
Yusi menyandarkan tubuhnya di dinding gerbang sekolahnya, kedua tangan di lipat di depan dada. Sesekali ia menatap jam yang berada di pergelangan tangan kirinya. “Lama sekali.” Keluhnya pelan.
Brummm!!!
Brummm!!
Keluar dari dalam gerbang sekolah seorang pria memakai sepeda motor sport, pria tersebut menghentikan sepeda motornya di depan Yusi. Pria tersebut ternyata Andra, Andra menaikan kaca helm sepeda motor miliknya, dan mengarahkan tatapannya ke Yusi. “Maaf telah membuat kamu menungguku lama.”
“Ngapain saja kamu di dalam?” Tanya Yusi, kedua kaki berjalan mendekati sepeda motor sport Andra. Yusi naik, kedua tangan ia letakkan di bahu Andra, dan duduk di bangku belakang tanpa di suruh Andra.
“Tadi ada urusan sebentar dengan temanku. Aku minta maaf untuk yang kedua kalinya.” Sahut Andra berbohong, padahal di dalam hati Andra berkata, ‘Hari ini akan aku harus berhasil.’ Andra menolehkan kepalanya ke samping, tangan kanan memegang gas sepeda motor sport yang siap melaju. “Apa kamu sudah siap?” Tanya Andra.
“Iya. Kita singgah dulu ke mini market, aku ingin menambahkan menu makan siang kita saat di rumah kamu nanti.” Ucap Yusi. Seperti biasa, setelah pulang sekolah Yusi selalu numpang makan dan mandi di rumah Andra, karena jarak rumah Andra dengan tempat les tidak terlalu jauh dan Yusi juga bisa menghemat ongkos taksi online, makanya Yusi tidak pernah menolak ajakan Andra.
“Baik.” Sahut Andra, tangan kanan menaikan gas dan melajukan sepeda motor sport miliknya meninggalkan sekolah mereka.
.
.
💦💦30 menit kemudian💦💦
Andra dan Yusi sudah sampai di rumah. Tanpa membuang waktu, Yusi segera menuju dapur sambil membawa barang belanjaannya. Yusi kini berdiri di depan meja masak, tangan kanan mengeluarkan barang belanjaannya. Terlihat ada mie udon, sosis, nugget dan dimsum.
__ADS_1
“Kamu mau masak apa?” Tanya Andra, kedua tangan menyelinap masuk ke pinggul Yusi dari belakang.
“Kamu mau apa?” Tanya Yusi kembali dengan ekspresi wajah terkejut.
Karena tempat masak membelakangi meja makan, Yusi tidak bisa melihat ke datangan Andra. Pelukan Andra juga membuat Yusi terkejut. Andra yang di kenal Yusi sebagai anak yang sopan dan baik, tiba-tiba berubah mejadi pria agresif.
Deg!
Deg!
Pelukan Andra adalah pelukan pertama bagi seorang Yusi. Kini jantung Yusi berdegup kencang saat Andra semakin mengeratkan pelukannya, dan mendekatkan bagian penting miliknya ke bokong Yusi.
‘Benda apa itu?’ Tanya Yusi sendiri di dalam hati, saat merasakan benda bagian tengah menempel di bokong miliknya.
“Tidak!” Sahut Yusi meninggikan nada suaranya, tangan kanan menepis tangan Andra yang memegang dagunya. “Sudah ‘ku duga jika kamu sama saja seperti orang lain. Kamu manusia yang berpura-pura baik di depan mangsanya.” Sahut Yusi kembali meninggikan nada suaranya. “Terimakasih sudah baik selama beberapa hari ini kepadaku.” Yusi melangkahkan kaki kanannya, memalingkan wajah dan tubuh dari Andra. “Sebaiknya aku pergi.”
“Tidak ada yang bisa lolos dari jeratan musuh.” Sahut Andra menahan pergelangan tangan kiri Yusi. Andra menarik Yusi, membawa Yusi jatuh ke dalam pelukannya. Tangan kanan Andra membelai lembut bagian puncak kepala Yusi. “Kita ini sama. Aku akan membuat kamu ingat dengan janji seorang pria misterius penjual obat herbal ilegal. Pria itu adalah aku. Akulah pria yang telah berjanji akan bertemu dengan dirimu suatu hari nanti. Apakah kamu sudah ingat?”
