
Karena Rabbani terus memaksa Clara untuk menerima lamarannya. Clara pun akhirnya menerima lamaran Rabbani. Saat Clara menerima lamaran Rabbani, saat itu juga Rabbani langsung menyuruh seseorang untuk mengurus semua surat-surat pernikahan mereka.
Siang ini Clara dan Rabbani berada di toko butik khusus baju pengantin. Rabbani memesan baju pengantin buat Clara senilai ratusan juta rupiah. Semua hal istimewa itu sebagai tanda penghargaan Rabbani kepada Clara. Dan ingin menebus semua kebahagiaan Clara di rebut oleh orang-orang tidak bertanggungjawab.
Setelah melakukan petting baju. Rabbani dan Clara pergi menuju pusat perbelanjaan. Rabbani ingin membeli dan memberikan hantaran layak dan mewah buat Clara. Bukan hanya itu, Rabbani juga ingin mengganti semua baju daster Clara dengan baju bagus sesuai dengan status yang akan di sandangnya nanti. Sebagai istri dari tuan Rabbani, pengusaha kolektor barang antik atau sering di panggil dengan Raja kolektor.
Sudah berjalan hampir satu hari, dan memborong banyak barang. Cacing di dalam perut Rabbani demo. Rabbani pun mengarahkan mobilnya ke restauran. Baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran mobil. Kedua bola mata Rabbani di sungguhan dengan seorang wanita berdiri di depan mobilnya. Wanita tersebut adalah Anggun.
"Sepertinya kita pulang saja," ucap Rabbani menghidupkan kembali mobilnya. Kedua tangan memutar stir kemudi.
"Kenapa aku merasa wanita itu semakin cantik," puji Clara melihat aura tubuh Anggun berbeda.
"Aku pikir kamu salah," sahut Rabbani ingin melajukan mobilnya. Namun Anggun langsung menghadang jalan Rabbani.
Terlihat Anggun merentangkan kedua tangannya di depan mobil Rabbani. Sudut bibir kirinya menaik, dan terdengar suara Anggun berkata, "Rabbani aku hamil anak kamu!"
Clara tercengang, seolah dirinya percaya dengan ucapan Anggun.
Rabbani menggenggam tangan kanan Clara, "Bukannya aku terus bersama kamu. Jadi kapan aku sempat berhubungan dengan wanita itu. Dengarkan aku, tidak ada wanita lain yang pernah tidur denganku. Selain kamu!"
Clara membalas genggaman tangan Rabbani. Senyum manis menatap wajah Rabbani terlihat suram, "Aku percaya sama kamu. Jadi kamu tidak perlu cemas seperti ini," sahut Clara menenangkan pikiran Rabbani.
Rabbani membuka seatbelt , "Izinkan aku turun. Aku ingin mengurus wabah yang satu ini!" tegas Rabbani membuka pintu mobil.
"Aku ikut," ucap Clara membuka seatbelt miliknya.
Rabbani menahan tangan Clara, kepala menggeleng, "Sebaiknya kamu tunggu di sini!" tegas Rabbani.
__ADS_1
"Baik," sahut Clara patuh.
Rabbani memberi kecupan manis di dahi Clara, "Kamu jangan cemas. Aku tidak akan pernah terpengaruh dengan wanita lain. Kecuali, kamu!" Rabbani membuka pintu mobil, dan berjalan mendekati Anggun sudah berada di samping mobil milik Anggun terparkir tepat di depan mobilnya.
Kedua kaki Rabbani berhenti tepat di depan Anggun, "Kenapa kamu menghalangi jalanku?" tanya Rabbani dingin.
Anggun menggenggam kemeja depan Rabbani dan membawanya mendekat. Tangan jari kanan dengan ramah menjalar di bidang dada Rabbani, "Aku tadi melihat Anda turun dengan gadis kotor itu masuk ke sebuah butik pengantin. Apa Anda ingin menikahinya?"
Rabbani menepis tangan Anggun, "Iya. Tapi aku tidak akan pernah mengundang manusia seperti kamu!"
"Kenapa Anda memilih wanita kotor itu daripada aku?" tanya Anggun mendekatkan wajahnya ke daun telinga Rabbani.
