
✨2 hari setelah kepergian Clara✨
Semenjak kepergian Clara, Rabbani tampang dingin. Rabbani juga lebih suka menghabiskan waktunya sendiri di ruangan kerja pribadi miliknya. Untuk urusan makan Rabbani. Anton, Ratna dan dua karyawan lainnya yang sering mengingatkan Rabbani. Jika tidak ada Anton, Ratna dan dua karyawan lainnya, mungkin Rabbani tidak akan makan dan mengurus dirinya sendiri.
Di Minggu pagi ini, Rabbani sedang duduk merenung di teras kamar milik Anton dan Budi. Teras kamar terhubung dengan taman belakang.
"Kasihan ya lihat tuan seperti ini," ucap May berbisik kepada Anton, Ratna, dan Budi sedang berdiri di depan pintu kamar.
"Baru kali ini aku melihat tuan Rabbani galau tingkat dewa," sambung Anton ikut berbisik.
"Bagaimana kalau kita pilihkan wanita terbaik buat tuan Rabbani," sambung Ratna semangat.
Tak!!
Satu jitakan manis mendarat di dahi Ratna.
"Auw! sakit bodoh," keluh Ratna menatap tajam Anton.
"Kamu yang bodoh! sudah tahu tuan lagi bersedih kamu malah menyodorkan wanita lain. Apa kamu kira hati tuan Rabbani itu terbuat dari wadah. Gitu wadahnya penuh, kamu bisa membuang wadah yang lama. Uuuhhhkk.....gigit baru tahu!" ucap gemas Anton di kalimat terakhir.
"Gigi susu aja bangga," sahut Ratna sembari membuang wajahnya ke sisi kanan.
"Walaupun gigi susu, tapi yang lainnya besar dan berotot," ucap Anton tidak mau kalah.
Tiut!! tiut!!
Dengan polosnya May memijit lengan kiri Anton, bola mata berputar ke atas, "Tapi di sini tidak ada otot yang seperti aku bayangkan. Apa ada tempat otot lain yang lebih keras?"
Merasa terusik dengan bisikan para karyawannya, Rabbani beranjak mendekati keempat karyawannya masih berdiri di depan pintu kamar.
__ADS_1
"Tu-tuan," sapa Anton sedikit kaku.
"Apa kalian pernah ke Bali?" tanya Rabbani datar.
"Ba-Bali katanya," ucap Anton kikuk, kedua bola mata melirik ke May, Budi, dan Ratna.
"Nggak pernah tuan. Kami pun juga nggak pernah bermimpi untuk pergi ke sana. Di kasih tinggal di rumah sebesar ini secara gratis saja sudah merasa cukup bagi kami berempat," sambung Ratna.
"Kalau gitu akhir bulan ini bagaimana jika kita pergi ke Bali. Tapi dengan satu syarat, kalian harus bekerja keras untuk mencapai target yang lebih. Dan satu lagi .. berhentilah mencemaskan aku," Rabbani memukul pelan masing-masing pundak keempat karyawan nya, "Biarkan aku seperti ini sampai aku merasa cukup untuk kembali ke mode awal," ucap Rabbani datar. Kedua kaki Rabbani melangkah meninggalkan kamar Anton.
Rabbani terus membawa kedua kakinya melangkah menuju garasi mobil. Merasa bosan dan terus teringat semua tingkah Clara. Rabbani berinisiatif untuk pergi mencari udara segar. Rabbani pun masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobilnya untuk memutari kota Jakarta.
.
.
💫 DI SISI LAIN 💫
"Apa kamu sudah mendengar tentang kematian Clara?" tanya Anggun sekedar basa-basi.
"Tentu saja aku tahu. Bukannya itu ulah Kek Rusdi dan kamu!" tuduh Rashi.
"CK" Anggun mengambil cangkir berisi kopi, dan menyeruput, "Sruuuppp!!!" bola mata perlahan melirik ke Rashi terlihat tanpa berdosa, 'Seperti itu cara main kamu. Sudah kamu yang memberi saran. Tapi kamu juga yang membuat aku seperti dalang di balik ini semua. Dasar wanita munafik.'
"Apa kamu masih ingin mengejar Rabbani?" tanya Rashi dengan nada sedikit sombong.
"Tentu, aku sudah sejauh ini dan aku juga pernah tidur dengannya. Kenapa aku harus repot-repot berhenti," sahut Anggun semangat, tak lupa sudut bibir mengulas senyum tipis di balik cangkir kopi.
