SERAKAH

SERAKAH
BAB 37. JASAD YANG MEMBENGKAK


__ADS_3

"Ibu!” teriak Rabbani melihat jasad Laras sudah membengkak, genangan darah di atas lantai berubah menjadi kering, serta lalat hijau menghinggapi perut Laras yang terdapat luka tu-suk. Rabbani segera berlari, memeluk jasad Laras yang sudah membekak di sertai bau busuk yang menyengat, “Siapa yang tega melakukan ini kepada Ibu!”


.


✨10 menit kemudian✨


Kecurigaan Rabbani yang dimulai dari pintu rumah serta bau busuk yang menyengat benar. Sebelum melangkah lebih dalam lagi, Rabbani sempat menelpon pihak yang berwajib. Dan kini pihak yang berwajib sedang mengindentifikasi serta melacak benda apa saja yang hilang di rumah Laras. Karena dari semua tindakan yang terjadi di tubuh Laras, seperti tindakan pembu-nuhan berencana.


Rabbani kini hanya bisa duduk diam di sofa ruang tamu, pandangan dipenuhi kebencian mengarah pada pihak yang berwajib yang sedang berlalu-lalang.


‘Siapa yang tega melakukan perbuatan keji ini kepada Ibu. Kenapa Ibu harus berakhir dengan tragis di saat Aku dan Yusi sedang tidak ada di rumah.’


“Tuan Rabbani!” panggil pihak yang berwajib dari belakang memecah lamunan Rabbani.


Rabbani spontan berdiri, “Iya, apa semua jejak pelakunya sudah ditemukan?”


Pihak yang berwajib menggeleng, “Kami mohon maaf, tidak ada tanda dari jejak pelaku yang tertinggal, baik di tubuh nona Laras, ataupun benda berharga lainnya milik Ibu Anda.”


“Jika tuan mengizinkan, kami akan melakukan Visum agar semua jejak pelaku bisa ditemukan di tubuh Ibu Anda,” sahut pihak yang berwajib lainnya.


“Tidak perlu. Aku tidak ingin membuat Ibuku menunggu terlalu lama untuk dimakamkan dengan layak,” Rabbani menundukkan sedikit tubuhnya, “Terimakasih sudah membantuku dalam menangani kasus ini.”


“Apa tuan yakin ingin menutup kasus ini begitu saja? Setelah tidak ada jejak pelaku, serta rekaman CCTV juga sudah di rusak pada hari itu juga.”


Rabbani kembali menundukkan sedikit tubuh dan pandangannya, “Sekali lagi aku mohon maaf. Jika dilanjutkan aku tidak punya waktu untuk mengurusnya, karena aku tinggal di Jakarta, dan aku juga akan segera pergi ke Luar Negeri. Sekali lagi aku mohon maaf, dan aku mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada Bapak-bapak yang sudah bersedia membantuku menangani kasus Ibuku.”


“Baiklah jika itu keputusan yang tuan inginkan. Kami tidak bisa memaksa, kami hanya bisa menjalani tugas, dan saya harap tuan Rabbani bisa memberikan keterangan mengenai laporan Anda,” ucap salah satu pihak yang berwajib kepada Rabbani.


“Setelah selesai memakan Ibu, aku akan segera ke kantor,” sahut Rabbani.


.

__ADS_1


.


💫💫 TPU 💫💫


Rabbani menggenggam erat ujung batu nisan milik Laras, air mata kesedihan dan kekesalan sedari tadi ia pendam di dasar hati. Rabbani mencium batu Nisan milik Laras, “Rabbani berharap Ibu bisa tenang di sisi Allah. Ibu tenang saja, Rabbani akan segera mencaritahu siapa pelakunya. Rabbani pamit pergi, assalamualaikum,” Rabbani melangkah pergi meninggalkan kuburan Laras.


.


.


💦💦Di kediaman rumah Azzam💦💦


Azzam sedang duduk santai di sofa panjang, dikelilingi wanita cantik dengan baju serba terbuka. Di depan meja terdapat 5 tumpukan uang yang masing-masing tumpukan berjumlah 10 juta. Azzam mengulurkan tangan kanannya ke depan, “Ada uang, ada pengorbanan.”


