
"Ka...kamu bukannya sedang melaksanakan pernikahan?" tanya Anggun panik.
Rabbani melirik, "Tapi kamu sudah membatalkannya. Jadi aku ke sini untuk mengajak kamu menikah!" ucap Rabbani berbohong.
"Benarkan!" Anggun melambai, "Seharusnya kamu memang menikah denganku. Bukan dengan gadis miskin dan simpanan pria hidung belang seperti itu. Jika kita menikah pasti harta kita akan berkembang bersama," sambung Anggun terlihat bangga dan senang.
"Ooh....seperti itu ya!" Rabbani mendekati Anggun, jari telunjuk tangan kanan mengarah ke wajah Anggun, "Dasar wanita munafik. Aku tegaskan sekali lagi. Jangan pernah kamu mengusik kehidupanku. Sekali lagi kamu menyentuh dan melukai Clara, maka aku tidak akan menjamin hidup mu akan panjang!" tegas Rabbani sedikit menekan nada suaranya.
Anggun segera berlutut dan memeluk kedua kaki Rabbani, "Aku mohon menikahlah denganku. Jika kamu menikah denganku, maka harta dan kekayaan kita akan berkembang secara bersamaan. Tapi kalau kamu tetap bertahan dengan Clara, maka kekayaan kamu tidak akan pernah berkembang...."
Sudut bibir Rabbani sedikit menaik, kedua tangannya perlahan melepaskan pelukan Anggun, "Sangat jujur. Dan aku sangat membenci manusia memiliki sifat SERAKAH!" Rabbani berbalik badan, "Ingat, jangan pernah mengganggu rumah tangga ku!" tegas Rabbani membawa kedua kaki melangkah pergi. Kaki terhenti di depan pintu, kedua tangan membuka lebar pintu model ketupat, lirikan tajam mengarah ke Anggun, "Hari ini aku tidak akan melakukan perbuatan buruk apa pun kepada Anda. Tapi lain kali, nyawa Anda bakal jadi balasannya!" sambung Rabbani sedikit mengancam. Kedua kaki kini terus melangkah pergi menuju mobil dan segera pergi dar rumah Anggun.
Anggun berdiri tegak. Kedua tangan di lipat di depan dada, senyum tipis menatap pintu sudah tertutup rapat, "Asal tujuan tercapai, nyawa jadi taruhannya itu tidak terlalu berat!" Anggun menghadap pria suruhannya, tangan kanan melayang.
Plakk!!!
"Kenapa nona menampar saya. Bukannya tugas saya sudah selesai?" tanya pria suruhan meninggikan nada suaranya.
"Katakan apa yang sudah kamu selesaikan. Dan kenapa kamu bisa ketahuan?"
"Wanita itu mengeluarkan darah. Tapi saya tidak tahu kenapa itu bisa terjadi. Dan satu lagi, melihat wajahnya seperti seorang depresi, saya sangat yakin jika wanita itu akan menjadi stress. Dan akhirnya mereka segera berpisah," sahut pria suruhan bersemangat.
"Maaf saya menyela percakapan nona. Saya harap nona segera berhentilah untuk melakukan semua perbuatan gila ini. Nona harus kembali fokus untuk mengurus bisnis nona," ucap Bheni mengingat Anggun untuk berhenti mengejar Rabbani demi mendapatkan harta.
Anggun melambaikan tangannya ke pria suruhan, "Kamu silahkan pergi!" tegas Anggun mengusir pria suruhan dari rumahnya.
"Terimakasih nona," ucap pria suruhan, kedua kaki ia bawa melangkah pergi.
"Ikut aku ke kamar," tegas Anggun memberi perintah kepada Bheni.
"Baik," sahut Bheni patuh.
Anggun dan Bheni melangkah menaiki anak tangga, dan terus melangkah di koridor menuju kamar.
"Masuk!" tegas Anggun membuka pintu kamar.
Bheni pun melangkah masuk ke dalam kamar. Anggun juga ikut masuk dan mengunci pintu.
__ADS_1
"Mohon maaf, Anda mau ngapain nona?" tanya Bheni bingung.
"Lepaskan!" tunjuk Anggun ke setelan jas Bheni.
"Maaf saya tidak bisa," tolak Bheni lembut. Kaki kanan perlahan melangkah.
Namun Anggun segera menggenggam erat tangan Bheni, "Kenapa kamu tidak bisa?"
"Karena saya tidak mungkin melakukannya," sahut Bheni sedikit melirik.
"Kalau aku memaksa kamu. Apa kamu akan terus menolak?" bibir bertanya, tapi tangan sangat aktif.
Bheni sedikit merinding saat sentuhan halus mulai mengecoh pikirannya. Bheni segera menangkap tangan Anggun, "Saya mohon jangan lakukan hal itu. Ingat semua ini ada batasan nona. Dan saya tidak ingin menjadi pelampiasan Anda!" tegas Bheni, kedua mata sedikit dipenuhi hasrat menatap wajah Anggun.