Grep!!!
__ADS_1
Rashi mengepal tangannya di bawah meja. Wajah di buang ke sisi kiri, 'Berani sekali dirinya mendahului aku. Jika dia bisa tidur dengan Rabbani kenapa aku tidak bisa. Sepertinya ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak mau kalah dengan Anggun. Bisa-bisa wanita ini yang menguasai Rabbani dan juga semua harta milik Rabbani. Aku harus menyuruh Jiji untuk menyingkirkan Anggun. Iya...Anggun harus segera aku singkirkan, sebelum semua harta Rabbani jatuh ke tangan Anggun.'
'Tadi kamu sombong menuduh kalau kematian Clara adalah ulahku sendiri. Sekarang kamu rasakan, bagaimana rasanya mendengar jika aku sudah tidur dengan Rabbani. Andai Rabbani tidak menyemburkan nya ke luar mungkin aku akan segera mengandung anaknya. Dan....semua harta milik Rabbani akan menjadi milikku. Kalau gitu aku harus menjebak Rabbani sekali lagi. Aku akan memberikan obat kepadanya agar kami bisa melakukannya lagi. Kamu memang cerdas Anggun. Tidak sia-sia kamu hidup dengan wajah cantik, tubuh bohay,' batin Anggun mulai membuat rencana baru lagi.
Rashi melambai, "Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?"
"Aku jadi ingat 2 hari yang lalu Rabbani sangat hebat. Aku tidak menyangka umur semuda dia memiliki barang luar biasa dan juga tangguh," ucap Anggun malu-malu, sekaligus membuat hati Rashi panas.
"Kalau gitu aku juga akan merasakan hal itu. Masa kamu saja yang bisa, aku nggak. Kita kan sedang sama-sama berjuang untuk merebut Rabbani, harta, dan kekuasaannya," sahut Rashi tidak ingin kalah.
Anggun menggeser duduknya, dan mendekatkan bibirnya di daun telinga Rashi, "Apa kamu yakin sanggup melayani Rabbani? aku saja yang memiliki badan montok, dan sudah dua hari berlalu masih terasa perih. Apa lagi kamu, badan ramping seperti ini!"
Rashi membalas tatapan Anggun, "Kamu jangan sepele. Gini-gini aku memiliki kekasih gelap yang cukup tangguh dan juga....emmm..nggak bisa bilang deh aku!" sambung Rashi tidak mau kalah.
"Kok aku baru tahu kamu punya kekasih gelap? oh...mungkin karena kamu sama sekali tidak memiliki kekasih makanya kamu bilang kekasih gelap!" Anggun melambai, "Ha ha ha" tawa mengejek keluar dari mulut Anggun.
Rashi berdiri, "Baiklah kalau kamu tidak percaya maka aku akan tunjukkan kekasih gelap ku kepada kamu!" ucap Rashi sedikit menahan amarahnya karena Anggun terus menyepelekan dirinya.
Anggun menahan lengan kiri Rashi, "Duduk dulu cantik," ucap Anggun memukul bangku kosong di sebelahnya, "Aku belum selesai bicara," sambung Anggun perlahan membawa Rashi kembali duduk.
"Ada apa?" tanya Rashi sedikit meninggikan nada suaranya.
"Wow. Aku takut!" ucap Anggun sembari membulatkan kedua bola matanya.
"Katakan ada apa?" tanya Rashi terlihat tidak senang.
"Tadi katanya kamu memiliki kekasih gelap. Kalau kamu memiliki kekasih. Bukannya kamu sebaiknya lebih serius dengan kekasih gelap kamu. Dan jangan lupa rawat dia, agar bisa menjadi kekasih putih, bersinar seperti cahaya matahari," ucap Anggun sekali lagi merendahkan Rashi.
"Musuh tetaplah musuh. Saingan tetaplah saingan. Semanis apa pun jika ia memohon berharap belas kasihan. Tetap saja, dirinya akan menusuk dari berbagai macam sudut," Rashi kembali berdiri, "Mulai saat ini kita sudah tidak ada hubungan. Kamu adalah kamu. Aku adalah aku!" tegas Rashi. Tangan kanan melambai, "Daa....sampai jumpa di pertempuran untuk merebut Rabbani, harta dan juga kekuasaannya," sambung Rashi sembari melangkah pergi.
__ADS_1
"Kamu pikir kamu akan berhasil," gumam Anggun.
...Bersambung ...