"Dia bukan wanita kotor!" tegas Rabbani, jari telunjuk kanan mengarah ke wajah Anggun, "Yang kotor itu wanita macam kalian. Aku sudah mengetahui niat busuk-Mu. Jadi jangan pernah menampakkan wujud buruk rupa kamu di hadapanku!" Rabbani berbalik badan, lirikan tajam mengarah buat Anggun, " Apa kamu pikir aku tidak tahu jika kamu sedang memakai ilmu pelet jaran goyang!" sambung Rabbani menggantung ucapannya. Kedua kaki melangkah cepat meninggalkan Anggun.
Anggun berdecak kesal. Kedua kaki di hentakkan di atas tanah, " Ck. Kenapa dia bisa tahu!"
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang.
Rabbani memijat pelipisnya, "Apa sebaiknya kita pergi saja dari kota ini?" Rabbani menolehkan wajahnya ke sisi kiri, "Setelah menikah, aku ajak kamu ke Bandung. Apa kamu mau?" tanya Rabbani karena ingin membuat Clara ingin menjauh dari orang-orang SERAKAH. Mendekati Rabbani hanya untuk mengambil hartanya.
Clara menggeleng, "Aku tidak ingin pindah. Sebaiknya kita di sini saja, bukannya kamu memiliki usaha di sini. Jika kita pindah, maka usaha kamu bagaimana?" tanya Clara kembali.
"Sebenarnya aku juga punya Vila di sana. Aku juga punya usaha. Bagiku tidak masalah bisnis ini di tinggal. Aku punya karyawan baik, dan mereka adalah orang-orang yang sangat jujur. Jadi kamu tidak perlu cemas," sahut Rabbani ingat warisan dari mendiang Ayahnya.
Clara menggeleng, "Aku akan tetap di sini!" tatapan serius di tunjukkan buat Rabbani, "Aku tidak ingin membuat bisnis yang sudah susah payah kamu kembangkan terbengkalai. Memang semua karyawan kamu jujur, tapi tetap saja aku merasa tidak enak. Kalau kamu mau ajak aku ke sana, itu sewaktu kita liburan saja."
"Apa kamu yakin ingin tinggal di sini dengan semua kejadian-kejadian buruk terus menghantui kamu?" tanya Rabbani sekali lagi dengan tegas.
__ADS_1
"Kamu tenang saja. Aku pasti akan baik-baik saja. Bukannya kamu sudah berjanji akan terus melindungi aku!" sahut Clara santai.
"Baiklah. Tapi sekarang kamu sudah merasa tidak canggung lagi denganku kan?" tanya Rabbani mengingat awal mula mereka bertemu.
Clara membuang wajah malunya, "Apaan sih. Bukannya kamu yang mengatakan untuk berhenti memanggil tuan, dan Anda. Dan kamu juga yang menyuruh aku untuk mengganti sebutan dengan "Aku", "Kamu"," ucap Clara mengingat permintaan Rabbani beberapa hari yang lalu untuk mengubah panggil formal menjadi akrab.
"Kamu ternyata bawel juga ya!" Rabbani melirik sedikit, "Karena aku sangat lapar. Aku ingin kamu memasak makanan enak buatku di rumah nanti. Apa kamu keberatan?"
"Tentu tidak. Aku akan buat kamu makan banyak dan merubah perut kotak-kotak kamu menjadi buncit," sahut Clara semangat.
"Oh ya! Entar kamu yang aku buat membuncit."
"Idih..ngomong apaan sih!" sahut Clara malu.
"Karena aku sudah tidak memiliki keluarga lagi di Dunia ini. Bagaimana kalau kita cepat-cepat memiliki anak. Aku tidak sabar ingin mendidik anak-anakku dengan benar," ucap Rabbani mengingat mendiang Abang dan Adiknya meninggal karena ulah sendiri, karena mereka berdua menyimpan sifat SERAKAH.
"Anak itu rezeki dari Allah. Cepat atau lambatnya anak itu hadir, semua itu adalah ketentuan dari Allah. Sedangkan kita hanya berusaha."
"Kalau gitu mari kita buat sekarang!" sambung Rabbani penuh semangat.
"Sudah berubah nakal sekarang ya?"
"Tapi kamu yang mengajari aku!"
Clara mencubit gemas lengan kiri Rabbani, "Nakal ..nakal!"
"Kalau kamu cubit aku terus, maka kamu akan tahu hukumannya nanti," ancam Rabbani dengan senyum nakal.
__ADS_1
...Bersambung ...