SERAKAH

SERAKAH
BAB 76. Kok mirip ya?


__ADS_3

“Kamu adalah wanita Iblis. Sudah menghabisi ku, kamu juga menghabisi nyawa bayi dalam kandunganku. Kamu juga sudah tidur dengan Suamiku!” arwah Clara mengulurkan kedua tangannya.


Namun, saat kedua tangan itu hendak menyentuh jenjang leher Anggun. Pintu kamar terbuka. Arwah Clara pun segera menghilang.


"Nona, maafkan jika saya lama," ucap Bheni melangkahkan kedua kakinya mendekati ranjang.


Anggun terlihat sangat syok. Wajahnya terlihat pucat, serta keringat jagung membasahi seluruh bajunya. Kedua matanya hanya bisa membulat sempurna, tangan kanan mengarah ke jendela kamar.


"Bhen.....Bhen...."


Bheni mempercepat langkahnya, "Ada apa nona?" tanya Bheni saat melihat wajah Anggun sangat pucat.


"A-ada. .ha-hantu tadi di sana!" tunjuk Anggun ke jendela.


Bheni memutar bola matanya ke arah jendela, tapi tidak ada satu sosok pun berdiri di sana. Bheni menghela nafas ringan, "Mungkin itu efek obat saja," ucap Bheni.


"Tidak mungkin. A-aku baru saja melihat arwah Clara!" bola mata Anggun mengarah ke kedua telapak tangan, "Ta-tadi arwah itu juga menunjukkan di dalam gendongannya ada pocong kecil," Anggun menarik lengan kemeja Bheni, "A-aku tidak bohong. Percayalah padaku," sambung Anggun berusaha menyakinkan Bheni.


Bheni memeluk Anggun, "Iya, saya percaya sama nona. Dan saya minta nona istirahat dulu agar tubuh nona bisa kembali segar dan sehat," ucap Bheni.


Bheni membantu Anggun untuk tidur, ia juga duduk di samping ranjang. Sedangkan Anggun terus menggenggam erat tangan Bheni sambil menatap serius wajah Bheni.


"Bheni," panggil Anggun.


"Iya nona," sahut Bheni.


"Kalau aku tidur, kamu akan tetap di sampingku 'kan?" tanya Anggun.


"Tentu. Saya akan ada di mulai dari nona tidur sampai nona terbangun," ucap Bheni tenang.


"Benarkah?" tanya Anggun tak percaya.


"Hem" sahut Bheni mengangguk.


Sudah perlahan memejamkan kedua mata letih nya. Rasa takut dan kegelisahan perlahan menghilang saat Bheni membelai lembut puncak kepala Anggun.


.


.


💫 KEDIAMAN RABBANI 💫


Rabbani sedang sibuk memindahkan data-data pelanggan baru di ruang kerja pribadi miliknya.


Swiish!


Sekelebat angin melintas di belakang kursi besar Rabbani.


Rabbani menghentikan kedua tangannya. Bola mata itu perlahan melirik ke belakang. Namun, tidak dapat menemukan apa pun kecuali ujung kain gorden bergoyang.


Tok!!tok!!


"Siapa?" tanya Rabbani dari dalam.


"Tuan, di luar ada saudara nona Clara," sahut Anton.

__ADS_1


Rabbani segera berdiri, "Saudara dari mana?" tanya Rabbani bingung.


"Tidak tahu, coba lihat sendiri. Wajah mereka sangat mirip, tapi yang ini lebih seksi!"


"Suruh tunggu aku di ruang tamu," ucap Rabbani sembari menutup laptop dan menyusun beberapa Dokumen penting.


"Siap tuan," sahut Anton.


.


.


💫 DI RUANG TAMU 💫


Ratna, May, Budi, saling menatap satu-sama lain. Bibir bergerak tanpa mengeluarkan suara, "Siapa? Kok mirip ya?!" tanya mereka bersamaan.


"Katanya tuan akan segera datang. Kakak mau minum apa?" tanya Anton baru saja tiba.


Wanita mirip dengan Clara melambai, "Aduh, kok panggil Kakak sih. Panggil saja aku ini Lala!" ucap Lala.


"Mana orangnya?" tanya Rabbani baru saja tiba.


Lala langsung berdiri, tangan kanan langsung mengulur, "Perkenalkan nama saya, Lala!"


Rabbani langsung terdiam saat melihat wajah Lala sama persis dengan wajah Clara. Menjadi pembeda di mereka adalah gadis ini terlihat lebih anggun dan sedikit berkelas.


Lala melambai, "Kenapa melamun Mas?" tanya Lala memecah lamunan Rabbani.


"Mungkin Lala mengingatkan tuan Rabbani dengan Istri tercintanya. Mendiang nona Clara," sambung Anton.


"Loh, Lala apa tidak tahu kalau nona Clara sudah meninggal dunia akibat di santet orang?" tanya Anton ikutan histeris.


Lala menggeleng, "Astagfirullah al-adzim. Jahat banget orang itu," ucap Lala sembari menghapus jejak air matanya.


"Anton berhentilah berbicara tentang mendiang Istriku. Kamu cepat bantu aku beri makanan dan minuman buat Lala," ucap Rabbani menghentikan pembicaraan Anton mengenai mendiang Clara.


"Siap," bola mata melirik ke Ratna, May, dan Budi, "Ayo! kita segera ambil makanan dan minuman buat Lala," sambung Anton mengajak ketiga karyawan lainnya.