"Jika saya tidak ingin melepaskan kamu! Bagaimana?"
"Maka saya sarankan Anda jangan pernah menyesalinya. Bukankah Anda tahu betapa hebatnya milikku?"
"Justru hal itu yang sangat aku sukai," Anggun berbalik badan, kedua tangan dilipat di depan dada, wajah melirik sedikit, "Sekarang kamu sudah tahukan kenapa aku tidak akan pernah melepaskan Rabbani. Bagiku Rabbani itu seperti hasrat terpendam, di tahan sakit di keluarkan juga sakit."
"Tentu saja aku adalah wanita SERAKAH. Jika aku tidak SERAKAH, dari mana semua harta ini aku miliki. Kekayaan, dan tahta itu harus di perjuangkan, bukan di cari mati-matian. Sampai mati pun jika kamu cari melalui jalan lurus tidak akan mungkin bisa tercapai. Ha ha ....manusia bodoh!" ucap dan tawa Anggun sendirian di dalam kamar.
.
.
💫💫Di sisi lain💫💫
✨ KEDIAMAN Rabbani ✨
Melihat mobil Dokter masih terparkir di halaman rumah. Rabbani segera berlari cepat untuk melihat keadaan Clara. Senyum manis terus terpancar dari para karyawan menyambut kedatangan Rabbani. Merasa aneh dengan senyum manis para karyawan. Rabbani semakin berlari cepat.
"Hosh! hosh!" nafas terengah-engah, Rabbani berdiri di depan pintu dengan tubuh sedikit membungkuk.
"Wah! selamat tuan Rabbani. Baru nikah Anda sudah mendapatkan anak!" sambut karyawan pria satu menatap Rabbani.
Rabbani tercengang, ia segera berdiri tegak. Kedua kaki melangkah cepat mendekati Dokter, "Maksudnya apa ini Dokter Anto?" tanya Rabbani bingung.
__ADS_1
Dokter Anto mengulas senyum tipis, tangan kanan memukul pelan bahu kiri Rabbani, "Selamat ya tuan Rabbani. Istri Anda tengah hamil 1 Minggu. Kandungannya masih sangat lemah, pendarahan yang terjadi itu karena sedikit tertekan. Tapi tidak janin masih bisa di selamatkan dan saya juga sudah memberi obat pereda pendarahan dan beberapa Vitamin."
"Tapi Dok, saya hanya melakukannya satu kali itu pun kurang lebih 2 Minggu yang lalu karena mendesak. Bagaimana bisa Clara langsung hamil?" tanya Rabbani polos dan keceplosan.
"Tentu saja bisa. Mungkin waktu itu sedang masa subur. Jadi dengan mudah berproses," sahut Dokter Anton sedikit berbisik.
Rabbani melirik ke Clara sedang tertidur lelap. Karena efek obat pemberian Dokter Anto, "Anda sungguh yakin sudah mengeceknya kembali?" tanya Rabbani sedikit tidak yakin.
Dokter Anto mengambil tas miliknya, senyum tipis mengarah ke Rabbani, "Sudah. Jika tuan ingin melihat perkembangan janin di dalam kandungan Istri Anda, maka 2 atau 3 Minggu lagi segera datang ke rumah sakit. Di sana saya akan menjelaskan semuanya," tangan kanan memukul pelan bahu Rabbani, "Saya pamit pergi. Dan saya harap jangan membuat nona Clara sedikit stress," pesan terkahir Dokter Anto.
"Tentu. Kalau gitu terimakasih banyak Dok," ucap sopan Rabbani.
"Sama-sama," sahut Dokter Anto, kedua kaki kini ia langkah pergi meninggalkan kamar Clara.
"Wiis...main kali. Diam-diam menghasilkan," gurau karyawan pria satu tanpa pikir panjang.
Tak!
Satu ketukan manis dari karyawan wanita satu membungkam mulut karyawan pria satu.
"Mulutmu kayak kenalpot becek," bisik karyawan wanita satu.
Antara malu dan senang menjadi satu di dalam hati. Doa Rabbani ingin segera memiliki anak kini sudah terkabul. Tapi ada satu hal mengganjal di hati dan pikirannya. Hal itu adalah wanita-wanita aneh terus mengusik Clara, demi sebuah tujuan.
Bola mata Rabbani melirik ke beberapa karyawan sedang berdiri di dalam kamar, "Siapa yang masih ngekos di sini?"
"Tentu saja aku!" sahut karyawan pria satu mengangkat tangan kanannya.
"Selain manusia satu ini siapa lagi?" tanya Rabbani mengabaikan.
"Saya!" sambung 3 karyawan lainnya mengangkat tangan setinggi mungkin.
"Mulai hari ini kalian bisa mengemas barang dan bisa tinggal di rumahku. Hal ini tidak gratis. Aku melakukannya karena aku ingin Clara ada temannya di rumah dan sekaligus menjaganya jika aku tidak ada di rumah. Apa kalian mau?"
"Mau!" sahut keempat karyawan penuh semangat.
...Bersambung ...
__ADS_1