
"AAA” Azzam membuang foto pajangan berisi Laras dan Deni.
Prang!
Prang!!
Azzam mengambil bingkai foto mendiang Ayah dan Ibunya, jari telunjuk tangan kanan mengarah pada bingkai foto Laras dan Deni, “Kalian memang sangat menyusahkan aku!” tangan kanan kembali menghempaskan bingkai foto ke lantai, membuat bingkai foto terlepas dari fotonya.
Prang!
“Kalian sudah ma-ti…ma-ti…ma-ti!” ucap Azzam penuhi emosi, tumit sepatu mengi-njak foto mendiang kedua orang tuanya.
Di saat Azzam terus mengi-njak foto mendiang Laras dan Deni. Terdengar suara wanita paruh baya berkata, “Apa salah Ibu, nak?” suara tersebut berasal dari suara arwah Laras berdiri di sudut ruang tamu kurang pencahayaan.
Azzam memutar arah berdiri, tatapan serius mengarah ke asal suara, “Keluar kau, wanita tua!”
“Apa salah Ibu, nak?” tanya arwah Laras sudah berdiri di samping kiri Azzam.
“Dasar setan!” Azzam hendak menghalau arwah Laras, tapi kedua tangan hanya dapat menghalau angin, karena arwah Laras menghilang bagai debu. Azzam menunjuk bebas ke sekeliling ruang tamu, “Keluar kamu SETAN!”
“Sakit nak. Perut Ibu sangat SAKIT!” terdengar suara dari arwah Laras memenuhi isi dalam rumah.
“Karena itu memang pantas kamu dapatkan!” sahut Azzam menatap sekeliling ruang tamu tanpa wujud arwah Laras.
“Tolong Ibu, nak! Tolong balut luka Ibu. Jangan biarkan Ibu sendirian di sini. Tolong….SAKIT.. TOLONG!” terdengar kembali lirih dari arwah Laras tanpa wujud. Suara arwah Laras terus menggema, memenuhi isi pikiran Azzam.
Azzam semakin tersulit emosi, dirinya berjalan cepat mendekati semua barang hias di atas meja pajangan. Azzam mengambil satu persatu barang pajangan, dan melayangkan bebas kemanapun dia mau.
Prang!! Prang!!
“Pergi! Pergi kau Setan!”
.
.
✨✨Di kediaman Rabbani✨✨
Yusi berlari menuruni anak tangga, kedua tangan menghalau bebas ke udara sambil berkata, “Pergi! Pergi kamu SETAN,” ucap Yusi menatap bayang semu arwah Deni.
“Yusi kamu kenapa?” tanya Rabbani baru saja sampai di ruang tamu, menatap Yusi terus berlari seperti ada seseorang mengejarnya.
__ADS_1
Yusi terus berlari ke tengah ruang tamu, di mana Rabbani sedang berdiri. Wajah Yusi dipenuhi ketakutan, ia kini bersembunyi di balik tubuh kekar Rabbani. Jari telunjuk tangan kanan mengarah ke anak tangga, “Lihat di sana ada Ayah terus berjalan tanpa menapakkan kedua kakinya di atas lantai!” tunjuk Yusi ke anak tangga.
‘Kenapa aku tidak melihat apa pun. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Yusi adalah… tidak! Apa mungkin adik perempuanku yang polos ini melakukan hal keji kepada mendiang Ayah. Apa Yusi dalang di balik meninggalnya Ayah? kalau begitu Abang Azzam berarti…’ Rabbani menghentikan pikiran buruknya, kepala menggeleng, menyambung pikiran buruknya, ‘Kamu harus percaya jika kedua saudara kamu adalah orang baik, dan tidak mungkin melakukan hal keji kepada mendiang Ayah dan Ibu.’
Rabbani berbalik badan, menarik nafas dalam-dalam, kemudian memeluk tubuh Yusi, “Apa kamu ingin kembali ke rumah?”
“Bisnis Abang bagaimana?” tanya Yusi menengadahkan kepalannya menatap Rabbani.
“Tidak perlu kuatir, semua karyawan Abang adalah orang yang jujur dan bisa di percaya. Agar hati kamu bisa lebih tenang, mari kita kembali pulang ke rumah. Abang punya niat untuk menjual rumah mendiang kedua orang tua kita. Menurut Yusi bagaimana?” tanya Rabbani melepaskan pelukannya.
“Tidak!” Yusi perlahan mundur kebelakang, tangan kanan memegang dadanya, tatapan tajam mengarah pada Rabbani, “Meski itu bukan hak Yusi, tapi rumah itu tetap akan menjadi bagian milik Yusi.”
“Baiklah. Jika Abang boleh bertanya, apa kamu tau kode brankas milik mendiang Ibu?”
