SERAKAH

SERAKAH
BAB 44. Hasrat Janda


__ADS_3

Pria berkulit hitam dan kedua anak buah serta para kelompoknya sudah di tahan oleh pihak yang berwajib. Karena Rabbani sibuk mengurus Clara, akhirnya kliennya datang ke rumah Rabbani di temani supir pribadi. Wanita cantik, lekuk tubuh indah, kulit putih bersih, dan rambut panjang. Wanita kini tengah berjalan masuk ke dalam rumah Rabbani, senyum manis menatap Clara sedang duduk di sofa ruang tamu.


Wanita itu berdiri tepat di depan Clara, tatapan liar menatap sekeliling ruang tamu Rabbani, “Cukup indah,” puji wanita tersebut melihat pajangan unik dan mahal di dalam rumah Rabbani.


Clara segera berdiri, “Maaf, Anda siapa ya?”


Wanita tersebut maju satu langkah, tatapan merendahkan melihat Clara dari atas sampai bawah, “Kamu yang siapa?” tanya wanita tersebut sambil menyibak rambut panjangnya.


“Aku hanya seorang pelayan di rumah Rabbani.”


“Pelayan!” wanita tersebut terkekeh, “Ha ha” jari telunjuk tangan kanan mendorong pelan dada kanan Clara, “Jika kamu seorang pelayan seharusnya sopan sedikit!” wanita tersebut duduk di sofa.


“Nona jangan duduk di sofa itu,” ucap Clara menahan lengan tangan wanita tersebut agar tidak duduk di sofa kotor bekas perbuatan pria bertubuh kulit hitam kepada Clara.


“Berani sekali kamu melarang ku!” tepis wanita tersebut langsung mendaratkan bokongnya ke sofa kotor.


“Nona Anggun” sapa Rabbani sambil menuruni anak tangga.


“Tuan muda Rabbani,” Anggun langsung berdiri, kedua kaki berjalan santai mendekati Rabbani baru turun. Anggun melingkarkan lengannya ke lengan kiri Rabbani, “Katanya di rumah Anda tadi ada pencurian?” tanya Anggun menatap wajah datar Rabbani.


Wajah kaku terlihat jelas saat Anggun dengan buah gunung sebesar semangka terus menyentuh lengan Rabbani. Bukan itu saja Anggun juga semakin menekan lengan Rabbani sampai kedua buah semangkanya hampir menelan lengan kekar Rabbani.


‘Baru kali ini kulitku bertemu dengan buah semangka yang sangat empuk. Eh…tidak. Apa yang aku pikirkan, kenapa pikiranku sekarang mulai nakal? Apa karena umurku mau menginjak 20 tahun, jadi masa puberku semakin mengganas. Tahan-tahan, kamu harus menahannya Rabbani.’


Melihat wajah kaku, serta keringat jagung perlahan mengalir dari sela-sela rambut Rabbani, Clara menghampiri Rabbani, “Apakah tuan baik-baik saja?”


“Seorang pelayan seharusnya membuatkan minuman buat tamunya, bukan ikut campur urusan tuannya,” tegas Anggun.


“Hantarkan saja minuman ke ruang pribadi,” sambung Rabbani.

__ADS_1


“Baik,” Clara segera berbalik badan kedua kaki melangkah pergi menuju dapur,merasa cemas melihat wajah Rabbani, Clara sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan apakah Rabbani benar baik-baik saja.


Karena Rabbani semakin tidak konsentrasi, perlahan ia melepaskan genggaman tangan Anggun, “Sepertinya kita tidak perlu berpegangan tangan seperti ini.”


“Apa kamu terang-sang?”


“Sebaiknya kita membahas tentang apa yang Anda inginkan di dalam ruang pribadi ku,” Rabbani mengarahkan jari tangan kananya ke sisi kiri. Tak jauh dari ruang tamu ada koridor kecil terhubung dengan ruang pribadi milik Rabbani.


Anggun melirik ke supir pribadinya, “Bheni, kamu bisa menunggu ku di dalam mobil atau tetap stay di tempat. Aku akan segera kembali setelah urusan selesai,” tegas Anggun menatap pria bertubuh tinggi, kulit putih bersih, dagu terdapat sedikit janggut sebagai pemanis.


“Baik,” sahut Bheni sedikit menundukkan tubuhnya.


.


.


💦Di ruang pribadi💦


Karena mendapat pelukan mendadak dari Anggun, Dokumen di tangan Rabbani langsung jatuh ke atas lantai. Rabbani menggeliat, kedua tangan berusaha melepaskan genggaman tangan Anggun dari depan perutnya tapi tidak bisa. Rabbani melirik ke sisi kiri, melihat wajah nyaman Anggun bersandar di punggungnya, “Apa tujuan Anda?”


“Tujuan aku ingin melihat barang antik koleksi milik Anda, tuan muda Rabbani.”


“Selain itu?”


“Apa boleh aku minta hal lebih dari Anda?”


Blam!


