
Setelah malam pertempuran antara Anggun, dan arwah Clara. Paginya Anggun mendatangi toko milik Rabbani. Dengan santainya Anggun turun dari mobil sambil membawa bekal makanan.
Kring!!
"Pagi semua," sapa Anggun ke Anton, Ratna, Budi, dan May.
May, Budi, Anton, dan Ratna terdiam sejenak di masing-masing stand mereka. Bola mata memandang aneh sikap Anggun seperti akrab dengan mereka semua.
Anton segera berdiri, "Pagi. Anda mau apa ya?" tanya Anton datar.
"Nih," ucap Anggun menunjukkan bekal makanan di tangannya.
"Tuan Rabbani tidak ada," sambung Ratna terdengar tidak senang.
"Tapi mobilnya ada di luar," ucap Anggun mengarahkan jarinya ke pintu.
"Kenapa rupanya kalau..."
"Ada apa ini?" sela Rabbani keluar dari ruangan pribadi miliknya.
Anggun langsung berlari kecil mendekati Rabbani, "Sayang, kamu..."
"Sayang...apa maksud kamu?" tanya Rabbani dingin.
"Aku 'kan sebentar lagi akan menjadi pengganti mendiang Istri kamu," Anggun mendekati Rabbani, tangannya dengan ramah menyentuh dada bidang Rabbani, "Aku juga sudah pernah bermain dengan kamu. Karena kamu sudah pernah merasakannya berarti kamu akan segera menikahi aku!" sambung Anggun dengan pedenya.
"Alah ..baru tidur bareng udah bangga. Di luar sana banyak wanita gonta-ganti teman tidur biasa saja. Malah ujung-ujungnya milih memiliki Suami orang!" sambung Anton menyindir Anggun.
"Dan hartanya juga pastinya. Mana ada wanita cantik dan berkelas mau begitu saja sama seorang pria," celetuk Ratna.
Rabbani menepis tangan Anggun, "Menjadi teman tidur bukan berarti akan menikah."
"Auw! kamu kasar sekali," rengek Anggun.
"Aku tanya sekali lagi, kamu mau ngapain ke sini? bukannya kamu sudah puas telah menyantet Istriku?!"
"Ih, mana ada. Kamu ngarang deh!" ucap Anggun berbohong.
__ADS_1
"Iya, aku tahu kamu pasti tidak akan mengaku. Jika manusia suka main dukun dan santet akan mengakui semua tindak kejahatannya. Maka aku rasa sel akan dipenuhi manusia seperti kamu!"
Anggun berbalik badan, ia meletakkan bekal makanan di atas meja, "Aku ke sini hanya untuk mengajak kamu sarapan. Tapi kamu malah menghinaku terus. Kenapa kebaikan ku tidak pernah terlihat di mata kamu?"
"Aku bukan pria munafik, aku juga bukan pria gampang terbuai dengan diri kamu. Kebaikan apa yang sudah kamu berikan kepadaku? bukannya kamu mendekatiku karena kamu menginginkan hartaku, kekuasaan ku dan hal indah lainnya dari diriku?" tanya Rabbani datar .
"A-apa maksud kamu?" tanya Anggun mulai panik.
Rabbani membuka bekal makanan dari Anggun, "Coba kamu lihat ini! makanan apa yang kamu berikan kepadaku?" tanya Rabbani saat melihat isi bekal makanannya adalah dagu ayam dipenuhi belatung, sayur-sayuran juga terlihat tidak segar. Serta ada beberapa paku kecil di dalamnya.
"I-itu makanan yang baru saja aku buat untuk kamu, " ucap Anggun tidak terima.
Bola mata Rabbani melirik ke Ratna, Budi, May, dan Anton, "Kalian semua bisa lihat apa yang sedang dibawa wanita ini untukku," tegas Rabbani memberi perintah.
Anton, Mau, Budi, dan Ratna mendekati meja kasir. Bola mata mereka melirik ke dalam bekal terlihat ada ayam semur kecap, dan beberapa sayuran segar lainnya.
"Bekal biasa tuan. Ada apa rupanya dengan bekal tersebut?" tanya Anton penasaran.
"Coba baca Bismillah dengan tulus," ucap Rabbani memberi perintah sekali lagi.
