SERAKAH

SERAKAH
BAB 78. Di saat hujan petir


__ADS_3

Malam ini angin sangat kencang. Hujan deras serta petir menyambar-nyambar seisi alam di muka Bumi ini. Rabbani, Anton, May, Ratna, dan Budi, mereka semua sedang duduk di ruang Tv sambil menonton film legenda horor cukup terkenal dengan ubi rebus dan pisang goreng hangat menemani mereka menonton.


Jder!


Suara petir serasa mengguncang isi Bumi.


Ratna langsung melompat ke atas pangkuan Anton. Anton pun dengan cepat menangkap tubuh Ratna dan menikmati dua gunung kembar terus bergerak di bidang dadanya.


Dengan polosnya May bertanya ke Anton, “Ih, kok kamu ngences?”


Ratna segera menoleh, tamparan manis pun mendarat di pipi Anton.


Plak!


“Dasar mesum!” ucap Ratna sinis.


“Kamu yang melompat ke atas ku, kamu pula yang marah samaku! Aduh…mana sakit lagi,” keluh Anton mengelus pipi kirinya.


Rabbani menggeleng, “Aku rasa lama-lama kalian bisa berjodoh nantinya. Berantem teruslah, biar aku usir kalian dari rumahku malam ini,” ucap Rabbani sedikit bercanda.


Mendengar kata mau di usir di malam badai dengan petir menyambar-nyambar, Anton, Ratna, dan Budi mulai mengambil perhatian Rabbani. Masing-masing tangan mengambil makanan dan minuman terletak di atas meja.


“Bos..eh..maksudnya tuan mau ubi nya. Aku kupas ya?”


“Pisang goreng manis super lembut seperti dua semangka Ratna mau tuan?” tanya Ratna.


“Kopi hitam pahit seperti jalan kehidupan ku mau tuan?” tanya Budi mengulurkan secangkir kopi hitam miliknya sudah di minum.


Sedangkan May malah menunjuk ke sisi lain, “Tuan…Lala,” ucap May datar.


“Jangan bercanda kamu May. Mana mungkin…” ucapan Anton terhenti saat kedua bola matanya mengikuti arah tangan May. Anton mengucek kedua kelopak matanya, dan memperjelas pandangannya, “Lala?!”


“Poo nya mana?” sambung Budi datar.


Ratna hanya mengangguk saat melihat sekujur tubuh Lala basah kuyup hingga menampilkan semua lekuk tubuhnya.


Lala melambai, “Hai!” sapa Lala dengan tubuh menggigil kedinginan.


Rabbani berdiri, berjalan mendekati Lala sembari membuka sweater panjangnya dan memberikan kepada Lala.


“Terimakasih,” ucap Lala buat Rabbani.


Rabbani mengulurkan tangannya ke lantai dua, “Mari ikut ke kamar,” ajakan Rabbani membuat para karyawannya salah paham.


“Oh…main nyosor aja. Mentang-mentang kembaran mendiang nona Clara,” sambung Anton dengan pikirannya.

__ADS_1


“Dingin-dingin memang enak kelonan. Aku juga mau kalau ada pria yang mengajakku tidur ke kamar,” ucap Ratna mulai berimajinasi.


Tak! Tak!


Satu ketukan dari Rabbani untuk mencairkan pikiran negatif Anton dan Ratna.


“Aduh!” keluh Ratna dan Anton serentak mengelus kepalanya.


“Umur semakin tua dariku. Pikiran lebih mesum dariku. Gaji lebih banyak dari karyawan toko lainnya. Tapi sayang…belum menikah!” ketus Rabbani menyindir halus.


“Ha ha ha. Kalian semua lucu-lucu,” ucap Lala sembari memberi tawa renyah.


Rabbani menarik pandangannya dari Lala, saat tawa itu mengingatkan Rabbani pada mendiang Clara. Suara tawa dan senyum sama persis seperti milk Lala. Tidak ingin terlena terlalu lama, Rabbani segera menyudahi tawa Lala, “Mari ikut aku ke kamar. Aku akan meminjamkan baju milik mendiang Istriku kepada kamu,” ajak Rabbani melangkah terlebih dahulu.


“Apa Mas yakin mengajak saya ke kamar?” tanya Lala.


“Kenapa rupanya? Kita ke kamar hanya untuk meminjamkan baju mendiang Istriku, bukan hal lain,” ucap Rabbani berpikir positif.


“Ya sudah kalau Mas yakin,” sahut Lala.


“Kalian tolong buatkan minuman hangat atau indomie kuah buah Lala,” ucap Rabbani memberi perintah kepada Anton, May, Ratna dan Budi.


“Siap!” sahut mereka segera menuju dapur.


Rabbani dan Lala pergi bersama menuju kamar.


“Mas serius membolehkan saya masuk ke dalam kamar berdua sama Mas?” tanya Lala kembali.


“Tentu. Kamu tenang saja, aku hanya mencintai Clara seorang,” sahut Rabbani datar.


“Kalau gitu saya masuk nih!” ucap Lala membawa kaki kanannya masuk ke dalam kamar.