“Aku rela melakukan apa saja demi tuan Azzam,” sahut wanita memakai baju kuning.


“Kami semua juga rela melakukan apa pun yang dimintai tuan Azzam,” sahut serentak kelima wanita lainnya.


Azzam berdiri, “Aku hanya butuh satu orang saja,” jari telunjuk tangan kanan mengarah ke wanita yang sedang duduk di samping kanan dan kirinya, “Siapa dari kalian yang masih baru dan masih belum pernah melakukan apa pun dengan orang lain?”


“Dimana gadis itu?”


“Ada di tempat kos-kosan Mami,” sahut wanita memakai baju berwarna ungu.


“Baiklah terimakasih atas informasinya,” sahut Azzam, tangan kanan segera mengambil uang miliknya, memasukkan kembali uang tersebut ke dalam tas kecil berwarna hitam.


“Tuan mau ke mana?” tanya wanita memakai baju berwarna kuning menahan pergelangan tangan kiri Azzam.


Azzam menghempaskan genggaman tangan wanita tersebut, tangan kiri mengambil beberapa lembar uang yang ada di dalam saku kemeja miliknya. Azzam menjunjung tangan kiri berisi uang setinggi kepalanya, “Silahkan dinikmati,” ucap Azzam membuang uang yang ada di genggaman tangan kirinya.


“Ha! Uang.”

__ADS_1


“Uangku.”


“Tidak, itu uangku.”


Azzam mengulas senyum tipis melihat kelima wanita rela berebut demi uang yang baru saja dilemparkan oleh Azzam. “Semua orang rela melakukan apa pun demi uang. Dasar manusia rendah,” ucap Azzam pelan. Azzam berbalik badan, kedua kaki ia bawa melangkah meninggalkan bar tersebut. Azzam terus melangkahkan kedua kakinya menuju meja wanita yang dikelilingi pria muda yang berada di sudut ruangan.


“Ada apa tuan mencariku?” tanya wanita tersebut, kedua tangan menghentikan aksi tangan pria muda yang bermain di tubuhnya.


Azzam mengeluarkan segepok uang, “Aku ingin gadis baru yang kamu punya,” tangan kanan yang memegang uang mengulur ke wanita tersebut, “Jika kamu mau aku akan memberikan uang ini kepadamu!”


“Apa tuan yakin dengan permintaan tuan?”


“Sangat yakin,” sahut Azzam serius.


“Baiklah,” wanita tersebut mengambil kunci dari dalam penutup dua gunungnya. Memberikan kunci tersebut kepada Azzam, “Kamu sudah tahu rumahku bukan?”


“Sudah,” Azzam menyambar kunci tersebut, meninggalkan uang yang baru saja ia beri dan melangkah pergi meninggalkan bar tersebut.


.


.


💫30 menit kemudian💫


Azzam sudah berdiri di luar pagar yang menjulang tinggi, tangan kanan yang memegang kunci segera membuka gerbang. Saat kaki kanan hendak melangkah masuk, kedua mata Azzam di suguhkan seorang wanita muda dengan wajah yang mirip dengan mendiang Laras.


Azzam mengulurkan tangan kanannya, “Ha-hantu!” tunjuk Azzam ke wanita cantik yang sedang menyapu halaman. Azzam yang tadinya hendak masuk kini kembali pergi menuju mobil yang terparkir di depan gerbang. Tangan kanan segera menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju bar.


Wanita cantik tersebut hanya bisa tercengang menatap kepergian Azzam.


“Pergilah dari tempat ini sebelum kamu menyesali semuanya,” ucap arwah Laras yang berdiri tepat di belakang tubuh wanita cantik tersebut, kemudian menghilang bagai kabut.

__ADS_1


Wanita cantik tersebut spontan berbalik badan, kedua mata menatap liar sekeliling tempat untuk mencari asal suara Laras namun tidak ada satupun orang yang berada di pekarangan rumah. Wanita tersebut memegang kedua lengannya, bulu halus yang berada di sekujur tubuhnya menaik, “Hantu tanpa wujud! A-aku harus kabur dari tempat ini dan mencari pekerjaan yang baru,” ucap wanita cantik berlari keluar dari pekarangan kos-kosan.


...Bersambung...


__ADS_2