"Baik," ucap Anton, Ratna, Budi, dan May serentak. Mereka juga serentak membaca bismillah dan doa makan di dalam hati.
"Uwekk!! tuan Rabbani sangat jahat!" teriak mereka serentak saat melihat apa isi lauknya sebenarnya.
"Mau menjelaskan apa lagi kamu?" tanya Rabbani datar.
Anggun langsung menarik bekalnya, "Ini bukan kerjaan ku. Pasti ada orang lainnya yang sengaja melakukan hal ini kepadaku," ucap Anggun tidak senang.
"Jelaskan apa mau kamu?" tanya Rabbani sekali lagi.
"A-aku hanya menginginkan kamu menjadi milikku. Bukannya aku sudah lama menyukai kamu, dan kenapa kamu malah menikah dengan wanita itu! apa kurang ku?" tanya Anggun dengan berlinang air mata memenuhi kedua mata coklatnya.
"Karena aku tahu niat kamu mendekati aku. Kamu sama persis seperti saudara-saudara ku. Sekuat apa pun kamu menginginkan aku untuk hidup bersama kamu, maka sampai kapan pun kamu tidak bisa memiliki ku. Karena hatiku hanya untuk satu orang. Orang itu adalah Clara!" tegas Rabbani.
"Kamu jahat Rabbani!" ucap Anggun membawa kedua kakinya melangkah pergi meninggalkan toko milik Rabbani.
Rabbani menghela nafas ringan, tangan kanan mengelus dadanya, "Terimakasih ya Allah engkau masih memberikan aku kekuatan dan selalu dalam kesadaran dalam melihat mana yang baik dan mana yang buruk," ucap Rabbani bersyukur karena Allah masih melindungi dirinya.
__ADS_1
.
.
Di sisi lain
Anggun baru saja menghidupkan mesin mobilnya. Saat ia hendak memasukkan gigi, tuas persneling berubah menjadi ular.
"Aah...u...ular..ular!" teriak Anggun mencak-mencak di melemparkan ular ke luar jendela mobil. Dan ular itu pun menghilang begitu saja.
Anggun menjadi trauma, kedua bola mata indah itu melirik ke seluruh dalam mobil untuk memastikan apakah ada bintang berbisa lainnya masuk ke dalam mobilnya.
Karena rasa takut kini menghantui dirinya, Anggun segera membawa kedua mobilnya meninggalkan parkiran toko Rabbani.
.
.
Di sisi lain
Rashi dan Jiji sedang berada di dalam ruang kerja miliknya. Di telapak tangan Jiji adegan Anggun terlihat sangat ketakutan seperti orang bodoh.
Hal itu membuat Rashi tertawa terbahak-bahak, "Ha ha ha....manusia bodoh!"
"Aku bisa melakukan hal lainnya untuk membuat Anggun merasa terhina di depan Rabbani," ucap Jiji menawarkan hal lain.
"Tidak perlu terburu-buru, aku ingin membuat dia sedikit gila saja. Setelah dia menjadi gila, maka Rabbani dan hartanya akan menjadi milikku."
"Apakah ini sifat dan sikap manusia. Mengutamakan soal harta daripada hal lainnya. Dan bisa saling membunuh seperti yang sedang kamu lakukan ini. Apa setelah ini kamu akan puas?" tanya Jiji.
"Tentu saja aku puas. Hidup tanpa uang, kekayaan, kekuasan, dan lainnya tidak akan sempurna bagiku. Dan kamu juga bisa menikmati hal itu. Apa kamu tidak ingin menjadi kaya bersamaku?" tanya Rashi.
"Tidak, bagiku itu tidak penting. Tugasku hanya satu, untuk menyenangkan tuanku, dan cukup kasih makan aku sampai kenyang. Itu saja."
"Baiklah, setiap keinginan ku yang kamu kabulkan untukku. Maka aku akan membaut kamu kenyang, dan hingga kamu puas siang ini," ucap Rashi perlahan merebahkan tubuh Jiji.
Jiji langsung mendorong tubuh Rashi, "Maaf, aku tidak bisa melakukan hal ini di siang hari. Jika kamu menginginkan hal ini, maka lakukanlah di malam hari," sahut Jiji menolak penawaran Rashi.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menuruti kamu," ucap Rashi kembali duduk dengan benar.
...Bersambung ...