Rabbani segera mengangkat tubuh Anggun, meletakkan di atas meja kerjanya, tubuhnya kini masuk di kedua kaki Anggun, membuat rok mini semakin naik. Rabbani juga mendekatkan tubuhnya, membuat Anggun tersenyum manis sambil menahan tubuhnya dengan kedua sikunya.

__ADS_1


Rabbani menggenggam kedua tangan Anggun, “Mau kamu seperti ini, bukan?”


“Aku tidak menyangka jika tuan sedingin dan cuek seperti kamu bisa agresif seperti ini.”


“AAAHH” rintihan bernada halus keluar dari mulut Anggun saat Rabbani semakin mengeratkan genggaman tangannya di pergelangan tangan Anggun.


Rabbani tersenyum manis, wajahnya perlahan mendekat ke wajah Anggun, “Jika setiap hasrat bisa dilakukan sebebas mungkin sesuai dengan kemauan kita dan kepada siapa saja yang kita inginkan. Buat apa kita berusaha mengumpulkan uang untuk menikahi seseorang yang kita cintai. Suka, cinta, dan hasrat itu sangat berbeda jauh. Jika Anda tidak bisa membedakannya, maka berhentilah bersikap menjadi rumput liar yang di tumbuhi ulat bulu.”


“Menarik,” Anggun menarik baju kemeja bagian depan Rabbani membuat bibir Rabbani hampir menyentuh bibir Anggun, tangan kiri Anggun perlahan menelusuri celana bagian depan terdapat sedikit tonjolan di depannya, “Jangan mencoba menahannya terlalu lama dan mengeluarkannya sendiri,” Anggun perlahan menurunkan resleting, “Aku bisa membantu Anda.”


“Pe-permisi,”


Saat Anggun hendak menurunkan perlahan resleting milik Rabbani, Clara masuk ke dalam ruangan. Clara sudah paham berusaha tidak melihat apa pun, Clara segera meletakkan gelas di atas meja, kemudian berjalan keluar.


Rabbani melepaskan tangan Anggun, tangan kanan mengulur, “Clara…”


Clara menghentikan langkahnya saat kaki kanan hendak keluar pintu. Melirik dengan rasa kecewa, dan tetap menjawab dengan sopan, “Iya”


Rabbani segera menaikkan resleting miliknya, “Kamu jangan salah paham,” ucap Rabbani menatap Clara.


Clara memberi senyum palsu, “Anggap saja aku tadi tidak melihat apa pun,” Clara mengangguk sedikit, “Aku permisi,” dengan langkah cepat meninggalkan ruang pribadi Rabbani.


Anggun duduk santai di atas meja Rabbani, kaki kanan naik di atas paha kiri, senyum manis menatap wajah panik Rabbani dari belakang, “Ternyata tuan muda sedang jatuh cinta dengan seorang pelayan yang pernah menjadi budak tuan lain. Tidak aku sangka gadis cantik, polos, dan manis seperti dia memanfaatkan lekuk tubuh indahnya untuk uang,” Anggun turun, tangan kiri mencolek pipi kiri Rabbani, “Menahan nikmat dari seorang wanita berkelas hanya untuk gadis sampah seperti dia!” Anggun berdiri di depan Rabbani, tangan kanan membelai lembut bibir bawah Rabbani, “ Jangan sia-siakan apa yang kamu miliki sekarang. Dengan uang kamu punya dan semua harta yang kamu miliki, artis papan atas sekalipun bisa kamu rebut dari suaminya. Wajah tampan penuh dengan karisma, harta berlimpah di mana-mana, umur masih muda. Apa lagi yang kamu cari Rabbani. Aku hanya minta bermain denganku secara gratis, hanya sama kamu aku kasih gratis. Jika kamu pria lain, mungkin aku akan meminta imbalan cukup besar untuk menikmati….”


Rabbani segera mencengkram jari Anggun. Kedua telinganya sudah hampir ingin muntah mendengar ucapan Anggun. Rabbani menatap tajam dan suram wajah Anggun, “Jangan pernah merendahkan orang lain, jika diri kamu sendiri sepertinya sangat rendah dan kotor. Sungguh miris jika kehidupan dan kekayaan yang dicari dengan susah payah akan dinikmati dengan cara yang kotor. Aku tidak tahu kenapa Allah terus memberikan kekayaan kepada kamu, nona Anggun. Tapi aku sangat yakin, jika semua kekayaan kamu suatu saat akan musnah menjadi sampah seperti……A N D A.”


Tangan kiri Anggun hendak melayang ke pipi Rabbani. Namun dengan cepat Rabbani menangkis tangan Anggun, “Aku sungguh sangat kasihan kepada Anda. Memanfaatkan semua lekuk bagus hanya untuk hal negatif,” Rabbani melepaskan tangan Anggun dengan mendorongnya pelan.


“Cih! Sombong sekali kamu!”

__ADS_1


“Lebih baik sombong untuk kebenaran dan harga diri sendiri. Daripada ramah hanya untuk merendahkan diri sendiri,” Rabbani melangkah pergi meninggalkan Anggun.


...Bersambung ...


__ADS_2