"Sepertinya mereka adalah karyawan yang baik," ucap Lala memuji Anton, May, Budi dan Ratna.


"Begitulah," sahut Rabbani singkat.


Rabbani terus melirik Lala dari atas sampai bawah. Memastikan apakah Lala manusia atau mahkluk halus menyerupai wujud mendiang Clara dan berpura-pura sebagai Lala.


"Pasti Mas masih belum percaya dengan saya, 'kan?" tanya Lala.


Pikiran Rabbani terpecah saat Anton, May, Ratna dan Budi datang membawa minum dan makanan.


"Silahkan di minum Lala," ucap Anton meletakan secangkir teh hangat.


"Makanannya juga jangan lupa di makan. Kalau nggak di makan, nanti aku akan marah," sambung Ratna meletakkan piring kecil berisi dadar gulung.


"Terimakasih," ucap Lala memberi menundukkan kepalanya sekali.


"Sama-sama," sahut Anton, dan Ratna serentak.

__ADS_1


Bukannya pergi dari ruang tamu, Anton, May, Budi, dan Ratna malah berdiri di belakang sofa Rabbani. Mulut terus memberi senyum manis kepada Lala.


Rabbani melirik ke sisi kiri, "Ehem" dehem Rabbani memberikan kode untuk segera meninggalkan Rabbani dan Lala sendirian.


Mendengar dehem kasar Rabbani. Ratna, May, Anton, dan Budi segera berbalik badan, "Sepertinya kita melupakan air kran," ucap mereka serentak. Kedua kaki juga ikut serentak berjalan menuju dapur. Namun, bola mata mereka serentak sesekali melirik ke belakang.


"He He" tawa renyah keluar dari mulut Lala.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Rabbani bingung.


Lala segera menutup mulutnya, "Habisnya mereka lucu," ucap Lala.


"Kalau aku boleh tahu kamu siapa ya?" tanya Rabbani penasaran.


"Tapi saya sudah katakan kalau saya ini adalah saudara dari mendiang Clara," sahut Lala yakin.


"Tapi kenapa aku tidak tahu kalau mendiang Istriku itu memiliki saudara. Soalnya dia bilang dia adalah anak tunggal dan dia tidak memiliki saudara dari manapun," ucap Rabbani mengingat ucapan mendiang Clara.


Lala melambai, "Oh" Lala membuka tas mini, dan mengambil foto kembar bayi perempuan, "Coba Mas lihat!" ucap Lala memberikan foto tersebut.


Rabbani mengambil foto tersebut, setelah puas melihat foto bayi kembar perempuan. Rabbani mengembalikan foto tersebut, "Kenapa kalian bisa berpisah?" tanya Rabbani menyelidik.


"Karena kedua orang tua kami miskin," sahut Lala.


"Iya, kalau itu aku tahu. Tapi kenapa mendiang Istriku tidak pernah menceritakan tentang adik kembar atau Kakak kembarnya. Apa kamu sedang menipu saya?" tanya Rabbani tidak percaya.


"Buat apa saya menipu Mas. Saya ini wanita mampu, saya baru pulang dari Malaysia. Dan tadinya ke kampung, tapi kata orang kampung mendiang Clara telah di usir karena dia hamil duluan. Terus saya sempat mendengar jika dia kerja menjadi pemandu karaoke. Tapi wanita itu berkata jika Clara sudah tinggal di Jakarta bersama pria berkulit hitam sebagai simpanan," Lala menghentikan sejenak ucapannya. Lala menarik nafas, "Huft! sungguh menyedihkan nasib saudara kembar saya," sambung Lala sedih.


"Terus kamu tahu darimana kalau mendiang Clara tinggal di sini sebagai Istri ku?" tanya Rabbani menyelidik.


"Semua orang juga pasti tahu tanpa bertanya. Mas dan mendiang saudara saya adalah sepasang suami-istri cukup terkenal di kota ini," sahut Lala santai.


"Oh ..gitu," ucap Rabbani singkat.


Lala berdiri, "Kalau gitu saya pamit pergi dulu," Lala menundukkan sedikit tubuhnya, "Terimakasih atas jamuan nya," ucap Lala.


"Mari aku hantar kamu."


"Baik!"


Untuk menghormati Lala, Rabbani mengantarkan Lala sampai di depan teras. Rabbani menoleh ke Lala, "Kamu naik apa?" tanya Rabbani.


"Saya sudah pesan taksi online Mas," sahut Lala menunjukkan orderan di ponselnya.


"Mana taksi nya?" tanya Rabbani mengarahkan bola mata nya lurus ke depan.


"Di balik gerbang," ucap Lala singkat. Kaki kanan Lala menuruni anak tangga, "Saya pamit pergi dulu Mas. Kapan-kapan saya mampir lagi."


"Iya," sahut Rabbani singkat.


Lala membawa kedua kakinya menuruni anak tangga teras rumah. Kedua kaki Lala tiba-tiba berjalan cepat menuju gerbang. Sesampainya di depan gerbang Lala berbalik badan sedikit, tangan kanannya melambai, dan wajahnya sekilas berubah menjadi Clara.


Rabbani mengucek kedua kelopak matanya. Namun, saat ia membuka kembali kedua kelopak mata itu untuk memperjelas penglihatannya. Lala sudah hilang dari pandangan.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2