Swish!!


Saat Lala melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam kamar. Seperti ada angin segar menyapa wajah Rabbani. Harum wangi tubuh dan gaya jalan Lala sama persis seperti mendiang Clara.


Kedua bola mata seperti terhipnotis membawa kedua kaki Rabbani berlari mengejar dan memeluk Lala dari belakang sembari berkata, “Clara, aku sangat mencintai kamu,” ucap Rabbani meluapkan kerinduannya pada Lala.


Sejenak bibir Lala mengulas senyum tipis, lalu menoleh ke sisi kanan, “Maaf, Mas hanya seorang Abang Ipar ku. Mas, bisa tidak lepaskan pelukan, karena saya tidak enak sama mendiang Clara nantinya,” ucap Lala sopan.


Rabbani reflex melepaskan pelukannya, “Eh, maaf. Habisnya aku pikir kamu tadi mendiang Istri ku.”


Lala melambai, “Tidak masalah, wajar saja jika Mas sangat merindukan mendiang Clara,” sahut Lala santai.


“Terimakasih,” tangan Rabbani mengarah ke lemari pakaian khusus milik mendiang Clara, “Silahkan pilih baju di lemari sebelah sana. Aku rasa masih ada baju baru yang belum sempat Clara pakai sebelum ia meninggal dunia,” ucap Rabbani mengingat setelah mereka menikah Rabbani banyak membelikan baju gaun bagus buat Clara.

__ADS_1


“Saya ambil sendiri ini Mas?”


“Tentu, ganti semua baju kamu yang basah dengan baju baru milik mendiang Istriku,” Rabbani mengarahkan tangannya ke pintu, “Aku akan turun ke bawah, dan kamu silahkan mengganti baju di kamar mandi sebelah sana,” sambung Rabbani mengarahkan tangannya ke pintu kamar mandi.


Jder!


Petir sekali lagi menyambar sisi Bumi.


Lala langsung berjongkok sembari menutup kedua telinganya.


Sekali lagi, sekali lagi Rabbani dibuat terkejut melihat sikap Lala sama persis seperti mendiang Clara. Waktu itu mendiang Clara juga sangat takut pada suara petir. Kedua kaki Rabbani mendekati Lala dan memeluk tubuhnya agar segera tenang.


“Kamu jangan takut, itu hanya suara petir bukan hal lain,” ucap Rabbani menenangkan Lala.


“Ta-tapi saya takut Mas,” sahut Lala menengadah ke atas.


Rabbani melepaskan pelukannya, “Maaf sudah memeluk kamu kembali,” Rabbani berbalik badan, “Kalau gitu aku pamit dulu,” sambung Rabbani membawa kedua kakinya kembali melangkah mendekati pintu dan keluar dari dalam kamar.


Sesampainya di luar kamar Rabbani terus menghirup nafas panjang, mencoba menetralkan pikirannya. Setelah merasa cukup tenang. Rabbani menyandarkan tubuhnya sembari berkata, “Begitu sulit untuk melepaskan kepergian kamu,” ucap Rabbani mengenang wajah Clara.


Saat Rabbani kembali mengenang semua pertemuan Rabbani dengan mendiang Clara. Pintu kamar terbuka, Lala pun keluar dengan baju kesayangan milik mendiang Clara.


Rabbani membulatkan kedua bola matanya sembari berkata, “Clara.”


“Aduh, saya bukan Clara loh Mas. Saya ini adalah Lala!” tegas Lala mengingat Rabbani sekali lagi.


“Oh..” Rabbani mengangguk.


“Kalau itu mari kita turun Mas. Saya takut nanti karyawan Mas salah paham dengan kita berdua lagi,” ucap Lala mengajak Rabbani turun.


.


.


💫💫Di sisi lain💫💫


Anton, May, Ratna, dan Budi salin menatap satu sama lain. Mereka mengelus dagu sembari mengigat sesuatu.


“Eh, kalian pernah berpikir tidak jika Lala itu sebenarnya adalah mendiang nona Clara. Dan mendiang nona Clara itu berubah menjadi Lala supaya bisa membalaskan dendamnya kepada orang yang sudah menyakitinya,” ucap Anton dengan pikirannya.


“Kalau aku berbeda pendapat dengan kamu. Kalau aku berpikir kehadiran Lala di sini sebagai pelindung tuan Rabbani sekaligus akan mengakhiri semua wanita-wanita SERAKAH itu,” sambung Budi.


“Kalau aku tidak berpikir seperti itu. aku malah berpikir jika kedatangan Lala sebenarnya untuk menggaet hati tuan Rabbani. Lala berpura-pura operasi wajah, meniru semua gaya mendiang nona Clara. Lalu. Merebut hati tuan Rabbani dan menyingkirkan semua kenangan tentang mendiang nona Clara,” ucap Ratna.


Di saat semua sedang mengeluarkan semua pendapatnya mengenai Lala. Di saat itu pula May malah asik menikmati indomie kuah dengan bakwan hangat dan secangkir teh hangat.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2