“Lepaskan. Ternyata kamu memang pria jahat.” Ucap Yusi sambil memberontak, berharap lepas dari jeratan Andra.
“Kalau hanya jahat itu hal yang wajar. Daripada memiliki karakter yang berbeda, itu sangat menyakitkan dan mengerikan.” Andra memegang dagu Yusi. “Tujuanku hadir di kehidupan kamu adalah untuk menghibur kamu. Bukannya kamu sekarang sedang dirundung dan dihantui oleh dosa-dosa kamu sendiri?”
“Oh, ternyata kamu pelakunya. Jadi kamu yang selama ini meneror diriku dengan memakai wajah mendiang Ayahku?” Tuduh dan tanya Yusi meninggikan nada suaranya kepada Andra.
__ADS_1
Andra melepaskan pelukannya, ia berbalik badan, bibirnya tertawa puas saat mendengar ucapan Yusi. “Ha ha ha. Buat apa aku capek-capek melakukan hal sekotor itu.” Andra berbalik badan, mendekatkan wajahnya ke wajah Yusi hingga membuat tubuh Yusi mepet ke meja. “Aku bisa merasakan ketakutan di raut wajah kamu setiap kita berjumpa. Karena kamu wanita yang menarik, dan aku ingin merasakan banyak hal dengan-Mu. Maka aku rela menjadi pemuda SMA yang sangat bodoh.”
“Ja-jadi mau kamu itu apa?”
“Aku ingin menghibur kamu.” Andra menyelipkan rambut yang menutupi wajah Yusi di balik daun telinga kiri. “Aku tahu kamu sedang mengalami depresi. Makanya aku selalu siap bersedia untuk membawamu untuk lupa dengan hal-hal yang menyeramkan.”
Yusi menundukkan wajahnya, menatap tangan kanan yang masih berbalut perban. “Benar. Jika mengingat semua kejadian itu, rasanya aku bisa gila jika sering berhadapan dengan peristiwa horror seperti itu.”
Andra mengambil tangan kanan Yusi, membelai lembut telapak tangan yang berbalut perban dan menekan jari telunjuknya di bekas luka milik Yusi.
“AAA. Sa-sakit.” Keluh Yusi merasa sakit di bagian luka yang di tekan Andra.
“Suara teriakan kamu sangat indah, membuat aku ingin langsung melahap kamu.” Sahut Andra merasa hasratnya bergejolak saat mendengar rintihan Yusi. Andra menyelinapkan tangan kanannya ke jenjang leher bagian belakang Yusi, memberi ciuman manis di bibir Yusi. “Aku akan menghilangkan semua rasa sakit dan ketakutan itu. Asal kamu bersedia. Cukup mengangguk jika kamu berkata, ‘IA’.”
‘Ciuman pertamaku. Pria ini telah merebutnya secara dariku. Ta-tapi kenapa ciuman ini membuat aku nyaman, dan menginginkan hal yang lain. Tu-tubuhku seperti mendorongku secara paksa untuk melakukan hal aneh. Dan…….dan.’ Batin Yusi. Yusi yang mulai terlena tidak sengaja menganggukan kepalanya.
Andra melepaskan ciuman manisnya, sudut bibir bagian atas menaik. Andra langsung menggendong tubuh Yusi, membawa Yusi ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
“Aku akan melakukannya dengan lembut.” Tangan kanan Andra perlahan membuka kancing baju kemeja sekolah Yusi. “Wajah kamu sangat memerah, dan tubuh kamu sangat panas. Apa kamu sudah tidak sabar?"
Yusi yang hampir hilang kendali tiba-tiba sadar saat hampir seluruh kancing baju sekolahnya terbuka. Yusi segera bangkit dan mendorong bidang dada Andra. “Tidak.” Yusi segera turun dari ranjang. Tanpa menoleh kebelakang, Yusi berkata, “Aku bukan wanita yang bisa kamu rayu.”
...Bersambung...
__ADS_1