SERAKAH

SERAKAH
BAB 28. Pesan hangat


__ADS_3

Tok! Tok!


“Ibu!” panggil Azzam mengetuk pintu rumah Laras.


Setelah menghabisi tiga pria yang sudah menyakiti hatinya, Azzam yang sudah tidak memiliki uang kembali ke rumah Laras. Azzam mendatangi Laras bukan karena dia merindukan Ibunya, Azzam sengaja berkunjung semata-mata karena ingin meminta uang kepada Laras.


Suara kunci rumah dari dalam pun terdengar, terlihat gadis imut memakai baju piyama tipis membuka pintu. Gadis imut berwajah polos tersebut adalah Yusi, adik perempuan satu-satunya yang ada di keluarga mereka.


“Yusi.” Kedua tangan Azzam mencubit kedua pipi Yusi.


“Aaa! Sakit tahu.” Yusi menepis kedua tangan Azzam. Tatapan tajam Yusi arahkan ke wajah Azzam yang terlihat kacau, “Pasti lagi ada masalah.”


“Sok tahu.” Azzam berjalan masuk, melewati Yusi yang masih berdiri di depan pintu rumah. Kedua kaki Azzam terhenti di ruang tamu yang gelap tanpa penerangan cahaya, “Ibu sudah tidur?” tanya Azzam, kedua mata tertuju ke pintu yang terhubung dengan ruang Tv keluarga, dapur dan kamar Laras yang bersebelahan dengan ruang tamu.


“Kalau mau basa-basi cari perkataan yang sulit untuk di jawab.” Yusi melangkahkan kedua kakinya melewati Azzam yang masih berdiri di tengah ruang tamu. Tatapan menoleh sedikit ke sisi kiri, “Jangan ganggu Ibu, karena Ibu baru saja beristirahat setelah perjalan panjangnya menuju kota Jogja.”


“Yusi.” Panggil Azzam untuk menghentikan langkah kaki Yusi yang terus berjalan naik di atas anak tangga menuju lantai dua. Melihat Yusi tidak menghiraukan panggilannya, Azzam berlari kecil, kedua kakinya terhenti di samping kanan Yusi, tangan kanan menyingkap rambut yang menutupi jenjang leher Yusi yang terdapat beberapa jejak merah, “Siapa yang melakukannya?”


“Apaan sih.” Sahut Yusi, kedua tangan langsung membenarkan tatanan rambut yang terurai panjang. Tanpa menghiraukan ucapan Azzam, Yusi kembali melangkahkan kaki kanannya.


“Sudah berapa kali?” tanya Azzam menahan pergelangan tangan kiri Yusi.


“Hanya kecelakaan.” Yusi melirik tajam ke sisi kiri, “Urus saja urusan Abang, jangan ikut campur urusan Yusi.”


“Oh, baiklah.” Azzam melepaskan genggaman tangannya, kedua kaki Azzam melangkah terlebih dahulu, tangan kanan Azzam melambai ke belakang, “Jika kamu butuh bantuan Abang, Abang akan siap membantu kamu. Adikku yang manis dan juga berhati dingin.”


“Tidak akan pernah.”


.


.


💦 Di dalam kamar Azzam 💦


Drtt!! Drtt


Benda pipih milik Azzam yang terletak di atas meja rias berdering, terlihat panggilan telpon tanpa nama. Melihat ponsel miliknya yang terus berdering, Azzam yang sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang segera bangkit dan turun dengan malas untuk mengambil ponsel miliknya.


Tutut! Tut.

__ADS_1


“Malas banget jika isi pesan dan panggilan telponnya dari para rentenir.” Tangan kanan Azzam membuka isi pesan dari nomor yang tidak di kenal. Kedua mata Azzam mendadak bulat sempurna saat melihat isi pesan berisikan.


...“Aku merindukan kamu. Bisa tidak aku menikmati malam panjang bersama kamu khusus malam ini sebelum aku pergi ke Thailand? Kamu tenang saja, aku akan memberikan tips buat kamu, asal kamu mau memberikan pelayanan terbaik.”...


Azzam langsung mematikan layar ponsel miliknya, kedua kaki berjalan mendekati gantungan baju, kemudian berjalan mengambil kunci mobil yang terletak di atas meja rias. Merasa mendapatkan angin segar, Azzam melangkahkan kedua kakinya dengan cepat meninggalkan kamarnya.


Di sisi lain, Yusi yang sedang asik membaca 'YUKA (Hidup Kedua Demi Dendam)', merasa terus mendengar suara langkah kaki seperti mengendap-endap. Yusi keluar dari dalam kamar, alis saling bersaut saat melihat Azzam berjalan terburu-buru melewati kamarnya.