“Tahu!”
“Kalau begitu hari ini juga kita akan pulang!” tegas Rabbani.
“Loh, kenapa harus buru-buru bang?”
“Ada hal ganjil yang masih belum Abang pecahkan mengenai kasus pembunuhan Ibu.”
“Hal ganjil apa itu?”
“Kalau begitu Yusi menyusun barang-barang milik Yusi dulu,” sahut Yusi mengarahkan jari telunjuk tangan kanan ke lantai dua.
.
.
💫💫4 jam kemudian💫💫
Rabbani dan Yusi sudah sampai di rumah milik mendiang Laras dan Deni. Betapa terkejutnya Yusi dan Rabbani saat melihat wajah kusut Azzam sedang duduk kursi teras rumah. Yusi segera berlari mendekati Azzam, menundukkan sedikit tubuhnya, tangan kanan melambai, “Apakah Abang sedang putus cinta?”
“Berhentilah bertanya,” sahut Azzam datar.
Dari kejauhan Rabbani menatap serius mimik wajah tak biasa dari wajah Azzam. Otak kecilnya kembali memunculkan pikiran buruk tentang saudaranya, tapi kali ini di tepis oleh Rabbani. Rabbani menggeleng, “Ampuni pikiran hamba ya Allah.”
Yusi membuka pintu rumah, “Assalamualaikum. Yusi pulang ‘Bu!” ucap salam Yusi lupa kalau Laras sudah tidak ada baik di rumah ataupun di dunia ini.
Azzam spontan berdiri, “Bukannya Ibu sudah meninggal,” sahut Azzam spontan. Karena sedikit depresi dirinya lupa untuk pura-pura tidak mengetahui jika Laras sudah meninggal dunia.
__ADS_1
Kedua bola mata Rabbani membulat sempurna. ‘Darimana Abang Azzam tahu jika Ibu sudah meninggal dunia. Apa jangan-jangan pikiran burukku tentan dirinya benar?’ Rabbani melangkahkan kedua kakinya menuju teras rumah.
Yusi menundukkan wajahnya, “Yusi lupa jika Ibu sudah meninggal. Berarti hanya Yusi saja yang tidak bisa melihat wajah terakhir Ibu,” lirih Yusi.
“Abang Azzam juga tidak melihat jasad terakhir Ibu. Jadi kamu jangan bersedih, ya!” sambung Rabbani memegang bahu kanan Yusi dari belakang.
“He he he” Azzam tertawa paksa, melangkah cepat mendekati Yusi, kedua tangan mencubit pipi Yusi, “Abang juga baru tahu dari tetangga tadi,” sahut Azzam mengelak.
Yusi menepis tangan Azzam, “Singkirkan tangan kotor Abang dari bahu Yusi.”
“Sebelum ke sini Abang sudah mandi kok!”
“Mari abaikan pria penuh nafsu ini,” Yusi menarik pergelangan tangan kiri Rabbani, “Sebelum Yusi lupa, mari kita lihat buka brankas Ibu!” ajak Yusi menuju kamar Laras.
“Yusi tunggu!” ucap Azzam mengikuti langkah kaki Rabbani dan juga Yusi.
.
.
💫💫Di dalam kamar Laras💫💫
Tit!
Pintu brankas mini milik mendiang Laras terbuka.
“Ini dia. Yusi permisi ke kamar mandi dulu bang,” tunjuk Yusi ke kamar mandi milik mendiang Laras dan Deni.
Azzam tercengang. ‘Mati! Jika sampai mereka tahu ada salah satu surat yang hilang, maka hidupku akan berakhir sekarang juga. Aku harus bergerak cepat,’ Azzam melangkahkan kedua kakinya mendekati Rabbani, tangan kanan segera memegang pintu brankas mini, “Kenapa kamu repot-repot membuka pintu brankas ini?”
“Jika Abang melihat kondisi kematian Ibu, maka Abang pasti tahu apa yang sedang aku lakukan.”
Azzam perlahan menutup pintu brankas mini, “Iya, tapi tidak perlu sampai mencaritahu sedalam ini. Bukannya ini adalah milik Yusi!”
“Tunggu!” tahan Rabbani. Kedua mata Rabbani membulat sempurna saat melihat ada jejak darah kering di atas map lantai dua. Rabbani melirik tajam dan rumah wajah Azzam, “Jika Abang bertingkah aneh berarti Abang…”
Bam!
Tanpa berkata apa pun Azzam langsung melayangkan tinju di dahi Rabbani.
“Apa maksud kamu!”
__ADS_1
“Abang Rabbani!” teriak Yusi berdiri di depan pintu kamar mandi.
...Bersambung...