekali tersirat di bibir merah mudanya. Hatinya terus bertanya-tanya seolah semua ini hanyalah halusinasi. Kedua kaki Clara dan Rabbani terhenti di depan pintu.
Cup!
"Ha ha, kamu lucu. Anak kita paling masih sebesar kacang merah. Dan mana mungkin dia bisa mendengar rengekan Papanya," ucap Clara merasa lucu melihat sikap Rabbani terlihat posesif semenjak Clara dinyatakan hamil.
Rabbani berbalik badan, "Jangan lupa kunci pintu!" tegas Rabbani sambil melangkah menuruni anak tangga teras rumah.
Clara tersenyum manis, tangan kanan melambai, "Hati-hati."
Rabbani membalas lambaian tangan Clara, tubuh kini sudah masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobil meninggalkan rumah.
Clara berbalik badan, berjalan masuk ke dalam rumah dan tak lupa mengunci pintu sesuai dengan perkataan Rabbani.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
✨✨ Toko Rabbani ✨✨
Anton dan Mina saling menatap satu-sama lain melihat dua orang wanita duduk di kursi tunggu saling membelakangi.
"Siapa?" tanya Mina berbisik.
"Apa kamu lupa wanita muda itu pernah mencari boneka yang terbuat dari tisu. Dan yang satunya lagi adalah janda genit yang ingin mengajak tuan bobok bareng, dan wanita itu juga yang sudah mencelakai nona besar di hari pengantin," ucap Anton ikut berbisik.
"Berarti kedua wanita di sana sangat mengerikan," kedua tangan Mina mengelus kedua lengannya, "Melihat wajah cantik seperti pemakan darah, sudah sangat membuatku merinding," sambung Mina kembali berbisik.
kLing kLing!!
Rabbani masuk dengan senyum merekah menatap semua karyawan toko sedang sibuk menyusun barang baru.
"Rabbani!" ucap Anggun dan Rashi serentak.
Rabbani mengerutkan dahi saat melihat kedua wanita tidak tahu malu. Sudah ketahuan memiliki akal licik dan mencelakai Clara, tapi mereka masih punya muka untuk menunjukkan wajahnya ke Rabbani.
"Anton, usir mereka!" tegas Rabbani sambil melangkah menuju ruang kantor miliknya.
"Rabbani, aku datang ke sini untuk minta maaf," ucap Rashi sedikit meninggikan nada suaranya melihat Rabbani sudah berjalan cukup jauh.
"Aku juga," sambung Anggun tak mau kalah.
"Maaf-maaf, untung kalian berdua tidak di masukkan ke dalam sel!" sela Anton terlihat tidak senang, kedua tangan menggenggam erat masing-masing pergelangan tangan Rashi dan juga Anggun.
"Kenapa kamu ikut campur?" tanya Rashi segera berusaha melepaskan genggaman tangan Anton.
"Aku Anton. Karyawan tuan Rabbani," Anton membawa paksa Anggun dan juga Clara keluar dari toko. Anton melepaskan genggaman tangannya, kedua tangan melambai, "Pergi sana...toko ini tidak butuh dua wanita jahat seperti kalian!" tegas Anton.
"Kami akan menunggu Rabbani di sini!" tegas Anggun dan juga Rashi.
Anton berbalik badan, kepala menggeleng, "Dua wanita sangat aneh. Untung aku tidak kaya, kalau aku kaya mungkin banyak wanita mengincar ku seperti orang gila!"
__ADS_1
Niat sesungguhnya Rashi dan Anggun sebenarnya masih tetap sama, yaitu untuk mendapatkan hati Rabbani. Masuk ke dalam kehidupan Rabbani, dan mengeruk semua harta milik Rabbani yang terkenal cukup banyak. Harta itu sebenernya milik Mendiang Azzam, Yusi, dan kedua orang tuanya. Kini di kelola sendiri oleh Rabbani sampai menjadi perusahaan terbaik dan terkenal dengan kualitas baik.
...Bersambung ...