“Mau kemana lagi Abang yang tidak berguna itu?” tanya Yusi sendiri. Kedua kaki Yusi melangkah cepat mengikuti Azzam dari belakang. Yusi terus mengikuti Azzam, melihat Azzam menghentikan langkah kakinya di depan pintu, Yusi juga ikut terhenti di belakang Azzam, kedua tangan di lipat di depan dada, “Ini bukan permainan jailangkung, datang tidak di jemput, pulang mengendap-endap seperti maling.”


Azzam mengelus dadanya yang bidang, “Ukh! Memang tidak ada jailangkung di sini dek.” Azzam mendekatkan bibirnya di daun telinga Yusi, “Tapi di rumah ini ada SETAN.”


Bam!


“Biasa aja bilang SETAN nya.”


“Aduh. Sakit juga bogem mentah dari tangan mungil yang mendarat di bidang perut kotak-kotak Abang.” Ucap Azzam berpura-pura sakit pada bagian perut yang diberi bogem mentah pelan oleh Yusi.


“Mau kemana lagi?”


“He he!” Azzam membuka pintu, kepala mengangguk sekali, “Abang pulang dulu.” Kedua tangan perlahan menutup pintu, “Ada bisnis mantab.” Ucap Azzam pelan sebelum pintu tertutup rapat.


.


.


.


💦💦 2 jam kemudian 💦💦


Azzam sudah sampai di halaman rumahnya, terlihat ada seorang wanita cantik sedang duduk anggun di bangku teras. Wanita berusia 35 tahun tersebut tersenyum ke arah mobil Azzam yang sedang terparkir lurus ke teras rumah.


“Bukannya wanita cantik yang lebih tua dariku ini ingin menikah?” Azzam membuka seatbelt, “Akh! Bodoh amat, yang penting duit-duit, enak.”


Melihat Azzam lama keluar dari dalam mobil, wanita cantik tersebut meninggalkan kursinya menuju mobil Azzam. Wanita cantik tersebut berdiri di samping mobil, kedua tangan di letakkan di belakang, bibir merah mudanya tersenyum manis menyambut Azzam yang hendak turun dari mobil.


“Sudah lama tidak bertemu, sekali bertemu kamu semakin cantik.” Azzam merangkul tubuh wanita cantik tersebut, tangan kanan memegang gemas dagu wanita cantik, “Bintang korea saja kalah cantiknya dengan kamu.”


“Ah, Azzam.” Tangan kanan wanita cantik mengarah ke pintu rumah Azzam, “Dingin. Hangatkan aku, ya?”

__ADS_1


“Tentu.”


Azzam dan wanita cantik berjalan masuk ke dalam rumah.


“Silahkan duduk, aku akan membuatkan minuman hangat di belakang.” Ucap Azzam mempersilahkan duduk kepada wanita cantik di ruang tamu yang redup akan pencahayaan.


“Aku kangen. Kamu jangan lama-lama ya?”


“Okay.”


10 menit kemudian, Azzam kembali dengan 1 gelas teh dan 1 gelas coklat panas yang berada di atas nampan kecil.


“Kamu tadi naik apa ke sini?”


“Naik taksi online.”


“Buat apa naik taksi online. Jika kamu membutuhkan aku, seharusnya kamu menghubungi aku lebih awal agar aku bisa menjemput kamu.”


“Tadinya aku ingin kasih kamu kejutan, tapi setelah sampai di depan rumah, malah aku yang di kasih kejutan.” Wanita tersebut memalingkan wajahnya yang masam, “Untung aku masih menyimpan nomor kamu, kalau tidak. Pasti aku pulang dengan kekecewaan.”


Azzam menarik dagu wanita tersebut, membuat wajah mereka saling berhadapan satu sama lain, kedua mata Azzam menatap liar sekeliling wajah putih mulus yang ada dihadapannya, “Walau kamu memasang wajah masam seperti ini, aku akan tetap mengatakan jika kamu adalah wanita yang paling tercantik yang ada di dunia ini.”


Wanita cantik memalingkan wajahnya ke sisi kiri, “Kamu berbohong.”


“Tidak.” Azzam semakin mendekatkan wajah dan bibirnya ke wajah wanita tersebut, membuat nafas mereka saling bersaut satu sama lain.


“Azzam, ka-kamu….”



...ILUSTRASI...


Tanpa memberikan wanita cantik tersebut kesempatan berkomentar, Azzam mengulum bibir merah muda wanita cantik tersebut. Ciu*man semakin dalam, membuat li*dah bergerak bebas di mulut. Azzam yang merasa tubuhnya memanas, perlahan membuka baju kemeja miliknya, merebahkan tubuh wanita tersebut di atas sofa dan menindihnya.


“Kamu memang wanita yang paling cantik.” Rayu Azzam dengan mulut manisnya, sedangkan tangan kanan perlahan bergerak dan menjalar ke seluruh tubuh dan terhenti di suatu titik.


Azzam yang tidak ingin sofa bernilai jutaan rupiah kotor, memutuskan menghentikan sejenak permainan mereka. Azzam menggendong wanita tersebut dan naik ke atas menuju kamarnya.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2